Cekricek.id — Tim pengabdian kepada masyarakat Institut Teknologi Bandung memasang unit filtrasi pasir lambat untuk mengolah air gambut di Kelurahan Bukit Timah, Kota Dumai, Riau, pada 27 Juli 2026.
Unit itu dirakit dari kerikil, pasir, karbon aktif, dan zeolit, bahan yang disebut ekonomis dan dirancang agar dapat dioperasikan warga sendiri, menurut keterangan tertulis Institut Teknologi Bandung, Jumat (04/09/2026). Pemasangan berlangsung di Masjid Al-Furqan dan menyasar air gambut yang berkadar bahan organik tinggi sebagai sumber air harian warga setempat.
Ketua Kelompok Keilmuan Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, Prof. Muhammad Ali Zulfikar, mengatakan susunan bahan penyaring disusun setelah pengujian laboratorium, bukan dari perkiraan di lapangan. “Komposisi material yang digunakan telah melalui pengujian di laboratorium dan dirancang agar dapat diterapkan secara sederhana oleh masyarakat. Selain itu, warga juga mendapatkan panduan untuk menakar komposisi material serta merawat sistem filtrasi,” ujarnya.
Baca juga Undip Serahkan Lima Unit Pengolah Air Bencana ke BNPB
Filtrasi pasir lambat mengalirkan air secara perlahan melalui lapisan media penyaring. Kandungan bahan organik yang tinggi pada air gambut membuat air sulit dipakai langsung untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga tim menambahkan karbon aktif dan zeolit pada susunan media. Zulfikar menyebut bahan-bahan itu dipilih karena mudah diperoleh di pasaran.
Pemasangan menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat ITB 2026. Tim pelaksana terdiri atas dosen, mahasiswa pascasarjana, dan alumni Program Studi Kimia ITB. Selain memasang unit, tim melatih warga menakar ulang komposisi media dan merawat penyaring agar tetap berfungsi setelah pendampingan berakhir.
Baca juga Tim ITS Temukan Air Keruh di Enam Kampung Momi Waren
Menurut keterangan kampus, warga Kelurahan Bukit Timah selama ini bergantung pada air gambut untuk kebutuhan harian, dan akses air bersih masih menjadi tantangan di wilayah yang memakai sumber air jenis itu. Tim menempatkan unit penyaring di rumah ibadah agar dapat diakses banyak warga sekaligus dipantau bersama.
ITB menyatakan pendekatan tersebut tidak berhenti pada penyediaan alat, melainkan diarahkan pada kemandirian warga mengelola sumber air di lingkungannya. Karena itu pelatihan penakaran ulang media penyaring diberikan bersamaan dengan pemasangan, sehingga penggantian pasir maupun karbon aktif tidak bergantung pada kedatangan tim kampus.
Baca juga Mahasiswa UNAIR Sulap Bambu Betung Jadi Penyaring Air Bencana
Camat Dumai Selatan Aldi Lubis menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program dan berharap penerapan teknologi serupa menjangkau wilayah lain. Ia tidak merinci rencana replikasi unit di kelurahan lain di Dumai.
Institut Teknologi Bandung tidak menyebutkan kapasitas olah unit filtrasi, biaya pembuatannya, maupun jumlah rumah tangga yang memanfaatkan air keluarannya. Kampus juga tidak memuat hasil uji kualitas air sebelum dan sesudah penyaringan, sehingga besar perbaikan mutu air belum dapat diukur dari keterangan itu.
Kegiatan didukung Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Laboratorium Kimia Analitik FMIPA ITB, serta Jurusan Kimia FMIPA Universitas Riau. Kabar pemasangan baru dipublikasikan kampus pada Jumat, lebih dari sebulan setelah kegiatan berlangsung.














