Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi

A A

Ilustrasi kapsul antibiotik amoksisilin merah-kuning tumpah dari botol obat di atas meja [Foto: JustinLing/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Lebih dari delapan dari sepuluh anak Italia yang diikuti menerima resep antibiotik sebelum ulang tahun keempat.
  • Kira-kira satu dari tujuh anak sudah banyak menerima resep antibiotik sejak bulan-bulan pertama hidupnya.
  • Anak di Italia Selatan rata-rata menerima 6,6 resep, sedangkan anak di Timur Laut 3,7 resep.
  • Anak yang lahir pada 2014 sampai 2018 lebih jarang berada di jalur tinggi dibanding kelompok tertua.
  • Alasan tiap resep ditulis tidak tercatat, sehingga perlu atau tidaknya resep itu tidak bisa dipastikan.
Daftar Isi
  1. Obat yang datang sebelum ulang tahun pertama
  2. Empat jalur yang tidak pernah bertemu
  3. Garis utara dan selatan yang membelah resep
  4. Kemiskinan, kecemasan, dan tangan yang menulis resep
  5. Anak yang lahir belakangan, jalur yang sedikit bergeser
  6. Beberapa angka yang patut dibaca dua kali

Antibiotik lazim dibayangkan sebagai obat yang datang sesekali, ketika seorang anak benar-benar sakit dan tidak ada jalan lain yang tersisa. Bayangan itu goyah begitu catatan para dokter anak keluarga di Italia dibuka, sebab di sana obat ini hadir begitu sering dan begitu dini, sehingga hampir tidak ada masa kecil yang berlalu tanpanya. Dari setiap sepuluh anak yang catatannya diikuti sampai ulang tahun keempat, lebih dari delapan pernah pulang membawa setidaknya satu resep antibiotik.

Catatan itu dibaca oleh Isabella Rosato, Gloria Porcu, Daniele Donà, Erich Batzella, Carlo Giaquinto, Anna Cantarutti, dan Cristina Canova, para peneliti dari University of Padua dan University of Milano-Bicocca, dalam artikel Trajectories of antibiotic prescriptions in Italian children in the first four years of life: a retrospective birth-cohort study yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Mereka menelusuri 134.098 anak yang lahir antara 2004 dan 2018 dan dirawat dokter anak yang sama selama empat tahun pertama hidupnya, lalu menghitung 684.010 resep antibiotik untuk mereka.

Yang mereka temukan bukan satu cerita tentang anak Italia, melainkan beberapa cerita yang berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar bertemu. Separuh anak menerima paling banyak tiga resep selama empat tahun, seperempatnya menerima tujuh atau lebih, dan di ujung yang paling jauh ada anak perempuan dengan 67 resep serta anak laki-laki dengan 68 resep. Angka rata-rata, yang berhenti di 4,8 resep per anak, menyembunyikan jarak selebar itu.

Obat yang datang sebelum ulang tahun pertama

Perkenalan dengan antibiotik terjadi cepat, lebih cepat daripada yang barangkali disangka orang tua mana pun. Dalam tiga bulan pertama hidupnya, 6,8 persen anak sudah menerima setidaknya satu resep, dan sebelum genap setahun jumlahnya menjadi 58.353 anak, atau 43,5 persen dari seluruh anak yang diikuti. Ketika ulang tahun keempat tiba, 112.838 anak, setara 84,1 persen, pernah diberi obat ini oleh dokter anak keluarganya.

Sesudah bulan kesembilan, arus itu tidak lagi naik tajam, tetapi juga tidak surut. Pada setiap tiga bulan antara usia sembilan bulan dan empat tahun, kira-kira seperempat anak menerima sedikitnya satu resep, dengan kisaran 22,8 sampai 26,8 persen, dan puncaknya jatuh pada usia 39 sampai 42 bulan. Antibiotik, dengan kata lain, bukan tamu satu musim dalam masa kecil anak-anak ini, melainkan sesuatu yang terus kembali dari tahun ke tahun.

Jenis obatnya pun bercerita. Lebih dari separuh resep, tepatnya 55,0 persen, adalah penisilin, sedangkan sefalosporin mengisi 22,7 persen dan makrolida 19,8 persen, sehingga dua golongan terakhir itu bersama-sama mencakup 43 persen resep. Para penulis mengingatkan bahwa sebagian molekul dari kedua golongan tersebut, menurut klasifikasi AWaRe milik Organisasi Kesehatan Dunia, masuk kelompok yang semestinya hanya dipakai untuk infeksi tertentu dan terbatas, karena besar kemungkinannya memicu kekebalan kuman terhadap obat.

Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik

Empat jalur yang tidak pernah bertemu

Ketika riwayat resep tiap anak dibentangkan menurut waktu, anak-anak itu terpilah ke dalam empat jalur. Jalur terbesar, 34,9 persen anak, nyaris tidak bersentuhan dengan antibiotik sepanjang empat tahun. Di seberangnya berdiri jalur yang paling mencemaskan, 14,3 persen atau kira-kira satu dari tujuh anak, yang sudah banyak menerima resep sejak bulan-bulan pertama hidupnya dan tetap demikian sampai akhir masa pengamatan.

Empat jalur resep antibiotik anak ItaliaSangat rendah sepanjang empat tahun: Persen anak +34,9%; Rendah, lalu naik ke sedang: Persen anak +22,8%; Sedang, lalu turun ke rendah: Persen anak +28,0%; Tinggi sejak bulan-bulan pertama: Persen anak +14,3%.Empat jalur resep antibiotik anak ItaliaPersen dari 134.098 anak lahir 2004-2018, usia 0-4 tahun10%20%30%40%0Sangat rendah sepanjang empat tahun34,9%Rendah, lalu naik ke sedang22,8%Sedang, lalu turun ke rendah28,0%Tinggi sejak bulan-bulan pertama14,3%Jalur dibaca dari ada-tidaknya resep dokter anak keluarga tiap tigabulan.
Sumber: Isabella Rosato, Gloria Porcu, Daniele Donà, Erich Batzella, Carlo Giaquinto, Anna Cantarutti, dan Cristina Canova, Trajectories of antibiotic prescriptions in Italian children in the first four years of life: a retrospective birth-cohort study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di antara keduanya ada dua jalur yang bersilangan. Sebanyak 22,8 persen anak mula-mula jarang diberi antibiotik, lalu lebih sering menerimanya pada tahun ketiga dan keempat. Rosato dan rekan-rekannya membaca kenaikan itu sebagai jejak pergaulan, sebab anak Italia berusia tiga tahun ke atas biasanya mulai berbaur dengan teman sebaya di taman kanak-kanak, tempat risiko infeksi meningkat. Bersama jalur yang sangat rendah, jalur ini mereka sebut sebagai pola peresepan yang optimal dan diinginkan.

Jalur ketiga, yang diikuti 28,0 persen anak, bergerak ke arah berlawanan, yakni lebih banyak resep pada dua tahun pertama dan lebih sedikit sesudahnya. Bagi para penulis, pola ini mungkin mencerminkan perhatian medis yang tinggi semasa bayi, baik dari dokter maupun dari orang tua, atau kerentanan dini terhadap infeksi. Mereka juga menyebut penitipan anak sebelum usia tiga tahun dan kehadiran kakak atau adik di rumah, dua hal yang memperbesar paparan infeksi pada awal hidup.

Adapun jalur tinggi, menurut naskah itu, berisi anak-anak yang paling berisiko mengalami akibat buruk dari paparan antibiotik yang berlebihan. Para penulis tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian dari mereka memang memiliki kondisi kesehatan yang membuatnya sering terinfeksi. Namun, mereka juga membaca jalur ini sebagai tanda adanya pola peresepan yang tidak tepat, misalnya resep yang terlalu mudah diberikan atau antibiotik yang dipakai untuk infeksi ringan dan infeksi virus.

Garis utara dan selatan yang membelah resep

Namun, empat jalur itu tidak tersebar merata di peta Italia, dan di sinilah gambaran tentang tubuh anak mulai bergeser menjadi gambaran tentang tempat tinggal. Anak di wilayah Timur Laut rata-rata menerima 3,7 resep selama empat tahun dan anak di Barat Laut 4,0 resep, sedangkan anak di Italia Tengah menerima 5,3 dan anak di Selatan 6,6 resep. Nilai tengahnya bergerak searah, dari tiga resep di utara menjadi lima resep di selatan.

Timur Laut dan Selatan, dua wajah resepAnak Italia Timur Laut rata-rata menerima 3,7 resep antibiotik dalam empat tahun pertama, anak Selatan 6,6; separuh anak di jalur tinggi tinggal di Selatan.Timur Laut dan Selatan, dua wajah resepResep antibiotik per anak pada empat tahun pertama hidupTimur LautSelatan59.52136.943Jumlah anak3,76,6Rata-rata resep35Nilai tengah resep52,1%21,9%Porsi di jalursangat rendah23,6%50,6%Porsi di jalurtinggiPorsi = bagian anak di jalur itu yang tinggal di wilayah tersebut.
Sumber: Isabella Rosato, Gloria Porcu, Daniele Donà, Erich Batzella, Carlo Giaquinto, Anna Cantarutti, dan Cristina Canova, Trajectories of antibiotic prescriptions in Italian children in the first four years of life: a retrospective birth-cohort study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Susunan tiap jalur memperlihatkan hal yang sama dari sisi lain. Lebih dari separuh anak di jalur sangat rendah, 52,1 persen, tinggal di Timur Laut, sementara 50,6 persen anak di jalur tinggi tinggal di Selatan. Setelah jenis kelamin, tahun lahir, dan keadaan sosial lingkungan diperhitungkan, peluang anak Selatan berada di jalur tinggi alih-alih jalur sangat rendah tetap 4,84 kali peluang anak Timur Laut, dan bagi anak Italia Tengah angkanya 3,63 kali.

Orang bisa menduga bahwa anak di selatan memang lebih sering sakit. Justru sebaliknya, kata para penulis. “Peran perbedaan kejadian infeksi antarwilayah Italia tampaknya kecil kemungkinannya, dan kalaupun perbedaan itu ada, iklim yang lebih hangat kemungkinan besar menguntungkan Italia Selatan, yang justru menjadi wilayah dengan pemakaian antibiotik tertinggi,” tulis Rosato, Porcu, Donà, Batzella, Giaquinto, Cantarutti, dan Canova dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Kemiskinan, kecemasan, dan tangan yang menulis resep

Kalau bukan kuman, lalu apa yang membedakan utara dari selatan? Para penulis menunjuk keadaan sosial dan ekonomi orang tua, yang menurut mereka sangat memengaruhi cara keluarga mencari pertolongan dan pengetahuan tentang pemakaian antibiotik yang benar pada anak. Mereka juga mengutip bukti bahwa tenaga kesehatan lebih condong meresepkan antibiotik kepada pasien dari latar yang kekurangan, karena khawatir akan komplikasi dan karena tekanan yang mereka rasakan.

Data mereka sendiri memberi sokongan yang tidak bulat. Di jalur sangat rendah, 55,1 persen anak tinggal di lingkungan dengan dua tingkat kesejahteraan teratas, dan hanya 12,6 persen berasal dari lingkungan paling kekurangan, sedangkan di jalur tinggi bagian anak dari lingkungan paling kekurangan mencapai sekitar 26 persen. Akan tetapi, begitu wilayah dan faktor lain ikut dihitung, kaitan itu menipis, sebab peluang anak dari lingkungan termiskin berada di jalur tinggi hanya 1,10 kali peluang anak dari lingkungan paling sejahtera.

Jenis kelamin ikut memberi warna, walau lebih halus. Anak laki-laki rata-rata menerima 5,0 resep dan anak perempuan 4,5 resep, dan di jalur tinggi 55,7 persen anggotanya laki-laki. Peluang anak laki-laki berada di jalur tinggi alih-alih jalur sangat rendah tercatat 1,35 kali peluang anak perempuan, sebuah selisih yang jauh lebih kecil daripada selisih antarwilayah, tetapi muncul berulang pada ketiga jalur yang dibandingkan dengan jalur terendah.

Anak yang lahir belakangan, jalur yang sedikit bergeser

Waktu, setidaknya, tampak berpihak pada anak-anak yang lahir lebih akhir. Mereka yang lahir pada 2004 sampai 2008 rata-rata menerima 5,0 resep, sedangkan yang lahir pada 2014 sampai 2018 menerima 4,3 resep, dan peluang kelompok termuda ini berada di jalur tinggi hanya 0,58 kali peluang kelompok tertua. Para penulis menduga perubahan itu merupakan buah kampanye edukasi di Italia tentang pemakaian antibiotik yang lebih tepat pada anak, antara lain rencana aksi nasional melawan kekebalan kuman terhadap obat.

Di situlah persoalannya menjadi kurang sederhana. Anak yang lahir pada 2014 sampai 2018 justru lebih sering masuk jalur ketiga, yang resepnya menurun pada tahun ketiga dan keempat, dengan peluang 1,28 kali kelompok tertua. Sebagian besar dari mereka berusia tiga sampai empat tahun ketika pandemi COVID-19 berlangsung, sehingga para penulis sendiri menimbang kemungkinan bahwa penurunan tersebut lahir dari masa karantina dan berkurangnya pergaulan, bukan dari kebiasaan meresepkan yang sudah berubah.

Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina

Para penulis terbuka tentang batas bacaan mereka. Yang tercatat hanyalah resep dari dokter anak keluarga, bukan obat yang benar-benar diminum, dan resep dari luar layanan primer tidak terlihat sama sekali. Alasan tiap resep ditulis juga tidak tersedia, sehingga tidak ada yang bisa memastikan resep mana yang perlu dan mana yang tidak. Meski begitu, mereka menulis bahwa “tampaknya kecil kemungkinan pemakaian yang tinggi pada sebagian kelompok itu selalu tepat dan diperlukan”.

Temuan ini pun hanya berlaku bagi anak yang dirawat dokter dalam jaringan Pedianet, yang mencakup hampir dua persen anak yang lahir di Italia pada tahun-tahun itu. Bayi yang lahir prematur, bayi dengan berat lahir rendah, dan anak yang berganti dokter tidak ikut dihitung. Karena masa pengamatan melewati pandemi, para penulis memperingatkan bahwa besarnya pemakaian antibiotik pada anak Italia mungkin malah terhitung lebih rendah daripada keadaan sebenarnya.

Beberapa angka yang patut dibaca dua kali

Pembaca yang teliti akan menjumpai beberapa hal yang tidak selaras di dalam naskah. Abstrak menyebut 143.098 anak, sedangkan badan naskah dan tabel-tabelnya konsisten menulis 134.098. Pada satu kalimat, jumlah resep untuk anak perempuan ditulis 684.010, sama persis dengan jumlah seluruh resep, padahal tabelnya mencatat 313.853. Jumlah anak laki-laki dan perempuan pun tertukar antara kalimat pembuka bagian hasil dan tabel karakteristik.

Ada pula satu ketidakselarasan yang menyangkut isi. Bagian hasil menggambarkan jalur kedua sebagai jalur dengan resep lebih banyak pada dua tahun pertama, sementara keterangan gambar dan bagian pembahasan menggambarkannya sebaliknya, yakni naik pada tahun ketiga dan keempat. Tulisan ini mengikuti nama yang diberikan para penulis kepada tiap jalur, yang sejalan dengan keterangan gambar dan pembahasan. Keempat persentase jalur itu sendiri tidak berubah di bagian mana pun.

Yang tersisa adalah gambaran tentang obat yang tidak lagi datang sesekali, melainkan menempuh jalur yang berlainan menurut wilayah, tahun lahir, dan lingkungan tempat seorang anak dibesarkan. Para penulis menutup naskah dengan menyatakan bahwa anak Italia masih sangat terpapar antibiotik pada tahun-tahun pertama hidupnya. Selama alasan di balik tiap resep tidak tercatat, apakah empat jalur itu menggambarkan tubuh anak-anak yang berbeda, atau kebiasaan orang dewasa yang berbeda dalam merawat mereka?

Bagikan

Baca Juga

Berat Badan Ibu Sebelum Hamil Terbawa ke Tubuh Anak di Taiwan
Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi
Orang Lauje Melarung Perahu Sesaji agar Wabah Hanyut ke Laut
Kemantan Petalangan, Dukun yang Marah Melihat Hutannya Dibabat
Keluarga Pasien Cuci Darah Merapat, Kerabat Hanya Bertanya Kabar
Usai Gempa Turki, Banyak Keluarga Sulit Bicara tapi Tak Berobat