Cekricek.id — Sebanyak 17 tenaga kependidikan dan laboran Universitas Teuku Umar akan mengikuti pembekalan di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala untuk menyiapkan pembukaan fakultas kedokteran di kampus tersebut. Kesepakatan itu diteken kedua rektor di Banda Aceh, Kamis (3/9/2026).
Nota kesepahaman ditandatangani Rektor USK Prof. Mirza Tabrani, S.E., MBA., DBA., bersama Rektor UTU Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd., di Ruang Balai Senat USK, menurut keterangan tertulis Universitas Syiah Kuala, Jumat (04/09/2026). Cakupan kerja sama tidak berhenti pada kedokteran, tetapi juga meliputi pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan sumber daya manusia.
Nyak Amir menyampaikan apresiasi kepada USK, khususnya Fakultas Kedokteran, atas dukungan pada rencana pembukaan fakultas kedokteran di kampusnya. Ia menilai pengalaman USK mengelola pendidikan kedokteran menjadi alasan utama UTU meminta pendampingan teknis dalam penyiapan tenaga laboratorium.
Baca juga Peneliti UGM: Kemiskinan Aceh 12,33 Persen Picu Ketegangan
Nyak Amir menyebut pengajuan pembukaan Fakultas Kedokteran UTU sudah berjalan hampir tiga tahun dan telah disampaikan ke Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi. Menurut dia, bagian yang masih perlu diperkuat ada pada bidang biomedik dan anatomi, dua bidang yang menuntut laboratorium serta tenaga terlatih.
“17 tenaga kependidikan dan laboran kami akan mendapatkan pembekalan di Fakultas Kedokteran USK untuk belajar dan mengikuti pelatihan,” kata Nyak Amir. Ia menyebut UTU masih tergolong perguruan tinggi muda di Aceh, sehingga kampusnya terus membenahi proses penyiapan fakultas baru itu. “Sebagai salah satu universitas yang relatif muda di Aceh, tentu kami terus meningkatkan proses,” ujarnya.
Hubungan kedua universitas, kata Nyak Amir, sudah terjalin sejak UTU berdiri, sehingga nota kesepahaman ini melanjutkan kerja sama yang lebih dulu ada.
Baca juga Universitas Udayana Resmi Berstatus PTN Badan Hukum
UTU berharap dukungan USK mempercepat kesiapan kelembagaan, termasuk penyiapan laboratorium modern yang menjadi syarat pembukaan program studi kedokteran. Kesiapan laboratorium biomedik dan anatomi selama ini menjadi titik yang paling banyak menyita waktu dalam pengajuan UTU.
Mirza Tabrani meminta dokumen kerja sama itu segera diterjemahkan menjadi program yang berjalan. “Kita berharap kerja sama ini bisa ditindaklanjuti secepat mungkin,” ujarnya. Ia menegaskan kerangka hukum kerja sama baru bernilai bila menghasilkan dampak nyata bagi kedua perguruan tinggi.
Baca juga Dua Praktisi Konstruksi Usia 65 dan 70 Mulai S3 di UNS
Mirza juga mengingatkan pembukaan fakultas kedokteran menuntut pendanaan dan pengelolaan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar keinginan kelembagaan. “Keinginan yang luar biasa harus diiringi kemampuan,” katanya. USK, menurut dia, siap membantu sebatas kapasitas dan pengalaman yang dimilikinya.
Keterangan USK tidak menyebutkan kapan pembekalan 17 tenaga UTU itu dimulai, berapa lama berlangsung, dan siapa yang menanggung biayanya. Target tahun pembukaan Fakultas Kedokteran UTU serta tahapan izin yang masih harus dilalui juga belum disebutkan.
Mirza berharap kerja sama kedua kampus meluas melampaui urusan fakultas kedokteran, menuju penguatan kemandirian perguruan tinggi di Aceh agar tidak terus bergantung pada dukungan pemerintah pusat.














