Cekricek.id — Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus 3 persen untuk pertama kali sejak September 1996, bersamaan dengan pertemuan menteri keuangan G20 di Asheville, Amerika Serikat. Yen bertahan di kisaran 160 per dolar AS.
Bank of Japan menaikkan suku bunga ke 1 persen pada Juni, level yang terakhir terlihat 31 tahun lalu, menurut laporan Euronews, Selasa (01/09/2026). Pasar memberi peluang 80 sampai 90 persen bahwa suku bunga naik lagi ke 1,25 persen pada rapat 17–18 September.
Baca juga ECB: Uang Tunai Euro Beredar Capai 1,6 Triliun
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan keyakinannya bahwa yen akan menguat.
“Saya punya informasi yang tidak dimiliki pasar, dan saya yakin pemerintah Jepang serta BOJ akan melakukan hal-hal yang akan membuat yen menguat,” katanya.
Baca juga Saudi Kaji Perluasan Petroline 2 Juta Barel per Hari
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menekankan pentingnya nilai tukar yang tertib seusai pertemuan dengan Bessent.
“Kami menegaskan bahwa nilai tukar yen yang tertib sangat penting bagi stabilitas pasar keuangan global, termasuk pasar Amerika Serikat, dan bahwa upaya terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat yang berkelanjutan berkontribusi pada pencapaian tujuan bersama itu,” ujarnya.
Baca juga Bolivia Pecat Menteri Ekonomi di Tengah Krisis Terburuk
Imbal hasil tenor lima tahun mencatat rekor tertinggi, sedangkan tenor dua tahun berada di puncak lebih dari 30 tahun terakhir.
Bank of Japan belum menyatakan sikap atas pernyataan Bessent maupun atas lonjakan imbal hasil tersebut.














