Dua Puluh Cerita Rakyat Maluku Menunggu Jadi Bahan Ajar

A A

Pantai Batu Gong di Ambon. [Foto: Fridus Steijlen/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

Cekricek.id — Aria Bayu Setiaji menghitung dua puluh cerita, lalu memasukkannya satu per satu ke dalam tabel. Yang paling banyak muncul bukan mitos, bukan pula fabel, melainkan legenda: cerita tentang asal mula nama desa, batu, danau, dan pulau. Dosen Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji Ambon itu tidak sedang mengurus sastra lama demi sastra lama. Ia sedang mencari bahan ajar.

Hasil kerjanya, bersama Nanik Handayani, Tuti Alwiyah, dan Ilham Syahputra Hitjah, terbit sebagai artikel Maluku folktales: Character education values, opportunities, and challenges in Indonesian language learning di jurnal Diksi volume 34 nomor 1 tahun 2026, halaman 67 sampai 88. Empat orang, dua puluh cerita, empat buku, dan tiga sekolah di Ambon. Aria Bayu Setiaji tercatat sebagai penulis korespondensi.

Daftar Isi
  1. Mengumpulkan Dua Puluh Cerita dari Empat Buku
  2. Memilah Tokoh dan Watak ke Dalam Tabel
  3. Mendengar Guru-Guru di Tiga Sekolah Ambon
  4. Menimbang Peluang yang Belum Terpakai

Mengumpulkan Dua Puluh Cerita dari Empat Buku

Perahu nelayan di Tulehu, Maluku.
Perahu nelayan di Tulehu, Maluku. (Foto: Trifosa18/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0)

Bahan pertama datang dari Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease susunan Anna P. Soplanit dan Aprilia Beatrix Mainake bersama tim, terbitan Kantor Bahasa Maluku. Dari buku itu Aria Bayu Setiaji mengambil delapan cerita, di antaranya Asal Usul Nama Desa Waiheru, Sejarah Desa Nania, Perang Kapahaha, dan Pela Antara Negeri Latuhalat dan Negeri Alang. Judul-judul itu sudah menunjukkan arah isinya: nama tempat, peristiwa, dan perjanjian antarnegeri.

Buku kedua lebih tua dan lebih resmi. Cerita Rakyat Daerah Maluku yang disusun Bambang Suwondo bersama Ahmad Yunbus, Singgih Wibisono, dan Sri Mutosih terbit di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan menyumbang lima cerita. Di dalamnya ada Asal Mulanya Danau Tapala, Keganasan Burung Garuda dan Pulau Buru, serta Kisah Tenggelamnya Pulau Metsyaha. Nanik Handayani dan rekan-rekannya memasukkan seluruhnya ke dalam daftar tanpa penyaringan tambahan.

Baca juga Tiga Novel Populer, Dua Arah Islam dalam Sastra

Dua buku sisanya lebih ramping. Pakuela Sang Penguasa Baguala karya E. Hadi G., terbitan Kantor Bahasa Maluku, memberi tiga cerita yang semuanya berpusat pada satu tokoh bernama Pakuela. Putri Tuju karya Adi Syaiful Mukhtar, dari penerbit yang sama, memberi empat cerita, termasuk Laweri Hulan dan Kayangan serta Tujuh Mata Air. Alasan keempat buku itu yang dipakai sederhana dan disebut terang-terangan oleh Aria Bayu Setiaji: keempatnya diberikan Kantor Bahasa Maluku sebagai bahan pembelajaran di sekolah.

Memilah Tokoh dan Watak ke Dalam Tabel

Setelah terkumpul, dua puluh cerita itu dibongkar unsur-unsurnya. Tuti Alwiyah dan rekan-rekannya mencatat tokoh utama tiap cerita, satu watak dominannya, dan nilai yang menempel padanya. Kapitan Telukabessy dalam Perang Kapahaha masuk sebagai tokoh berani dengan nilai kepahlawanan. Alberth dalam Asal Usul Nama Desa Waiheru dicatat bijaksana dengan nilai musyawarah. Eruwakan dalam Sejarah Desa Nania tercatat baik dan tegas, dengan nilai kepemimpinan. Amar dalam Legenda Batu Layar di Negeri Larike disebut tenang dan bijak.

Beberapa nama muncul lebih dari sekali. Pakuela mengisi tiga baris sekaligus, dengan watak yang bergeser dari perkasa menjadi bijaksana. Laweri Hulan muncul dua kali, sebagai tokoh taat lalu sebagai tokoh sabar. Putri Bungso juga dua kali, sebagai tokoh berani dan sebagai tokoh yang berkorban. Di seberang mereka, Aria Bayu Setiaji dan rekan-rekannya menemukan tokoh antagonis yang digambarkan licik, tamak, sombong, atau kejam, kadang berwujud manusia, kadang berwujud lambang kekuatan alam. Burung gagak yang sombong termasuk di kelompok itu.

Latar ceritanya ikut dipetakan Ilham Syahputra Hitjah dan rekan-rekannya, dan hasilnya menjelaskan mengapa cerita-cerita ini terasa khas kepulauan. Laut ditandai sebagai lambang pengorbanan dan ruang menguji keberanian. Sungai melambangkan kesucian sekaligus penghubung antarwilayah. Hutan menjadi sumber makanan dan obat, sekaligus tempat perjumpaan dengan yang gaib. Pulau melambangkan persaudaraan, tetapi juga hukuman. Batu menjadi penanda sumpah dan pelanggaran adat.

Tema-temanya berulang di banyak cerita: pertarungan antara yang baik dan yang jahat, kesetiaan, rasa syukur, serta asal mula tempat dan gejala alam. Aria Bayu Setiaji dan rekan-rekannya membaca pengulangan itu sebagai cermin cara pandang masyarakat Maluku yang menaruh nilai tinggi pada solidaritas, kesederhanaan, dan kepatuhan pada norma adat. Cerita seperti Asal Mulanya Danau Tapala dan Sejarah Desa Nania sekaligus menyimpan sejarah lokal dan asal-usul geografis satu tempat.

Alurnya hampir seragam: sederhana, lurus, dan mudah diikuti, tetapi berakhir dengan peristiwa luar biasa. Pulau tenggelam. Manusia berubah menjadi batu. Burung yang mati berubah menjadi pulau. Dalam kisah Nenek Luhu dari Seram, yang juga dibaca Aria Bayu Setiaji, akibat yang ditanggung tokoh utamanya menegaskan bahwa kebaikan pada akhirnya mengalahkan kejahatan. Pola penutup semacam itu yang membuat cerita-cerita ini mudah diingat dan mudah dituturkan ulang.

Mendengar Guru-Guru di Tiga Sekolah Ambon

Bagian berikutnya membawa Aria Bayu Setiaji keluar dari buku. Ia dan tiga rekannya mewawancarai guru bahasa Indonesia di SMP Cendikia Ambon, SMP Al-Hijrah Ambon, dan MTs Al-Mukhlisin Ambon, ditambah wawancara dengan siswa dan ahli sastra serta pengamatan pembelajaran di sekolah. Nama guru dan siswa yang diwawancarai tidak disebutkan dalam artikel, sehingga yang tersaji adalah rangkuman keterangan mereka, bukan kutipan bernama.

Baca juga Tujuh Pola Bahasa yang Membentuk Berita Bola Indonesia

Keluhan pertama menyangkut bahan. Aria Bayu Setiaji dan rekan-rekannya menemukan banyak cerita rakyat Maluku belum terdokumentasi dalam bentuk buku, modul, atau media resmi, sehingga guru terpaksa memakai kumpulan cerita yang sejak awal tidak dirancang untuk pengajaran bahasa Indonesia. Tidak ada modul resmi yang mengintegrasikan teks cerita rakyat Maluku ke dalam pelajaran. Akibatnya nilai karakter yang ada di dalam cerita tidak tergali maksimal.

Keluhan kedua menyangkut suasana kelas. Menurut catatan Nanik Handayani dan rekan-rekannya, minat siswa terhadap pembelajaran berbasis cerita rakyat justru tergolong rendah, terutama karena penyajiannya cenderung konvensional dan monoton dan sering berhenti pada membaca teks. Cerita yang sebenarnya dekat dengan kebudayaan mereka sendiri tidak otomatis menarik ketika sampai di meja pelajaran.

Keluhan ketiga menyangkut alat. Sebagian besar cerita rakyat Maluku hanya tersedia dalam bentuk teks cetak sederhana, sementara animasi, modul elektronik, dan komik interaktif belum banyak tersedia. Tuti Alwiyah dan rekan-rekannya juga mencatat alokasi waktu pelajaran bahasa Indonesia yang terbatas, ditambah minimnya sosialisasi, penelitian, dan pelatihan guru, sehingga nilai karakter dalam cerita sulit dihubungkan dengan kompetensi inti dan capaian pembelajaran.

Guru-guru di ketiga sekolah itu, menurut catatan Aria Bayu Setiaji, menganggap digitalisasi cerita rakyat lewat media visual dan audiovisual penting dan menuntut kerja sama sekolah, pemerintah daerah, serta pihak lain yang berkepentingan. Permintaan itu muncul bukan karena cerita cetaknya buruk, melainkan karena bentuk cetak sudah tidak lagi menjadi tempat siswa mencari cerita.

Menimbang Peluang yang Belum Terpakai

Modal terbesarnya justru dicatat Aria Bayu Setiaji sebagai kedekatan yang tidak dimiliki bahan ajar lain. Latar pantai, hutan, dan sungai, ditambah tokoh legendaris setempat, membuat cerita-cerita ini dekat secara emosional dan kultural dengan siswa Maluku. Dari wawancara di Ambon, guru-guru menyampaikan siswa lebih bersemangat ketika kegiatan belajar dikaitkan dengan cerita rakyat setempat. Nilai yang dibawanya, seperti kejujuran, kerja keras, kebersamaan, cinta tanah air, dan kepedulian terhadap lingkungan, dinilai sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka.

Baca juga Manglé, Majalah Sunda yang Bertahan Enam Puluh Delapan Tahun

Jalan masuknya pun sudah tersedia. Ilham Syahputra Hitjah dan rekan-rekannya menunjuk proyek penguatan profil pelajar Pancasila sebagai ruang yang bisa dipakai untuk eksplorasi budaya dan dokumentasi tradisi lisan, di samping kegiatan bercerita, diskusi nilai moral, dan digitalisasi cerita yang menguatkan empat keterampilan berbahasa sekaligus. Yang mereka usulkan bukan mata pelajaran baru, melainkan mengganti isi bacaan dengan cerita yang sudah dikenal siswa sejak kecil.

Fungsi gandanya yang membuat Aria Bayu Setiaji menganggap bahan ini layak dibukukan. Cerita tentang asal mula desa, pulau, atau tokoh masyarakat merekam sejarah setempat sekaligus menanam rasa bangga pada daerah sendiri, dan pada saat yang sama melatih membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Kedua pekerjaan itu berjalan di dalam satu jam pelajaran yang sama.

Batas kesimpulannya perlu dicatat. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan belum menguji langsung apa yang terjadi bila cerita-cerita itu benar-benar dipakai di kelas. Aria Bayu Setiaji dan rekan-rekannya sendiri menyarankan penelitian lanjutan berupa studi eksperimen atau penelitian pengembangan untuk menguji efektivitasnya terhadap literasi dan karakter siswa. Dua puluh cerita yang dianalisis juga berasal dari empat buku pemberian Kantor Bahasa Maluku, bukan dari seluruh khazanah lisan Maluku, dan tiga sekolah di Ambon bukan gambaran seluruh provinsi.

Dalam tabel yang disusun Aria Bayu Setiaji dan tiga rekannya, nama Kapitan Telukabessy berdiri di satu baris bersama dua kata, berani dan kepahlawanan. Yang belum ada, dan itu justru mereka catat sendiri, adalah buku pelajaran tempat baris itu semestinya berpindah.

Bagikan

Baca Juga

Dua anak menonton tayangan di layar tablet
Tiga Nilai Nabi dalam Satu Episode Nussa dan Rara
Pemandangan udara perkampungan beratap merah yang tertutup kabut tipis
Karma Mistis di Balik Legenda Pembunuhan Cangkring
Pela Gandong dan Damai yang Belum Selesai di Maluku
Pela Gandong dan Damai yang Belum Selesai di Maluku
Cekricek.id - Cerita Rakyat Aceh: Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar
Cerita Rakyat Aceh: Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar
Gempa M5.0 Guncang Seram Timur, Maluku: BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Gempa M5.0 Guncang Seram Timur, Maluku: BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Dari Peluk Ibu ke Batu Dingin: Legenda Malin Kundang yang Mengharukan!
Legenda Malin Kundang yang Mengharukan: Dari Peluk Ibu ke Batu Dingin