Hikayat Maryam 1826, dari Aksara Jawi ke Huruf Latin

A A

Halaman awal naskah Melayu Taj al-Salatin. Foto ini bukan naskah Hikayat Maryam. [Foto: Muhammad bin Umar Syaikh Farid/Wikimedia Commons, CC0]

Cekricek.id — Ada dua pekerjaan yang sering dikira satu: memindahkan huruf, dan memindahkan arti. Yang pertama disebut alih aksara, yang kedua alih bahasa, dan keduanya dikerjakan atas satu buku kecil berukuran 196 kali 130 milimeter. Kertasnya kekuningan dan tampak cukup tebal. Tintanya hitam, sesekali berganti merah. Judul buku itu tidak ada di halaman pertama. Ia baru muncul di halaman kedelapan.

Buku itu adalah manuskrip Hikayat Maryam, tercatat dalam katalog daring Princeton University Library dengan nomor Garret No. 480L. Fingki Fitri Yanti dan Nurizzati dari Universitas Negeri Padang mengerjakannya dalam artikel Analisis Filologis Hikayat Maryam dalam Perspektif Alih Aksara dan Alih Bahasa, yang terbit di jurnal Persona volume 5 nomor 1 tahun 2026, halaman 118 sampai 127. Naskah aslinya sendiri tidak pernah mereka pegang. Yang mereka baca adalah berkas PDF yang diunduh pada 25 April 2025.

Daftar Isi
  1. Manuskrip: Tulisan Tangan, Bukan Sekadar Buku Tua
  2. Alih Aksara: Mengganti Huruf, Menahan Kata
  3. Alih Bahasa: Memindahkan Makna, Melepas Sedikit Bunyi
  4. Kodikologi dan Tekstologi: Tubuh Naskah dan Isi Naskah

Manuskrip: Tulisan Tangan, Bukan Sekadar Buku Tua

Kata manuskrip datang dari bahasa Latin, manus yang berarti tangan dan scriptus yang berarti tulisan. Artinya bukan buku tua, melainkan tulisan tangan, entah naskah asli entah salinan. Bedanya dengan buku cetak terasa persis di titik itu. Satu buku cetak punya seribu wujud yang serupa; satu naskah tulis tangan hanya punya satu wujud, dan wujud itu berubah setiap kali ada orang lain menyalinnya. Baried dan rekan-rekannya, dalam buku Pengantar Teori Filologi terbitan 1985, memisahkan dua hal yang kerap dicampur pembaca awam: manuskrip adalah bentuk konkret yang memuat simbol bahasa, sedangkan teks adalah makna yang tersimpan di dalamnya.

Ilmu yang mengurus keduanya bernama filologi. Istilahnya berasal dari bahasa Yunani, philos yang berarti cinta dan logos yang berarti kata, sehingga arti harfiahnya kira-kira kecintaan pada kata. Shipley, sebagaimana dikutip Baried dan rekan, mencatat bahwa makna itu melebar seiring waktu: dari sekadar kecintaan terhadap kata menjadi perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Abdullah, penulis buku Pengantar Filologi: Konsep, Teori, dan Metode terbitan 2023, menyebut filologi sebagai ilmu yang mempelajari bahasa, kebudayaan, serta sejarah suatu bangsa melalui sumber tertulis.

Baca juga Hikayat Sultan Mughul dan Kunci yang Hilang

Sebelum menyentuh isi, Yanti dan Nurizzati mengukur dulu tubuh naskahnya, mengikuti delapan belas aspek identifikasi yang disusun Hermansoemantri pada 1986. Hasilnya semacam kartu identitas. Naskah disimpan di Princeton University Library dalam bentuk digital, ditulis dengan aksara Jawi, sebagian besar halamannya memuat dua belas baris, dan tinta merah dipakai untuk bagian yang dianggap penting seperti ayat Al-Qur’an. Tanda baca tidak ada sama sekali. Arah tulisannya kanan ke kiri dan bolak-balik, dengan pola segitiga terbalik sebagai penanda akhir teks. Tahun penulisannya 1826. Nama pengarangnya tidak ditemukan.

Satu hal yang tidak seragam justru muncul di dalam artikelnya sendiri. Pada bagian metode, tebal naskah disebut 134 halaman dengan 14 halaman kosong. Pada bagian deskripsi, angka itu berubah menjadi 124 halaman dengan 17 halaman kosong. Selisih sepuluh halaman tersebut tidak dijelaskan di mana pun. Bagi pembaca yang hendak memakai deskripsi ini sebagai rujukan, perbedaan itu perlu dicek ulang ke katalog Princeton, bukan diterima begitu saja.

Alasan pekerjaan sekecil ini dianggap perlu justru berada di luar naskahnya. Putri, dalam skripsinya di Universitas Negeri Padang pada 2024, mencatat minat masyarakat terhadap manuskrip cenderung menurun, terutama di kalangan generasi muda, karena bahasa lamanya sulit dipahami dan kesadaran akan nilainya sebagai warisan budaya masih tipis. Jarak itulah yang hendak dipendekkan: bukan dengan meminta pembaca belajar aksara Jawi lebih dulu, melainkan dengan memindahkan naskahnya ke huruf dan bahasa yang sudah dipakai sehari-hari.

Alih Aksara: Mengganti Huruf, Menahan Kata

Alih aksara mengubah sistem tulisan tanpa mengubah bahasanya. Aksara Jawi diganti aksara Latin, tetapi kata-katanya dibiarkan tetap tua. Yanti dan Nurizzati memakai pedoman bentuk huruf Arab-Melayu susunan Hollander terbitan 1984, lalu menambahkan sejumlah aturan teknis. Seluruh hasil ditulis dengan huruf kecil. Angka Arab penanda kata ulang dialihkan menjadi angka Latin 2. Garis miring ganda dipakai sebagai batas akhir tiap halaman, nomor halaman ditaruh di kanan atas, dan bagian yang tidak terbaca ditandai titik-titik di dalam kurung.

Hasilnya terlihat pada satu baris contoh yang mereka tampilkan: “al-kisah zakaria alaihisalam adapun”. Tidak ada huruf kapital pada nama nabi. Tidak ada titik di ujung baris. Kata penghormatan menempel menjadi satu tarikan. Baris itu bukan bahasa Indonesia dan memang tidak dimaksudkan begitu; ia bahasa Melayu klasik yang sekadar berganti baju huruf. Djamaris, dalam buku Metode Penelitian Filologi terbitan 2002, menegaskan bahwa keaslian bentuk bahasa memang harus dijaga pada tahap ini, dan penyesuaian baru boleh datang belakangan.

Baca juga Kutukan yang Tak Pernah Terbukti di Layar Film Lakuna

Yang membuat tahap ini tidak sepenuhnya mekanis adalah huruf-huruf Jawi yang bentuknya berdekatan satu sama lain. Yanti dan Nurizzati menyatakan potensi perubahan tetap tidak dapat dihindari, terutama pada bagian yang kurang terbaca atau memiliki kemiripan bentuk huruf, sehingga alih aksara bukan semata proses teknis melainkan juga melibatkan penafsiran peneliti. Naskah yang kondisinya masih baik pun tidak membebaskan pengalih aksara dari keputusan-keputusan kecil semacam itu, satu huruf demi satu huruf, sepanjang seratusan halaman.

Alih Bahasa: Memindahkan Makna, Melepas Sedikit Bunyi

Baris yang sama berubah wujud pada tahap berikutnya. Huruf kapital muncul di nama Nabi Zakaria dan Bani Israil, tanda baca dipasang, dan susunan kalimat dirapikan mengikuti kaidah ejaan bahasa Indonesia serta kamus resmi. Kata ulang yang tadinya ditulis dengan angka dikembalikan ke bentuk penuh, contohnya “kayu2an menjadi kayu-kayuan”. Kata arkais yang diperkirakan tidak dipahami pembaca dicetak miring dan dijelaskan di glosarium. Yang berkurang dalam proses ini bukan makna, melainkan bunyi: irama panjang khas hikayat, dengan maka dan hatta yang datang berulang-ulang, ikut dirapikan.

Di sinilah salah paham yang paling umum tentang naskah kuno perlu diluruskan. Banyak orang mengira teks yang tersimpan hari ini adalah teks asli yang bertahan utuh karena dirawat. Nurizzati, dosen Universitas Negeri Padang yang juga penulis kedua artikel ini, membedakan penyalinan naskah menjadi vertikal dan horizontal, dan menyatakan keduanya sama-sama berpotensi menghasilkan variasi teks. Penyalinan justru dilakukan supaya teks tidak hilang dimakan usia, tetapi setiap penyalinan sekaligus membuka pintu bagi perubahan. Teks yang tersedia sekarang, karena itu, tidak selalu identik dengan bentuk aslinya.

Kodikologi dan Tekstologi: Tubuh Naskah dan Isi Naskah

Dua istilah terakhir membagi pekerjaan filolog menjadi dua sisi yang saling menopang. Kodikologi mengurus tubuh naskah: bahan, ukuran, dan kondisi fisiknya. Tekstologi mengurus isinya: asal-usul teks, perkembangannya, dan penafsirannya. Ukuran 196 kali 130 milimeter tadi milik kodikologi, dan dari angka sekecil itu kedua peneliti menduga naskah tersebut dibuat untuk keperluan praktis, misalnya dibaca sendiri atau dibawa bepergian. Isi ceritanya milik tekstologi.

Baca juga Orang Baduy Bukan Pelarian Pajajaran, Kata Naskah Kuno

Yang diceritakan adalah kisah Maryam dan Nabi Isa beserta ujian-ujian yang mereka hadapi. Maryam digambarkan sebagai sosok yang sabar, taat, dan teguh, dan penggambaran itulah yang membuat kedua peneliti menyebut teks ini bukan sekadar cerita melainkan juga media pendidikan. Bentuk teksnya prosa naratif. Kolofon, yaitu catatan penyalin yang lazimnya berisi keterangan penyalinan, tidak berada di akhir naskah sebagaimana kebiasaan yang berlaku pada banyak manuskrip Melayu.

Untuk menempatkan naskah ini, Yanti dan Nurizzati menyandingkannya dengan Hikayat Si Miskin. Kedua teks memakai alur linear yang berpusat pada satu tokoh, dan sama-sama menumpuk kata sambung berulang serta frasa penanda cerita seperti maka dan hatta. Bedanya ada pada arah. Hikayat Si Miskin bergerak pada tema sosial, dari penderitaan menuju perubahan nasib. Hikayat Maryam bergerak pada tema keagamaan, dari ujian menuju ketabahan. Genrenya sama, orientasinya tidak.

Kedua peneliti tidak menyembunyikan batas kerjanya. Mereka menyatakan analisis terbatas karena tidak menggunakan naskah asli, hanya pengamatan digital, sehingga penilaian atas bahan kertas dan kondisi fisik hanya bisa sejauh yang tampak di layar. Mereka juga mengakui penelitian ini belum sampai pada penarikan temuan yang bersifat interpretatif secara mendalam, dan masih berhenti pada upaya menyajikan teks dalam bentuk yang lebih terbaca. Naskah ini pun satu-satunya berjudul demikian dalam katalog Princeton, sehingga kemungkinan adanya varian lain tetap terbuka dan belum bisa diuji.

Dua istilah di awal tadi menjanjikan hal yang berbeda, dan keduanya berhenti lebih cepat daripada yang dikira orang. Alih aksara hanya berjanji hurufnya bisa dibaca. Alih bahasa hanya berjanji kalimatnya bisa dipahami. Siapa yang menyalin naskah itu pada 1826, di ruangan mana ia duduk, dan untuk siapa buku sekecil itu dijilid, tidak ditanggung oleh dua-duanya.

Bagikan

Baca Juga

Naskah Hukum Kanun Melaka beraksara Jawi
Safinah Al-Ghulam, Naskah Fikih Tunggal dari Palembang
Siluet tokoh kera dalam pertunjukan wayang kulit di depan layar
59 Kesalahan Terjemahan Naskah Tarsan Wanara Seta
Hikayat Sultan Mughul dan Kunci yang Hilang
Hikayat Sultan Mughul dan Kunci yang Hilang
Tim riset mahasiswa Universitas Negeri Padang mengukur vegetasi hutan nagari di Sijunjung
Riset Mahasiswa UNP Ukur Karbon Hutan Nagari Sijunjung
Anak-anak Sedulur Sikep belajar tembang di Bojonegoro.
Udeng Obor Sewu dari Sedulur Sikep ke Kantor Bupati
Tumpukan naskah lontar Bali.
Ular di Halaman, Babi di Jalan: Kutukan Lontar Bali