- Canang di Gunung Toar memakai satu calempong bernada E yang dibunyikan sebelum dan sesudah pesan lisan.
- Menurut tukang canang Namus, satu kabar diulang tiap 10-12 rumah dengan jarak tempuh sekitar 100 meter.
- Para penulis membaca canang lewat definisi Slamet Abdul Sjukur: suara, diam, waktu, komposer, dan pendengar.
- Abstrak menyebut enam unsur musikal, batang tubuh hanya lima; bab pendengar cuma satu paragraf.
Daftar Isi
- Dari catatan Tenas Effendy ke satu gong kecil di Gunung Toar
- Boestam dan Derivanti: revolusi komunikasi yang mengikis
- Merriam dan Djohan: musik berkomunikasi, tetapi bagaimana
- Slamet Abdul Sjukur dan lima unsur yang tidak boleh hilang
- Nursyirwan dan Rarak Godang: alat yang sama, arena yang lain
- Udin Kuriak dan empat suku yang bermufakat
- Yang belum selesai pada naskah 2025 ini
Sebelum pengeras suara dan telepon genggam sampai ke kampung-kampung, kabar dari pemangku adat berjalan kaki dari rumah ke rumah, dibawa seorang lelaki dengan gong kecil di tangannya. Catatan lama tentang orang Melayu, seperti karya Tenas Effendy yang dikutip dalam paper ini, menyebut tetawak atau gong pernah menjadi alat komunikasi, bukan sekadar bunyi hiburan. Di Kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, cara itu masih hidup dan dikenal dengan nama canang.
Empat dosen Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Randi Restu Hadi, Puti Andam Dewi, Melisa Fitri Rahmadinata, dan Arga Budaya, menelusuri apa yang sebenarnya berbunyi di dalam canang itu. Hasilnya mereka tulis dalam Musical Existence as an Indicator of the Realization of the Ideal Order of the Kuantan Singingi Community Based on the Canang Tradition, terbit di Musica: Journal of Music volume 5 nomor 2, tahun 2025.
Pertanyaan mereka bukan lagi apakah canang masih dipakai. Yang mereka uji adalah apakah bunyi gong kecil yang mengawali dan menutup setiap kabar layak disebut musik, dan kalau ya, apa yang dikerjakan musik itu bagi tatanan hidup orang Kuantan.
Dari catatan Tenas Effendy ke satu gong kecil di Gunung Toar
Dalam catatan Tenas Effendy yang dikutip para penulis, bunyi tetawak di kampung Melayu dulu menyampaikan kabar yang sangat spesifik: ada orang mati ditangkap harimau dan mayatnya belum diambil, ada pemberitahuan bahwa mayat sudah dibawa ke rumah, ada tanda mati karena sakit, ada tanda upacara adat, ada tanda orang tersesat di rimba. Gong, dalam pengertian itu, adalah kode, bukan lagu, dan dari titik inilah paper ini berangkat.
Menurut keterangan tukang canang bernama Namus yang diwawancarai para penulis, satu kabar disuarakan untuk sepuluh sampai dua belas rumah di kiri dan kanan tempatnya berdiri, dengan jarak tempuh lebih kurang seratus meter berjalan kaki, lalu diulang untuk kelompok rumah berikutnya. Sebelum pesan diucapkan, calempong, sebutan setempat untuk gong kecil itu, dibunyikan lebih dulu, dan setelah pesan selesai, calempong dibunyikan kembali dengan pola ritme tertentu sebagai penutup.
Yang membedakan canang dari pengumuman lewat pengeras suara, menurut paper ini, adalah percakapan yang menyertainya. Kalau isi kabar kurang dimengerti, warga langsung meminta penjelasan saat itu juga, dan tukang canang baru melanjutkan perjalanannya ke bagian kampung berikutnya setelah klarifikasi selesai. Kabar yang dibawanya pun berasal dari petinggi agama, pemangku adat, niniak mamak, dan cerdik pandai desa, sehingga bagi warga pesan canang adalah pesan penting yang harus segera dilaksanakan.
Boestam dan Derivanti: revolusi komunikasi yang mengikis
Para penulis menempatkan canang di tengah zaman yang, mengutip Boestam dan Derivanti, sedang mengalami revolusi komunikasi yang melahirkan revolusi sosial, ketika aktivitas yang dulu dianggap virtual kini semakin besar dan dominan. Mereka mengakui kemudahannya: tukar pikiran tidak lagi menunggu pertemuan fisik, dan tatanan sosial yang serasi, secara teori, lebih mudah dicapai. Namun rujukan yang sama juga mencatat pergeseran budaya, etika, dan norma yang dibawa komunikasi digital.
Di sinilah para penulis mengambil posisi. Komunikasi tanpa bertemu fisik, tulis mereka, membuat pemahaman terhadap topik pembicaraan tidak tercapai sepenuhnya, dan akurasi informasi dari informan pun tidak utuh; contohnya belanja daring yang barangnya tidak sesuai pesanan, lalu berujung pada krisis kepercayaan. Canang, dengan klarifikasi langsung di depan rumah, dibaca sebagai metode yang meminimalkan penyelewengan berita dan, menurut mereka, mencegah terkucilnya individu yang menerima pesan tidak utuh.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Merriam dan Djohan: musik berkomunikasi, tetapi bagaimana
Pertanyaan apakah bunyi calempong itu musik atau sekadar kode dijawab para penulis dengan rantai rujukan yang lebih tua. Dari Djohan mereka mengambil gagasan bahwa budaya tidak bisa dilepaskan dari keseharian yang fungsional, sehingga musik cenderung dimaknai lewat fungsi emosinya bagi individu, dan bahwa penelitian tentang musik dan emosi lebih banyak menggali pendengar daripada musisinya. Faktor sosiobudaya, dalam rujukan itu, sangat dominan karena menyatukan pengalaman dan pengetahuan.
Merriam, yang dikutip para penulis dari buku The Anthropology of Music terbitan 1964, memberi peringatan yang lebih hati-hati. “Pada tingkatan yang sederhana, mungkin dapat dikatakan bahwa musik berkomunikasi diantara komunitas musik yang ada, tetapi jika benar demikian, maka benar juga bahwa terdapat sedikit pengertian tentang bagaimana komunikasi itu terjadi,” demikian kutipan itu sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris dan dicetak dalam naskah. Paper ini mencoba mengisi celah itu: bagaimana persisnya satu gong kecil berkomunikasi.
Jawaban para penulis berjalan lewat ingatan. Bunyi yang sudah diorganisasi sebelumnya, tulis mereka, ketika didengarkan kembali akan menyentuh saraf otak dan memanggil kejadian sebelumnya bagi tiap individu, sehingga ketika prosesi berlangsung, psikis dan daya ingat warga sepakat memusatkan perhatian dari awal sampai selesai. Randi Restu Hadi menambahkan pengalamannya sendiri: waktu kecil, begitu suara canang terdengar, orang tuanya meminta ia meninggalkan kegiatan lain selama lima sampai sepuluh menit untuk mendengarkan.
Slamet Abdul Sjukur dan lima unsur yang tidak boleh hilang
Definisi musik yang dipakai sebagai pijakan datang dari komposer kontemporer Indonesia Slamet Abdul Sjukur, yang dalam kumpulan esainya menyebut musik sebagai perpaduan suara dan diam yang terorganisasi dalam suatu waktu tertentu oleh seorang komposer. Dengan definisi itu, sumber bunyi tidak harus alat musik; asalkan komposer menyusun bunyi dan diam lalu memperdengarkannya, hasilnya boleh disebut musik. Dari sinilah para penulis menurunkan lima unsur canang: suara, diam, waktu, komposer, dan pendengar.
Kelima unsur itu, menurut mereka, sudah disepakati masyarakat secara kultur sosial dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. “Jika salah-satu unsur tersebut hilang pada proses canang, maka akurasi dari tujuan canang tersebut juga akan berkurang,” tulis Randi Restu Hadi, Puti Andam Dewi, Melisa Fitri Rahmadinata, dan Arga Budaya dalam naskahnya. Pernyataan ini menjadi poros paper: bukan sekadar bahwa canang memakai musik, melainkan bahwa keakuratan kabar bergantung pada lengkapnya unsur musikal itu.
Pada unsur suara, temuan yang paling konkret adalah nada. Calempong canang, jika ditelaah lewat penalaan konvensional, hanya memiliki satu nada, yaitu nada E bila disejajarkan dengan piano. Satu nada itu, dikombinasikan dengan pola pukulan yang simpel dan berulang, menurut para penulis menghasilkan frase musik baru berupa melodi. Mereka menopangnya dengan Dieter Mack yang menyebut ritme, cara mengatur waktu yang mengalir, sebagai unsur musik paling kuno.
Unsur diam mereka jelaskan dengan dua pembanding dari luar Kuantan. Frase melodi Simfoni Nomor 5 Opus 67 karya Beethoven, tulis mereka, bukan melulu bunyi, melainkan gabungan bunyi dan tanda diam bila dibaca dari notasinya, dan John Cage lewat karya diamnya sepanjang empat menit tiga puluh tiga detik ingin menyatakan bahwa dalam diam pun terkandung suara alam sekitar. Pola pukulan calempong, dengan logika yang sama, adalah perpaduan bunyi dan jeda yang membentuk ritme.
Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80
Nursyirwan dan Rarak Godang: alat yang sama, arena yang lain
Calempong yang dipakai canang tidak datang dari mana-mana; ia diambil dari kesenian setempat bernama Rarak Godang, yang secara harfiah berarti iring-iringan musikal yang besar. Merujuk Supriando dan kawan-kawan, calempong adalah instrumen utama ansambel itu, dan formasi lengkapnya terdiri dari dua belas buah calempong atau lebih, satu gong besar, dan satu gendang, dengan susunan yang bisa berubah mengikuti tema acara dan besar kecilnya penonton.
Nursyirwan, dalam kajiannya tentang rarak di Seberang Taluk Kuantan, mencatat empat jenis yang masih menyemangati warga: rarak oguang, rarak silat, rarak penganten, dan rarak batobo. Rarak Godang muncul pada pesta nikah kawin, syukuran panen, pacu jalur, batobo, sampai penyambutan bupati dan gubernur. Dari daftar itulah para penulis menyimpulkan bahwa bunyi calempong sudah disepakati warga sebagai bagian dari hidup bersama, sehingga ketika satu calempong dibunyikan sendirian oleh tukang canang, warga tahu harus mendengar.
Udin Kuriak dan empat suku yang bermufakat
Kaitan antara bunyi dan tatanan itu dibawa para penulis ke struktur adat. Masyarakat Melayu Kuantan terbagi ke dalam empat suku, Rajo, Paliang, Pitopang, dan Kapalo Bonjau, dengan hierarki penghulu adat, alim ulama, dan cerdik pandai yang digambar dari Buku Adat Persukuan Kuantan Singingi terbitan 2013. Motonya, nan tuah kato supakat, nan rajo kato saiyo: keputusan bersama lahir dari mufakat, dan siapa yang memprotes keputusan bersama dianggap orang yang kurang bersosialisasi.
Udin Kuriak, salah satu pemangku suku Rajo yang ditemui para penulis, menegaskan bahwa pembagian suku bukan pemisahan warga berdasarkan kelompok atau strata sosial, melainkan cara agar norma sampai secara efisien ke semua penjuru masyarakat. Musyawarah tetap kedaulatan tertinggi meski tiap suku punya pimpinan, dan menurut para penulis, pencapaian kedaulatan itu melibatkan canang sebagai mediator penyampaian informasi. Di titik inilah judul paper mendapat maknanya: bunyi calempong disebut indikator terwujudnya tatanan ideal.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Yang belum selesai pada naskah 2025 ini
Ada batas yang perlu dibaca bersama temuannya. Penelitian ini studi kasus kualitatif di satu kecamatan dengan observasi tidak berstruktur, narasumber yang disebut namanya hanya dua orang, Namus dan Udin Kuriak, dan sebagian bukti tentang perhatian pendengar berasal dari ingatan masa kecil salah seorang penulis. Bagian tentang pendengar, yang menurut Djohan justru paling perlu digali, hanya satu paragraf, sehingga klaim bahwa canang menjaga mufakat lebih merupakan tafsir penulis daripada hasil pengukuran.
Pembaca yang membuka naskahnya juga akan menemukan beberapa ketidaksesuaian kecil. Abstrak menyebut enam unsur musikal, termasuk ritme, sedangkan batang tubuh menguraikan lima dan melebur ritme ke dalam suara. Kepala halaman berganti-ganti antara Januari-Juni dan Juli-Desember 2025 untuk nomor yang sama, urutan nama penulis di kepala halaman berbeda dari halaman judul, bab pendengar berakhir tanpa tanda titik, dan kesimpulannya membahas musik populer yang cepat dilupakan, topik yang tidak diteliti di Gunung Toar.
Dalam rantai riset yang dibangun paper ini, dari catatan Tenas Effendy tentang gong sebagai kode, peringatan Merriam tentang komunikasi musik yang belum dipahami, sampai definisi Slamet Abdul Sjukur tentang suara dan diam, canang Gunung Toar menempati satu mata rantai yang sederhana tetapi baru: satu nada E, dipukul dalam pola yang disepakati, dibaca sebagai musik yang bekerja untuk mufakat. Bagaimana pendengarnya sendiri merasakannya, pertanyaan Merriam sejak 1964, menunggu mata rantai berikutnya.















