- Salawaik dulang dimainkan dua kelompok berisi dua orang, hanya dengan dulang logam.
- Pertunjukannya berurut lima bagian, dari khotbah sampai penutup.
- Aksen kuat sengaja ditaruh pada ketukan lemah, dan di situ penabuh berimprovisasi.
- Pergeseran aksen juga muncul pada vokal, menekankan kata tertentu dalam syair.
Daftar Isi
Di tepi Danau Singkarak, sebuah pertunjukan bisa berjalan semalaman tanpa panggung, tanpa lampu, dan tanpa satu pun alat musik yang lazim disebut alat musik. Yang ada hanya empat laki-laki duduk bersila di atas kasur, dua berhadapan dua, dan di pangkuan masing-masing sebuah piring logam besar. Dari piring itulah seluruh iramanya lahir, dan dari situ pula pertunjukan berjalan sampai jauh malam.
Piring itu bernama dulang, dan keseniannya bernama salawaik dulang. Yang ditelusuri Anggi Marsa Putra bersama Susandra Jaya dan Asep Saepul Haris adalah satu hal kecil di dalamnya: cara memukul dulang yang aksennya sengaja meleset dari ketukan. Tulisan mereka terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara, Volume 5 Nomor 1 edisi Januari sampai Juni 2025, dan judulnya menempatkan pergeseran aksen itu sebagai pokok bahasan.
Ketiganya berasal dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang, dan yang mereka datangi adalah Nagari Malalo di Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Nagari itu berbukit, menghadap danau, dan warganya kebanyakan bertani serta menangkap ikan bilih. Di sanalah salawaik dulang masih rutin ditampilkan sampai sekarang, berdampingan dengan tradisi lain seperti malamang dan mambukak kapalo banda.
Sebuah pertunjukan yang cukup dengan dua pasang tangan
Salawaik dulang disajikan dua kelompok yang saling bertanya jawab, masing-masing berisi dua orang laki-laki. Mereka duduk bersila di atas kasur yang disediakan panitia, lalu bernyanyi sambil memukul dulang. Bunyi pukulan itu mengerjakan dua tugas sekaligus: mengiringi nyanyian dan mengatur tempo agar keduanya tidak saling mendahului. Tidak ada pemimpin yang memberi aba-aba selain bunyi itu sendiri.
Dulang sendiri bukan alat musik yang dibuat untuk bermusik. Ia piring besar dari loyang atau logam, yang di rumah dipakai untuk menaruh makanan atau makan bersama. Di tangan penyaji salawaik, benda dapur itu berubah menjadi penabuh tempo. Tidak ada gendang, tidak ada rebana, dan tidak ada alat tiup apa pun dalam pertunjukan ini, sehingga seluruh warna bunyinya bergantung pada cara tangan menyentuh logam.
Isi yang dinyanyikan berkisar pada kehidupan Nabi Muhammad, pujian kepadanya, dan persoalan keagamaan. Namun pembahasannya sudah lama melebar ke soal-soal yang sedang hangat di tengah masyarakat. Penyaji dituntut sanggup menyusun teks selawat ke dalam berbagai melodi, bahkan menyanyikan apa yang baru saja terjadi di depan matanya selama pertunjukan berlangsung. Kemampuan itu lazim disebut spontanitas oleh para pelakunya.
Baca juga Gandang Sarunai Solok Selatan dan Empat Tahap Pertunjukannya
Lima bagian, dan satu bagian yang sengaja dibebaskan
Urutan pertunjukannya baku dan sama dengan salawaik dulang di daerah Minangkabau lain. Ia dibuka dengan himbauan khotbah lalu khotbah, disusul himbauan lagu batang lalu lagu batang. Sesudah itu masuk lagu Yamolai satu dan Yamolai dua, kemudian lagu cancang, dan ditutup pada bagian penutup. Penonton yang sudah sering datang hafal urutan itu dan tahu kapan bagian yang paling ditunggu akan tiba.
Bagian cancang adalah yang paling longgar. Di situ penyaji diberi kesempatan menyanyikan lagu apa pun yang ia sukai, sehingga isi pertunjukan bisa menyesuaikan diri dengan zaman tanpa mengubah kerangkanya. Lima bagian yang lain tetap di tempatnya, dan justru keteraturan itulah yang membuat kelonggaran di bagian cancang terasa sebagai kejutan bagi yang menonton.
Di Nagari Malalo, salawaik dulang tidak diperlombakan. Ia ditampilkan di depan umum pada acara khitanan, peringatan maulid Nabi, Idulfitri, Iduladha, khatam Al-Qur’an, Isra Mikraj, dan pesta pernikahan. Warga biasanya mendatangkan dua kelompok sekaligus, satu dari luar nagari dan satu dari Malalo sendiri, lalu keduanya menampilkan kebolehan masing-masing di hadapan orang sekampung.
Pukulan yang sengaja meleset dari ketukan
Sampai di sini pertunjukannya terdengar tertib. Yang membuatnya tidak tertib adalah cara dulang dipukul. Penyaji kerap menaruh aksen kuat pada ketukan yang semestinya lemah, sehingga irama terdengar seperti tergelincir sesaat sebelum kembali ke tempatnya. Istilah musiknya sinkop, dan di salawaik dulang ia bukan kesalahan melainkan pilihan yang disengaja penabuhnya.
Penulis menggambarkan sinkop itu sebagai ruang ketegangan ritmis. Ada jeda yang tidak diharapkan, ada aksen yang datang lebih cepat atau lebih lambat, lalu ketegangan itu diselesaikan kembali ke pola semula. Bagi pendengar, perpindahan itu terasa seperti tarikan napas yang tertahan sebentar, kemudian dilepaskan. Perhatian pun kembali terkumpul tanpa perlu suara diperkeras atau tempo dipercepat.
Di situ pula terletak ruang kreativitas penabuhnya. Mulyadi, tokoh pelaku seni tradisi salawaik dulang di Nagari Malalo yang berumur enam puluh lima tahun, menyebut pukulan yang sinkop itulah tempat para penyaji menuangkan kreativitas mereka dengan memvariasikan tabuhan. Dengan kata lain, kerangka lagunya tetap, tetapi cara memukulnya bisa berbeda dari satu malam ke malam berikutnya, tergantung siapa yang sedang memegang dulang.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Sinkop yang juga masuk ke dalam suara penyanyi
Yang menarik, pergeseran aksen itu tidak berhenti di tangan. Penulis menemukannya juga pada vokal. Penyanyi kadang memberi tekanan pada suku kata yang tidak berada di ketukan utama, sehingga satu baris syair terdengar berbeda dari baris sebelumnya meski melodinya sama. Pergeseran itu kecil, tetapi cukup untuk mengubah arah perhatian pendengar.
Penekanan itu punya akibat yang langsung terasa bagi pendengar. Syair salawaik dulang berisi doa dan harapan, dan kata-kata tertentu di dalamnya menjadi lebih menonjol justru karena datang di tempat yang tidak diduga. Pesan keagamaan yang dibawakan pun tidak sekadar terdengar, melainkan ikut tertanam lewat cara ia dilafalkan. Itu keuntungan yang jarang dimiliki ceramah biasa.
Penulis membaca sinkop sebagai lebih dari variasi irama. Mereka menempatkannya sebagai penanda identitas budaya masyarakat Malalo, yang di dalamnya kreativitas, improvisasi, dan kesediaan menyesuaikan diri dengan zaman dianggap sebagai nilai. Pembacaan semacam itu memang tafsir, bukan pengukuran, dan pembaca berhak menimbangnya sendiri tanpa harus menerimanya utuh.
Dari sarana dakwah menjadi tontonan
Perubahan terbesar kesenian ini terjadi pada fungsinya. Salawaik dulang mula-mula dipakai sebagai sarana dakwah, lalu bergeser menjadi seni pertunjukan. Di Malalo pergeseran itu sudah tuntas: ia hadir sebagai hiburan, termasuk di pesta pernikahan, tanpa kehilangan isi keagamaannya. Dakwah dan tontonan berjalan di dalam satu pertunjukan yang sama.
Daya tariknya justru bertambah karena pergeseran itu. Di bagian isi pertunjukan terdapat lagu-lagu hiburan, dan lagu yang dibawakan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sebuah kesenian yang semula terikat pada mimbar kini bisa mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan orang di kampungnya sendiri, dan karena itu ia tetap punya penonton.
Yang tetap bertahan adalah bentuk dasarnya. Jumlah pemain tidak berubah, susunan lagunya tidak berubah, dan dulang tetap satu-satunya alat. Kesenian ini menyesuaikan diri pada lapisan yang paling lentur, yaitu isi dan pilihan lagu, sambil mengunci lapisan yang paling menentukan, yaitu bentuk pertunjukannya. Itu yang membuatnya masih dikenali sebagai salawaik dulang.
Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda
Yang belum bisa diperiksa pembaca dari catatan ini
Hal pertama, tidak ada satu pun angka di dalam naskah ini. Tidak disebut berapa kali sinkop muncul dalam satu lagu, seberapa jauh aksennya bergeser, atau apakah pergeseran itu sama pada tiap kelompok. Pembaca yang ingin memeriksa sendiri harus mendengarkan pertunjukannya, karena naskah tidak menyertakan notasi maupun rekaman yang bisa dibuka siapa saja.
Kedua, keterangan lapangannya bersandar pada satu narasumber yang diwawancarai pada November 2024. Abstraknya menyebut wawancara dengan para pelaku seni dan masyarakat penonton, tetapi hanya satu nama yang muncul di badan tulisan. Pandangan penonton, yang justru jadi inti bahasan tentang ketegangan dan keterlibatan, tidak terwakili oleh kutipan siapa pun di dalam naskah tersebut.
Ketiga, ada keterangan yang tidak cocok dengan keseniannya sendiri. Naskah beberapa kali menyebut gerakan penari dan tari yang mengiringi, padahal salawaik dulang dijelaskan sebagai pertunjukan empat orang yang duduk bersila tanpa penari. Pembaca sebaiknya berpegang pada uraian bentuk pertunjukannya, bukan pada kalimat-kalimat itu, yang tampaknya terbawa dari acuan tentang kesenian lain.
Yang tersisa dari catatan ini adalah pengingat bahwa sebuah kesenian bisa hidup lama justru karena menyisakan ruang untuk keliru. Aksen yang meleset dari ketukan, yang di tangan pemula akan terdengar sebagai kesalahan, di Malalo adalah tanda bahwa penabuhnya sedang bekerja. Selama ruang itu dijaga, pertunjukannya tidak akan pernah persis sama dua malam berturut-turut, dan di situlah alasan orang datang lagi.















