Tanaman Obat Flores dari Pesisir dan Gunung, Kebanyakan Direbus

A A

Ilustrasi Gunung Meja berpuncak datar dilihat dari bandar udara Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur [Foto: Nadiantara/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Hasilnya daftar 60 jenis tanaman obat, 18 jenis di antaranya sama dan 42 jenis berbeda.
  • Etnis Dhawe dan Ende tinggal di tepi pantai, tempat tanaman obat susah ditanam atau dibudidayakan.
  • Menurut warga, merebus lebih manjur karena menghilangkan racun, kuman, dan bakteri pada tanaman.
  • Warga usia muda, tulisnya, tidak terlalu banyak memakai tanaman obat dalam pengobatan sehari-hari.
Daftar Isi
  1. Yang Tumbuh di Lereng
  2. Yang Dibeli di Pasar
  3. Yang Direbus
  4. Yang Diseduh dan Ditempel
  5. Yang Diwariskan
  6. Yang Belum Dibuktikan

Sebutir kemiri dan sebotol Sprite jarang disebut dalam satu kalimat, apalagi dalam satu resep. Di Pulau Flores keduanya bertemu: kemiri ditumbuk, dicampur minuman bersoda itu, lalu diminum untuk keluhan prostat. Ramuan itu hanya satu dari puluhan cara berobat yang dicatat dari empat etnis di Kabupaten Ende dan Nagekeo, dua di pesisir dan dua di pegunungan, yang sama-sama masih percaya pada daun, akar, dan kulit batang.

Catatan itu disusun Kania Fajrawati dari Fakultas Farmasi Universitas Bhakti Kencana dalam artikel Studi Etnobotani Tanaman Berkhasiat Obat Pada Etnis Ende, Lio, Nataia, Dhawe Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang dimuat Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia volume 10 nomor 1 tahun 2024. Ia mewawancarai 77 warga keempat etnis itu pada April sampai Juni 2022. Hasilnya daftar 60 jenis tanaman obat, 18 jenis di antaranya sama dan 42 jenis berbeda.

Yang Tumbuh di Lereng

Empat etnis itu dipilih berpasangan. Nataia dan Lio tinggal di daerah pegunungan, sedangkan Ende dan Dhawe tinggal di pesisir. Di pegunungan, tulis Kania, masyarakat dapat membudidayakan sendiri tanaman yang mereka perlukan, baik tanaman obat maupun tanaman lain. Pada umumnya tanaman obat yang dipakai warga memang tumbuh liar di hutan atau di sekitar tempat tinggal mereka.

Dari daftar itu muncul beberapa nama yang disebut khas Pulau Flores. Faloak, atau Sterculia quadrifida, dipakai untuk sakit pinggang dan daya tahan tubuh. Kulit batangnya diiris tipis, diseduh, lalu diminum. Kudo, yang daunnya ditumbuk dan ditempelkan, dipercaya menjadi penawar racun binatang berbisa. Mimba direbus, dan air rebusannya dipakai mandi untuk penyakit kulit.

Satu nama lagi adalah genoak. Akarnya dipakai untuk maag, dan Kania menyebutnya tanaman khas dari Flores. Genoak juga muncul berulang di dalam ramuan campuran, misalnya dikunyah bersama sirih dan pinang lalu disemburkan ke badan orang yang terkena serampah. Tiga tumbuhan pertama, faloak, kudo, dan mimba, ia tempatkan di simpulan sebagai tanaman yang berperan penting dalam pengobatan tradisional keempat etnis.

Bagi Kania, nama-nama itu baru titik berangkat. “Tumbuhan tersebut dapat dijadikan bahan untuk penelitian lebih lanjut mengenai aktivitas senyawa dalam tanaman tersebut dan pengujian kandungan senyawa dalam tumbuhan tersebut,” tulisnya. Kalimat itu sekaligus menandai batas naskahnya: yang dicatat adalah pemakaian sehari-hari oleh warga, bukan hasil uji khasiat.

Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

Yang Dibeli di Pasar

Di sisi lain, pesisir tidak semurah hati lereng. Etnis Dhawe dan Ende tinggal di tepi pantai, tempat tanaman obat susah ditanam atau dibudidayakan. Karena itu sebagian tanaman obat mereka beli di pasar. Naskah itu tidak merinci tanaman mana yang dibeli, tetapi mencatat bahwa kebiasaan berobat dengan tanaman tetap berjalan di kedua pesisir itu.

Empat etnis Flores, dua bentang alamEmpat etnis Flores, dua bentang alamEmpat etnis Flores, dua bentang alamKabupaten Ende dan Nagekeo, April-Juni 2022PesisirPegununganEnde, DhaweLio, NataiaEtnis20 dan 23 orang20 dan 14 orangWargadiwawancaraiSebagian dibeliDitanam sendiriAsal tanaman obatDi pesisir tanaman obat susah ditanam, sehingga sebagian dibeli dipasar.
Sumber: Kania Fajrawati, Studi Etnobotani Tanaman Berkhasiat Obat Pada Etnis Ende, Lio, Nataia, Dhawe Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 10(1), 2024. Grafik: Cekricek.id

Banyak isi daftar itu memang akrab dengan dapur dan pekarangan. Untuk diare, warga merebus daun jambu biji lalu meminum airnya. Bulir padi digoreng, dihaluskan, diseduh, dan diminum untuk keluhan yang sama. Biji pala dibakar dulu sebelum diseduh. Daun kelor direbus dan diminum untuk menghilangkan mabuk alkohol, sedangkan daun sambiloto diseduh sebagai pencegah malaria.

Perbandingan pesisir dan pegunungan berhenti di soal asal tanaman. Tabel dalam naskah menggabungkan keempat etnis menjadi satu daftar, tanpa keterangan etnis mana memakai tanaman yang mana. Pembaca tahu ada 18 jenis yang sama dan 42 jenis yang berbeda, tetapi tidak bisa menunjuk mana milik orang Lio dan mana milik orang Dhawe.

Yang Direbus

Kalau soal asal tanaman keempat etnis terbelah dua, soal cara mengolah mereka nyaris seragam. Cara yang paling banyak dipakai adalah merebus. Menurut warga, merebus lebih manjur karena menghilangkan racun, kuman, dan bakteri pada tanaman. Mereka juga percaya kandungan yang berkhasiat lebih banyak keluar ke dalam air rebusan.

Caranya pun tidak jauh berbeda di keempat etnis. Air dididihkan lebih dulu di dalam panci, baru kemudian tumbuhan dimasukkan dan ditunggu sekitar 10 sampai 15 menit. Kebanyakan air rebusan itu diminum. Daun alpukat dan daun kersen direbus untuk tekanan darah tinggi, sedangkan daun bidara direbus untuk melancarkan haid.

Sebagian rebusan tidak diminum, tetapi dipakai mandi. Air rebusan daun mimba dipakai untuk kulit, dan air rebusan daun beluntas dipakai untuk menghilangkan bau badan. Pada kasus pertama rebusan bekerja dari dalam, pada kasus kedua dari luar. Panci dan apinya sama.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Yang Diseduh dan Ditempel

Tidak semua tanaman tahan direbus. Kania mencatat bahwa merebus justru tidak efektif untuk tumbuhan yang senyawa berkhasiatnya hilang atau berkurang bila direbus, seperti daun babadotan. Daun itu cukup diseduh. Diolah atau tidak diolah, tulisnya, bergantung pada kebiasaan masyarakat setempat sendiri.

Banyak pula obat yang tidak melewati air sama sekali. Batang kaktus dikupas kulitnya lalu ditempelkan pada bisul atau bekas gigitan kalajengking. Buah kemiri dibakar sampai hangus, ditumbuk, dan ditempelkan pada bisul. Daun waru ditumbuk dan dibalutkan pada kaki atau tangan yang patah. Untuk gigi berlubang yang sakit, daun kemangi dikunyah atau kulit batang turi putih digaruk, lalu dimasukkan ke lubang gigi.

Daun adalah bagian yang paling sering diambil. Untuk tekanan darah tinggi saja, warga memakai daun afrika, alpukat, babadotan, kersen, dan pisang. Kania membaca pilihan itu sebagai tanda warga memperhatikan kelestarian, sebab memetik daun tidak mengganggu atau mematikan tanaman. Daun juga mudah ditemukan dan tersedia dalam jumlah banyak.

Bagian lain punya tugasnya sendiri. Batang kaktus, pisang, dan tebu merah dipakai untuk bisul, luka, dan panu, sedangkan akar pepaya dipakai untuk menghentikan darah pada luka. Rimpang jahe dan kencur dipakai untuk batuk, kunyit untuk nyeri haid, temulawak untuk maag, dan lengkuas untuk panu serta gatal-gatal.

Lalu ada ramuan campuran, tempat kemiri bertemu Sprite. “Masyarakat Flores pun menggunakan kombinasi dari berbagai tumbuhan obat yang terdapat di daerah etnis tersebut,” tulis Kania. Tabelnya memuat 19 ramuan. Bawang merah ditumbuk dengan minyak tanah lalu dioleskan untuk sakit perut. Kunyit diparut, diperas, dan diminum bersama kuning telur untuk maag. Jantung pisang direbus bersama bawang putih untuk penyakit jantung.

Catatan tanaman obat empat etnis FloresCatatan tanaman obat empat etnis FloresCatatan tanaman obat empat etnis FloresEtnis Ende, Lio, Nataia, dan Dhawe60jenis tanamandipakai berobat18jenis samadi keempat etnis42jenis berbedaantaretnis19ramuankombinasiJalan risetnyaDaun paling seringdipakaiPaling sering direbusDiwariskanturun-temurun
Sumber: Kania Fajrawati, Studi Etnobotani Tanaman Berkhasiat Obat Pada Etnis Ende, Lio, Nataia, Dhawe Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 10(1), 2024. Grafik: Cekricek.id

Sebagian ramuan pendek, sebagian panjang. Kencur dan jahe diiris tipis lalu diseduh untuk batuk berdahak, hanya dua bahan. Untuk kolesterol dan tekanan darah tinggi, enam bahan direbus sekaligus: buah srikaya, daun jamblang, meniran, beluntas, sirsak, dan umbi bawang putih. Untuk amandel, tembakau kering, buah kelereng, minyak kelapa, dan genoak dipanaskan lalu dioleskan.

Yang Diwariskan

Hampir setiap warga yang ditemui Kania mengatakan pengetahuannya datang turun-temurun dari nenek moyang. Sisanya mengaku mendapatkannya dari media sosial dan sumber lain. Pemakai terbanyak berada pada rentang usia 30-an sampai 60 tahun ke atas. Warga usia muda, tulisnya, tidak terlalu banyak memakai tanaman obat dalam pengobatan sehari-hari.

Perempuan dan laki-laki juga tidak berdiri di tempat yang sama. Perempuan lebih sering memakai tanaman untuk berobat karena lebih aktif bertukar pikiran dengan tetangga, termasuk soal tanaman. Mereka pula yang lebih banyak menanam dan mengolah, baik tanaman hias maupun tanaman obat. Karena itu, menurut Kania, pengetahuan tentang tanaman obat lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki.

Sekolah ternyata bukan pembedanya. Sebagian besar warga yang diwawancarai berpendidikan SMA, sebagian lain SD, SMP, dan perguruan tinggi. Kania menyimpulkan pengetahuan pengobatan tradisional seseorang tidak dipengaruhi pendidikannya, melainkan diturunkan orang tua dan dibentuk kebiasaan masyarakat. Warga juga menganggap tanaman obat lebih aman dibanding obat kimia, lebih mudah dijangkau, dan lebih murah.

Keluhan yang diobati kebanyakan penyakit tidak menular. Daftarnya panjang: demam, panas dalam, perut kembung, maag, tekanan darah tinggi, keseleo, nyeri haid, sakit gigi, sariawan, sampai ambeien. Di sisi lain ada pula penyakit menular seperti batuk, diare, bisul, cacar air, dan serampah. Untuk cacar air, biji kacang tanah dikunyah lalu disemburkan ke badan.

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Yang Belum Dibuktikan

Kania sendiri mengakui batas temuannya. Pemanfaatan tanaman itu, tulisnya, hanya kebiasaan turun-temurun tanpa pembuktian ilmiah tentang khasiatnya. Daftar yang ia susun dimaksudkan sebagai sumber data, dan sarannya pun lurus: kandungan dan aktivitas senyawa dalam tumbuhan asli Flores itu perlu diteliti. Artinya, kemanjuran tiap ramuan di atas adalah keyakinan pemakainya, bukan hasil pengujian.

Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Abstrak menyebut 60 jenis tanaman, sedangkan tabel tanaman tunggal bernomor sampai 84, dengan nomor 43 sampai 84 mengulang nomor 1 sampai 42. Wawancara direncanakan 20 orang per etnis, tetapi etnis Dhawe tercatat 23 orang. Nama penulis pun tertulis Fajarwati di kepala naskah dan Fajrawati di bagian lain.

Dua hal lain menyangkut isi. Daun mimba disebut untuk menghilangkan luka di satu bagian, dan untuk penyakit kulit di tabel serta simpulan. Perebusan 10 sampai 15 menit oleh warga disebut sejalan dengan sebuah rujukan, padahal rujukan itu menyebut perebusan 3 sampai 5 jam untuk menghilangkan racun. Naskah tidak menjelaskan selisih-selisih itu.

Yang tersisa adalah dua gambar yang berdampingan. Di lereng, orang Lio dan Nataia memetik dari kebun sendiri; di pantai, orang Ende dan Dhawe sebagian membelinya di pasar. Keduanya lalu mendidihkan air di panci yang sama, memasukkan daun, dan menunggu. Di antara faloak yang hanya disebut khas Flores dan Sprite yang bisa dibeli di mana saja, naskah ini tidak memilih mana yang lebih manjur.

Bagikan

Baca Juga

Suku Ma’ya Raja Ampat Memalang Pos Konservasi di Laut Sendiri
Salah Takar Parasetamol Anak Australia Jarang Berujung Rusak Hati
Video Penyakit Ketinggian Paling Disukai Justru Kurang Bermutu
Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi
Berat Badan Ibu Sebelum Hamil Terbawa ke Tubuh Anak di Taiwan
Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi