Cekricek.id — Media pembelajaran rancangan lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta untuk siswa disabilitas intelektual disiapkan agar dapat direplikasi ke 81 sekolah luar biasa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Rencana itu mengemuka setelah tim mempresentasikan programnya ke dinas pendidikan provinsi pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Program bernama SEKAR-AMARTA itu dijalankan lewat Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat dan sejauh ini baru diterapkan di satu sekolah, yakni SLB Bhakti Kencana 1, menurut keterangan resmi Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis (03/09/2026).
Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Tri Haryani, S.E., M.M., menilai program itu bisa dipakai lebih luas. “Pendekatan SEKAR-AMARTA sangat adaptif dan relevan dengan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya. Ia meminta tim mematangkan pola diseminasi dan replikasi sebelum program dibawa ke sekolah lain.
Baca juga Dosen UAD Latih Guru TK Kenalkan Koding dan AI ke Anak
Inti program adalah media pembelajaran interaktif bernama Papan Sasmita. Media itu menggabungkan muatan Pendidikan Khas Kejogjaan, pendekatan ethnoscience, dan sistem sensor pintar sehingga siswa dapat melihat, menyentuh, dan merasakan materi pelajaran. Tim menargetkan pengalaman belajar yang konkret dan multisensori bagi siswa disabilitas intelektual.
Paparan tim berlangsung dalam audiensi dengan Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus dinas tersebut. Tim menyampaikan hasil penerapan program di sekolah mitra sekaligus rencana pengembangannya ke sekolah lain di provinsi itu.
Kampus menyatakan program tersebut tidak berhenti pada pendampingan belajar biasa. Selain menyasar kemampuan akademik siswa, media itu dirancang menjaga kedekatan mereka dengan nilai dan budaya lokal Yogyakarta lewat muatan kejogjaan yang dimasukkan ke dalam materi pelajaran.
Baca juga UGM Lantik Lima Kurator Keanekaragaman Hayati Angkatan Baru
Tim SEKAR-AMARTA terdiri atas Lituhayu Sasikirana sebagai ketua, bersama Rihhadatul Aisy, Baiq Nariswari Syifa Rizmanda, Ilham Ramadhan, dan Bagas Yoga Anantyo. Mereka didampingi dosen pembimbing Dr. Rizki Arumning Tyas, M.Pd.
“SEKAR-AMARTA tidak boleh berhenti pada satu sekolah mitra saja. Inovasi ini harus terus dikembangkan dengan tetap memperhatikan karakteristik dan detak jantung kebutuhan setiap SLB,” kata Lituhayu.
Baca juga Universitas Riau Latih Dosen dan Tendik Pakai Gemini AI
Tim menyatakan replikasi ke 81 sekolah menuntut persiapan panjang, mulai dari kesiapan guru, pasokan media pembelajaran, hingga strategi pendampingan berkelanjutan. Dinas pendidikan provinsi juga meminta penerapan disesuaikan dengan karakteristik dan kesiapan masing-masing sekolah.
Program itu pertama kali dijalankan di SLB Bhakti Kencana 1 sebelum dipaparkan ke dinas. Dari paparan itulah muncul arahan agar model pembelajaran tim direplikasi ke sekolah luar biasa lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Universitas Negeri Yogyakarta tidak menyebutkan kapan diseminasi ke 81 SLB itu dimulai, berapa unit Papan Sasmita yang perlu diproduksi, dan siapa yang akan menanggung biayanya. Keterangan kampus juga belum memuat hasil pengukuran dampak program terhadap capaian belajar siswa di sekolah mitra pertama.














