A.H. Nijland Menyuntik Dirinya Sendiri Sebelum Menyuntik Jawa

A A

Layanan vaksinasi kolera di Kalkuta pada Maret 1894, masa ketika Waldemar Haffkine menguji vaksinnya di Bengal. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — A.H. Nijland menyuntikkan cairan berisi mikroba ke dalam tubuhnya sendiri, lalu menunggu. Ia ahli epidemiologi sekaligus Direktur Institut Pasteur di Hindia Belanda, dan cairan itu vaksin kolera buatannya. Setelah beberapa waktu diamati, tidak ada gejala berarti yang muncul pada dirinya. Barulah setelah itu ia memberikan vaksin yang sama kepada tiga rekan kerja dan seorang kepala perawat di lembaganya — keempatnya meminta sendiri, bukan diminta. Pada tahun-tahun itu belum ada prosedur uji klinis seperti sekarang, dan tubuh peneliti sendiri kerap menjadi alat ujinya.

Yang ia hadapi bukan penyakit kecil. Pada 1910, di Jawa tercatat puluhan ribu penduduk terinfeksi kolera dan sebagian besar di antaranya meninggal. Wilayah Besuki menjadi yang terparah: sekitar 13.924 orang terinfeksi dengan tingkat kematian 93,4 persen, dan yang bertahan hidup hanya sekitar 924 jiwa. Pekalongan justru mencatat angka selamat tertinggi, sekitar 2.753 jiwa dari 8.875 penduduk yang terinfeksi. Semarang menyusul dengan sekitar 12.793 kasus, lalu Surabaya sekitar 12.321 kasus dengan tingkat kematian 76,7 persen. Rentang tahun itu sampai dijuluki tahun kolera. Riwayat kerja Nijland itu disusun kembali oleh Faishal Sahru Rhamadan bersama Yety Rochwulaningsih dan Sri Sudarsih dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. Hasilnya terbit dalam artikel Vaksin Kolera di Tanah Kolonial: Upaya Pengendalian Penyakit di Kota-Kota Besar di Jawa, 1910-1912 di jurnal Purbawidya Volume 14 Nomor 2, November 2025, halaman 442 sampai 458. Sumbernya laporan pemerintah kolonial, surat kabar sezaman, dan tulisan Nijland sendiri, yang diverifikasi secara internal maupun eksternal.

Daftar Isi
  1. Membaca Ferran dan Haffkine
  2. Menyuntik Diri Sendiri di Institut Pasteur
  3. Menulis Surat Edaran ke Luar Batavia
  4. Menghitung Ulang pada 1911

Membaca Ferran dan Haffkine

Dermaga panjang Pelabuhan Tanjung Priok dengan kapal layar bersandar dan rel di sepanjang tepiannya
Dermaga Tanjung Priok, pelabuhan Batavia. Pada 1902 banyak kuli di pelabuhan ini tercatat terinfeksi kolera. [Foto: Wikimedia Commons]

Nijland tidak memulai dari nol. Ia lebih dulu menelusuri kerja Jaume Ferran i Clua, dokter sekaligus ahli bakteriologi asal Spanyol yang pada 1885 membuka layanan vaksinasi kolera berskala besar di negerinya. Ferran menguji vaksinnya lebih dulu pada marmut dengan kultur kaldu kolera, memakai suntikan subkutan, lalu memberikan sekitar 200 ribu suntikan kepada penduduk Spanyol antara 1885 dan 1887. Tiap orang disuntik tiga kali dengan jarak enam sampai delapan hari, sebuah jadwal yang menuntut penduduknya datang berulang kali.

Kerja Ferran menuai kritik keras. Kultur di dalam vaksinnya sering bukan kultur murni, karena masih ada bakteri lain selain bakteri kolera yang ikut terbawa. Meski begitu, metodenya tetap menjadi dasar gagasan vaksinasi kolera sesudahnya. Yang meninjau ulang dan menyetujui pendekatan itu adalah Waldemar Haffkine, ahli bakteriologi kelahiran Ukraina. Ia sependapat bahwa cara paling ampuh melindungi penduduk adalah lewat layanan vaksinasi, bukan lewat pengobatan sesudah orang jatuh sakit — sebuah pilihan yang pada masa itu belum tentu diterima semua kalangan kedokteran.

Haffkine kemudian mengujinya di lapangan. Pada Maret 1893 ia membuka layanan vaksinasi kolera di Kathalbagan, India Timur, wilayah yang kini menjadi bagian Bangladesh. Layanan itu dimulai setelah muncul empat kasus penduduk terinfeksi. Sebanyak 116 orang divaksinasi dan 84 orang tidak; dari seluruh kelompok itu sembilan orang tertular kolera dan tujuh di antaranya meninggal dunia. Angka-angka itulah yang kemudian dibaca Nijland dari Hindia Belanda.

Menyuntik Diri Sendiri di Institut Pasteur

Institut Pasteur adalah satu-satunya lembaga di Hindia Belanda yang mengembangkan vaksin kolera. Sejak Agustus 1910, di bawah Nijland, lembaga itu menyiapkan pengembangan vaksinnya sekaligus menawarkan kesempatan mendapatkan vaksin secara gratis dan mudah. Vaksin kolera bukan satu-satunya yang dikerjakan pemerintah kolonial waktu itu; vaksin cacar dan vaksin pes juga dikembangkan, dan perluasan vaksinasi cacar di Weltevreden dilakukan pada 22 November 1910.

Percobaan pada tubuhnya sendiri itu terjadi di tengah persiapan tersebut. Nijland, tulis para peneliti, optimistis vaksin kolera bisa dikembangkan secara efektif sebagai senjata melawan penyakit yang mematikan itu, dan keyakinannya ia bayar dengan risiko pribadi. Hasil pada dirinya dan pada empat orang di lembaganya menunjukkan vaksin buatannya tidak kalah efektif dibanding vaksin yang dikembangkan pihak lain di luar Hindia Belanda. Hasil pertamanya datang pada Desember 1910. Layanan vaksinasi diberikan kepada sekitar 5.575 penduduk, terdiri atas sekitar 3.846 penduduk Eropa dan sekitar 1.729 penduduk pribumi. Pada periode yang sama, para dokter menerima bekal vaksin yang cukup untuk sekitar 15.295 orang. Sejak Agustus 1910 sampai Juni 1911, sekitar 11.995 penduduk Weltevreden mendapatkan layanan vaksin, dengan sekitar 7.279 di antaranya penduduk Eropa.

Menulis Surat Edaran ke Luar Batavia

Nijland tahu vaksin tidak berguna bila hanya tersimpan di Batavia. Ia menulis surat edaran kepada para dokter yang berdomisili di luar kota itu, berisi keterangan tentang tujuan dan tata cara profilaksis vaksinasi kolera. Institut Pasteur bukan satu-satunya tempat penyelenggaraan layanan; banyak tempat lain ikut menyediakannya, termasuk dokter-dokter swasta. Distribusinya kemudian melonjak: 45.625 dosis pada 1910, lalu 805.215 dosis pada 1911, dan 628.655 dosis pada 1912 — naik hampir delapan belas kali lipat dalam setahun.

Yang menghambat bukan hanya urusan pasokan. Kawasan permukiman padat dan kumuh di Batavia dan Surabaya menyulitkan layanan kesehatan, dan sebuah surat kabar sezaman menggambarkan kondisi kesehatan Surabaya sebagai sangat memprihatinkan. Pemerintah menjawabnya dengan perbaikan sanitasi, salah satunya di Batavia, sebagai penopang program vaksinasi. Anggaran kesehatan juga ditambah sebagai jawaban atas tingginya kasus. Pelabuhan besar juga menjadi pintu masuk; di Tanjung Priok pada 1902 tercatat banyak kuli bangunan yang terinfeksi kolera.

Hambatan lain lebih manusiawi dan lebih sulit diselesaikan. Menurut catatan Nijland pada 1911, penduduk pribumi kerap berganti nama dalam kehidupan sehari-hari, dan pergantian itu menyulitkan tenaga kesehatan mendata siapa yang sudah divaksin. Sebagian mengaku sudah menerima vaksin padahal belum. Petugas harus bekerja ekstra menghadapi keadaan tersebut — sebuah persoalan administrasi yang lahir dari jarak antara pemerintah kolonial dan penduduk yang didatanya.

Menghitung Ulang pada 1911

Setahun kemudian angkanya berubah drastis. Penduduk Jawa yang terinfeksi kolera turun dari 70.561 jiwa pada 1910 menjadi 9.561 jiwa pada 1911. Batavia yang sebelumnya mencatat 4.868 kasus turun menjadi 1.345 kasus; Semarang dari 12.793 kasus menjadi 4.055 kasus. Rata-rata kematian pada 1911 tercatat 56,5 persen: dari 9.561 orang terinfeksi, 6.310 meninggal dan 3.251 orang selamat. Sekitar 30.000 penduduk Batavia menerima layanan vaksinasi kolera untuk pertama kalinya.

Tetapi angka itu tidak seluruhnya kabar baik, dan para penelitinya tidak menyembunyikannya. Di Batavia, tempat layanan vaksinasi justru banyak dilakukan, tingkat kematian dari kasus yang tercatat malah naik dari 73,3 persen menjadi 82,9 persen. Di Cirebon pada tahun yang sama tingkat kematiannya hanya 5,5 persen, sementara Semarang justru 83,3 persen dan Priangan 48 persen. Selisih sebesar itu antarkota tidak dijelaskan sebabnya di dalam artikel. Di sinilah batas kajian ini terasa. Yang dikerjakan Faishal Sahru Rhamadan dan dua rekannya adalah studi pustaka atas laporan kolonial dan surat kabar sezaman, bukan pengukuran epidemiologis. Turunnya kasus di Jawa berjalan bersamaan dengan vaksinasi massal, perbaikan sanitasi, dan kemungkinan meredanya wabah dengan sendirinya — tiga hal yang tidak bisa dipisahkan pengaruhnya dari data yang tersedia. Artikelnya menyebut vaksinasi sebagai strategi yang dipandang efektif oleh pemerintah, dan pilihan kata itu lebih hati-hati daripada menyatakan vaksinasi sebagai sebabnya.

Ada pula selisih di dalam artikelnya sendiri. Abstraknya menyebut 72.013 kasus pada 1910, sedangkan uraian di dalam menyebut 70.561 penduduk Jawa yang terinfeksi pada tahun yang sama. Abstrak juga menulis sekitar 9.500 kasus pada 1911, sementara tabelnya menyebut 9.561. Satu penjelasan lain juga keliru: suntikan subkutan disebut sebagai suntikan yang langsung diterapkan ke otot, padahal subkutan berarti di bawah kulit. Rujukan ke tabelnya pun tertukar, menunjuk tabel distribusi vaksin ketika yang dimaksud tabel korban.

Baca juga Laporan 1907: Kematian Malaria Cilacap 10 Persen

Yang tidak berubah adalah cara Nijland bekerja. Ia membaca Ferran yang dikritik keras, membaca Haffkine yang mengujinya di Bengal, lalu menguji sendiri di tubuhnya apa yang hendak ia tawarkan kepada orang lain. Urutan itu bukan keberanian yang dramatis; itu cara satu-satunya yang tersedia baginya untuk mengetahui apakah barang buatannya aman sebelum diedarkan.

Baca juga Rumah Sakit Pabrik Gula Mangkunegaran dan Batas Kebaikannya

Empat orang yang menyusulnya di Institut Pasteur pun datang atas permintaan sendiri. Tiga rekan kerja dan satu kepala perawat, tanpa nama yang tercatat dalam artikel ini, menjadi manusia kedua sampai kelima yang menerima vaksin itu. Dari lima tubuh itulah, menurut susunan peristiwa yang dibangun para peneliti, layanan yang kemudian menjangkau ratusan ribu orang bermula. Nama mereka tidak pernah masuk ke laporan tahunan yang mencatat dosisnya, dan tidak pernah pula disebut dalam artikel yang menyusun ulang peristiwa ini seabad kemudian.

Baca juga Payakumbuh, Kota Kolonial yang Dibentuk Lima Staatsblad

Nijland sendiri tidak pernah menghitung berapa nyawa yang selamat karena suntikannya. Yang tercatat hanya dosis yang keluar dari lembaganya, kasus yang menurun, dan satu kota yang angka kematiannya justru naik. Sisanya ditinggalkan kepada arsip, dan kepada siapa pun yang bersedia membuka laporan tahunan pemerintah kolonial satu per satu. Seratus lima belas tahun kemudian, tiga sejarawan di Semarang mengerjakan persis pekerjaan itu, dan yang mereka temukan bukan kisah kemenangan melainkan daftar kota dengan angka yang tidak seragam.

Bagikan

Baca Juga

Istana Sultan Ternate dalam potret koleksi ekspedisi Siboga.
Lima Surat Sultan Ternate dari Pengasingan Bandung
Nyamuk Anopheles, vektor penular malaria.
Laporan 1907: Kematian Malaria Cilacap 10 Persen
Potret studio sekelompok orang Jawa pada masa kolonial
Sepuluh Sen Melihat Orang Jawa di Osaka 1903
Barisan pramusaji membawa piring hidangan rijsttafel di ruang makan Hotel Homann, Bandung
Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera
Bangunan rumah sakit dan rumah apoteker berhalaman luas di Binjai pada 1903.
Tiga Rumah Sakit Deli Maatschappij, 1871 sampai 1940
Ilustrasi kampung pesisir berumah panggung beratap daun di tepi pantai pasir gelap dengan perahu bercadik berlayar pandan yang ditambatkan, berlatar hutan sagu dan kerucut gunung berapi berasap
Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi