Cekricek.id — Lagu anak berbahasa Jepang menaikkan emosi positif, konsentrasi, dan pelafalan anak taman kanak-kanak. Kenaikan itu tercatat pada sembilan anak usia 4-5 tahun di TK Yari International School, Kota Padang. Percobaannya berlangsung delapan kali pertemuan, masing-masing 15 sampai 20 menit.
Hasilnya dilaporkan Havidzah Darmawan, Irwan, Wilma Sri Wulan, Sastra Munafri, dan Wilman In dari Program Studi Seni Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Artikel mereka, Pengaruh Lagu Berbahasa Jepang terhadap Emosi, Konsentrasi, dan Pelafalan Anak Usia 4-5 Tahun di TK Yari International School, terbit di jurnal Musica Vol. 6 No. 1 pada 2026. Naskahnya masuk pada Januari tahun itu dan diterima pada Mei.
Daftar Isi
Sembilan Anak

Subjeknya satu kelas, bukan sampel acak. Sembilan anak, semuanya peserta kegiatan belajar reguler di sekolah itu. Tidak ada kelompok pembanding. Rancangan yang dipakai adalah pra-uji dan pasca-uji satu kelompok, artinya kelompok yang sama diukur sebelum dan sesudah perlakuan. Tidak ada anak yang disisihkan dari kegiatan.
Para peneliti menyebut alasannya etis sekaligus praktis. Penelitian berlangsung di satu kelas anak usia dini, dan pengacakan subjek tidak mungkin dilakukan di sana. Pilihan itu mereka tulis terbuka di bagian metode, bukan disembunyikan di catatan kaki. Pendekatannya kuantitatif, dengan metode kuasi-eksperimental. Yang dikejar angka, bukan kesan.
Karakter kesembilan anak tidak seragam. Sebagian pendiam dan menarik diri, sebagian lain aktif dan ceria. Satu anak sudah terbiasa memakai bahasa Jepang dalam konteks tertentu. Selebihnya berbahasa Indonesia sebagai bahasa utama sehari-hari. Perbedaan itu dicatat sejak pengamatan awal dan dipakai sebagai latar saat menilai perubahan tiap anak.
Jumlah yang kecil itu punya satu keuntungan yang diakui penelitinya. Perubahan perilaku tiap anak bisa diamati satu per satu sepanjang proses, bukan disimpulkan dari rata-rata kelas. Pengamatan individual semacam ini sulit dilakukan pada kelas besar. Yang dikejar memang kedalaman, bukan keluasan. Konsekuensinya baru terasa di bagian kesimpulan.
Baca juga Lagu Padha Nonton Gandrung Hidup Kembali di Kolom Komentar
Pengukuran memakai lembar observasi, bukan wawancara. Alasannya lugas: anak berusia 4-5 tahun belum sanggup menerangkan keadaan psikologisnya sendiri dengan kata-kata. Yang bisa dibaca hanyalah perilakunya. Karena itu instrumennya berupa lembar observasi terstruktur yang disusun khusus untuk usia tersebut. Tiga aspek dinilai sekaligus: emosi, konsentrasi, dan pelafalan.
Tiga Lagu
Lagunya tiga, dengan tingkat kesulitan yang sengaja dibedakan. Atama, Kata, Hiza, Ashi memasangkan nama bagian tubuh dengan gerakan. Sūji no Uta berisi urutan angka yang naik bertingkat. Keduanya tergolong tingkat sedang bagi anak seusia itu. Kosakatanya pendek dan berulang.
Lagu ketiga, Inu no Omawarisan, berbeda watak. Liriknya bercerita, melodinya lebih lembut, dan di dalamnya ada tiruan bunyi hewan. Tempo yang lebih lambat itu ternyata punya perannya sendiri di hasil akhir. Ia lagu paling kompleks di antara ketiganya, dan satu-satunya yang meminta anak mengikuti sebuah cerita.
Pilihan lagunya tidak acak. Ketiganya jenis lagu anak yang memang dirancang untuk keperluan pendidikan: kosakata dasar seperti bagian tubuh, angka, dan kegiatan sehari-hari, disampaikan lewat lirik berulang dan melodi ceria. Pola pengulangan itu yang menahan perhatian anak selama kegiatan berlangsung, sekaligus memperkuat daya ingat mereka.
Alasan memilih bahasa Jepang juga disebutkan. Struktur suku katanya sederhana dan teratur, dan tulisannya konsisten dengan bunyinya. Anak kecil relatif mudah menirunya, dan kebingungan pengucapan bisa ditekan sejak awal. Ritmenya pun stabil, sehingga menyatu dengan unsur musik tanpa memaksa anak melompati bunyi yang sulit.
Tahap pra-uji sengaja dijalankan tanpa musik sama sekali. Anak-anak menggambar, menyusun balok, dan bermain teka-teki seperti hari biasa. Peneliti mencatat perilaku mereka di lembar yang sudah disiapkan lebih dulu. Hasilnya menjadi garis dasar untuk dibandingkan nanti, memakai prosedur yang persis sama pada tahap pasca-uji.
Skor Emosi Naik
Penilaiannya memakai skala 1 sampai 4. Empat indikator dipakai untuk emosi: ekspresi wajah, antusiasme, ketenangan, dan respons sosial. Skor tiap anak dijumlahkan, lalu dibagi ke empat tingkat: sangat baik, baik, cukup, dan buruk.
Pada pra-uji sebagian besar anak berada di kategori sedang. Keempat indikator itu muncul, tetapi tidak konsisten dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya. Tidak ada anak yang masuk kategori tertinggi pada tahap itu, dan sebagian bahkan berada di bawah kategori sedang.
Pada pasca-uji ketiganya bergerak naik. Ekspresi wajah lebih cerah, partisipasi lebih aktif, dan interaksi dengan teman sebaya serta guru lebih positif. Perubahan itu terbaca pada seluruh subjek, bukan pada sebagian. Anak yang semula pendiam ikut bergerak naik, meski jarak kenaikannya tidak sama dengan yang semula aktif.
Kenaikan terbesar ada pada Atama, Kata, Hiza, Ashi: 43,25 persen menurut tabel perbandingan di artikel itu. Bagian narasinya menulis angka yang sedikit berbeda, 43,27 persen. Selisihnya tipis, tetapi keduanya dicetak di halaman yang sama. Angka tabel yang dipakai di sini, karena di situlah ketiga lagu dijajarkan dalam satu perbandingan.
Lagu ketiga menyusul di angka 40,52 persen. Sūji no Uta paling rendah, 30,19 persen, meski ketiganya sama-sama disebut signifikan oleh penelitinya. Jarak antara yang tertinggi dan terendah 13 poin persentase, cukup lebar untuk sembilan anak yang sama.
Baca juga Tiga Nilai Nabi dalam Satu Episode Nussa dan Rara
Urutan itu punya penjelasan. Inu no Omawarisan unggul justru pada ketenangan dan empati, bukan pada keriangan. Anak yang cenderung pendiam atau cemas merespons lagu bertempo lambat itu dengan lebih tenang dan lebih fokus. Liriknya yang bercerita membantu mereka menangkap gagasan tolong-menolong.
Perhatian dan Ingatan
Konsentrasi diukur dengan empat hal lain: perhatian visual, ketekunan, ingatan, dan respons terhadap rangsangan musik. Keempatnya dinilai dengan skala yang sama, 1 sampai 4, dan dicatat pada sesi yang sama dengan penilaian emosi.
Sebelum perlakuan, beberapa anak mudah teralihkan. Mereka tidak sanggup menahan fokus sepanjang kegiatan belajar, dan perhatian itu berpindah tanpa dipicu apa pun dari luar. Kegiatannya waktu itu masih tanpa iringan musik: menggambar, menyusun balok, dan bermain teka-teki.
Sesudahnya, anak-anak lebih mampu memperhatikan instruksi, mengikuti alur lagu, dan mengingat lirik beserta gerakannya. Ketiganya diamati berulang di sesi-sesi terakhir. Kemampuan mengingat gerakan naik bersamaan dengan kemampuan mengingat lirik.
Pembagian tugas antarlagu terlihat di sini. Sūji no Uta paling menolong ingatan dan kemampuan mengikuti urutan, karena liriknya memang berupa angka bertingkat yang bisa ditebak arahnya. Anak berlatih mengurutkan sambil bernyanyi, dan latihan itu berulang di tiap sesi tanpa terasa sebagai latihan.
Sementara Atama, Kata, Hiza, Ashi menaikkan fokus lewat jalur lain: gerakan tubuh yang digabung dengan lirik berulang. Rangsangannya masuk lewat telinga, mata, dan otot sekaligus, dan penelitinya menyebutnya stimulasi multisensorik. Pendengaran, penglihatan, dan gerak bekerja pada saat yang sama.
Mulai dari Nol
Aspek ketiga memberi angka yang paling jelas. Pada pra-uji, skor pelafalan dan penguasaan kosakata Jepang seluruh anak adalah nol. Tidak seorang pun mengenali kata-kata dalam ketiga lagu itu sebelum percobaan dimulai. Titik berangkatnya sama rata untuk sembilan anak.
Sesudah delapan sesi, semuanya naik. Kategorinya berkisar dari “hampir benar” sampai “benar dan jelas”. Tidak ada anak yang bertahan di angka nol. Kenaikannya berbeda-beda, tetapi arahnya seragam pada seluruh sembilan subjek.
Dua lagu pertama menaikkan pemahaman atas hal-hal konkret — bagian tubuh dan angka. Lagu ketiga memperkaya pelafalan lewat lirik naratif dan tiruan bunyi hewan, jenis bunyi yang mudah ditiru anak. Kosakatanya lebih longgar, bunyinya lebih banyak, dan tiruan suara hewan memberi anak pijakan yang akrab.
Penjelasan yang dipakai penelitinya bersandar pada kerja dua belahan otak. Bahasa terutama diproses di sisi kiri, musik lebih banyak merangsang sisi kanan. Lagu berlirik membuat keduanya bekerja bersamaan. Itu sebabnya musik kerap dipakai sebagai penopang pembelajaran bahasa asing.
Baca juga Driyarkara 1962: Pintar Tanpa Kesusilaan Jadi Minteri
Baru Sembilan Anak
Angka-angka itu punya batas yang disebut sendiri oleh penelitinya. Sembilan subjek, satu kelas, tanpa kelompok kontrol, dan perlakuan yang hanya delapan pertemuan. Semuanya tercantum di bagian kesimpulan, bukan disodorkan pembaca dari luar. Generalisasinya, kata mereka, memang belum kuat.
Tanpa kelompok pembanding, kenaikan skor tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari efek anak yang makin terbiasa dengan pengamatnya. Para peneliti menyarankan penelitian lanjutan dengan subjek lebih banyak, kelompok kontrol, dan durasi perlakuan lebih panjang.
Ada pula satu keteledoran redaksional di artikel itu. Bagian yang menerangkan instrumen menulis bahwa aspek pelafalan menilai kelancaran pengucapan bahasa Inggris, padahal seluruh percobaannya memakai lagu berbahasa Jepang. Bagian lain artikel konsisten menyebut bahasa Jepang. Kekeliruan itu tidak mengubah datanya, tetapi menandai penyuntingan yang buru-buru.
Yang tersisa tetap satu temuan kecil yang rapi. Sembilan anak, tiga lagu, delapan sesi, dan skor pelafalan yang bergerak dari nol. Sisanya menunggu percobaan yang lebih besar, dengan kelompok pembanding yang belum ada di sini.














