Ikan Mladang dan Mitos Syeh Mutamakkin di Kajen

A A

Tadarus malam selikuran di sebuah surau. [Foto: Giri Wijayanto/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Mitos biasanya diperlakukan sebagai lapisan yang harus dikupas lebih dulu sebelum sebuah cerita dianggap pantas dibaca orang dewasa, semacam sisa masa kanak-kanak sebuah masyarakat yang akan rontok sendiri begitu sekolah, arsip, dan buku sejarah datang. Namun justru pada lapisan itulah sesuatu tersimpan. Ketika sebuah kampung di pesisir utara Jawa menceritakan bahwa ulama yang merintis pesantrennya pernah dilempar dari kapal di tengah badai, lalu diselamatkan seekor ikan raksasa dan dimuntahkan hidup-hidup di pantai, yang sedang diwariskan bukanlah kekeliruan yang menunggu diluruskan, melainkan cara sebuah masyarakat menyimpan keterangan tentang laut, tentang pendatang, dan tentang siapa yang layak mereka terima sebagai pemimpin.

Pembacaan seperti itu yang ditawarkan Krida Amalia Husna, peneliti Universitas Khairun, lewat artikel Memahami Kisah Syeh Ahmad Muttamakin melalui Penerapan Teori Strukturalisme Lèvi Strauss yang terbit di Jurnal Pusaka Vol. 5 No. 1 tahun 2025. Husna mengambil satu kisah lisan tentang Syeh Ahmad Mutamakkin, ulama yang makamnya menjadi tujuan ziarah ramai di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, lalu membedahnya dengan perkakas yang lazim dipakai untuk mitos masyarakat yang jauh, yakni strukturalisme Claude Lévi-Strauss. Yang ia cari bukan benar atau salahnya cerita, melainkan susunan di baliknya, sebab bagi Lévi-Strauss makna sebuah teks bergantung pada makna bagian-bagiannya.

Kisah itu dibuka oleh cahaya, bukan oleh kapal. Seorang ulama asal Tuban bernama Mutamakkin sedang berdiri di tepi pantai ketika ia melihat cahaya terang dari arah barat, dan keesokan harinya ia menumpang kapal untuk mencari sumbernya. Di tengah laut badai datang pada waktu yang keliru, di luar musim angin, sampai nahkoda keheranan dan meminta seluruh penumpang berdoa. Salah seorang penumpang lalu menyatakan mendapat ilham bahwa kapal kelebihan muatan dan seseorang harus dibuang ke laut, dan karena tidak ada yang bersedia mengorbankan diri, nahkoda memutuskan mengundi. Nama Mutamakkin yang keluar, dan ia menerima keputusan itu tanpa membantah.

Setelah tubuhnya jatuh, laut yang tadi bergulung seketika reda. Menurut kisah itu Allah memerintahkan seekor ikan mladang, sejenis ikan gabus yang sangat besar, untuk membawa Mutamakkin yang pingsan di dalam mulutnya selama berhari-hari sebelum memuntahkannya di pantai utara Jawa, di sebelah barat Tuban. Para nelayan yang mengira ia sudah mati justru menyaksikannya siuman dan membuka mata, dan seruan mereka dalam bahasa Jawa atas kejadian itulah yang kemudian menjadi nama Desa Cebolek. Karena kehausan, Mutamakkin menancapkan tongkatnya di pantai sehingga mengalir air sumur yang tidak asin, sumur yang sampai sekarang disebut sumur KH Ahmad Mutamakkin dan terletak di Desa Bulumanis.

Daftar Isi
  1. Cerita yang Menolak Dibersihkan
  2. Dua Perut Ikan, Dua Makna
  3. Laut yang Bukan Sekadar Latar
  4. Batas yang Diakui Sendiri

Cerita yang Menolak Dibersihkan

Masjid Tuo Kayu Jao di Solok, salah satu masjid kayu tertua di Indonesia
Masjid Tuo Kayu Jao di Solok, salah satu masjid kayu tertua di Indonesia. Foto ini bukan dari Kajen. (Foto: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/Wikimedia Commons, domain publik)

Yang menarik justru bukan isi ceritanya, melainkan betapa sulitnya cerita itu ditemukan dalam bentuk tertulis. Husna menuturkan bahwa ia lebih dulu mencari mitos asal-usul Desa Kajen di buku-buku yang membahas Syeh Mutamakkin, tetapi menemukan kecenderungan yang cukup konsisten pada penulis-penulis dari Kajen sendiri, yaitu keinginan menampilkan kisah yang logis sambil menghilangkan unsur mitosnya, sebagaimana ia lihat dalam buku Imam Sanusi, Perjuangan Syaikh Ahmad Mutamakkin, terbitan 2007. Teks mitos yang akhirnya ia pakai justru ia temukan di sebuah situs cerita rakyat bernama Anak Nusantara, yang diaksesnya pada 17 Desember 2012.

Baca juga Bangkai Kapal Onrust yang Muncul Lima Tahun Sekali

Ada ketegangan lain yang jauh lebih tua dari itu. Nama Syeh Ahmad Mutamakkin juga muncul dalam Serat Cebolek, teks kraton yang diterbitkan di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, dan potret yang diberikan di sana nyaris berlawanan dengan potret tradisi lisan. Bila tuturan warga Kajen menampilkan seorang wali dengan aneka kelebihan yang disebut karamah, Serat Cebolek menggambarkannya sebagai ulama yang mengajarkan ilmu sesat karena menempuh tasawuf sambil meninggalkan syariat. Satu nama, dua arsip, dua penilaian yang tidak pernah benar-benar didamaikan, sementara di Kajen sendiri jejak peninggalan dan keturunannya masih dapat ditemui sampai hari ini.

Dua Perut Ikan, Dua Makna

Perkakas yang dipakai Husna punya andaian sendiri. Menurut uraian Ahimsa-Putra pada 2001 yang menjadi rujukan utamanya, Lévi-Strauss memperlakukan teks naratif seperti kalimat, memandang struktur sebagai relasi dari relasi, dan memahami transformasi sebagai alih rupa: yang berubah adalah tataran permukaan, sedangkan pada lapisan yang lebih dalam perubahan tidak terjadi. Kebudayaan, dalam cara pandang itu, pada dasarnya adalah rangkaian alih rupa dari struktur tertentu yang bersembunyi di baliknya. Karena itu dua cerita yang tampak berbeda kulitnya masih sangat mungkin memakai rangka yang sama.

Baca juga Ekonomi Cengkeh Tidore: 18 Persen untuk Petani

Dan rangka itu memang muncul. Husna menyandingkan kisah Mutamakkin dengan kisah Nabi Yunus dan menemukan barisan kesamaan yang sulit disebut kebetulan: keduanya pendakwah yang datang ke tempat yang bukan asalnya, keduanya berangkat atas petunjuk Tuhan, keduanya menempuh perjalanan laut dan bertemu badai yang memaksa mereka keluar dari kapal, keduanya dibawa ikan besar selama beberapa waktu lalu didaratkan di pantai dalam keadaan lemah, keduanya ditolong oleh sesuatu yang tumbuh atau memancar di tempat pendaratan, dan keduanya pada akhirnya berhasil dalam usaha dakwahnya.

Perbedaannya justru terletak pada arah gerak, dan perbedaan itu yang mengubah segalanya. Nabi Yunus meninggalkan Ninawa dengan marah dan tergesa setelah dakwahnya ditolak berkali-kali, sedangkan Mutamakkin berangkat dengan tenang dan cukup persiapan menuju tempat dakwahnya. Yunus pergi dari tanggung jawab, Mutamakkin pergi menyambutnya. Maka ikan yang menelan Yunus adalah hukuman, sementara ikan yang membawa Mutamakkin adalah penyelamatan. Peristiwa yang sama, menurut Husna, diberi makna yang berbeda pula, dan justru pada selisih makna itulah latar sosial budaya sebuah masyarakat menampakkan dirinya.

Annemarie Schimmel, penulis Mistical Dimension of Islam yang terbit dalam bahasa Indonesia sebagai Dimensi Mistik dalam Islam lewat terjemahan Sapardi Djoko Damono pada 2000, menerangkan bahwa kesamaan antara peristiwa yang dialami seorang sufi dan suatu peristiwa kenabian menunjukkan pencapaian tertentu dalam ilmu tasawuf. Berada dalam perut ikan, menurut Schimmel, dapat ditafsirkan sebagai penghapusan dosa dan penyucian hati, dan untuk keadaan itu ia memakai istilah “pembersihan ikan”. Dalam kerangka yang sama, mitos lain tentang Mutamakkin yang dikisahkan pernah memuntahkan dua ekor anjing dibaca sebagai keberhasilan mengendalikan hawa nafsu.

Laut yang Bukan Sekadar Latar

Kalau mitos memang menyimpan keterangan tentang masyarakatnya, maka yang paling terang dalam kisah ini adalah laut. Husna menunjuk bahwa laut di sana bukan hanya panggung kejadian melainkan sumber hidup, dan hal itu wajar mengingat Kajen dan sekitarnya merupakan wilayah pantai. Cahaya yang menjadi petunjuk pun mengarah ke laut. Islam datang ke Kajen lewat seorang pendatang yang menempuh jalan laut, dan laut itu sendiri tampil sebagai jalur yang menghubungkan masyarakat setempat dengan dunia di luar mereka, sebagaimana perdagangan bekerja pada zamannya. Kedatangan Islam ke wilayah itu, dalam bacaan Husna, memang tidak digambarkan sebagai penaklukan dari darat melainkan sebagai kedatangan orang yang dibawa air, dan cerita ini menyimpan keterangan tersebut tanpa pernah menyatakannya secara langsung.

Baca juga Ketukan Tengah Malam dalam Cerpen Sunda Yus R. Ismail

Keterangan kedua tersembunyi di dalam reaksi orang-orang di pantai. Tidak ada penolakan terhadap Mutamakkin dalam kisah itu; yang ada justru para nelayan yang berdatangan hendak menolong orang asing yang terdampar. Husna membaca hal itu sebagai tanda keterbukaan, sebab masyarakat yang tertutup tidak akan begitu saja menerima seorang pendatang sebagai pendakwah dan pemuka agama. Keterangan ketiga muncul lewat gelar. Mutamakkin digambarkan telah menunaikan haji, dan dalam versi lain ia datang ke Kajen sepulang haji, sementara tuan rumah yang menampungnya, Haji Syamsudin, adalah satu-satunya orang berhaji di desa itu sehingga desanya disebut Kajen, dari kaji ijen.

Batas yang Diakui Sendiri

Artikel ini tidak berpura-pura menutup persoalan. Husna menegaskan bahwa kita tidak dapat menemukan kunci yang paling tepat untuk menafsirkan mitos, dan bahwa hanya sebagian elemen mitos yang sampai kepada kita yang dapat dipahami, atau paling jauh dikira-kira maksudnya. Pengakuan itu penting dibaca sebagai pembatas: yang disajikan adalah satu pembacaan struktural atas satu versi cerita yang diambil dari satu situs internet, bukan rekonstruksi sejarah hidup Syeh Ahmad Mutamakkin, dan bukan pula bukti bahwa masyarakat Kajen memaknai kisah itu persis seperti yang dibaca penelitinya.

Yang tersisa justru pertanyaan yang dibiarkan terbuka oleh artikel itu sendiri. Jika seekor ikan besar dalam dua cerita bisa berarti hukuman di satu tempat dan penyelamatan di tempat lain, dan jika selisih itu ditentukan oleh siapa yang menuturkan serta di pesisir mana ia hidup, berapa banyak lagi keterangan tentang sebuah masyarakat yang selama ini kita lewatkan karena kita lebih dulu sibuk memilah mana bagian cerita yang masuk akal dan mana yang harus dibuang?

Bagikan

Baca Juga

Penelitian Mematahkan Mitos Zaman Purba yang Mengatakan Cuma Laki-laki Pemburu
Penelitian Mematahkan Mitos Zaman Purba yang Mengatakan Pemburu Cuma Laki-laki
Lengan robot industri KUKA menjalankan karya The Beach buatan Roy Nachum.
Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya
Halaman awal naskah Melayu Taj al-Salatin
Hikayat Maryam 1826, dari Aksara Jawi ke Huruf Latin
Anak-anak Sedulur Sikep belajar tembang di Bojonegoro.
Udeng Obor Sewu dari Sedulur Sikep ke Kantor Bupati
Naskah Hukum Kanun Melaka beraksara Jawi
Safinah Al-Ghulam, Naskah Fikih Tunggal dari Palembang
Tumpukan naskah lontar Bali.
Ular di Halaman, Babi di Jalan: Kutukan Lontar Bali