Naleung Sambo dan Bu Lekat di Talam Peusijuek

A A

Manoe pucok, salah satu tradisi dalam adat perkawinan Aceh. [Foto: Rezy Prast/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Di atas talam yang orang Aceh sebut dalong, benda-bendanya disusun berdampingan: air yang sudah dicampur tepung tawar, beras dan padi, seikat daun, dan nasi ketan. Talam itu ditutup sangee. Penutup hidangan tersebut diangkat ketika prosesi dimulai. Air bercampur tepung tawar dipercikkan lebih dulu ke orang yang duduk menerimanya, lalu beras dan padi ditaburkan ke sekelilingnya.

Susunan itulah yang dibaca tiga peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Aswira Salman, Tiara Putri Irana, dan Nursukma Suri menulis Bahasa dan Nilai Budaya dalam Tradisi Peusijuek pada Masyarakat Aceh Kajian Antropolinguistik, terbit di jurnal Metahumaniora Volume 15 Nomor 2 tahun 2025, halaman 129 sampai 138. Mereka tidak berhenti pada bendanya. Yang mereka kejar adalah bahasa yang diucapkan di atas benda-benda itu.

Daftar Isi
  1. Dalong dan Sangee
  2. Naleung Sambo
  3. Bu Lekat di Telinga
  4. Indrapuri dan Kuta Baro

Dalong dan Sangee

Dalong bukan sekadar wadah. Meletakkan bahan peusijuek di atas talam, tulis ketiganya, dianggap sebagai kehormatan atau etika; talam yang sama dipakai masyarakat Aceh untuk menaruh perlengkapan pernikahan sebelum pesta digelar. Sangee yang menutupinya ikut menanggung makna. Penutup itu menjadi lambang kehormatan dan kemuliaan, dan orang yang dipeusijuek diharapkan berwatak seperti sangee: menjaga diri sekaligus menjadi pelindung bagi orang lain.

Kata peusijuek sendiri sudah menerangkan maksudnya. Dalam bahasa Indonesia ia disebut menepung tawar. Secara harfiah ia berarti membuat sesuatu menjadi “sejuk” atau “dingin”. Darwis A. Soelaiman, penulis rujukan adat Aceh yang terbit di Banda Aceh pada 2011 dan dikutip di bagian awal artikel ini, menerangkan bahwa dengan mengadakan peusijuek seseorang diharapkan memperoleh berkah, selamat, atau berada dalam keadaan baik.

Daftar peristiwa yang dirayakan dengan peusijuek panjang. Perkawinan dan sunat rasul ada di dalamnya. Begitu pula mendamaikan orang yang sedang bertikai, membangun rumah baru, membeli kendaraan roda dua maupun roda empat, dan berangkat naik haji. Peusijuek juga dilakukan ketika seseorang memperoleh keberuntungan. Satu upacara, banyak sekali pintu masuk.

Naleung Sambo

Seikat daun di atas dalong itu bukan hiasan. On maneekmano, daun warna-warni, melambangkan keindahan, keharmonisan, dan kerukunan. On sinijuek, daun cocor bebek, melambangkan kesejukan, kesabaran, dan ketenangan. Yang ketiga bukan daun, melainkan rumput: naleung sambo, atau rumput saut. Ketiganya dijalin menjadi satu ikatan, dan jalinan itu sendiri melambangkan pengikatan semua unsur baik tadi ke dalam satu keutuhan pergaulan hidup.

Baca juga Satu Peristiwa, Empat Cara: Kalimat Aktif di 4 Bahasa Dunia

Naleung sambo dipilih karena alasan yang sangat teknis. Rumput ini biasa hidup di halaman rumah atau di tempat yang sedikit lembap, dan umumnya tumbuh di tanah yang keras. Akarnya serabut dan kuat. Ia tidak mudah rapuh, dan — ini bagian yang membuatnya dipakai — ia “tidak mudah dicabut”. Orang yang dipeusijuek diharapkan memiliki kekuatan, keteguhan, dan pendirian yang sama.

Beras dan padi punya pekerjaan lain. Breuh pade ditaburkan di sekeliling orang yang dipeusijuek dan melambangkan kesuburan, kemakmuran, semangat, serta keutuhan yang diharapkan kembali seperti semula. Air dan tepung tawar yang dipercikkan lebih dulu melambangkan kesabaran dan kembalinya seseorang ke dalam ketenangan. Tidak ada satu pun benda di atas talam itu yang dipasang tanpa tugas.

Ada satu hal lagi yang menempel pada air dan daun tersebut. Bagi masyarakat Aceh, tulis ketiganya, peusijuek dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat dan kebahagiaan yang diterima, sekaligus permohonan agar selalu memperoleh keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan. Bahan yang dipakai pun diambil dari sekeliling rumah: air, dedaunan, rumput halaman. Penghormatan terhadap alam sebagai ciptaan, dalam bacaan mereka, justru terbaca dari benda-benda yang paling gampang dicari.

Bu Lekat di Telinga

Yang terakhir menyentuh tubuh adalah nasi ketan. Bu lekat, sebutan Aceh untuk nasi ketan, ditempelkan sedikit ke telinga orang yang dipeusijuek, atau ke benda yang dipeusijuek. Ia melambangkan “perekat” dalam membangun kembali kebersamaan dan persaudaraan yang telah retak. Untuk mendamaikan dua orang yang sedang bertikai, benda yang dipakai memang benda yang lengket.

Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik

Sesudah itu barulah suara masuk. Prosesi diakhiri pembacaan doa yang dipimpin seorang teungku, tokoh agama, untuk memohon perlindungan dan keberkahan agar orang yang dipeusijuek terhindar dari segala marabahaya. Doa-doanya berbahasa Arab. Di titik itulah ketiga peneliti Universitas Sumatera Utara memusatkan pisau analisisnya.

Strukturnya tetap di setiap acara. Pembukaan dimulai dengan bismillah, yang mereka baca sebagai penanda niat suci sekaligus pengakuan bahwa Tuhan adalah sumber rahmat dan keberkahan. Isinya memuat harapan yang spesifik: keselamatan, kesehatan, atau keberkahan. Dalam doa peusijuek pernikahan terdapat permohonan agar pasangan diberi keturunan yang baik dan dilindungi dari segala marabahaya. Penutupnya berupa pujian kepada Tuhan atau penegasan iman.

Doa itu jarang diucapkan sendirian. Ketiga peneliti mencatat doa peusijuek kerap dilafalkan bersama-sama, sehingga yang tercipta bukan hanya suasana sakral melainkan juga rasa kebersamaan di antara yang hadir. Ritual ini memang dihadiri berbagai lapisan masyarakat, dan orang datang untuk berbagi kebahagiaan pada acara sepenting pernikahan, kelahiran, atau rumah baru. Di situlah, bagi ketiganya, peusijuek bekerja sebagai penguat solidaritas sosial dan penjaga harmoni, bukan semata urusan antara seseorang dan Tuhannya.

Yang berubah adalah isi, dan isinya sangat banyak. Artikel itu mendaftar doa peuceucap anak-anak, doa pengantin, doa permulaan peusijuek pengantin, doa rumah, doa kendaraan, doa musafir, doa khitan, doa bibit padi, doa jamaah haji, doa perempuan hamil, sampai doa untuk orang yang patah atau tertimpa musibah. Ada pula rangkaian doa kematian, dari merobek kain kafan sampai menyiram air di atas kubur.

Isinya menempel pada keperluan yang konkret. Doa bibit padi meminta hasil yang baik seperti yang diberikan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Doa kendaraan meminta keselamatan bagi perjalanan. Doa jamaah haji meminta agar ibadah haji diterima dan pelakunya terhindar dari kesulitan. Doa perempuan hamil meminta kandungan yang lancar dan kelahiran yang selamat. Satu tradisi menyimpan katalog permohonan yang mengikuti manusia dari lahir sampai kuburannya disiram air.

Indrapuri dan Kuta Baro

Bahasa asing di dalam ritual lokal itulah yang menjadi persoalan menarik bagi antropolinguistik. Mengikuti Dell Hymes dan kerangka etnografi komunikasinya, ketiganya membaca tiap ujaran doa sebagai tindakan yang fungsi sosialnya ditentukan situasi, tujuan, dan hubungan antarpihak yang terlibat. Mengikuti Clifford Geertz, mereka membaca bahasa Arab sebagai sistem simbol: penanda kesucian, otoritas spiritual, dan identitas keagamaan, bukan semata alat berkomunikasi.

Baca juga Tujuh Pola Bahasa yang Membentuk Berita Bola Indonesia

Bahasa Arab itu tetap dilafalkan dengan cara Aceh. Doa peusijuek, tulis mereka, sering dilafalkan dengan nada tertentu yang khas Aceh, dan maknanya ditafsirkan sesuai konteks budaya setempat. Unsur religius yang universal bertemu ciri lokal yang tidak hilang. Proses itu yang mereka sebut sinkretisme budaya, ketika unsur lokal dan universal saling melengkapi alih-alih saling menyingkirkan. Malinowski dipakai untuk menopang bacaan tentang bahan-bahan alam tadi sebagai bentuk penghormatan pada ciptaan.

Peta lapangan yang mereka rujuk menyebar. Nilai-nilai peusijuek yang mereka kutip berasal dari masyarakat Aceh di Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Kajian Joko Hariadi, Muhammad Arif Fadhilah, dan Azrul Riski yang mereka rujuk bekerja di Kota Langsa dan menemukan tradisi itu masih dipertahankan warga kota tersebut. Nanda Sekti Prayetno dan Bambang Qomaruzaman meneliti di Kuta Baro dan menyimpulkan hadirnya syariat Islam di Aceh tidak menghilangkan budaya lokal selama budaya itu berpegang pada ajaran Islam.

Batas kajiannya perlu ikut disebut. Artikel ini kualitatif deskriptif dan bersandar pada observasi serta analisis dokumen, tetapi tidak mencantumkan berapa kali prosesi peusijuek diamati, di gampong mana, dan pada tanggal berapa. Penulisnya menutup tulisan dengan saran agar penelitian berikutnya menggali lebih dalam peran bahasa dalam upacara adat di daerah-daerah lain di Indonesia. Kesimpulan tentang makna simbol, dengan begitu, berpijak pada bacaan atas teks dan benda, bukan pada hitungan.

Ancaman yang mereka sebut juga bukan ancaman besar. Bukan pelarangan, melainkan pengikisan: tradisi lisan seperti ini rentan kehilangan makna aslinya di tengah perubahan sosial yang cepat. Karena itu mereka meminta lembaga pendidikan memasukkan pelestarian tradisi lisan ke kurikulum, dan meminta lembaga kebudayaan serta pemerintah daerah mendokumentasikannya lewat rekaman audio, video, maupun publikasi tertulis.

Talam itu akan segera dibereskan. Air tepung tawar sudah dipercikkan, beras dan padi sudah ditaburkan, seikat daun dan naleung sambo sudah selesai dipakai. Yang tertinggal paling lama justru sedikit nasi ketan di telinga. Benda paling remeh di seluruh upacara, dan satu-satunya yang tugasnya merekatkan.

Bagikan

Baca Juga

Aneka kue tradisional berwarna-warni tertata di atas nampan kayu berlatar gelap
Kue Mangkuak Sianok Bertahan di Adat, Kalah di Pasar
Perahu kayu bercadik berwarna merah melaju di atas laut biru
Muang Jong dan Sehari Ketika Laut Belitung Ditutup
Dinding kayu masjid berwarna biru dengan panel ukiran bercat emas dan latar pepohonan
Motif Aceh yang Menyelinap ke Ukiran Masjid Bingkudu
Halaman tulisan beraksara Jawa.
762 Walandi di Kadjawen, Hanya 30 Dekat Pakempalan
Tepak sirih, wadah adat masyarakat Melayu.
Enam Pantun Meminang dari Desa Semata, Sambas
Kamar tidur di rumah pengasingan Mohammad Hatta di Banda Neira.
Enam Belas Peti Buku Bung Hatta ke Boven Digul