- Kira-kira satu dari tiga anak dari ibu obesitas sudah kelebihan berat pada usia 66 bulan.
- Jarak antara anak dari ibu gemuk dan anak dari ibu berberat normal terus melebar sejak lahir sampai menjelang sekolah.
- Diabetes dan tekanan darah tinggi selama hamil nyaris tidak menambah penjelasan setelah berat badan ibu ikut dihitung.
- Kaitan berat badan ayah dengan tubuh anak ternyata lebih lemah daripada kaitan berat badan ibu.
Daftar Isi
Perawat kesehatan masyarakat mendatangi rumah demi rumah di Taiwan, mewawancarai para ibu, lalu mencatat berat dan tinggi anak mereka. Kunjungan itu berulang ketika si anak berumur enam bulan, delapan belas bulan, tiga tahun, dan lima setengah tahun. Bila tersedia, angka yang diperoleh dicocokkan dengan Buku Kesehatan Anak dan Buku Kesehatan Ibu, dua buku catatan perawatan rutin dari Health Promotion Administration.
Dari catatan semacam itulah Yuan-Der Huang, Hsiu-Chuan Chen, Yun-Shao Huang, Meng-Chih Lee, dan Chih-Jung Yeh menyusun artikel Maternal pre-pregnancy BMI and early childhood adiposity trajectories: longitudinal evidence from the Taiwan birth cohort study, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka mengikuti 20.764 pasangan ibu dan anak sejak hari lahir sampai usia 66 bulan. Pertanyaannya satu: seberapa jauh berat badan ibu sebelum hamil terbawa ke tubuh anaknya.
Para ibu dipilah menurut ukuran yang dipakai Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan, yaitu indeks massa tubuh sebelum hamil. Hampir dua pertiganya, 65,5 persen, berberat normal, dan seperlima lagi, 20,2 persen, tergolong kurus. Sisanya lebih sedikit tetapi menjadi pusat perhatian: 1.834 ibu atau 8,8 persen berberat berlebih, dan 1.122 ibu atau 5,4 persen masuk golongan obesitas.
Buku Kesehatan Ibu
Rumah para ibu yang lebih berat itu punya ciri yang berulang. Pasangan mereka lebih sering ikut kelebihan berat: 60,31 persen pada ibu berberat berlebih dan 63,55 persen pada ibu obesitas, sedangkan pada ibu berberat normal 49,83 persen. Bayi mereka juga lebih sering lahir besar, 4.000 gram atau lebih. Angkanya 5,26 persen pada ibu obesitas, padahal hanya 1,50 persen pada ibu berberat normal.
Masa hamil mereka pun lebih berat. Pedoman kesehatan ibu di Taiwan mematok kenaikan berat selama hamil 10 sampai 14 kilogram, dan 68,89 persen ibu obesitas melampauinya, hampir dua kali ibu berberat normal yang 36,21 persen. Diabetes saat hamil tercatat pada 8,02 persen ibu obesitas, tekanan darah tinggi saat hamil pada 9,45 persen. Pada ibu berberat normal, keduanya tidak sampai dua persen.
Di luar tubuh, polanya searah. Makin tinggi indeks massa tubuh ibu, tulis para penulis, makin rendah pendidikan dan pendapatan rumah tangganya, dan makin sering ia tinggal di perdesaan. Bayi yang masih disusui pada umur enam bulan ada 75,67 persen di kelompok ibu obesitas, lebih sedikit daripada 83,46 persen di kelompok ibu berberat normal. Sebaliknya, ibu yang kurus lebih sering berasal dari luar Taiwan.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Timbangan Usia 66 Bulan
Beda itu sudah tampak pada timbangan pertama. Saat lahir, 22,4 persen bayi dari ibu obesitas dan 20,2 persen bayi dari ibu berberat berlebih tergolong kelebihan berat, yaitu gabungan berat berlebih dan obesitas. Pada bayi dari ibu berberat normal angkanya 14,9 persen, dan pada bayi dari ibu kurus 10,0 persen. Selisihnya belum lebar, tetapi arahnya sudah jelas.
Lima setengah tahun kemudian, selisih itu menganga. Kira-kira satu dari tiga anak dari ibu obesitas sudah kelebihan berat pada usia 66 bulan. Persisnya 32,5 persen, lebih dari dua kali angka anak dari ibu berberat normal yang 15,2 persen. Pada anak dari ibu kurus, angkanya malah turun menjadi 6,0 persen. Kelompok yang lahir paling ringan tetap paling ringan.
Bila yang dihitung hanya obesitas, yakni anak yang berada di atas persentil 95 kurva tumbuh anak Taiwan, tangga itu makin curam. Pada usia 66 bulan, 17,4 persen anak dari ibu obesitas sudah obesitas, begitu pula 9,1 persen anak dari ibu berberat berlebih. Di kelompok ibu berberat normal angkanya 4,8 persen. Di kelompok ibu kurus hanya 1,1 persen, kira-kira satu dari sembilan puluh anak.
Angka mentah itu belum memisahkan pengaruh ayah, kenaikan berat selama hamil, serta penyakit kehamilan. Setelah semuanya diperhitungkan, kaitannya menyusut tetapi tidak hilang. Peluang anak mengalami obesitas pada usia 66 bulan tetap 1,58 kali lebih besar bila ibunya berberat berlebih, dan 1,82 kali bila ibunya obesitas, dibandingkan anak dari ibu berberat normal. Sebelum penyesuaian, angka untuk ibu obesitas mencapai 5,13 kali.
Kalimat simpulan naskah itu ditulis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan di sini. “Berat badan berlebih dan obesitas ibu sebelum hamil merupakan prediktor paling konsisten bagi indeks massa tubuh anak serta berat berlebih dan obesitas pada masa kanak-kanak awal,” tulis Yuan-Der Huang, peneliti di Departemen Obstetri dan Ginekologi Taichung Hospital, bersama keempat rekannya. Kata yang mereka pilih ialah prediktor, bukan penyebab.
Kurva yang Berbelok
Gambar yang paling banyak bercerita dalam naskah itu ialah empat garis indeks massa tubuh anak, satu untuk tiap golongan ibu, yang ditarik dari hari lahir sampai 66 bulan. Keempatnya tidak berjalan sejajar. Jarak antara anak dari ibu gemuk dan anak dari ibu berberat normal terus melebar sejak lahir sampai menjelang sekolah. Hitungan para penulis menegaskan pelebaran itu, baik untuk ibu berberat berlebih maupun ibu obesitas.
Ada pula belokan. Pada anak dari ibu obesitas, garis itu tampak menikung naik di sekitar umur 36 bulan, lalu bertahan di tingkat yang lebih tinggi. Pada anak dari ibu berberat berlebih, tikungan serupa baru terlihat di sekitar 48 bulan. Para penulis berhati-hati di titik ini: belokan itu mereka baca dari pengamatan atas garis mentah, sedangkan kesimpulan resminya bersandar pada hitungan pelebaran tadi.
Belokan yang datang lebih awal itu penting bagi mereka. Naiknya kembali lemak tubuh pada umur yang lebih muda, tulis para penulis, sudah lama dikenal sebagai penanda obesitas dan gangguan metabolik di kemudian hari. Karena itu mereka menilai pencegahan lanjutan perlu dimulai sebelum anak masuk sekolah. Usia 66 bulan sengaja dipilih sebagai garis akhir, sebelum rutinitas sekolah dan teman sebaya ikut mengubah keadaan.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Gula Darah dan Tekanan Darah
Dua penyakit kehamilan yang lazim dicurigai ternyata tidak banyak berbicara. Diabetes dan tekanan darah tinggi selama hamil nyaris tidak menambah penjelasan setelah berat badan ibu ikut dihitung. Kaitan diabetes saat hamil dengan tubuh anak tinggal kecil saja. Kaitan tekanan darah tinggi saat hamil bahkan tidak lagi bermakna. Para penulis menduga keduanya bekerja lewat jalur yang sama dengan lemak tubuh ibu, bukan lewat jalur sendiri.
Dari situ mereka menarik garis yang tegas, dalam kalimat berbahasa Inggris yang diterjemahkan di sini. “Meskipun menurunkan risiko diabetes gestasional dan gangguan hipertensi pada kehamilan penting untuk mengoptimalkan hasil kehamilan, intervensi semacam itu kecil kemungkinannya memengaruhi obesitas anak secara langsung,” tulis Huang dan rekan-rekannya. Menurut mereka, yang perlu didahulukan ialah berat badan ibu sebelum hamil, bukan penyakit kehamilan yang ditangani satu per satu.
Lain halnya dengan kenaikan berat yang berlebihan selama hamil. Faktor ini bertahan sebagai penanda tersendiri bagi tubuh anak, di samping berat ibu sebelum hamil. Para penulis tidak menemukan tanda bahwa keduanya saling memperkuat. Masing-masing menyumbang sendiri-sendiri, sehingga anak yang terpapar beberapa faktor sekaligus cenderung memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi pada masa kanak-kanak awal.
Timbangan Ayah
Ayah dihadirkan sebagai pembanding. Ia berbagi gen dan dapur dengan ibu, tetapi tidak punya jalur langsung ke dalam rahim. Kalau semua ini hanya soal keturunan dan kebiasaan serumah, berat ayah semestinya sama kuatnya. Kaitan berat badan ayah dengan tubuh anak ternyata lebih lemah daripada kaitan berat badan ibu. Bagi para penulis, selisih itu membuat dugaan adanya jalur dari dalam kandungan menjadi masuk akal.
Bayi yang lahir dengan berat 4.000 gram atau lebih membawa kaitan paling kuat dengan indeks massa tubuh pada tahun-tahun berikutnya. Sebaliknya, menyusui sampai enam bulan, pendapatan keluarga, dan tempat tinggal di kota atau desa tidak menunjukkan kaitan yang bermakna. Setelah semua faktor itu masuk hitungan, kaitan berat ibu dengan tubuh anak turun sekitar 30 persen, tetapi tetap bertahan.
Taiwan memberi warna sendiri pada angka-angka itu. Dibandingkan populasi Barat, tulis para penulis, populasi Asia menanggung risiko metabolik yang lebih tinggi pada ambang indeks massa tubuh yang lebih rendah, terutama karena beda sebaran lemak dan kepekaan insulin. Hal itu mungkin ikut menjelaskan mengapa kaitan di Taiwan lebih kuat daripada di kelompok serupa di Eropa. Kerangka pencegahan yang disusun dari data Barat bisa meremehkan risiko di Asia.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Usulan mereka mengikuti temuan itu. Konseling sebelum hamil, upaya membawa berat ibu ke kisaran yang sehat, dan pemantauan kenaikan berat selama hamil disarankan masuk ke dalam program kesehatan ibu nasional. Para penulis menyebut layanan primer dan komunitas sebagai tempat yang paling menjanjikan untuk memperluasnya. Itu saran mereka, bukan hasil uji coba yang dilaporkan dalam naskah ini.
Batas Catatan Itu
Catatan itu punya batas yang diakui penulisnya. Berat dan tinggi ibu sebelum hamil berasal dari pengakuan ibu sendiri, sehingga bisa meleset oleh ingatan. Keterangan tentang makanan dan gerak anak setelah lahir terbatas, dan data laboratorium tidak tersedia. Anak-anak dalam catatan ini pun lahir bertahun-tahun silam, sehingga belum tentu mewakili keluarga Taiwan masa kini.
Karena itu pula bahasanya tetap hati-hati. Yang ditunjukkan ialah kaitan yang bertahan lama, bukan bukti bahwa berat ibu menyebabkan gemuk anak. Para penulis sendiri menyebutnya hubungan yang potensial. Mereka menambahkan satu uji kepekaan, yang menurut mereka menunjukkan bahwa hanya faktor tak terukur yang cukup kuat yang sanggup menghapus seluruh kaitan tersebut.
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca di naskah itu. Disebutkan 24.200 pasangan ibu dan bayi terpilih mewakili 206.932 kelahiran hidup pada 2005, lalu 149 dan 335 pasangan dikeluarkan. Sisanya mestinya 23.716, bukan 20.764, dan selisih itu tidak diterangkan di badan naskah. Di bagian keterbatasan, anak-anak yang sama disebut lahir antara 2005 dan 2011.
Kunjungan lanjutan disebut berlangsung pada umur 6, 18, 36, dan 66 bulan, tetapi garis indeks massa tubuh digambar dengan tujuh titik, termasuk 12, 24, dan 48 bulan. Teks juga menyatakan faktor pascalahir lain tidak berkaitan dengan tubuh anak. Padahal tabelnya memuat satu yang bermakna, yakni pemberian makanan pendamping sebelum enam bulan.
Semua itu tidak mengubah apa yang tercatat di buku-buku kesehatan tadi. Perawat datang ke rumah untuk menimbang seorang anak, tetapi angka di timbangan itu sebagian sudah tertulis lebih dulu, di lembar tentang ibunya sebelum ia hamil. Pada usia 66 bulan, ketika kunjungan terakhir selesai, jarak antara anak yang satu dan yang lain sudah lebih lebar daripada hari mereka lahir.













