Sofifi dari Arsip 1706 ke Ruang Kelas di Tidore

A A

Sofifi, Maluku Utara. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Gita, Sidangoli, Payahe. Tiga nama kampung di pesisir Halmahera itu tercatat pada 1706 di dalam memori serah terima seorang pejabat kolonial Belanda, lengkap dengan letak dan jumlah penduduknya, tetapi tanpa satu keterangan pun tentang siapa yang tinggal di sana. Dua abad kemudian salah satu titik di kawasan yang sama menjadi ibu kota Provinsi Maluku Utara, dan dalam waktu dekat direncanakan dimekarkan menjadi kota madya yang berdiri sendiri. Yang tidak ikut tumbuh adalah tulisan tentang sejarah tempat itu sendiri.

Jarak antara status baru dan pengetahuan yang tersedia itulah yang dicatat Jainul Yusup, S.S., M.Hum., dan Pheres Sunu W., S.S., M.A., dua pengajar Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Khairun, dalam Sosialisasi Sejarah Kota Sofifi sebagai Ibukota Maluku Utara di SMU Negeri 5 Kota Tidore Kepulauan. Laporan itu terbit di Jurnal Pusaka Vol. 5 No. 2 pada 2025. Isinya bukan penelitian arsip baru, melainkan catatan sebuah kegiatan pengabdian masyarakat: satu seminar sejarah lokal yang digelar di ruang kelas sebuah SMA negeri, dua jam lamanya.

Daftar Isi
  1. Cornabe 1706 dan Tiga Nama Kampung
  2. De Clercq 1898: Ibu Kota yang Batal
  3. Reformasi, Otonomi Daerah, dan Generasi Z
  4. 17 Juli 2025 di SMA Negeri 5 Tidore Kepulauan
  5. Mata Rantai yang Belum Diukur

Cornabe 1706 dan Tiga Nama Kampung

Pemandangan Pulau Tidore dengan gunung berapi di latar belakang
Pulau Tidore, Maluku Utara. (Foto: Wikimedia Commons)

Rantai tulisan tentang kawasan ini bermula jauh sebelum ada provinsi. Karya paling awal yang disebut kedua penulis adalah catatan Alexander Cornabe pada 1706, Memorie van Overgave te Gouvernour General P. Rossellaar, memori serah terima jabatan yang lazim disusun pejabat kolonial ketika meninggalkan posnya, dengan bagian deskripsi wilayah timur. Cornabe tidak menggambarkan Oba secara tegas. Ia hanya menyebut beberapa nama di wilayah itu, di antaranya Gita, Sidangoli, dan Payahe, lengkap dengan lokasi dan jumlah penduduknya. Angka penduduk itu disebut ada, tetapi tidak satu pun dikutip ulang di dalam laporan.

Nilai catatan itu terletak pada apa yang bisa disimpulkan darinya, dan pada apa yang tidak. Menurut kedua penulis, daftar nama tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa wilayah Oba sudah dihuni sejak abad ke-18. Catatan yang sama tidak menjawab pertanyaan yang lebih sulit: siapa, atau entitas sosial budaya mana, yang menempati kampung-kampung itu. Pertanyaan tersebut dibiarkan terbuka di dalam laporan dan tidak ditutup dengan dugaan. Untuk sebuah wilayah yang kini menjadi pusat pemerintahan provinsi, titik awal pengetahuannya memang setipis itu.

De Clercq 1898: Ibu Kota yang Batal

Mata rantai berikutnya berjarak hampir dua abad. Pada 1898 terbit Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate karya F.S.A. de Clercq, yang menulis dari posisi seorang residen yang memang bertugas di Karesidenan Ternate. Kedua penulis menilai deskripsi de Clercq cukup baik. Buku itu menunjukkan dengan jelas situasi karesidenan tersebut, termasuk pesisir barat Halmahera, sekaligus hubungan sang residen dengan masyarakat di wilayah kerjanya. Sumbernya berbahasa Belanda, dan itu bukan perkara kecil bagi pembaca hari ini.

Baca juga Ekonomi Cengkeh Tidore: 18 Persen untuk Petani

Satu keterangan dari buku itu menyambung langsung ke masa sekarang. De Clercq menjelaskan latar belakang pemilihan Sofifi sebagai pengganti Ternate untuk pusat pemerintahan kolonial yang baru di Maluku Utara. Rencana itu, menurut catatan kedua penulis, tidak pernah terlaksana akibat berbagai faktor politik dan ekonomi. Gagasan memindahkan pusat pemerintahan ke Sofifi, dengan kata lain, bukan gagasan era otonomi daerah. Ia sudah ada pada akhir abad ke-19, gagal, lalu muncul kembali seratus tahun kemudian dalam bentuk yang berbeda.

Reformasi, Otonomi Daerah, dan Generasi Z

Kemunculan kembali itulah yang menjadi latar kegiatan. Kedua penulis menempatkan Sofifi dalam perubahan yang dibawa reformasi dan otonomi daerah, ketika pemerataan wilayah membuat banyak daerah berkembang dan Sofifi ditempatkan sebagai simpul strategis penghubung berbagai wilayah Maluku Utara. Sofifi direncanakan menjadi pusat sosial dan ekonomi baru. Di titik itu muncul persoalan yang mereka sebut sudah umum: minimnya pemahaman sejarah pada ruang lingkup mikro di Maluku Utara, yang menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebab pokoknya, menurut mereka, adalah keterbatasan referensi. Karya berbahasa Indonesia tentang sejarah lokal di luar Ternate untuk Maluku Utara memang minim, sementara sumber yang paling memadai justru berbahasa Belanda dan hanya terjangkau kalangan tertentu. Dari analisis situasi dan diskusi dengan guru serta kepala sekolah, mereka merumuskan dua kendala mitra: aspek pengetahuan, berupa keterbatasan pendidikan guru dan orang tua siswa dalam memahami sejarah lokal secara metodologis, dan aspek sosial budaya, berupa perbedaan cara pandang terhadap masalah sejarah lokal.

Baca juga Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi

Satu keterangan dibiarkan menggantung di tengah uraian itu. Kedua penulis menyebut tujuan kegiatan ini adalah memperkenalkan kepada peserta didik bagaimana kesejarahan dan kebudayaan masa lalu menempatkan Sofifi sebagai bagian penting dalam pengembangan sosial dan politik, terutama pada bidang kemiliteran, yang kini berubah menjadi pendorong sosial ekonomi masyarakat. Peran kemiliteran itu tidak dijelaskan lebih jauh di bagian mana pun dari laporan. Tidak ada peristiwa, tahun, atau kesatuan yang disebut, sehingga pembaca hanya bisa mencatatnya sebagai keterangan yang belum dibuka.

Keberatan keduanya, pada akhirnya, tidak ditujukan kepada murid maupun guru. “Akses atas sejarah lokal itu sendiri hanya dapat diakses khusus bagi para saintifik kesejarahan yang seringkali hanya berputar di lingkungan dunia kampus semata,” tulis Jainul Yusup dan Pheres Sunu W. Kegiatan di Tidore itu mereka tempatkan sebagai usaha menerobos dinding kampus, tempat “pengetahuan sebagian besar hanya mengendap di lemari-lemari perpustakaan” tanpa mampu keluar kepada khalayak yang sebenarnya membutuhkannya. Beban kesalahan mereka letakkan pada cara ilmu itu diedarkan, bukan pada orang yang tidak mengetahuinya.

17 Juli 2025 di SMA Negeri 5 Tidore Kepulauan

Kegiatan berlangsung pada Senin, 17 Juli 2025, pukul 10.00 sampai 12.00 WIT, di SMA Negeri 5 Kota Tidore Kepulauan. Tahapannya empat dan sederhana: perkenalan tim dengan mitra, dialog mengenai sejarah Kota Sofifi, sesi tanya jawab yang diselingi permainan, lalu pembicaraan tentang kerja sama lanjutan antara ketua tim dan pihak sekolah. Timnya hanya dua orang. Jainul Yusup bertindak sebagai ketua, penghubung dengan mitra, sekaligus moderator dan pembawa acara, dengan kepakaran politik dan komunikasi publik. Pheres Sunu W. menyusun proposal, laporan, dan materi diskusi, dengan kepakaran kebudayaan, kearsipan, dan perpustakaan.

Cara penyampaiannya disesuaikan dengan sasaran. Karena peserta didik disebut sebagai generasi Z yang tidak lagi merasa terikat pada sejarah dan kebudayaan di sekitarnya, materi dikemas seringan mungkin tanpa kehilangan isinya, dan komunikasi dibuat santai. Buku dibagikan gratis kepada siswa yang bertanya atau menjawab, termasuk kepada yang jawabannya belum tepat. Target capaian kegiatan dirumuskan dalam empat butir: laporan yang diterima lembaga penelitian kampus, rekayasa sosial untuk mendorong pengetahuan kesejarahan siswa, peningkatan penerapan ilmu pengetahuan di masyarakat, dan perbaikan tata nilai masyarakat.

Mata Rantai yang Belum Diukur

Kriteria pengukuran yang dipakai hanya dua: partisipasi dan keaktifan peserta didik dalam berinteraksi dan bertanya, ditambah ketertarikan pada pembagian buku gratis. Laporan menyimpulkan antusiasme mitra tampak dari tingginya tingkat kehadiran dan partisipasi aktif, tetapi tidak mencantumkan satu pun angka: berapa siswa yang hadir, berapa yang bertanya, berapa buku yang dibagikan. Tidak ada pula tes pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan. Klaim bahwa pemahaman siswa meningkat karena itu tidak bisa diperiksa dari laporan ini, dan kedua penulis pun tidak mengajukannya sebagai temuan.

Baca juga Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda

Nama Cornabe pun ditulis berbeda antara badan tulisan dan daftar pustaka. Letak Sofifi disebut berada di pesisir bagian timur Halmahera pada bagian pendahuluan, sementara pembahasan de Clercq menempatkan wilayah yang sama di pesisir barat. Daftar pustakanya memuat dua rujukan tentang sikap lingkungan mahasiswa di Nigeria dan motivasi wirausaha ramah lingkungan, yang tidak pernah dipakai di dalam teks dan tidak berhubungan dengan Sofifi. Ketiganya perkara kecil, tetapi menumpuk pada laporan yang isinya memang tipis.

Harapan yang mereka tulis pun bersifat jangka panjang, bukan hasil hari itu. Kegiatan seperti ini, menurut keduanya, perlu diulang agar siswa yang sudah mengetahui bisa mengingat kembali dan agar persebaran pengetahuan kesejarahan meluas ke lebih banyak orang. Materi sejarah Kota Sofifi juga direncanakan diulang oleh guru sejarah dan guru seni budaya di dalam bahan ajar mereka. Rencana pengulangan itu dicatat sebagai niat, tanpa jadwal dan tanpa keterangan siapa yang akan memastikannya berjalan.

Sebagai mata rantai, laporan ini berdiri di posisi yang jujur tentang keterbatasannya. Ia tidak menambah pengetahuan baru tentang sejarah Sofifi, tidak membaca ulang arsip Cornabe maupun de Clercq, dan tidak mengukur apa yang berubah pada pesertanya. Yang ia kerjakan adalah memindahkan sedikit isi dua buku berbahasa Belanda dari abad ke-18 dan ke-19 ke sebuah ruang kelas pada 2025. Gita, Sidangoli, dan Payahe masih ada di peta Oba. Siapa yang menghuninya pada 1706 belum ada yang menjawab, dan catatan berikutnya baru muncul hampir dua abad sesudahnya.

Bagikan

Baca Juga

Tembok batu Benteng Oranje di Ternate dengan halaman rumput di depannya
Desa 2.000 Jiwa dan Desa Tujuh Orang di Maluku 1706
Kapal nelayan purse seine berlayar di perairan Indonesia
Dari Kebun ke Pajeko, Catatan Desa Saria 2002-2017
Ilustrasi kampung pesisir berumah panggung beratap daun di tepi pantai pasir gelap dengan perahu bercadik berlayar pandan yang ditambatkan, berlatar hutan sagu dan kerucut gunung berapi berasap
Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi
Ilustrasi pasar terbuka di tepi pantai berpasir gelap dengan gerabah tanah liat, ikatan bawang, daun pisang berisi hasil kebun, tikar penjemuran cengkeh, deretan ruko kayu beratap seng, dan perahu bercadik di latar gunung berapi
Ekonomi Cengkeh Tidore: 18 Persen untuk Petani
Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api
Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda
Cekricek.id, Berita Viral – Bupati Sula, Maluku Utara kena amuk pedagang di pasar saat sedang blusukan untuk mengecek harga sembako. Protes dilayangkan untuknya karena belum melunasi utang kampanye yang disuarakan ketika mencalon dulu.
Bupati Sula Diamuk Pedagang Saat Blusukan, Utang Kampanye Dipersoalkan