Cekricek.id — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menembus 5.515 kasus terkonfirmasi dengan 2.642 kematian, dan Paus Leo meminta dunia bergerak lebih cepat sebelum korban bertambah. Angka itu berasal dari pemutakhiran data pemerintah Kongo pada Minggu (23/08/2026), menurut laporan Al Jazeera, Senin (24/08/2026).
Wabah yang dinyatakan pada pertengahan Mei 2026 itu kini tercatat sebagai epidemi Ebola ke-17 sekaligus yang paling mematikan sepanjang sejarah Kongo. Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkannya sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia, mencakup wilayah Kongo dan Uganda.
Fatalitas Nyaris Satu dari Dua Pasien
Tingkat kematian kasus naik ke kisaran 48 persen. Artinya hampir satu dari dua orang yang terinfeksi berakhir meninggal dunia. Lima puluh satu kasus baru terdeteksi di Provinsi Ituri dan Kivu Utara, dua wilayah yang sejak awal menjadi pusat penularan.
Baca juga Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 2.516 Orang, Kasus Melonjak
Bila laju ini bertahan, wabah Kongo berpeluang melampaui wabah Ebola Afrika Barat 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang. Penularan sudah terputus di Uganda dan di sejumlah zona kesehatan Kivu Selatan, tetapi belum di dua provinsi utama.
Seruan Paus Leo untuk Komunitas Lokal
Paus Leo menyerukan aksi global dan menekankan bahwa penanganan tidak boleh berhenti di meja lembaga internasional.
“Saya mendesak komunitas internasional untuk merespons dengan cara yang juga melibatkan komunitas lokal dalam upaya pencegahan, agar sebanyak mungkin nyawa dapat diselamatkan,” kata Paus Leo.
Seruan itu menyentuh persoalan yang selama ini menghambat penanganan di timur Kongo. Konflik bersenjata, pengungsian, serangan terhadap fasilitas medis, mobilitas penduduk yang tinggi, dan infrastruktur yang timpang membuat tim respons kesulitan menjangkau desa-desa terpencil.
Peringatan Africa CDC soal Risiko Global
Pendiri Africa CDC sekaligus konsultan kesehatan masyarakat Abdulsalami Nasidi memperingatkan bahwa wabah ini sudah melewati batas persoalan nasional.
“Ini bukan lagi sekadar persoalan nasional atau regional; ini persoalan global,” kata Abdulsalami Nasidi. “Jika menyebar ke wilayah tetangga yang tingkat kekebalannya lebih rendah, itu akan menjadi bencana.”
Baca juga RD Kongo dan M23 Sepakati Peta Jalan Damai
Sekitar 160 tenaga kesehatan tertular virus tersebut dan kurang lebih 45 di antaranya meninggal dunia, menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia. Kehilangan tenaga terlatih dalam jumlah itu memperlambat pelayanan di wilayah yang jumlah dokternya sudah minim sejak sebelum wabah.
Vaksin Ervebo dan Pelacakan Kontak
Organisasi Kesehatan Dunia menjanjikan 70.000 dosis vaksin Ervebo untuk Kongo. Sebanyak 16.250 dosis di antaranya tiba pada Jumat (21/08/2026). Vaksin itu menyasar galur Bundibugyo, jenis virus yang beredar pada wabah kali ini, yang sampai sekarang belum memiliki obat dengan izin edar.
Baca juga 16.000 Dosis Vaksin Ervebo Tiba di RD Kongo
Satu perbaikan nyata datang dari pelacakan kontak. Cakupannya naik dari 30 persen pada Juni menjadi di atas 85 persen saat ini. Meski begitu, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia menilai skala respons masih perlu digandakan hingga tiga kali lipat agar rantai penularan benar-benar terputus.
















