Daftar Isi
Anak yang lahir dari orang tua mapan di Swedia dan anak yang lahir dari orang tua pendatang dengan pendidikan rendah pernah berbagi kurva berat badan yang nyaris sama selama puluhan tahun. Enam dekade catatan kesehatan sekolah di Gothenburg menunjukkan persis titik ketika keduanya berpisah arah, dan seberapa jauh jarak itu melebar.
Temuan itu ditulis Maria Bygdell, Klara Hemmed, Jari Martikainen, Carl Bonander, Lovisa Sjögren, Claes Ohlsson, dan Jenny M Kindblom dalam Six decades of trends in BMI, thinness, overweight, and obesity among 210,927 Swedish children in different socioeconomic contexts, dimuat di jurnal BMC Public Health, 26(2627), 2026. Maria Bygdell dan sebagian besar rekannya berasal dari Sahlgrenska Academy, Universitas Gothenburg, sementara satu penulis lain tercatat di Karlstad Business School.
Satu Kohort, Enam Dekade
Data berasal dari kohort BMI Epidemiology Study, mengumpulkan tinggi dan berat badan 210.927 anak usia tujuh tahun di Kota Gothenburg antara 1952 dan 2017, dari total pengukuran usia enam sampai delapan tahun yang lalu distandarkan ke usia tujuh. Setiap anak Swedia lewat pemeriksaan kesehatan sekolah secara rutin, dan angka itu tersimpan di arsip pusat kota setelah masa sekolah selesai. BMI rata-rata seluruh kohort, sepanjang enam dekade itu, tercatat 15,75 kg/m2 dengan simpangan baku 1,73.
Sejak 2002, catatan tinggi dan berat badan itu bisa disandingkan dengan data sosial ekonomi orang tua dari registri nasional Swedia: negara lahir, tingkat pendidikan, dan pendapatan keluarga. Subpopulasi ini mencapai 65.556 anak, memberi peneliti kesempatan menelusuri apakah tren berat badan berjalan sama di semua lapisan keluarga, atau justru berbeda menurut latar sosial ekonomi orang tuanya masing-masing. Pendapatan dikategorikan berdasarkan median tiap tahun berjalan, sementara pendidikan dibagi antara di bawah atau di atas dua belas tahun sekolah.
Kurva yang Sama untuk Semua
Sebelum 2002, satu kurva cukup mewakili seluruh anak Gothenburg, tanpa perlu dipecah menurut latar belakang keluarga. Model regresi berpotongan menemukan tiga titik patah dalam data itu, membelah enam dekade menjadi empat fase dengan arah yang berbeda-beda. Fase pertama, 1952 sampai 1973, mencatat kenaikan BMI tipis, Beta 0,04 kg/m2 per lima tahun, berlaku sama untuk anak laki-laki dan perempuan.
Fase kedua, 1974 sampai 2001, kenaikannya melompat jadi 0,14 kg/m2 per lima tahun, hampir tiga setengah kali lebih curam dibanding fase sebelumnya. Fase ketiga lalu membalik arah sepenuhnya: antara 2002 dan 2006, BMI turun tajam, Beta -0,37 kg/m2 per lima tahun, pada anak laki-laki maupun perempuan, penurunan paling curam di sepanjang periode yang diamati studi ini.
Ketiga fase pertama ini berlaku rata untuk seluruh anak Gothenburg, tanpa memandang latar belakang keluarga, sebelum sosial ekonomi orang tua mulai mengambil peran nyata di fase keempat. Kelebihan berat badan dan obesitas mengikuti pola serupa: rasio odds obesitas anak laki-laki naik 1,48 kali per lima tahun pada fase kedua, lalu turun jadi 0,47 kali pada fase ketiga, sebelum kembali terpecah dua arah sesudah 2008.
Ortu Swedia, Berpendidikan Tinggi
Fase keempat, 2008 sampai 2017, memecah kurva tunggal itu jadi dua arah yang berlawanan. Pada anak dengan orang tua lahir di Swedia, BMI-nya nyaris tidak bergerak, Beta -0,01 kg/m2 per lima tahun dari 35.702 anak. Anak dengan orang tua berpendidikan tinggi juga stabil, Beta -0,02 dari 38.168 anak, dan anak dari keluarga berpendapatan tinggi malah sedikit menurun, Beta -0,01 dari 32.533 anak.
Kombinasi ketiga faktor itu pada satu kelompok, orang tua lahir Swedia, berpendidikan tinggi, dan berpendapatan tinggi, mencatat Beta paling rendah dari semua kombinasi yang diuji dalam analisis intersectional, -0,03 kg/m2 per lima tahun, dari 14.386 anak. Kelompok inilah yang paling dekat dengan garis datar pada fase keempat, seolah tren kenaikan panjang sebelum 2001 sudah selesai bagi mereka.
Ortu Pendatang, Berpendidikan Rendah
Di sisi lain, anak dengan orang tua yang tidak lahir di Swedia mencatat Beta 0,06 kg/m2 per lima tahun pada fase yang sama, jelas naik, dari 28.186 anak. Anak dengan orang tua berpendidikan rendah naik lebih tajam lagi, Beta 0,09 dari 25.191 anak, tren kenaikan paling tinggi di antara seluruh kategori sosial ekonomi tunggal yang diuji dalam studi ini. Anak dari keluarga berpendapatan rendah juga naik, Beta 0,05 dari 31.063 anak.
Kombinasi tiga faktor pada sisi ini, orang tua bukan Swedia, berpendapatan rendah, dan berpendidikan rendah, mencatat Beta 0,14 kg/m2 per lima tahun dari 8.850 anak. Kombinasi lain yang jumlah anaknya lebih kecil, orang tua bukan Swedia dengan pendapatan tinggi tapi pendidikan rendah, justru mencatat kenaikan tertinggi dari seluruh delapan kombinasi, 0,25 kg/m2 per lima tahun, meski hanya mewakili 1.565 anak.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Yang Sama di Kedua Sisi
Dari ketiga faktor sosial ekonomi itu, pendidikan orang tua tampak paling konsisten memisahkan dua arah, lebih tegas dibanding negara lahir atau pendapatan. Anak dengan orang tua berpendidikan rendah naik pada fase keempat apa pun status pendapatan atau negara lahirnya, sementara anak dengan orang tua berpendidikan tinggi relatif stabil pada kombinasi faktor manapun ia berada, seakan pendidikan menjadi penyekat paling kuat di antara ketiganya.
“Notably, children to parents with low educational level, regardless of income or country of birth, had the most pronounced upward trend from 2008,” tulis Maria Bygdell dan tim dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimatnya berarti kira-kira: anak-anak dengan orang tua berpendidikan rendah, tanpa memandang pendapatan atau negara lahir, mencatat tren kenaikan paling tajam sejak 2008, melampaui pemisahan yang dibuat dua faktor lainnya.
Satu hal lain berlaku sama di kedua sisi tanpa terkecuali: proporsi anak berkategori kurus terus menurun sepanjang 1952 sampai 2017, tanpa terpengaruh empat fase yang membelah tren BMI. Rasio odds penurunan kategori kurus ini tercatat 0,98 pada anak laki-laki dan 0,96 pada anak perempuan, dan interaksi tahun dengan jenis kelamin pada BMI maupun kategorinya juga tidak pernah signifikan, sehingga pemisahan dua arah ini murni soal sosial ekonomi, bukan soal gender.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Yang Belum Terjawab
Peneliti sendiri menyebut studi ini tidak memiliki data BMI maupun gaya hidup orang tua, sehingga kontribusi warisan berat badan dari orang tua ke anak tidak bisa dinilai langsung dari data yang tersedia. Keterbatasan ini membuat penjelasan di balik dua arah tren sesudah 2008 tetap berupa dugaan yang masuk akal, bukan pengukuran langsung yang bisa dipastikan.
Studi ini juga mengandalkan data pengamatan dari registri kesehatan dan sensus, bukan uji coba terkendali. Karena itu, hubungan antara sosial ekonomi orang tua dan tren BMI anak yang dilaporkan di sini tetap berstatus korelasi, bukan sebab-akibat yang arahnya sudah bisa dipastikan sepenuhnya. Interaksi antara tahun dan ketiga faktor sosial ekonomi itu tercatat bermakna secara statistik untuk BMI kontinu maupun untuk kategori kelebihan berat badan dan obesitas, dengan nilai p mulai dari kurang dari 0,05 sampai kurang dari 0,001.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Ada satu hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca yang membuka naskah aslinya. Tabel 1 dalam artikel ini melaporkan interval kepercayaan 95 persen untuk setiap nilai Beta di tiga fase pertama, tapi baris Fase 4 mencantumkan keterangan “> 0,05” untuk laki-laki maupun perempuan, sebuah nilai p, bukan rentang interval kepercayaan seperti baris-baris fase lain pada tabel yang persis sama. Format pelaporan di dalam satu tabel itu sendiri jadi tidak konsisten dari baris ke baris.
Enam dekade angka ini akhirnya menunjukkan sebuah perpisahan, bukan sebuah akhir. Kurva tunggal yang dulu mewakili semua anak Gothenburg kini terbelah dua, satu mendatar di dekat titik nol, satu terus menanjak tanpa tanda melambat, dan jarak di antara keduanya baru benar-benar terlihat sejak 2008, sesudah puluhan tahun keduanya bergerak nyaris berimpit.















