- Cerpen itu berkisah tentang suku Petalangan yang bermukim di Dusun Betung.
- Bagi masyarakat itu, hutan tanah yang hilang bukan sekadar hilangnya sumber nafkah.
- Inti cerita adalah pengangkatan seorang Kemantan Muda yang akan menggantikan Kemantan Tua.
- Pengobatan belian, yang dipimpin kemantan, disebut naskah sebagai kearifan lokal yang nyaris sirna di Betung.
Daftar Isi
- Derks 1997 dan Bodden 2005: Riau yang tidak kebagian
- Dusun Betung dalam cerpen Syamsuddin 1997
- Tiga warga yang sakit dan catatan Effendy 2008
- Dari Hamidy 1986 ke Hasbullah 2014: siapa kemantan
- Gendang yang menjerit dalam tafsir Wahyuni 2019
- Belian dan nyanyian biji bayam, merujuk Salleh 2015
- Catatan pada naskah Wahyuni 2019
Bangunan megah, deretan perumahan mewah, pabrik besar, kilang minyak, dan hamparan kebun kelapa sawit memenuhi permukaan Bumi Lancang Kuning. Begitulah Riau dilukiskan dalam sebuah kajian sastra: negeri kaya yang kekayaannya bukan milik orang Riau sendiri, melainkan milik penguasa dan pengusaha asing. Warganya, menurut kajian itu, hanya menjadi penonton ketika kekayaan tersebut diangkut, dan selama bertahun-tahun suara mereka seakan terbungkam.
Dari latar zaman itulah Dessy Wahyuni, dari Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada, membaca sebuah cerita pendek karya sastrawan Riau B.M. Syamsuddin. Kajiannya berjudul Resistensi Masyarakat Petalangan Mempertahankan Kearifan Lokal dalam “Kemantan Muda Roh Belian”, terbit di Jurnal Bahasa: BSIP volume 1 nomor 1 tahun 2019. Yang ia cari bukan keindahan kalimat sang pengarang, melainkan kritik yang disimpan di balik tokoh seorang dukun muda.
Derks 1997 dan Bodden 2005: Riau yang tidak kebagian
Wahyuni tidak memulai dari ruang kosong. Ia bersandar pada kajian Derks tahun 1997 dan Bodden tahun 2005, yang menurut naskah menyebutkan bahwa dalam pembangunan ekonomi masyarakat Riau tidak mendapat bagian. Mereka kerap diusir dari tanah leluhur demi proyek besar yang dimodali penguasa maupun pengusaha, sulit mendapat pekerjaan di proyek itu, dan tidak memperoleh porsi yang layak dalam birokrasi daerah maupun pusat.
Di tengah keadaan seperti itu, tulis Wahyuni, B.M. Syamsuddin memakai karya sastra untuk menyuarakan jeritan rakyat, mengkritik penguasa dan pengusaha, serta mengingatkan rakyat akan hak mereka. Bahasanya disebut terkesan memiliki lagu dengan alunan yang khas, sehingga karyanya tidak terasa menggurui. Cerpen yang dikaji dimuat dalam kumpulan Jiro San, Tak Elok Menangis terbitan Yayasan Sagang, Pekanbaru, tahun 1997.
Dusun Betung dalam cerpen Syamsuddin 1997
Cerpen itu berkisah tentang suku Petalangan yang bermukim di Dusun Betung. Naskah menerangkan bahwa Desa Betung terletak di Kecamatan Pangkalankuras, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, dan orang Petalangan adalah masyarakat subetnis dari kemelayuan Riau. Merujuk kajian Hasbullah, Toyo, dan Pami tahun 2017, permukiman mereka sebagian besar berada di tepi hutan, di dalam hutan, dan di pinggir tujuh sungai, dari Sungai Kampar sampai Sungai Kerumutan.
Betung, menurut pustaka tahun 2017 yang dikutip Wahyuni, masih memelihara budaya Petalangan sehingga dianggap sebagai pusatnya. Tradisi menumbai madu sialang, silat payung, badeo, belian, dan tolak bala masih bisa ditemukan di sana. Daftar itu penting bagi pembacaan cerpen, sebab dua di antaranya, yakni pohon sialang tempat lebah bersarang dan upacara belian, justru menjadi tulang punggung cerita yang ditulis Syamsuddin dua dasawarsa sebelumnya.
Cerita dibuka dengan dusun yang elok. Kolam ikan air tawar tergenang hening berwarna hijau lumut, air mengericik dari sela akar kayu, dan anak sungai mengalir lamban sebagai tepian mandi. Bukit ladang padi berlapis rimba raya, kampung berpagar pohon sialang, dan madu lebah tumpah ruah ketika padi ladang berbunga. Ketua kampung, tokoh Pak Wali Rasyid, dengan bangga menyebut empat ratus sarang lebah pada setiap pohon sialang.
“Kita pelihara alam itu sekarang buat anak cucu di belakang hari,” ujar tokoh ketua kampung itu dalam cerpen. Namun, Wahyuni berhenti pada satu kata yang menutup kalimat tersebut, yaitu kilahnya. Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia, ia mengartikan kilah sebagai dalih atau alasan yang dibuat-buat. Dari situ ia menyimpulkan bahwa penuturan Pak Wali bukanlah kebenaran, melainkan impian pengarang belaka.
Tiga warga yang sakit dan catatan Effendy 2008
Kenyataan dusun itu muncul lewat tiga tokoh. Bu Maryam, janda yang berumah pondok di kaki bukit tandus akibat penebangan hutan oleh pemilik hak pengusahaan hutan, mandi dengan air berlumpur sampai kulitnya pecah-pecah dan membengkak. Dolah Kasad datang meminta obat linu tulang, tubuhnya lesu sejak tinggal bersebelahan dengan kebun perusahaan. Seman We kehilangan keseimbangan jiwa setelah lingkungan tempat tinggalnya dirambah habis kaum bermodal.
Menurut tafsir Wahyuni, kaki bukit tandus dan air mandi berlumpur itu sengaja dihadirkan pengarang untuk menegaskan bahwa kolam ikan dan anak sungai di awal cerita sudah tidak dapat ditemukan lagi. Ada ironi lain yang ia garis bawahi. Seman We malah dituduh merusak hutan lewat ladang berpindah yang sudah dijalankan sejak dahulu, padahal tanahnyalah yang habis dibabat.
Di titik ini Wahyuni menyambungkan cerpen dengan kajian Effendy tahun 2008 tentang sastra lisan orang Petalangan. Bagi masyarakat itu, hutan tanah yang hilang bukan sekadar hilangnya sumber nafkah. Yang ikut lenyap adalah sumber budaya, sumber tradisi dan kegiatan adat, sumber kebanggaan dan harga diri, hingga jati diri, sebab dalam kepercayaan tradisional mereka alam adalah perlambang diri.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Dari Hamidy 1986 ke Hasbullah 2014: siapa kemantan
Untuk memahami mengapa seorang dukun dipilih sebagai tokoh utama, naskah menengok pustaka yang lebih tua. Laporan Lembaga Penelitian Universitas Islam Riau tahun 2009 mencatat orang Petalangan, yang konon berasal dari Johor, telah hidup berpuluh bahkan beratus tahun di wilayah dengan tanah, air, dan hutan yang berlimpah. Kehidupan itu dinaungi hukum adat yang mengatur fungsi, pemanfaatan, dan pelestarian hutan tanah.
Hukum adat itu juga mengatur kepemimpinan. Merujuk tulisan Effendy tahun 1995, setiap hutan tanah wilayah dipimpin kepala suku bergelar batin, dan kepala semua batin disebut monti ajo atau menteri raja. Kemantan tidak termasuk dalam jenjang itu. Akan tetapi, menurut kajian Hasbullah, Almasri, dan Meliza tahun 2014, kekuatan batin membuatnya dihormati dan disegani, sementara Hamidy pada 1986 menempatkannya di tengah pusaran tradisi yang kental.
Orang datang kepada kemantan bukan hanya untuk berobat atau menyampaikan hajat, melainkan juga untuk meminta petuah tentang berbagai persoalan hidup. Cerpen Syamsuddin menggemakan kedudukan itu. Orang tua-tua di ruang tengah menyebut kepemimpinan Betung harus lengkap, ada wali dan ada kemantan. Pak Wali sendiri mengaku celaka bila warga hanya bergantung pada dirinya, sebab tanah dan hutan adat hak ulayat akan habis dibabat.
Kebutuhan itu berakar pada keyakinan bahwa alam juga dihuni makhluk halus. Kajian Hasbullah, Toyo, dan Pami menyebut adanya kesepakatan antara nenek moyang dan makhluk gaib untuk saling menjaga, yang ditebus dengan persembahan. Dolah Kasad meyakini penunggu hutan berang karena kebun dibuka tanpa ritual. “Meskipun bukan mereka pelaku perusakan alam, tetapi merekalah yang terkena imbasnya,” tulis Wahyuni tentang ketiga tokoh yang sakit itu.
Gendang yang menjerit dalam tafsir Wahyuni 2019
Inti cerita adalah pengangkatan seorang Kemantan Muda yang akan menggantikan Kemantan Tua. Tubuhnya dipoles, jiwanya dibersihkan dari segala kekotoran dunia, di bawah pengaruh gendang bebayu yang bunyinya kadang melengking tinggi seakan menjerit dan sesekali mendesah rendah seperti merintih. Ia lalu bangkit perlahan mengikuti gendang ketobong dan bernyanyi lirih dalam bahasa sastra lisan Petalangan, yang berbeda dari bahasa Melayu percakapan sehari-hari.
Wahyuni membaca adegan itu berlapis. Pembersihan jiwa ia artikan sebagai syarat bagi siapa pun yang dipercaya menjadi penasihat masyarakat, yakni bersih lahir dan batin agar kelak berlaku arif. Bunyi gendang ia tafsirkan sebagai perasaan pengarang sendiri. Jeritan itu adalah marah dan kecewa atas perlakuan semena-mena, sedangkan rintihan adalah kesedihan melihat kehidupan sosial budaya orang Petalangan yang porak-poranda.
Kemarahan itu akhirnya diucapkan terang-terangan di ujung cerpen. “Aku marah sekarang! Namun kemarahanku belum bertemu lawan, apalagi bersua kawan seiya sekata tentang hutan.” Begitu gerutu Kemantan Muda, yang mencari pendengar yang mengerti masalah masyarakat kecil. Bagi Wahyuni, kalimat itu mewakili kemarahan Syamsuddin sebagai orang Riau yang tidak tahu harus menyampaikannya kepada siapa.
Naskah lalu menguraikan mengapa kemarahan itu tidak bertemu lawan. Rakyat, menurut pembacaan Wahyuni, tidak akan menang melawan pengusaha yang mengantongi izin dari penguasa untuk membabat hutan. Mereka hanya punya konvensi sebagai patokan batas wilayah, sehingga dianggap tidak berhak atas tanah tersebut. Dengan begitu tanah adat warga setempat mudah saja tidak diindahkan.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Belian dan nyanyian biji bayam, merujuk Salleh 2015
Pengobatan belian, yang dipimpin kemantan, disebut naskah sebagai kearifan lokal yang nyaris sirna di Betung. Dalam cerpen, Kemantan Muda menyarungkan cincin perak di kelingking kanannya sambil meraba mata Siti, gadis yang matanya bengkak terlenting ranting kayu. Ayah Siti sudah membawa anaknya berobat ke kota, tetapi diberi tahu bahwa mata itu harus dioperasi di Jakarta. Ia tidak punya uang, lalu kembali kepada kemantan.
Selama upacara, kemantan berkomunikasi dengan makhluk gaib lewat nyanyian. Liriknya menyebut anak itik dan anak ayam yang terbang menyisi langit, kecil sekasar biji bayam tetapi mengandung bumi dengan langit. Merujuk buku Salleh tahun 2015, Wahyuni memaknainya begini: sekecil apa pun sesuatu, di dalamnya terkandung berbagai rupa kehidupan manusia, sehingga tidak satu hal pun boleh dianggap remeh.
Bait berikutnya menyebut bumi selebar dulang dan langit sekembang payung. Naskah menjelaskan, saat dimasuki roh halus kemantan memandang dunia hanya seluas nampan, sehingga ia bisa melihat sekelilingnya dalam waktu singkat untuk mencari penyebab penyakit dan obatnya. Dari bait itu Wahyuni menarik pesan bahwa manusia dan alam mesti hidup berdampingan, dan bahwa kesombongan tidak dibenarkan karena selalu ada hal yang jauh lebih besar.
Semua tafsir itu bermuara pada satu kesimpulan. “Dengan demikian, kehadiran kemantan ini dapat dikatakan sebagai sebuah perlawanan masyarakat Petalangan untuk mengukuhkan eksistensi mereka yang membebaskan masyarakat dari ketertindasan,” tulis Wahyuni dalam abstraknya. Ia menambahkan, bila kearifan yang ditampilkan cerpen itu disikapi dengan bijak oleh penguasa dan pengusaha, hutan akan lestari dan tidak ada pihak yang dirugikan.
Catatan pada naskah Wahyuni 2019
Kajian ini punya batas yang jelas. Seluruh gambaran tentang Betung berasal dari satu cerpen dan dari pustaka, bukan dari wawancara dengan warga Petalangan, sehingga yang ditemukan adalah cara seorang pengarang memandang dusun itu. Pernyataan bahwa pemerintah menutup mata karena telah disuap, misalnya, hadir sebagai tafsir atas cerpen dan tidak disertai data di dalam naskah.
Beberapa hal kecil bisa diperiksa pembaca. Nama penulis tercetak Dessy Wahyuni di bawah judul, tetapi Desi Wahyuni di kepala lembar berikutnya. Abstrak berbahasa Inggris satu kali menyebut cerpen itu Belantan Muda Roh Belian, dan kata kuncinya mengulang resistance dua kali, sementara versi Indonesianya memuat kearifan lokal. Gelar pemimpin para batin tertulis monti ajo, lalu monti ojo pada kalimat sesudahnya.
Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival
Dalam rantai pustaka tentang orang Petalangan, dari catatan Hamidy tentang dukun Melayu sampai kajian belian dan tolak bala di Betung, pembacaan Wahyuni menambahkan satu mata rantai dari arah sastra. Ia memperlihatkan bahwa sebuah cerpen dari tahun 1997 sudah menyimpan dusun berpagar pohon sialang, tiga warga yang sakit, dan seorang dukun muda yang marah tetapi belum menemukan lawan bicaranya.














