Sekolah Asrama Membuat Murid Desa Tiongkok Enggan Bersekolah

A A

Ilustrasi murid berkalung kacu merah memperhatikan guru di ruang kelas sederhana pedesaan Tiongkok [Foto: Greece China News/Pexels]

  • Pada anak yang baru mondok, skor suka sekolah turun 0,599 dan skor enggan bersekolah naik 0,364 dibandingkan teman sepadan yang pulang ke rumah.
  • Yang dikira akan tumbuh, yakni ketelitian dan kegigihan, ternyata tidak bergerak, sedangkan yang tidak pernah dicemaskan justru surut.
  • Tidak semua anak menanggung asrama dengan cara yang sama.
  • Anak yang baru mondok lebih sering diejek, dikucilkan, digosipkan, kehilangan barang karena dicuri, dirundung secara fisik, dan dipaksa melakukan hal yang tidak mereka mau.
Daftar Isi
  1. Jawaban atas Desa yang Kian Lengang
  2. Yang Luntur Justru Rasa Ingin Tahu
  3. Tinggal di Sekolah, tetapi Hati Menjauh
  4. Beban yang Tidak Terbagi Rata
  5. Rumah yang Menjauh, Teman yang Terlalu Dekat
  6. Kesimpulan yang Masih Berumur Pendek

Asrama kerap dibayangkan sebagai tempat anak ditempa menjadi mandiri, tertib, dan tahan banting, jauh dari kemanjaan rumah dan dekat dengan pengawasan guru. Bayangan itu goyah ketika yang mondok adalah murid sekolah dasar di desa-desa Tiongkok barat laut, anak kelas tiga dan empat yang tidur di sekolah terutama karena rumahnya jauh. Pada mereka, satu sampai dua semester di asrama justru meninggalkan rasa ingin tahu yang menyusut dan rasa suka pada sekolah yang menipis.

Gambaran itu disusun Bin Tang, Siyi Xiao, Xiaoli Lin, Zeming Cheng, Yingzhe Qin, Yaojiang Shi, dan Fang Chang dalam The effect of boarding on students’ noncognitive skills: evidence from rural education in Northwest China, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2609 tahun 2026. Ketujuhnya bernaung di Center for Experimental Economics in Education, Shaanxi Normal University, Xi’an, dan mengikuti murid di 195 sekolah dasar pedesaan pada 2019 dan 2020.

Yang mereka timbang bukan nilai ujian, melainkan apa yang disebut kecakapan nonkognitif, yakni sifat, sikap, dan kecenderungan batin yang menurut para penulis ikut menentukan prestasi, penghasilan, dan pekerjaan seseorang kelak. Di atas kertas, asrama menjanjikan lingkungan belajar yang teratur, jam belajar yang lebih panjang, dan guru yang selalu dekat. Namun dalam praktik, tulis mereka, fasilitas yang kurang, gizi yang tidak cukup, dan rasa terasing karena jarang bertemu orang tua ikut membentuk anak.

Jawaban atas Desa yang Kian Lengang

Asrama di pedesaan Tiongkok, menurut Tang dan rekan-rekannya, bukan sekolah elite, melainkan sekolah negeri bagi kalangan yang kurang beruntung. Dua dasawarsa urbanisasi dan perpindahan tenaga kerja ke kota membuat anak usia sekolah di banyak desa berkurang, lalu pemerintah menggabungkan sekolah-sekolah kampung yang kecil ke sekolah berasrama di pusat kecamatan. Pada 2017, catat mereka dari data Kementerian Pendidikan, murid asrama sudah mencapai 14,1 persen murid sekolah dasar pedesaan.

Angka di lapangan nyaris sama. Dari 5.988 murid yang datanya lengkap, 895 anak atau 14,95 persen tinggal di asrama pada 2019, dan setahun kemudian jumlahnya 937 anak. Ketika ditanya mengapa mondok, 61,9 persen menjawab sekolah jauh dari rumah, 30,3 persen karena diminta orang tua, 25,4 persen karena ingin tinggal bersama teman, dan 11,5 persen karena tidak ada yang mengurus mereka di rumah.

Mengapa murid tinggal di asramaSekolah jauh dari rumah: Persen +61,9; Diminta orang tua: Persen +30,3; Ingin tinggal bersama teman: Persen +25,4; Tak ada yang mengurus di rumah: Persen +11,5.Mengapa murid tinggal di asramaAlasan yang disebut 895 murid asrama, persen204060800Sekolah jauh dari rumah61,9Diminta orang tua30,3Ingin tinggal bersama teman25,4Tak ada yang mengurus di rumah11,5Jumlahnya melebihi 100 persen.
Sumber: Bin Tang, Siyi Xiao, Xiaoli Lin, Zeming Cheng, Yingzhe Qin, Yaojiang Shi, dan Fang Chang, The effect of boarding on students’ noncognitive skills: evidence from rural education in Northwest China, BMC Public Health, 26(2609), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di seberang mereka berdiri anak-anak yang pulang setiap hari. Sekitar 85 sampai 90 persen murid yang tidak mondok tinggal bersama keluarga di kampung terdekat dan menempuh satu sampai lima kilometer ke sekolah, sedangkan sisanya tinggal bersama orang tua yang menyewa rumah sementara di pusat kecamatan. Dengan kata lain, yang dibandingkan bukan sekolah yang baik dan sekolah yang buruk, melainkan dua cara menjalani hari di sekolah yang sama.

Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas

Yang Luntur Justru Rasa Ingin Tahu

Perhatian para peneliti tertuju pada 261 murid yang pada 2019 masih pulang ke rumah tetapi pada 2020 sudah tinggal di asrama. Mereka disandingkan dengan 261 murid yang tetap pulang dan sejak awal serupa latar keluarga serta skor kepribadiannya. Hasilnya, skor keterbukaan anak yang baru mondok lebih rendah 0,159 simpangan baku, sementara ketelitian, ekstraversi, keramahan, dan kecenderungan cemas tidak berubah secara bermakna, begitu pula kegigihan.

Di situlah persoalannya, sebab keterbukaan bukan sifat sampingan. Para penulis merincinya sebagai imajinasi, rasa keindahan, kepekaan emosi, kemauan mencoba hal baru, berpikir kritis, dan kesediaan menerima nilai yang beragam. “Dampak negatif asrama pada keterbukaan menunjukkan pergeseran kecenderungan berpikir murid, dari yang imajinatif dan idealis ke pandangan yang lebih pragmatis dan praktis,” tulis Tang dan enam rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Kalimat itu membalik harapan yang lazim dititipkan pada asrama. Yang dikira akan tumbuh, yakni ketelitian dan kegigihan, ternyata tidak bergerak, sedangkan yang tidak pernah dicemaskan justru surut. Tang dan kawan-kawan menduga sebabnya ada pada hari-hari yang seragam, sebab banyak sekolah asrama desa hanya memberi sedikit pengalaman dan pergaulan yang beragam, sehingga minat pada gagasan baru dan kemauan menjelajah hal yang asing ikut berkurang.

Yang berubah sesudah murid masuk asramaYang berubah sesudah murid masuk asramaYang berubah sesudah murid masuk asramaSelisih skor murid yang baru mondok dibanding yang tetap pulangHitungan utamaHitungan kedua-0,159-0,191Keterbukaan-0,599-0,801Suka sekolah+0,364+0,655Enggan sekolah-0,033-0,257Keramahan+0,030-0,197KegigihanHitungan utama: 261 murid baru mondok dan 261 murid sepadan.Hitungan kedua: 5.093 murid.
Sumber: Bin Tang, Siyi Xiao, Xiaoli Lin, Zeming Cheng, Yingzhe Qin, Yaojiang Shi, dan Fang Chang, The effect of boarding on students’ noncognitive skills: evidence from rural education in Northwest China, BMC Public Health, 26(2609), 2026. Grafik: Cekricek.id

Tinggal di Sekolah, tetapi Hati Menjauh

Perubahan yang lebih besar terjadi pada perasaan anak terhadap sekolahnya. Murid ditanya, antara lain, apakah mereka suka berada di sekolah dan apakah mereka berharap tidak perlu pergi ke sekolah. Pada anak yang baru mondok, skor suka sekolah turun 0,599 dan skor enggan bersekolah naik 0,364 dibandingkan teman sepadan yang pulang ke rumah. Anak yang kini tidur di dalam pagar sekolah agaknya justru menjauh dari tempat itu.

Hitungan kedua, yang memakai cara lain atas seluruh 5.093 murid, tidak melunakkan gambaran tersebut. Keterbukaan turun 0,191, rasa suka pada sekolah turun 0,801, dan keengganan naik 0,655. Justru sebaliknya, daftar kerugiannya bertambah, sebab dalam hitungan ini keramahan ikut turun 0,257 dan kegigihan turun 0,197. Para penulis mengakui tingkat kepastian tiap angka berbeda dari satu cara ke cara lain, tetapi arahnya, kata mereka, tetap sama.

Ada pula satu pergeseran yang lebih halus. Sebelum murid dipasangkan dengan teman sepadan, anak yang baru mondok tampak lebih percaya bahwa nasib ditentukan keadaan di luar dirinya, bukan oleh usahanya sendiri, dengan skor yang naik 0,527. Pada perbandingan 261 lawan 261, kenaikan itu tinggal 0,129 dan tidak lagi bermakna. Namun sesudah para peneliti mengoreksi banyaknya pengujian, keyakinan ini tetap mereka masukkan ke dalam daftar yang terdampak.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Beban yang Tidak Terbagi Rata

Tidak semua anak menanggung asrama dengan cara yang sama. Murid perempuan menunjukkan ketelitian dan keramahan yang lebih baik sesudah mondok dibandingkan murid laki-laki, yang oleh para penulis dikaitkan dengan kecenderungan anak perempuan menyesuaikan diri lewat kerja sama dan ungkapan perasaan. Murid kelas tiga pun lebih beruntung daripada kakak kelasnya, sebab keengganan bersekolah pada mereka lebih rendah 0,594, barangkali karena anak yang lebih muda lebih lentur mengikuti aturan sekolah.

Pada anak dari keluarga yang sangat sulit ekonominya, asrama bermuka dua. Rasa suka mereka pada sekolah naik 0,863, tetapi keterbukaan turun 0,357 dan keramahan turun 0,260. Tang dan rekan-rekannya membaca hal itu sebagai peran ganda, yakni asrama memberi lingkungan yang lebih aman dan teratur bagi anak miskin, tetapi tidak menyediakan cukup dukungan emosi dan pergaulan yang dibutuhkan agar sifat-sifat tersebut tumbuh.

Kelompok lain kehilangan lebih banyak. Pada murid etnis minoritas, yang mengisi 39 persen sampel, keyakinan untuk mencari bantuan dari guru, teman, atau orang dewasa lain turun 0,980, dan para penulis mengaitkannya dengan tekanan menyesuaikan bahasa, adat, serta makanan di lingkungan berbudaya Han. Anak yang ibunya tidak tamat sekolah menengah pertama kehilangan keterbukaan 0,368, sedangkan pendidikan ayah yang rendah tidak mengubah apa-apa.

Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur

Rumah yang Menjauh, Teman yang Terlalu Dekat

Lalu lewat jalan apa asrama mengubah anak? Jalan pertama adalah rumah yang menjauh. Murid yang mulai mondok melaporkan orang tua atau pengasuhnya lebih jarang mengawasi pekerjaan rumah, lebih jarang memeriksanya, dan lebih jarang mengobrol tentang kehidupan di sekolah, masing-masing turun 0,207, 0,175, dan 0,165. Padahal, menurut para penulis, tiga kebiasaan sederhana itulah yang memberi anak dukungan emosi sekaligus tuntunan perilaku.

Jalan kedua justru kedekatan yang berlebihan dengan teman sebaya. Anak yang baru mondok lebih sering diejek, dikucilkan, digosipkan, kehilangan barang karena dicuri, dirundung secara fisik, dan dipaksa melakukan hal yang tidak mereka mau. Keenam ukuran itu naik antara 0,182 dan 0,260. Di asrama, tulis Tang dan kawan-kawan, pergaulan berlangsung sering dan sebagian besar tanpa pengawasan di luar jam pelajaran, sehingga gesekan mudah membesar.

Jalan ketiga adalah perilaku yang semestinya belum dikenal anak sekolah dasar. Murid yang mulai tinggal di asrama lebih banyak melaporkan merokok, minum minuman keras, pergi ke warung internet untuk bermain gim komputer, berkelahi atau merundung teman, serta membolos. Kenaikannya berkisar dari 0,178 sampai 0,280. Para penulis menafsirkannya sebagai akibat longgarnya pemantauan, dan dari sana mereka menyarankan pelajaran kecakapan sosial dan emosi dimasukkan ke kurikulum sekolah asrama.

Kesimpulan yang Masih Berumur Pendek

Para penulis sendiri memberi batas pada temuan mereka. Anak-anak itu baru satu sampai dua semester tinggal di asrama, dan hanya diukur dua kali, sehingga pengaruh jangka panjangnya tidak terbaca. “Mungkin pula penurunan awal kecakapan nonkognitif itu disebabkan oleh kesulitan sementara menyesuaikan diri dengan asrama, yang kemungkinan membaik seiring waktu,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Jarak rumah ke sekolah pun tidak tercatat dalam data.

Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Abstrak menyebut 10.923 murid, sedangkan yang dihitung 5.093 anak. Bagian penutup menulis sekitar 15 persen dari 5.093 murid itu tinggal di asrama, padahal mereka justru anak yang tidak mondok pada 2019. Abstrak juga menyatakan kegigihan terdampak, sementara pada perbandingan utama angkanya positif 0,030 dan tidak bermakna. Provinsi tempat sekolah-sekolah itu berada hanya ditulis sebagai Provinsi G.

Maka bayangan tentang asrama sebagai tempat menempa anak tidak runtuh seluruhnya, tetapi juga tidak lagi utuh, sebab di desa-desa barat laut itu ia hadir sebagai jalan keluar dari jarak, bukan sebagai pilihan pendidikan. Yang belum dijawab penelitian ini justru hal yang paling ingin diketahui: apakah rasa ingin tahu yang surut pada semester-semester pertama itu akan kembali ketika anak sudah terbiasa, atau menetap sebagai harga dari sekolah yang terlalu jauh dari rumah?

Bagikan

Baca Juga

Warga Asia Selatan di Hong Kong Nyaris Tak Punya Dokter Langganan
Tanaman Obat Flores dari Pesisir dan Gunung, Kebanyakan Direbus
Suku Ma’ya Raja Ampat Memalang Pos Konservasi di Laut Sendiri
Salah Takar Parasetamol Anak Australia Jarang Berujung Rusak Hati
Video Penyakit Ketinggian Paling Disukai Justru Kurang Bermutu
Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi