Cekricek.id — Nilai uang kertas euro yang beredar di Eropa terus menanjak meski pembayaran digital kian mendominasi transaksi harian. Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) Philip Lane menyebut kekhawatiran warga terhadap kebakaran hutan, konflik, dan keadaan darurat lain menjadi salah satu pendorong utama permintaan uang tunai, menurut laporan Anadolu Agency, Jumat (21/08/2026).
Lane menyampaikan hal itu dalam konferensi MacGill Summer School di Irlandia. Ia menegaskan bahwa meski pembayaran nirsentuh sudah menjadi kebiasaan di banyak kota Eropa, jumlah uang kertas yang dipegang publik justru bertambah.
Data ECB menunjukkan nilai uang kertas euro yang beredar naik dari sekitar 1 triliun euro atau 1,16 triliun dolar AS pada 2016 menjadi 1,6 triliun euro atau 1,87 triliun dolar AS pada Juni 2026. Kenaikan itu berlangsung justru ketika peran uang tunai dalam transaksi harian menyusut.
Stok Naik, Pemakaian Menurun
“Total stok uang kertas terus bertambah. Dalam transaksi, jumlahnya menurun, tetapi dari sisi stok justru meningkat,” kata Lane.
Baca juga Baru 28 dari 65 Lembaga Wakaf Uang yang Lapor ke Kemenag
Pernyataan itu menggambarkan pergeseran fungsi uang tunai di zona euro. Uang kertas makin jarang dipakai untuk berbelanja, tetapi makin banyak disimpan sebagai cadangan nilai sekaligus jaring pengaman ketika sistem elektronik lumpuh.
Tahun lalu, warga Eropa dianjurkan menyiapkan persediaan makanan, air, dan kebutuhan pokok untuk 72 jam guna menghadapi keadaan darurat. Anjuran itu muncul seiring rentetan kebakaran hutan, banjir, dan badai, serta ancaman serangan siber dan aksi permusuhan lain. Paket krisis yang disarankan mencakup air kemasan, radio transistor, makanan kaleng, dan — yang dinilai paling krusial — uang tunai.
Baca juga BI Olah 72 Persen Limbah Uang Kertas Jadi Nilai Baru
Guru Besar Universitas College Cork Olive McCarthy mengingatkan bahaya jika uang tunai hanya diposisikan sebagai rencana cadangan.
“Anjuran menyimpan uang tunai untuk keadaan darurat memang tepat dan mengingatkan kita semua agar bersiap ketika sistem digital mengecewakan. Namun, penting agar uang tunai tidak dipandang sekadar sebagai langkah cadangan. Kalau kita berhenti memakainya saat tidak ada krisis, memakainya saat krisis justru bisa jadi tidak mudah,” tutur McCarthy.
Ekonomi Zona Euro Menguat
Pernyataan Lane muncul pada hari yang sama dengan rilis data awal aktivitas bisnis zona euro. Indeks manajer pembelian atau PMI komposit naik tipis ke 52,1 pada Agustus 2026 dari 52,0 pada Juli, level tertinggi dalam sembilan bulan, menurut laporan Anadolu Agency, Jumat (21/08/2026).
Baca juga Imbal Hasil Obligasi Eropa Tembus Tertinggi 17 Tahun
PMI manufaktur tercatat 52,8 pada Agustus, tertinggi sejak Mei 2022, sementara indeks output manufaktur mencapai 53,4 atau puncak dalam 54 bulan. Indeks aktivitas bisnis sektor jasa bertahan di 51,7, tidak berubah dari Juli. Inflasi biaya input melemah ke level paling landai sejak Februari.
“Kenaikan aktivitas bisnis yang solid dan berkelanjutan pada Agustus menempatkan zona euro pada jalur peningkatan produk domestik bruto kuartal ketiga sekitar 0,3 persen,” ujar Kepala Ekonom Bisnis S&P Global Market Intelligence Chris Williamson.
Uang Tunai dan Agenda Euro Digital
Bagi ECB, dua data itu bergerak di jalur berbeda. Melandainya tekanan biaya input memberi ruang lebih lapang bagi Dewan Gubernur dalam menakar arah suku bunga, sementara melonjaknya stok uang kertas menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik pada uang fisik belum tergantikan. Konferensi pers kebijakan moneter terakhir ECB digelar pada 23 Juli 2026.
Lane, yang menjabat Kepala Ekonom ECB sejak 2019 dan memimpin Direktorat Jenderal Ekonomi bank sentral tersebut, berada di pusat kedua persoalan itu. ECB sendiri tengah menyiapkan euro digital yang dirancang sebagai pelengkap, bukan pengganti, uang kertas.
Peringatan McCarthy menyorot risiko yang lebih praktis. Infrastruktur uang tunai — mesin anjungan tunai mandiri, layanan kas perbankan, hingga kesediaan pedagang menerima uang kertas — bisa menyusut jika publik hanya menimbun tanpa memakainya. Bila itu terjadi, tumpukan uang kertas di dompet warga Eropa tidak otomatis berguna ketika krisis benar-benar datang.
















