Cekricek.id — Pada 5 Maret 1983, sebuah gedung baru diresmikan di Jalan Yos Sudarso Nomor 1, Kota Ternate. Gedung itu milik Bank Indonesia, dan yang meresmikan langsung adalah gubernurnya waktu itu, Rahmat Saleh. Di halamannya berdiri sesuatu yang belum pernah disewakan kepada siapa pun di kota tersebut: sebuah tenda modern, berangka besi, dipasang untuk sehari lalu dibongkar lagi.
Tenda itu milik seorang pensiunan TNI bernama H. Toekimin. Setahun sebelumnya ia menghadiri sebuah acara TNI di Jakarta dan melihat tenda yang dipakai di sana. Bentuknya lebih modern, hiasannya lebih rapi, dan yang paling penting, tenda itu mudah dipasang lalu mudah dirombak kembali. Ia membawa satu unit pulang ke Ternate pada tahun yang sama. Peresmian gedung Bank Indonesia itu sekaligus menjadi hari pertama usahanya beroperasi. Nama usahanya TKM, diambil dari inisial namanya sendiri. Sejak hari itu, di Ternate ada barang yang bisa disewa untuk menaungi sebuah acara. Sebelumnya tenda modern memang sudah ada di kota tersebut, tetapi pemiliknya memakainya sendiri atau untuk keperluan instansi, tidak untuk disewakan kepada orang lain.
Riwayat itu dicatat Umar Hi Rajab bersama Rusli M. Said dan Junaib Umar dari Universitas Khairun, Ternate. Catatan mereka terbit dalam artikel Tenda Pesta sebagai Fenomena Budaya Populis di Ternate di Jurnal Pusaka Volume 4 Nomor 1 tahun 2024. Bahannya dikumpulkan lewat wawancara dengan para pemilik dan pekerja usaha penyewaan tenda di kota itu, sebagian direkam pada 2019 dan sebagian lagi pada pertengahan 2020.
Sabua

Sebelum tenda besi, yang berdiri di halaman rumah orang Ternate bernama sabua. Bahannya bambu, daun woka, akar pohon, dan tumbuhan hias untuk hiasannya. Sifatnya permanen. Membuatnya rumit dan memakan waktu lumayan lama, dan bila seluruh bahannya harus dibeli, biayanya tidak sedikit. Sabua bukan barang yang dipasang pagi lalu dibongkar malam. Ia berdiri karena dikerjakan banyak tangan sekaligus, bukan karena dibayar.
Tenda modern bekerja dengan logika yang berbeda sama sekali. Rangkanya besi, atapnya terpal, hiasannya junbe atau renda dan kain. Sifatnya sementara, atau setengah permanen. Pemasangan dan pembongkarannya praktis, dan untuk satu unit biayanya lebih ekonomis. Perbedaan itu bukan soal selera; ia soal berapa lama sebuah bangunan perlu berdiri. Yang menarik, pergantiannya tidak berlangsung seketika. Pada 1983 tenda modern masih jarang ditemui di Ternate dan hanya dipakai pada acara tertentu. Sebagian masyarakat tetap memilih sabua untuk pesta pernikahan, meski tenda modern disebut lebih aman dan lebih praktis. Informasi tentang barang baru itu masih terbatas di kalangan mereka.
Perubahannya baru terasa setelah orang melihat sendiri kegunaannya. Sewa tenda menjadi salah satu hal yang dicari lebih dulu ketika sebuah keluarga hendak menikahkan anaknya, sejajar dengan mencari rias pengantin. Alasannya sederhana dan tidak berubah sampai hari ini: tenda melindungi tamu dari terik siang dan dari hujan yang datang tanpa aba-aba.
Pemakaiannya lalu melebar jauh dari pernikahan. Tenda dipasang untuk walimatul khitan, arisan, ulang tahun, dan peresmian toko. Yang lebih jarang disadari, tenda juga dibutuhkan pada acara duka. Ketika ada yang meninggal, tenda dipasang untuk melindungi pelayat dari hujan dan panas. Barang yang sama menaungi pesta dan menaungi kabar buruk.
Jalan Yos Sudarso Nomor 1
Dari halaman gedung bank itu, usaha tenda menyebar ke seluruh kota. Setahun setelah TKM berdiri, seorang bernama Ino Mario membuka usaha yang sama. Sejak itu jumlahnya terus bertambah. Hingga penelitian ini dikerjakan, setidaknya ada delapan usaha jasa penyewaan tenda yang beroperasi di Kota Ternate, semuanya bergabung dengan penyewaan alat-alat pesta.
Angka sewanya, menurut catatan penelitian, cukup lama tidak bergerak. Untuk rentang 1983 sampai 2013 disebutkan kira-kira Rp300.000 untuk satu unit tenda. Upah pekerja sekali pasang sekitar Rp25.000 per orang, dan TKM waktu itu punya empat pekerja yang khusus mengurus pemasangan dan pembongkaran. Perhitungan sewanya dimulai sejak pemasangan sampai pembongkaran. Cara mereka mencari pelanggan pada masa itu hanya satu. Promosi berjalan dari mulut ke mulut, tanpa biaya, cukup lewat cerita kepada teman dan keluarga. Sebuah pesta yang tendanya rapi menjadi iklan bagi pesta berikutnya. Jaringan pelanggan tumbuh mengikuti jaringan kekerabatan, bukan mengikuti pemasangan papan nama di pinggir jalan. Modal utamanya kepercayaan, dan kepercayaan itu berpindah lewat cerita.
Salah satu pelanggannya bukan keluarga biasa. Menurut Mundik, pegawai pertama TKM Tenda, usaha itu diterima baik oleh masyarakat sejak awal kemunculannya hingga sekitar sepuluh tahun sesudahnya. “Saking top nya dulu tak jarang Kesultanan Ternate pun menggunakan jasa sewa tenda kami,” katanya kepada peneliti pada 24 Juli 2020.
Alasan orang lain ikut masuk ke bisnis ini juga terang. Cokro, pemilik Tenda Raudlah, menyebut dirinya terinspirasi oleh usaha penyewaan tenda pertama di Ternate. “Karna melihat usaha penyewaan tersebut dari awal sudah banyak peminatnya sehingga menjadi pilihan saya untuk membuka usaha yang sama,” katanya pada 15 Juli 2020. Ia menilai usaha itu cukup menjanjikan. Permintaan yang tidak putus itu yang menahan mereka bertahan. Asep, pemilik Tenda Aneka Jaya, menyatakan berani terus menjalankan usahanya justru karena permintaannya terus meningkat, meski usaha sejenis sudah banyak. Baru pada awal 2020 pemasukannya anjlok, dan penyebabnya ia sebut sendiri: pandemi Covid-19. Pesta berhenti, tenda tinggal di gudang.
Delapan Nama di Satu Kota
Di kota yang orangnya gemar mengadakan acara — dari kelahiran seseorang sampai akhir hidupnya — delapan usaha di satu kota berarti persaingan yang rapat. Yang dijual bukan lagi tenda semata, melainkan pilihan warna, gaya dekorasi, dan kelengkapan peralatan pesta. TKM sendiri menambahkan dua jenis kursi, meja bundar, peralatan prasmanan, dan rias pengantin.
Pergeserannya kini hampir selesai. Menurut kesimpulan para peneliti, masyarakat yang dulu hanya memakai tenda tradisional lambat laun berpindah ke tenda modern, sampai hampir tidak ada lagi yang memakai sabua untuk sebuah acara di Kota Ternate. Tenda menjadi kebiasaan baru, hampir wajib pada setiap acara yang digelar di luar ruangan. Pertumbuhannya, tulis mereka, sejalan dengan naiknya sektor jasa secara nasional.
Ada makna sosial yang menempel di sana. Jumlah tenda yang dipasang dibaca orang sebagai ukuran megah atau tidaknya sebuah perhelatan. Sebuah pesta pernikahan dinilai dari seberapa luas naungan yang disediakan tuan rumah. Barang sewaan yang dipasang sehari itu, dengan kata lain, ikut menyampaikan sesuatu tentang yang menyewanya. Artikelnya sendiri punya lubang yang perlu disebut. Sebagian besar isinya bukan analisis melainkan saran praktis memilih jasa sewa tenda — cara memilih vendor, tips menawar harga, dan daftar tujuh jenis tenda pesta. Bagian itu ditulis dengan sapaan kepada pembaca, gaya yang lazim di tulisan pemasaran, bukan di jurnal.
Cacat lain ada di bagian depan. Judulnya tertulis “fenoman”, bukan fenomena. Abstrak berbahasa Indonesianya tidak merangkum temuan sama sekali; isinya sejarah tenda sejak Zaman Besi, tenda tentara Romawi, dan tenda bangsa nomad. Satu tahun pembukaan usaha kedua pun disebut dua kali dengan angka berbeda, 1984 dan 1985. Satu kutipan bahkan diakui sendiri sebagai rekaan. Artikel itu memuat kalimat berbahasa Ternate tentang seseorang yang berjanji memakai tenda tertentu di pesta anaknya, lalu menjelaskan bahwa pernyataan tersebut bersifat fiktif dan bermaksud guyon. Menjadikannya bahan pembahasan tanpa sumber nyata melemahkan bagian yang justru paling menarik.
Baca juga Lima Surat Sultan Ternate dari Pengasingan Bandung
Yang tidak diukur juga banyak. Tidak ada data jumlah unit yang beredar, tidak ada catatan pendapatan tahunan, dan tidak ada perbandingan dengan kota lain di Maluku Utara. Harga Rp300.000 disebut berlaku untuk rentang tiga puluh tahun tanpa penyesuaian inflasi. Yang kuat dari artikel ini adalah kesaksian orangnya, bukan angkanya. Nama, tanggal wawancara, dan urutan peristiwanya jelas; yang tidak jelas adalah ukurannya.
Baca juga Empat Gunung dan Dua Bahasa yang Sulit Disatukan
Namun kesaksian itu memang menjelaskan sesuatu. Sabua dibangun untuk berdiri; tenda sewa dibangun untuk dibongkar. Yang berganti di Ternate sejak 1983 bukan hanya bahan atapnya, melainkan hubungan orang dengan bangunan yang menaungi hari besar mereka — dari sesuatu yang dikerjakan bersama-sama menjadi sesuatu yang dipesan.
Baca juga Naleung Sambo dan Bu Lekat di Talam Peusijuek
Di Jalan Yos Sudarso Nomor 1 hari itu, tenda pertama dibongkar sesudah acara selesai, persis seperti yang dijanjikan penjualnya di Jakarta setahun sebelumnya. Empat puluh tiga tahun kemudian, yang dibongkar dan dipasang kembali di kota itu bukan lagi satu tenda, melainkan hampir seluruh cara orang menggelar acara.














