Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik

A A

Bangunan apotek di sudut jalan Kota Phuket, Thailand [Foto: CEphoto, Uwe Aranas/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Dari 348 migran Myanmar di Samut Sakhon, 28,4 persen memakai antibiotik tanpa tenaga medis
  • Dari 249 penerima resep, 67,5 persen tidak patuh; 77,1 persen berhenti karena merasa membaik
  • Belum pernah ke rumah sakit di Thailand menaikkan peluang swamedikasi 3,54 kali
  • Stres status hukum tinggi (AOR 6,49) dan kerja tujuh hari seminggu (AOR 2,36) menyertai ketidakpatuhan
Daftar Isi
  1. Swamedikasi, mengobati diri tanpa tenaga medis
  2. Non-adherence, resep yang tidak dihabiskan
  3. AOR, rasio peluang yang sudah disesuaikan
  4. Acculturative stress, tekanan hidup sebagai pendatang
  5. Yaa Chud, bungkus obat campuran
  6. Cross-sectional, potret satu waktu

Swamedikasi, atau self-medication, adalah ketika seseorang menelan antibiotik yang dibeli di warung, dari pedagang keliling, atau sisa obat di laci, tanpa pernah bertanya kepada dokter, perawat, maupun apoteker. Di Samut Sakhon, Thailand, hampir tiga dari sepuluh migran Myanmar melakukannya. Yang lebih banyak lagi, dua dari tiga yang sempat menerima resep tidak menghabiskan obatnya.

Kedua angka itu berasal dari Hein Htet Zaw dan Seo Ah Hong dalam Self-medication and non-adherence to antibiotic prescription and associated factors among Myanmar migrants in Thailand: a cross-sectional study, artikel yang terbit di BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Keduanya bekerja di Mahidol University, Zaw di ASEAN Institute for Health Development di Nakhon Pathom dan Hong di Fakultas Kesehatan Masyarakat di Bangkok.

Yang mereka tanyai adalah 348 migran Myanmar dewasa di tiga komunitas terbesar di distrik Mueang Samut Sakhon, yaitu Thai Union, Talad Kung, dan Talay Thai. Sebagian besar adalah buruh manual di pengolahan makanan laut dan pabrik, 79 persen. Enam dari sepuluh perempuan, dua pertiga berpenghasilan di bawah 10.000 baht sebulan, dan 56,3 persen tidak punya asuransi kesehatan.

Swamedikasi, mengobati diri tanpa tenaga medis

Contohnya begini. Seorang buruh pabrik ikan merasa badannya pegal dan tenggorokannya sakit, lalu membeli beberapa kapsul dari kios dekat asrama. Dalam paper ini, itu swamedikasi. Kalau kapsul yang sama diberikan apoteker berlisensi di apotek, itu bukan swamedikasi, karena hukum Thailand memang mengizinkan apoteker memberi antibiotik tertentu tanpa resep dokter.

Bedanya penting untuk membaca angkanya. Dengan definisi seketat itu, 99 dari 348 responden, atau 28,4 persen, tergolong swamedikasi. Angka ini sedikit di bawah orang dewasa Thailand sendiri, 29,7 persen menurut survei nasional yang dikutip paper, dan jauh di bawah survei nasional Myanmar tahun 2020 yang menemukan 58,5 persen penduduk memakai antibiotik tanpa resep.

Maksudnya, angka yang tampak rendah itu bisa saja menyembunyikan lebih banyak kasus. Zaw dan Hong sendiri mengakui bahwa migran yang terbentur bahasa dan kurang bisa membaca mungkin tidak tahu atau tidak ingat apakah yang memberi obat itu apoteker berlisensi atau bukan. Kalau salah ingat, orang yang sebenarnya swamedikasi akan tercatat sebagai bukan.

Alasan minum antibiotik terakhir kali pun menunjukkan salah kaprah yang mereka temukan. Pilek dan flu disebut 43,1 persen responden, pegal badan 26,7 persen, sakit tenggorokan 24,1 persen. Sebanyak 14,1 persen bahkan tidak tahu atau tidak ingat kenapa minum antibiotik. Bagi Zaw dan Hong, ini tanda antibiotik dianggap obat pereda nyeri.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Non-adherence, resep yang tidak dihabiskan

Non-adherence, ketidakpatuhan, adalah ketika resep sudah di tangan tetapi obatnya tidak diminum seperti yang diperintahkan: berhenti lebih awal, lupa, atau sengaja dilewati. Paper mengukurnya dengan MARS-5, singkatan dari Medication Adherence Report Scale, lima pertanyaan berskor 0 sampai 25. Skor di bawah 23 dihitung tidak patuh.

Dari 249 responden yang pernah menerima antibiotik dari tenaga kesehatan, 168 orang atau 67,5 persen masuk kategori tidak patuh. Alasan berhenti yang paling sering adalah gejala reda dan merasa sudah membaik, 77,1 persen. Kelalaian dan alasan lain 12,1 persen, biaya tinggi 4 persen, pengobatan terlalu lama dan tidak bisa libur kerja masing-masing 2,4 persen, efek samping 2 persen.

Mengapa migran berhenti minum antibiotik sebelum habisGejala reda, merasa membaik: Persen responden +77,1%; Lalai dan alasan lain: Persen responden +12,1%; Biaya tinggi: Persen responden +4,0%; Pengobatan terlalu lama: Persen responden +2,4%; Tidak bisa libur kerja: Persen responden +2,4%; Efek samping obat: Persen responden +2,0%.Mengapa migran berhenti minum antibiotiksebelum habisPersen dari penerima resep yang tidak patuh20%40%60%80%0Gejala reda, merasa membaik77,1%Lalai dan alasan lain12,1%Biaya tinggi4,0%Pengobatan terlalu lama2,4%Tidak bisa libur kerja2,4%Efek samping obat2,0%Pilek dan flu (43,1%), pegal badan (26,7%), dan sakit tenggorokan(24,1%) adalah alasan pemakaian antibiotik terakhir yang paling sering.
Sumber: Hein Htet Zaw dan Seo Ah Hong, Self-medication and non-adherence to antibiotic prescription and associated factors among Myanmar migrants in Thailand: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Bedanya begini. Pada swamedikasi, 348 orang jadi penyebut; pada ketidakpatuhan, penyebutnya hanya 249 orang yang memang pernah dapat resep. Dua persentase itu tidak bisa dijumlahkan menjadi satu angka pemakaian antibiotik yang keliru. Keduanya perilaku berbeda dengan pelaku yang sebagian tumpang tindih, sebagian tidak.

AOR, rasio peluang yang sudah disesuaikan

AOR, atau adjusted odds ratio, adalah rasio peluang yang sudah disesuaikan dengan faktor lain: berapa kali lipat peluang satu kelompok melakukan sesuatu dibanding kelompok pembanding, setelah pengaruh variabel lain diperhitungkan bersama. AOR tepat 1 berarti tidak ada beda. AOR 2 berarti peluangnya dua kali lipat.

Untuk swamedikasi, tiga faktor bertahan. Migran yang belum pernah menginjak rumah sakit atau puskesmas di Thailand punya AOR 3,54, dengan selang kepercayaan 95 persen 2,00 sampai 6,27. Yang tidak mengenali antibiotik dalam foto contoh, AOR 2,80. Yang tidak mendapat informasi tentang pemakaian antibiotik berlebihan dan resistansi dalam setahun terakhir, AOR 1,98.

Untuk ketidakpatuhan, enam faktor bertahan. Bekerja tujuh hari seminggu AOR 2,36, tanpa asuransi AOR 2,20, tinggal kurang dari 20 menit dari rumah sakit AOR 2,22. Stres akulturasi terkait status hukum sedang AOR 2,60, tinggi AOR 6,49. Yang paling mencolok, gagal minum obat tepat waktu karena minum alkohol, AOR 37,58.

Angka 37,58 itu perlu dibaca bersama selang kepercayaannya, 4,55 sampai 310,63. Selang kepercayaan adalah rentang yang paling mungkin memuat nilai sebenarnya; kalau selebar itu, taksirannya sangat tidak pasti. Zaw dan Hong menjelaskan sebabnya: kejadiannya sangat sedikit, karena 60,3 persen responden perempuan dan perempuan Myanmar di komunitas migran umumnya tidak minum alkohol.

Dua cara keliru memakai antibiotikSwamedikasi 28,4 persen dari 348 migran; ketidakpatuhan 67,5 persen dari 249 penerima resep.Dua cara keliru memakai antibiotikMigran Myanmar di Samut Sakhon, Thailand, 2024SwamedikasiTidak patuh resepObat tanpa resepResep tak habisArti348 migran249 penerimaResponden28,4%67,5%Proporsi36Faktor bermaknaTak pernah ke RSAlkoholFaktor terkuat3,5437,58AOR terkuatTak dapat: 1,98Dapat: 2,79Info AMRAOR = rasio peluang tersesuaikan; angka di atas 1 berarti peluangperilaku itu lebih besar. Apoteker berlisensi tidak dihitungswamedikasi.
Sumber: Hein Htet Zaw dan Seo Ah Hong, Self-medication and non-adherence to antibiotic prescription and associated factors among Myanmar migrants in Thailand: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Acculturative stress, tekanan hidup sebagai pendatang

Acculturative stress, stres akulturasi, adalah tekanan batin karena harus hidup di negeri orang: merasa didiskriminasi, kesulitan bahasa, dan cemas soal status izin tinggal. Paper mengukurnya dengan 13 pernyataan yang diadaptasi dari kuesioner migran Meksiko, lalu memecahnya menjadi tiga bagian. Hanya bagian status hukum yang bertahan sebagai faktor ketidakpatuhan.

Di sinilah temuan yang paling mengejutkan berdiri. Migran yang tinggal dekat rumah sakit, kurang dari 20 menit, justru lebih mungkin tidak patuh. Begitu pula yang pernah mendapat informasi tentang resistansi antibiotik setahun terakhir, AOR 2,79. Untuk swamedikasi, informasi yang sama justru bersifat melindungi. Satu informasi, dua arah yang berlawanan.

Zaw dan Hong menafsirkannya lewat status hukum, dan kalimat mereka mengoreksi anggapan bahwa penyuluhan saja cukup. “Bagi imigran yang mendahulukan pekerjaan daripada pengobatan karena kerentanan hukum dan takut kehilangan pekerjaan, dapat ditafsirkan bahwa akses ke fasilitas kesehatan atau informasi saja tidak meningkatkan kemungkinan kepatuhan terhadap resep antibiotik,” tulis Hein Htet Zaw dan Seo Ah Hong dalam naskahnya, yang aslinya berbahasa Inggris.

Maksudnya, orang yang takut dilaporkan ke polisi di rumah sakit tidak akan kembali untuk kontrol, sedekat apa pun rumah sakitnya. Paper mengutip laporan IOM, Organisasi Internasional untuk Migrasi, tahun 2023 bahwa 32 persen migran di Samut Sakhon menghadapi hambatan mengakses layanan medis formal, dan menyebut ketakutan dideportasi sebagai alasan menghindari puskesmas. Kerja tujuh hari seminggu menutup jalan yang tersisa.

Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta

Yaa Chud, bungkus obat campuran

Yaa Chud adalah bungkus kecil berisi berbagai kapsul dan tablet, terutama antibiotik, steroid, dan obat pereda nyeri, yang dijual bebas di Thailand dan Myanmar. Dalam studi Zaw dan Hong sebelumnya yang dikutip paper ini, sekitar 45 persen peserta memakai Yaa Chud paling sedikit sekali dalam tiga bulan terakhir.

Bedanya dengan antibiotik biasa, pembeli Yaa Chud sering tidak tahu apa isinya. Karena itu ia masuk sebagai faktor pemungkin dalam paper. Pada uji awal, pernah memakai Yaa Chud dan seberapa sering memakainya dalam tiga bulan terakhir berhubungan dengan ketidakpatuhan. Namun setelah semua faktor dihitung bersama, Yaa Chud tidak bertahan di model akhir.

Yang bertahan justru hal-hal yang lebih struktural: hari kerja, asuransi, status hukum. Paper menyebut 3 juta migran Myanmar tinggal legal di Thailand dan sekitar 1,8 juta lagi tidak reguler, dengan sekitar 22.000 orang masuk tiap bulan sepanjang 2023 dan 60 persen di antaranya tanpa dokumen. Rencana Strategis Nasional AMR Thailand, singkatan antimicrobial resistance atau resistansi antimikroba, tulis mereka, belum memasukkan kelompok ini.

Cross-sectional, potret satu waktu

Cross-sectional, potong lintang, adalah penelitian yang memotret keadaan pada satu kurun saja, di sini Agustus sampai September 2024. Ia bisa menunjukkan bahwa dua hal berjalan bersama, tetapi tidak bisa menunjukkan mana yang datang lebih dulu. Zaw dan Hong menulis bahwa desain ini menghalangi kesimpulan sebab-akibat dan menganjurkan studi jangka panjang.

Keterbatasan lain mereka sebut sendiri. Responden dipilih secara convenience, yakni siapa yang bisa dijangkau lewat pemimpin komunitas dan LSM, bukan diundi, sehingga hasilnya tidak bisa diperluas ke semua migran Myanmar di Thailand. Semua jawaban swalapor, termasuk soal alkohol, sehingga rawan salah ingat dan rawan dijawab sesuai yang dianggap pantas.

Ada pula beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Abstrak menyebut Rencana Strategis Nasional AMR Thailand berlaku 2017 sampai 2021, sedangkan bagian pembahasan menulis 2017 sampai 2022. Angka 28,4 persen di bagian hasil berubah menjadi “sekitar sepertiga” di pembahasan dan “hampir satu dari tiga” di kesimpulan, sementara 67,5 persen dibulatkan menjadi “sekitar 70 persen”.

Tabel gejala pemakaian antibiotik terakhir tercetak berjudul Table 2, padahal teks merujuknya sebagai Table 4, dan Table 2 dalam teks adalah tabel faktor penguat. Batas kategori stres bahasa tercetak “6.0–12.8.0.8”. Perhitungan sampel menyebut penambahan 10 persen sebanyak 31 orang hingga mencapai 348, yang berarti angka dasarnya sekitar 317, bukan 385 yang lazim untuk asumsi 50 persen.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Swamedikasi dalam paper ini berhenti di pintu apotek: begitu antibiotik diberikan apoteker berlisensi, ia bukan lagi swamedikasi, betapapun tanpa resep dokter. Ketidakpatuhan berhenti di skor 23 dari 25. Di dalam dua batas itulah angka 28,4 dan 67,5 persen berlaku, untuk 348 migran Myanmar di Samut Sakhon pada dua bulan tahun 2024, dan tidak lebih jauh dari itu.

Bagikan

Baca Juga

Presiden Korsel Sebut Dialog AS-Korut Mungkin, Tolak Kirim Pasukan Hormuz
Meloni Janji Larang Burqa di Sekolah Italia dan Batasi Siswa Asing
Afghanistan Sebut Tiga Tewas Akibat Serangan Udara Pakistan di Kunar
Militer Iran Sebut AS Siap Lanjutkan Serangan dan Ancam Balasan
Tiga Perwira Korea Selatan Terluka Ledakan di Zona Demiliterisasi DMZ
Dementia Game di Singapura: yang Berubah Justru yang Belum Kenal