Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak

A A

Kabut menyelimuti hutan Pegunungan Meratus di Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, wilayah tempat tumbuhan obat Dayak Meratus tumbuh. [Foto: AzraSalsabila/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Daftar Isi
  1. Etnobotani: Mencatat Kebiasaan, Bukan Meracik Obat
  2. Habitus: Bentuk Tumbuh, Bukan Jenis Tumbuhan
  3. Famili: Kerabat Tumbuhan, Bukan Hitungan Spesies
  4. Batandik: Mantra Pengobatan, Bukan Sekadar Doa
  5. Etnomedisin: Pengetahuan Lokal, Bukan Resep Medis
  6. Kejanggalan Naskah

Etnobotani terdengar seperti istilah laboratorium, padahal artinya sederhana: mencatat tumbuhan apa yang dipakai satu masyarakat sebagai obat, bagian mana yang diambil, dan penyakit mana yang disasar. Di Desa Haruyan Dayak, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, catatan semacam itu menghasilkan angka pasti, 30 jenis tumbuhan berkhasiat obat yang dipakai warga etnis Dayak Meratus untuk mengatasi gangguan orang halus sampai kelumpuhan akibat stroke.

Angka dan daftar itu ditulis Iin Mariska, Trisnu Satriadi, dan Gusti Abdul Rahmat Thamrin dalam Etnobotani Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Dayak Meratus Desa Haruyan Dayak Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan, dimuat Jurnal Sylva Scienteae Vol. 04 No. 1, tahun 2021. Data dikumpulkan lewat wawancara mendalam dengan tokoh adat dan pengobat tradisional setempat.

Etnobotani: Mencatat Kebiasaan, Bukan Meracik Obat

Contoh paling gampang dibayangkan dari istilah ini ada di halaman awal naskah: warga desa masuk hutan, memetik daun atau menggali akar, lalu meraciknya sesuai cara yang diwariskan turun-temurun, tanpa catatan tertulis apa pun sebelum penelitian ini datang. Yang dilakukan Mariska dan kawan-kawan adalah menuliskan kebiasaan itu jadi daftar 30 jenis tumbuhan, lengkap dengan bagian yang dipakai dan penyakit sasarannya.

Maksudnya, etnobotani di sini bukan uji laboratorium atas kandungan kimia tumbuhan, melainkan pencatatan praktik dan pengetahuan yang sudah dijalani masyarakat. Naskah menjelaskan penyakit yang dipercaya bisa diobati memakai tumbuhan itu terbagi dua sebab: penyakit akibat perbuatan, yang diobati lewat pembacaan doa atau mantra dan ritual adat bernama batandik, dan penyakit akibat makanan, yang diobati lewat ramuan tumbuhan serta mineral.

Bedanya begini: pembaca gampang mengira 30 tumbuhan yang tercatat itu sudah terbukti secara medis menyembuhkan penyakit yang disebut. Naskah sendiri tidak mengklaim sejauh itu, dan justru menyarankan penelitian lanjutan atas kandungan kimia tumbuhan yang sama, tanda bahwa catatan etnobotani ini berhenti pada praktik dan kepercayaan, belum sampai ke pembuktian khasiat di laboratorium.

Habitus: Bentuk Tumbuh, Bukan Jenis Tumbuhan

Istilah kedua yang perlu diluruskan adalah habitus, sebutan untuk bentuk pertumbuhan tumbuhan, bukan nama jenisnya. Contoh sehari-harinya ada di kebun atau pinggir hutan: pohon besar berbatang keras, perdu yang tumbuh rendah dan bercabang banyak, semak yang merambat, sampai bambu dan paku-pakuan yang tumbuh berumpun.

Daun jadi bagian tumbuhan paling sering dipakai jadi obat63,3 dari 100,0 %, atau 63,3%.Daun jadi bagian tumbuhan paling sering dipakaijadi obatPersentase bagian tumbuhan obat yang dipakai warga Haruyan Dayak36,7 % bagian lain63,3 % daun (63,3%)Total 100,0 %Sisanya: akar 16,7%, kulit batang 10,0%, batang 3,3%, umbi 3,3%, dan air3,3%.
Sumber: Iin Mariska, Trisnu Satriadi, dan Gusti Abdul Rahmat Thamrin, Etnobotani Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Dayak Meratus Desa Haruyan Dayak Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan, Jurnal Sylva Scienteae, 4(1), 2021. Grafik: Cekricek.id

Dari 30 jenis tumbuhan yang dicatat, perdu jadi habitus terbanyak, 10 spesies atau 40 persen, sedangkan palma dan bambu paling sedikit, masing-masing cuma 1 spesies atau 4 persen. Pohon menyumbang 6 spesies (24 persen), semak juga 6 spesies (24 persen), herba 4 spesies (16 persen), dan paku-pakuan 2 spesies (8 persen).

Maksudnya, satu habitus bisa memuat tumbuhan dari famili yang sama sekali berbeda, karena yang dikelompokkan adalah bentuk tumbuh, bukan garis kekerabatan. Di sinilah gambaran habitus mudah meleset, sebab pembaca bisa mengira perdu yang paling banyak berarti satu famili tumbuhan yang mendominasi, padahal kelompok perdu itu sendiri masih terpecah ke banyak famili berbeda.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Famili: Kerabat Tumbuhan, Bukan Hitungan Spesies

Famili adalah istilah taksonomi untuk kelompok tumbuhan yang berkerabat dekat, seperti keluarga besar dalam silsilah manusia. Contohnya, rumbia yang dipakai warga Haruyan Dayak untuk mengobati keseringan buang air besar berasal dari famili Arecaceae, keluarga yang sama dengan tumbuhan palma lain, meski penampilannya bisa jauh berbeda dari kerabatnya.

Dari 30 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan, hanya 22 spesies yang berhasil diidentifikasi familinya, tersebar ke 17 famili berbeda, sementara 8 spesies lainnya tidak teridentifikasi. Naskah mencatat setiap famili yang teridentifikasi itu rata-rata cuma berisi satu sampai dua jenis tumbuhan saja, tanda keragaman kekerabatan yang tinggi di antara tumbuhan obat yang dipakai warga desa ini.

Bedanya dengan habitus jadi jelas di titik ini: jumlah famili yang lebih dari selusin, dibanding cuma tujuh kelompok habitus, menunjukkan tumbuhan obat Haruyan Dayak dipilih lintas kekerabatan, bukan terpusat pada segelintir keluarga tumbuhan tertentu saja. Dua tumbuhan berhabitus sama, misalnya sama-sama perdu, bisa saja berasal dari famili yang jauh berbeda satu sama lain.

Batandik: Mantra Pengobatan, Bukan Sekadar Doa

Batandik disebut naskah sebagai ritual adat Dayak Meratus yang menyertai pembacaan doa atau mantra, dipakai khusus untuk penyakit yang diyakini disebabkan oleh perbuatan, berbeda dari penyakit akibat makanan yang cukup diobati dengan ramuan tumbuhan dan mineral. Contohnya, gangguan yang dipercaya berasal dari mahluk halus atau mahluk astral, yang dalam daftar 30 tumbuhan itu disebut sebagai salah satu sasaran pengobatan, memakai tumbuhan seperti dandali dan pulut-pulut.

Maksudnya, batandik bukan sekadar doa lisan biasa, melainkan rangkaian ritual adat yang menyatu dengan proses pengobatan itu sendiri. Naskah membedakannya tegas dari jalur ramuan tumbuhan-mineral, memperlihatkan bahwa pengobatan tradisional di desa ini punya dua jalur berbeda tergantung persepsi warga atas asal-usul penyakitnya.

Di titik ini gambaran batandik bisa meleset kalau disamakan begitu saja dengan ramuan tumbuhan biasa. Naskah tidak merinci mantra atau tata cara batandik secara mendetail, hanya menyebut keberadaannya sebagai jalur pengobatan tersendiri, sehingga pembaca yang berharap uraian ritual lengkap tidak akan menemukannya di naskah ini.

Baca juga Dua Fabel Solok Selatan Membicarakan Cara Memegang Kuasa

Etnomedisin: Pengetahuan Lokal, Bukan Resep Medis

Etnomedisin, istilah lain yang muncul di naskah, merujuk kajian tentang penggunaan tumbuhan obat oleh masyarakat lokal, meliputi bagian yang dipakai, takaran, cara pengolahan, sampai cara penyajiannya sebagai bahan dasar obat tradisional. Contohnya bisa dilihat dari 30 tumbuhan yang dicatat: daun armalungan untuk tulang patah dibalut langsung ke bagian yang cedera, sementara akar tebu salah untuk demam direndam dulu di air sebelum diminum.

Lima cara memakai tumbuhan obat di Haruyan DayakDiminum: Jumlah jenis tumbuhan +12 jenis; Dioleskan: Jumlah jenis tumbuhan +11 jenis; Diikat: Jumlah jenis tumbuhan +3 jenis; Digosok: Jumlah jenis tumbuhan +3 jenis; Dibubuhkan: Jumlah jenis tumbuhan +1 jenis.Lima cara memakai tumbuhan obat di HaruyanDayakDari 30 jenis tumbuhan obat yang dicatat di Desa Haruyan Dayak4 jenis8 jenis12 jenis0Diminum12 jenisDioleskan11 jenisDiikat3 jenisDigosok3 jenisDibubuhkan1 jenisDiminum jadi cara paling sering karena diyakini mempercepatkesembuhan.
Sumber: Iin Mariska, Trisnu Satriadi, dan Gusti Abdul Rahmat Thamrin, Etnobotani Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Dayak Meratus Desa Haruyan Dayak Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan, Jurnal Sylva Scienteae, 4(1), 2021. Grafik: Cekricek.id

Cara memakainya sendiri tercatat lima macam: diminum jadi pilihan paling sering, 12 dari 30 jenis tumbuhan, disusul dioleskan 11 jenis, diikat dan digosok masing-masing 3 jenis, dan dibubuhkan cuma 1 jenis. Cara pengolahannya juga beragam, 14 jenis ramuan dicampur tumbuhan lain lalu ditumbuk, 11 jenis dicampur lalu direndam air, sisanya dikukus atau dipotong untuk diambil airnya.

“Bagian-bagian tanaman yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Haruyan Dayak bagai tumbuhan obat yaitu bagian daunnya karena pengolahaannyapun mudah dan pengambilannya sangat mudah juga, sedangkan yang palig sedikit dari bagian tumbuhan yang digunakan ialah air,” tulis Iin Mariska, Trisnu Satriadi, dan Gusti Abdul Rahmat Thamrin dalam naskahnya. Kutipan ini mengoreksi anggapan umum bahwa daun dipilih karena dianggap paling berkhasiat, padahal alasannya lebih ke soal kepraktisan, gampang diolah dan gampang diambil dari kebun atau hutan sekitar rumah.

Maksudnya, etnomedisin di sini menegaskan bahwa pilihan bagian tumbuhan dan cara memakainya bukan semata soal khasiat kimiawi, melainkan juga soal kepraktisan sehari-hari, sesuatu yang tidak selalu terlihat dari daftar penyakit dan tumbuhan obatnya saja. Kepraktisan itu, menurut naskah, ikut membentuk pengetahuan pengobatan yang bertahan turun-temurun di Haruyan Dayak, sama pentingnya dengan kepercayaan atas khasiat tumbuhan itu sendiri.

Baca juga Kebun Pala Banda Naira dan Buruh yang Belum Tercatat

Kejanggalan Naskah

Tabel 3 dalam naskah mencantumkan persentase tumbuhan berguna berdasarkan habitus: herba 16 persen, pohon 24 persen, perdu 40 persen, palma 4 persen, semak 24 persen, bambu 4 persen, dan paku-pakuan 8 persen. Bila ketujuh angka itu dijumlahkan sendiri oleh pembaca, hasilnya 120 persen, bukan 100 persen, meski jumlah spesiesnya, 30, sudah benar dan sesuai dengan total yang disebut di bagian lain naskah.

Penulis sendiri mengakui penelitian ini berhenti pada pencatatan praktik dan kepercayaan, bukan pengujian ilmiah atas khasiat tumbuhan, sehingga menyarankan penelitian lanjutan untuk mengetahui kandungan kimia tumbuhan yang sudah tercatat. Cakupannya juga terbatas pada satu desa, sehingga daftar 30 tumbuhan ini menggambarkan praktik Haruyan Dayak, bukan seluruh masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan.

Tiga puluh jenis tumbuhan itu kini berdiri sebagai satu daftar tertulis, sesuatu yang sebelumnya cuma hidup di kepala tokoh adat dan pengobat tradisional Haruyan Dayak. Daun tetap jadi bagian yang paling sering dipetik, bukan karena diyakini paling manjur, melainkan karena paling gampang dijangkau dan diolah, sebuah alasan praktis yang ikut membentuk pengetahuan pengobatan yang bertahan lintas generasi di desa ini.

Tag:
Bagikan

Baca Juga

Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Badamai, Adat Banjar yang Menunggu Diakui Perda Kalsel
Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan
Histeria dalam Bailau, Nada yang Diam-diam Selalu Bergeser
Tank, Manusia, dan Api Rangkai Tekad di Kanvas Digital
Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang