Snouck Hurgronje Menjaga Muridnya Sampai ke Kursi Birokrasi

A A

Hoesein Djajadiningrat bersama keluarganya, murid pribumi Snouck Hurgronje yang kemudian duduk di Raad van Indie. [Foto: KITLV, Perpustakaan Universitas Leiden/CC BY 4.0]

  • Hoesein Djajadiningrat menjadi doktor pribumi pertama dari Hindia Belanda di Leiden pada 1913.
  • Snouck Hurgronje bermukim di Belanda sejak 1906 dan bersandar pada laporan lapangan muridnya.
  • Kerja di Aceh menghasilkan sekitar 1.100 estampage batu nisan dan lebih dari enam ratus foto.
  • Mangkoenagoro VII menerima lamaran Hoesein karena status murid Snouck yang disandangnya.
  • Pada 1935 Hoesein pindah ke Raad van Indie, jalur yang tidak diinginkan gurunya.
Daftar Isi
  1. Satu gelar doktor pada 1913 membuka jalan yang sudah disiapkan
  2. April 1914 mengirim Hoesein ke batu nisan sultan Aceh
  3. Utang adik dan surat lamaran masuk ke berkas yang sama
  4. Kamus Aceh terbit 1934 setelah desakan yang berulang
  5. Kursi Raad van Indie menutup jalur akademik pada 1935

Pada Oktober 1913, seorang lelaki berusia tiga puluhan turun dari kereta di Serang setelah delapan tahun tinggal di Belanda. Namanya Hoesein Djajadiningrat, doktor pribumi pertama dari Hindia Belanda. Kerabat dan tetangga berdatangan selama empat minggu. Dalam suratnya kepada gurunya di Leiden, ia mengaku kewalahan berbicara dalam bahasa Sunda sepanjang hari.

Surat itu dan puluhan surat lain sesudahnya dibaca kembali oleh Mohammad Refi Omar Ar Razy dari Universitas Negeri Surabaya dalam artikel Politik Pengetahuan Kolonial dalam Relasi Guru dan Murid di Hindia Belanda: Hubungan Snouck Hurgronje dan Hoesein Djajadiningrat di jurnal Purbawidya, edisi Juni 2026. Arsip suratnya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Tiga puluh tahun karier seorang murid pribumi1905 Hoesein Djajadiningrat mulai belajar bahasa Melayu di Universitas Leiden di bawah bimbingan Snouck Hurgronje; 1913 Disertasinya tentang Sajarah Banten dipertahankan di Leiden; ia pulang ke Hindia Belanda pada Oktober; 1914 Dikirim ke Kutaraja meneliti batu nisan sultan Aceh dan mengumpulkan bahan kamus; 1921 Menikah dengan Raden Adjeng Partini, putri Mangkoenagoro VII, pada 9 Januari; 1924 Mengajar Hukum Islam dan bahasa lokal di Rechtshoogeschool te Batavia; 1934 Kamus Aceh-Belanda terbit dalam dua jilid; 1935 Menggantikan kakaknya sebagai anggota Raad van Indie dan berhenti mengajar.Tiga puluh tahun karier seorang muridpribumiJalur hidup Hoesein Djajadiningrat menurut korespondensinyadengan Snouck Hurgronje1905Hoesein Djajadiningrat mulai belajar bahasaMelayu di Universitas Leiden di bawahbimbingan Snouck Hurgronje1913Disertasinya tentang Sajarah Bantendipertahankan di Leiden; ia pulang ke HindiaBelanda pada Oktober1914Dikirim ke Kutaraja meneliti batu nisan sultanAceh dan mengumpulkan bahan kamus1921Menikah dengan Raden Adjeng Partini, putriMangkoenagoro VII, pada 9 Januari1924Mengajar Hukum Islam dan bahasa lokal diRechtshoogeschool te Batavia1934Kamus Aceh-Belanda terbit dalam dua jilid1935Menggantikan kakaknya sebagai anggota Raadvan Indie dan berhenti mengajar
Sumber: Mohammad Refi Omar Ar Razy, Universitas Negeri Surabaya, Politik Pengetahuan Kolonial dalam Relasi Guru dan Murid di Hindia Belanda: Hubungan Snouck Hurgronje dan Hoesein Djajadiningrat, Purbawidya 15(1), Juni 2026. Grafik: Cekricek.id

Satu gelar doktor pada 1913 membuka jalan yang sudah disiapkan

Hoesein mempertahankan disertasinya tentang Sajarah Banten di Leiden pada 1913. Snouck Hurgronje, orientalis sekaligus penasihat utama pemerintah kolonial, duduk sebagai pembimbing sekaligus penguji utama. Ia satu-satunya kandidat doktor asal Hindia Belanda ketika itu. Penguji lain, H. Kern, menilai karya itu membuka arah baru dalam penulisan sejarah Hindia Belanda.

Jalan menuju ruang ujian itu sudah disiapkan jauh sebelumnya. Ayah Hoesein, Raden Djajawinata, Bupati Serang, mendorong anak-anaknya menempuh pendidikan Eropa. Snouck mula-mula menaruh harapan pada Achmad, kakak Hoesein. Setelah Achmad menjadi bupati, perhatian itu berpindah kepada Hoesein atas rekomendasi kakaknya sendiri.

Kepulangan pada Oktober 1913 tidak mengakhiri hubungan guru dan murid itu. Snouck sudah kembali bermukim di Belanda sejak 1906. Ia kehilangan akses langsung ke lapangan, sementara kedudukan keilmuannya bersandar pada data yang mutakhir. Laporan dari Hindia Belanda menjadi sarana utama untuk menjaga otoritas itu.

April 1914 mengirim Hoesein ke batu nisan sultan Aceh

Tugas pertama Hoesein datang dari komisi Volkslectuur: memetakan wilayah Suku Baduy di Banten. Ia meninjau beberapa desa bersama pejabat kolonial dan Bupati Lebak selama sekitar satu minggu. Pendokumentasian dilakukan dengan kamera, cara kerja yang sebelumnya dipakai Snouck saat memotret jemaah haji di Mekkah pada akhir abad ke-19.

Pada April 1914 ia dikirim ke Kutaraja, bekas pusat Kesultanan Aceh. Tugasnya meneliti batu nisan dan mengumpulkan bahasa setempat untuk penyusunan Kamus Aceh-Belanda. Di sana ia bergabung dengan J. J. de Vink, yang sejak 1912 bekerja mendokumentasikan monumen berinskripsi di wilayah tersebut.

Hoesein berperan menentukan monumen mana yang layak diteliti. Dari kerja itu terkumpul sekitar 1.100 estampage dan lebih dari enam ratus foto tambahan. Penelitian berlanjut bersama J. P. Moquette di Kandang Meuh, Gunongan, dan Pasai, termasuk pembacaan batu nisan Sultan Malik al-Saleh dan Sultan Muhammad.

Hasil kerja yang menopang otoritas kolonial1.100 estampage batu nisan; 600 foto tambahan; 1.200 halaman kamus.Hasil kerja yang menopang otoritas kolonialAngka kerja lapangan dan penerbitan yang tercatat dalampenelitian ini1.100estampage batunisanDikumpulkan deVink bersamaHoesein600foto tambahanMonumenberinskripsi diAceh1.200halaman kamusKamusAceh-Belanda,dua jilid, 1934
Sumber: Mohammad Refi Omar Ar Razy, Universitas Negeri Surabaya, Politik Pengetahuan Kolonial dalam Relasi Guru dan Murid di Hindia Belanda: Hubungan Snouck Hurgronje dan Hoesein Djajadiningrat, Purbawidya 15(1), Juni 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada 15 Juni 1914, De Nieuwe Courant memuat laporan penemuan makam lima sultan pertama Aceh beserta inskripsi Arab yang sebagian besar masih utuh. Temuan itu penting karena kronologi awal Kesultanan Aceh belum pasti sejak terbitnya karya P. J. Veth pada 1873. Snouck menyambutnya dengan antusias lewat surat tertanggal 7 Juni 1914.

Kepercayaan yang diberikan kepada Hoesein berbeda dari yang diberikan kepada informan pribumi lain di sekitar Snouck. Laporannya dianggap tersusun menurut bahasa, sistematika, dan kritik ilmiah Eropa, sehingga dapat langsung dipakai. Peneliti Purbawidya menyebut posisi itu sebagai perpanjangan epistemik: pusat penilaian tetap berada di Leiden.

Batas dari posisi itu muncul dalam catatan Claude Guillot atas disertasi Hoesein. Ketika dua sumber bertentangan, sumber Barat dan sumber lokal, Hoesein cenderung memilih sumber Barat sebagai yang lebih sahih. Belakangan diketahui keterangan yang lebih tepat justru berasal dari sumber lokal. Kekeliruan itu, menurut penelitian ini, bukan semata kelemahan perorangan, melainkan gejala dari susunan pengetahuan kolonial yang menempatkan sumber Eropa di atas sumber pribumi.

Utang adik dan surat lamaran masuk ke berkas yang sama

Sepulang dari Aceh, Hoesein menetap di Batavia untuk mengolah bahan kamus. Korespondensinya dengan Snouck tidak berhenti pada soal ilmiah. Urusan keluarga masuk ke dalamnya, termasuk nasib adiknya, Loekman, yang sejak beberapa tahun bermukim di Belanda dan diterima di Technische Hoogeschool di Delft.

Loekman menjadi ketua Indische Vereeniging pada 1915. Kegiatan perkumpulan itu menyita waktunya dan studinya tersendat. Ia terlilit utang. Snouck berulang kali memberi bantuan uang, dan sebagian utang itu akhirnya diselesaikan Hoesein bersama Achmad. Dalam surat tertanggal 5 Januari 1919, Snouck mengabarkan bahwa bank mencabut kredit Loekman pada November sebelumnya.

Pada tahun-tahun yang sama Hoesein memimpin Java Instituut, lembaga kajian kebudayaan yang diinisiasi pemerintah kolonial. Kongres pertamanya berlangsung pada Desember 1919. Di sanalah ia bertemu kembali dengan Raden Adjeng Partini, putri Mangkoenagoro VII, yang sebelumnya ia jumpai di Batavia pada 1918.

Pada 24 Januari 1920, Hoesein menulis surat kepada Mangkoenagoro VII, meminta izin agar ia dan Partini boleh saling berkirim surat. Izin diberikan dengan syarat. Menurut otobiografi Partini, setiap surat balasannya lebih dulu melewati kurasi ayahnya. Lamaran resmi disampaikan Achmad pada November 1920.

Pernikahan berlangsung pada 9 Januari 1921. Pada 10 April 1921, Mangkoenagoro VII menulis surat kepada Snouck. Ia menyebut status Hoesein sebagai murid Snouck sebagai salah satu alasan utama menerima pernikahan itu. Patronase akademik kolonial di sini bekerja sebagai sumber pengakuan sosial di lingkungan bangsawan Jawa.

Kamus Aceh terbit 1934 setelah desakan yang berulang

Pada 1924, pemerintah kolonial mendirikan Rechtshoogeschool te Batavia. Hoesein ditugaskan mengajar Hukum Islam serta bahasa Melayu, Jawa, dan Sunda. Dalam surat tertanggal 18 Juli 1924, Snouck mengingatkan muridnya bahwa sesudah beberapa tahun orang akan bertanya apa yang sudah ia kerjakan untuk memperdalam pemahaman atas persoalan itu.

Penyusunan kamus berjalan lambat. Snouck sendiri dituduh menghambat penyelesaiannya. Dalam surat 6 Januari 1926, ia mendesak Hoesein agar penggandaan kamus tidak lagi ditunda, dan menyebut tuduhan itu membuatnya tidak nyaman serta menjauhkannya dari beberapa kawan.

Kamus Aceh-Belanda akhirnya terbit pada 1934, dua jilid, lebih dari 1.200 halaman. Hoesein tercatat sebagai satu-satunya sarjana pribumi yang memperoleh penugasan khusus pemerintah kolonial untuk menyusun kamus sebesar itu. Sebelumnya pekerjaan semacam ini hampir selalu dipercayakan kepada sarjana Eropa.

Kamus itu berbeda arah dari kamus yang disusun leksikograf pribumi lain. Karya Raja Ali Haji dan Kusumahningrat diarahkan pada kebutuhan kultural dan pengajaran komunitas setempat. Kamus Hoesein sejak awal diproyeksikan untuk kepentingan administrasi kolonial dan produksi pengetahuan tentang Aceh. Bahasa di sini bekerja sekaligus sebagai alat keilmuan dan alat pemerintahan.

Kursi Raad van Indie menutup jalur akademik pada 1935

Setahun setelah kamus terbit, Achmad jatuh sakit dan tidak lagi sanggup menjalankan tugasnya sebagai anggota Raad van Indie. Hoesein diminta menggantikannya. Jabatan itu menuntut keterlibatan penuh dalam birokrasi tinggi kolonial, sehingga ia tidak lagi diperkenankan mengajar di Rechtshoogeschool. Kursinya diisi Soepomo.

Pengangkatan itu memicu keberatan. R. A. Kern menilai latar belakang Hoesein sebagai sarjana bahasa dan kebudayaan kurang cocok untuk menghadapi persoalan ekonomi yang menjadi prioritas pemerintah kolonial saat itu. Snouck sendiri lebih menghendaki muridnya bertahan di jalur ilmiah.

Pada 1 Januari 1935, Snouck menulis ucapan selamat. Dalam surat itu ia menambahkan bahwa selama ini ia membayangkan jalur karier Hoesein akan berbeda, terikat secara tetap pada kerja ilmiah. Ia menutup dengan harapan agar muridnya menemukan kepuasan dalam keterlibatan barunya.

Peneliti Purbawidya membaca perpindahan itu sebagai bukti bahwa pendidikan kolonial berhasil melahirkan elite pribumi terdidik, tetapi gagal sepenuhnya mengendalikan ke mana pengetahuan itu dibawa. Amir Sjarifoeddin menjadi aktivis politik, Soekarno memakai bekal pendidikan tekniknya untuk membangun nasionalisme, dan Hoesein masuk ke birokrasi.

Ada batas yang perlu dicatat pembaca. Seluruh kesimpulan penelitian ini berdiri di atas surat pribadi, memoar keluarga, dan artikel majalah. Sumber semacam itu memuat apa yang ingin disampaikan penulisnya kepada satu orang tertentu. Yang tidak ditulis dalam surat tidak akan pernah muncul di dalamnya.

Cara kuasa bekerja lewat hubungan orang per orang juga pernah dibaca pada relasi kuasa dan bahasa dalam novel Atheis. Ketegangan pengetahuan dan politik di masa yang sama tampak pada serangan Haji Misbach terhadap Muhammadiyah, sementara jejak lembaga kolonial di daerah terekam pada sepak bola Minangkabau pada masa kolonial.

Titik terakhir yang datanya diketahui adalah surat 1 Januari 1935 itu. Sesudahnya Hoesein duduk di Raad van Indie, dan korespondensi yang menjadi bahan penelitian ini berhenti pada pertengahan 1930-an. Patung dadanya diresmikan di Universitas Leiden pada 2014, tujuh puluh sembilan tahun setelah surat itu ditulis.

Bagikan

Baca Juga

Sebotol Cutex 1924 Setara 83 Hari Kerja Buruh
Ketika Sawah Andir Diambil untuk Landasan Terbang
Perang Aceh Berlanjut Setelah Istana Sultan Jatuh
Dari Kerusuhan Suwawa 1849 sampai Perebutan Kekuasaan Gorontalo 1942
A.H. Nijland Menyuntik Dirinya Sendiri Sebelum Menyuntik Jawa
Lima Surat Sultan Ternate dari Pengasingan Bandung