Cekricek.id — Empat mahasiswa Universitas Negeri Padang menuntaskan penelitian yang memadukan kearifan lokal masyarakat nagari dengan Sistem Informasi Geografis untuk mengestimasi cadangan karbon Hutan Nagari Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung.
Penelitian berjudul Penguatan Perhutanan Sosial Melalui Pendekatan Sosial Ekologis untuk Mendukung Estimasi Cadangan Karbon Berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) itu dikerjakan tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora atau PKM-RSH, menurut keterangan yang dimuat unp.ac.id, Rabu, 19 Agustus 2026. Tim diketuai Fhazle Maulla Haqani, dengan anggota Arif Rahman Putra, Alfirdausy Mayang Lovani, dan Kadariah Sakti, serta dosen pembimbing Dr. Lailatur Rahmi, S.Pd., M.Pd.
Baca juga: Gubernur Sumbar, Mahyeldi, Suarakan Pemanfaatan Perhutanan Sosial demi Petani
Kuesioner Warga dan Titik Koordinat GPS
Tim menempuh dua jalur pengumpulan data sekaligus. Jalur sosial dikerjakan lewat koordinasi dengan Pemerintah Nagari Tanjung Bonai Aur dan penggalian informasi dari Wali Nagari, Lembaga Pengelola Hutan Nagari, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung, Yayasan KKI Warsi, Dinas Kehutanan, tokoh adat, hingga warga sekitar kawasan. Kuesioner disebar untuk memetakan persepsi masyarakat terhadap pengelolaan perhutanan sosial di nagari mereka.
Jalur ekologis dikerjakan di dalam hutan. Tim mengukur vegetasi pada sejumlah plot penelitian, mencatat diameter dan tinggi pohon, mengidentifikasi jenis vegetasi, serta merekam titik koordinat memakai GPS. Seluruh data itu kemudian diolah dengan GIS untuk membaca kondisi tutupan lahan sekaligus menghitung estimasi cadangan karbon kawasan.
Gabungan dua jalur tersebut membuat angka cadangan karbon tidak berdiri sendiri sebagai data biofisik, melainkan terbaca bersama siapa yang menjaga hutan, aturan adat yang berlaku, dan seberapa jauh warga merasa dilibatkan dalam pengelolaannya.
“Kami ingin penelitian ini tidak berhenti sebagai laporan ilmiah saja. Hasil yang kami peroleh diharapkan dapat menjadi dasar untuk memperkuat pengelolaan perhutanan sosial melalui pendekatan sosial, ekologis, dan pemanfaatan GIS,” kata Ketua Tim PKM-RSH Universitas Negeri Padang, Fhazle Maulla Haqani.
Menurut Fhazle, dukungan masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan penelitian hingga seluruh proses pengambilan data selesai.
Baca juga: 2 Evaluator UNESCO Kaji Geopark Silokek, Ini Rekomendasinya
Catatan dari Pemerintah Nagari
Wali Nagari Tanjung Bonai Aur, Hendra Basri, A.Md. NL.P., menilai tim mahasiswa tidak sekadar datang mengambil data. Ia menyebut mereka berinteraksi dengan warga dan berusaha memahami kondisi pengelolaan hutan di lapangan.
“Kami sangat mengapresiasi dedikasi mahasiswa yang telah datang, berinteraksi dengan masyarakat, memahami kondisi lapangan, dan mencoba menawarkan solusi berdasarkan hasil penelitian,” ujar Hendra Basri.
Hutan nagari sendiri merupakan salah satu skema perhutanan sosial yang memberi masyarakat setempat hak mengelola kawasan hutan. Skema ini menempatkan warga sebagai pihak yang paling menentukan nasib tutupan hutan, sehingga data mengenai persepsi dan kelembagaan mereka sama pentingnya dengan data pohon.
Baca juga: Geopark Ranah Minang Silokek, Calon Tuan Rumah Rakornas Geopark 2023, Disurvey Tim Bappenas
Rekomendasi untuk Pengelola Kawasan
Dari penelitian tersebut, tim menyusun rekomendasi yang mencakup penguatan kelembagaan masyarakat, perlindungan kawasan hutan, peningkatan partisipasi warga, serta optimalisasi fungsi ekologis hutan sebagai penyimpan karbon. Rekomendasi itu ditujukan agar hasil riset dapat dipakai pemerintah nagari dan pengelola kawasan, bukan hanya mengendap sebagai luaran akademik.
Penelitian ini bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Melalui skema tersebut, menurut keterangan universitas, kampus mendorong riset mahasiswa yang menghasilkan rekomendasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan.
Kegiatan riset ini disebut menopang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui estimasi cadangan karbon dan penguatan pengelolaan hutan, serta nomor 15 tentang ekosistem daratan melalui upaya menjaga kelestarian hutan berbasis kearifan lokal dan teknologi GIS.















