Cekricek.id — Inflasi zona euro naik menjadi 3,3 persen pada Agustus 2026 dari 2,9 persen pada Juli, terutama karena harga energi melonjak 14,3 persen secara tahunan. Angka itu jauh di atas sasaran Bank Sentral Eropa sebesar 2 persen.
Data tersebut berasal dari Eurostat, menurut laporan Euronews, Selasa (01/09/2026). Kenaikan harga energi mempercepat laju dari 10,3 persen pada Juli, sementara inflasi inti justru turun tipis dari 2,5 menjadi 2,4 persen dan inflasi jasa melandai dari 3,3 ke 3,0 persen.
Baca juga ECB: Uang Tunai Euro Beredar Capai 1,6 Triliun
Ekonom senior Oxford Economics, Leo Barincou, menautkan lonjakan itu pada penutupan kembali Selat Hormuz.
“Kenaikan ini didorong pemulihan harga bahan bakar setelah penutupan kembali Selat Hormuz, sementara tekanan harga yang mendasari tetap terkendali karena inflasi jasa menurun,” katanya.
Baca juga Harga Emas Tertinggi Tiga Bulan, Perak Tembus US$70
Ia memperkirakan tekanan harga belum akan reda tahun depan. “Inflasi seharusnya tetap jauh di atas sasaran sampai tahun depan, karena harga gas dan pangan yang lebih tinggi memberi tekanan tambahan pada indeks,” ujar Barincou.
Soal langkah bank sentral, ia menilai kenaikan suku bunga sudah hampir pasti. “Dengan inflasi yang masih meningkat, ECB hampir pasti menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan, sejalan dengan perkiraan kami,” katanya.
Baca juga Bank Dunia: Ekonomi Lebanon Menyusut 6,4 Persen 2026
Lithuania mencatat inflasi tertinggi 5,8 persen, disusul Spanyol 4,5 persen, sedangkan Estonia terendah 1,3 persen. Jerman berada di 2,9 persen dan Prancis 2,7 persen.
ECB dijadwalkan bersidang pada 10 September. Bank sentral itu belum mengeluarkan pernyataan resmi atas data Agustus.














