Cekricek.id — Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengolah limbah tandan kosong kelapa sawit menjadi material elektroda superkapasitor dan meraih juara tiga pada kompetisi Greenovate 2026 di Jakarta, 3–5 Agustus 2026.
Tim yang menamakan diri Powerhart itu beranggotakan tiga mahasiswa angkatan 2024 dari Departemen Teknik Mesin dan Industri serta Teknik Kimia UGM. Kompetisi digelar TBS Foundation di kawasan Senayan, menurut keterangan resmi Universitas Gadjah Mada, Jumat (04/09/2026).
Anggota tim dari Program Studi Teknik Industri, Pratiwi Putri Hasibuan, mengatakan timnya berangkat dari melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit yang pemanfaatannya masih terbatas pada penggunaan bernilai tambah rendah, seperti mulsa dan pembenah tanah. “Gagasan kami tidak hanya berfokus pada pengembangan material baru, tetapi juga menghubungkan aspek teknologi, pemanfaatan limbah, dan keberlanjutan,” katanya.
Baca juga Mahasiswa UB Buat Penyerap Residu Antibiotik dari Sawit
Dua anggota lain, Arsi Cahyani dan Hayya Majida Amani, berasal dari Program Studi Teknik Kimia. Ketiganya menyasar pemanfaatan limbah sawit sekaligus pengurangan ketergantungan pada material karbon bernilai tinggi seperti grafena, yang selama ini menjadi bahan andalan elektroda penyimpan energi.
Pratiwi menjelaskan proses rekayasa material dilakukan bertahap. Tandan kosong sawit dikarbonisasi dengan penambahan besi dan katalis feldspar agar struktur karbonnya lebih grafitik dan konduktif, lalu dikombinasikan dengan mangan dioksida dan polianilin. Karbon menyimpan muatan di permukaannya, sementara dua bahan tambahan itu memberi penyimpanan muatan lewat reaksi elektrokimia.
Baca juga Mahasiswa UGM Olah Ampas Tebu Jadi Pasir Kucing Organik
“Kami tidak hanya mengubah limbah TKKS menjadi karbon, tetapi juga merancangnya menjadi material elektroda bernilai tambah tinggi yang berpotensi meningkatkan performa elektrokimia sekaligus mendukung pemanfaatan limbah dan pengembangan teknologi penyimpanan energi yang lebih berkelanjutan,” ujar Pratiwi.
Perwakilan Departemen Teknik Mesin dan Industri UGM, Dr. Akmal Irfan Majid, yang hadir pada penyerahan juara menilai kasus yang diangkat panitia layak dikembangkan menjadi bisnis dan mendapat bimbingan praktisi perusahaan. “Hal ini tentu mengasah soft skill dan kemampuan analisis untuk mendekatkan mata kuliah di kampus dengan solusi praktis dari industri yang prominent,” katanya.
Baca juga Mahasiswa UB Olah Eceng Gondok Jadi Bahan Bakar Nabati
Menurut Pratiwi, tantangan terbesar timnya adalah menerjemahkan gagasan yang teknis menjadi konsep yang mudah dipahami sekaligus menarik dari sisi bisnis. Tim harus menunjukkan potensi keuntungan ekonomi dan nilai keberlanjutan gagasan mereka di hadapan dewan juri.
Kompetisi itu, kata Pratiwi, juga melatih timnya menyampaikan gagasan di hadapan juri. “Kami juga belajar bagaimana menyampaikan ide yang cukup teknis dengan cara yang lebih sederhana dan menarik melalui storytelling,” ujarnya. Ketiga anggota tim datang dari dua program studi berbeda sehingga harus menyatukan cara pandang teknik dan bisnis.
Universitas Gadjah Mada tidak menyebutkan jumlah tim yang bertanding pada Greenovate 2026, nilai hadiah yang diterima, maupun tahap pengujian material tersebut. Keterangan kampus juga tidak menjelaskan apakah elektroda itu sudah diuji di laboratorium atau masih berupa rancangan di atas kertas.














