Cekricek.id — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menewaskan 2.516 orang dari 5.290 kasus yang tercatat sejak diumumkan pada 15 Mei 2026, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan penyebarannya kini berlangsung secara eksponensial, menurut laporan UN News dan Al Jazeera, Jumat (21/08/2026). Wabah ini menjadi yang terbesar yang pernah tercatat di negara tersebut.
Koordinator Senior PBB untuk penanganan Ebola, Julien Harneis, mengatakan laju penularan sudah melampaui kemampuan tim tanggap darurat di lapangan.
“Wabah ini tumbuh lebih cepat dan lebih luas daripada respons Ebola itu sendiri,” kata Harneis.
Ia menggambarkan cakupan wilayah yang harus ditangani sudah sangat luas. “Epidemi ini menyebar ke wilayah yang lebih besar daripada Prancis,” ujarnya.
Separuh kematian terjadi dalam 20 hari terakhir
Angka kematian akibat wabah ini mencapai 47,6 persen dari total kasus. Sebanyak 1.152 pasien dinyatakan sembuh, sementara sekitar 840 orang masih berada dalam isolasi atau dirawat di fasilitas kesehatan. Tim pelacakan kontak baru menjangkau 82,9 persen dari sasaran yang ditetapkan.
Menurut Harneis, separuh dari seluruh kematian terjadi hanya dalam 20 hari terakhir, sebuah indikasi bahwa kurva penularan sedang menanjak tajam. Kasus tersebar di enam provinsi di bagian timur Kongo, yakni Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, Tshopo, dan Bas-Uele.
Baca juga Wabah Ebola Kongo Terparah, 2.325 Orang Meninggal
Penularan juga sempat melewati perbatasan. Uganda mencatat 20 kasus dengan dua kematian sebelum akhirnya menyatakan diri bebas dari virus tersebut, sementara kasus juga muncul di kawasan dekat perbatasan Sudan Selatan.
Sebaran di enam provinsi itu membuat beban logistik penanganan berlipat. Wilayah terdampak yang lebih luas daripada Prancis harus dijangkau dengan infrastruktur kesehatan dan jaringan jalan yang terbatas, sehingga pengiriman tenaga medis, alat pelindung diri, dan rantai dingin vaksin memakan waktu lebih lama dibanding wabah-wabah Ebola sebelumnya.
Tenaga kesehatan menjadi sasaran serangan
Penanganan wabah terhambat lemahnya kehadiran negara di wilayah timur Kongo, buruknya infrastruktur kesehatan, aktivitas kelompok bersenjata, serta ketidakpercayaan warga terhadap petugas medis. Dalam enam bulan terakhir tercatat lebih dari 260 serangan terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas medis, yang menewaskan delapan orang.
Virus itu sendiri juga menyerang barisan terdepan. Lebih dari 160 tenaga kesehatan terinfeksi Ebola dan 43 di antaranya meninggal dunia. Kehilangan tenaga terlatih dalam jumlah sebesar itu memperlambat pembukaan pusat perawatan baru di wilayah yang baru terjangkit.
Baca juga Kemendag Matangkan Implementasi I-EU CEPA Oktober 2026
Bagian timur Kongo sendiri sudah bertahun-tahun menjadi medan operasi kelompok bersenjata. Kondisi itu membuat tim tanggap darurat kerap tidak bisa masuk ke desa tertentu, sementara kabar bohong dan teori konspirasi soal asal-usul penyakit membuat sebagian warga menolak isolasi, pelacakan kontak, maupun pemakaman yang diawasi petugas.
Javid Abdelmoneim dari organisasi medis Medecins Sans Frontieres menyatakan penyebaran wabah belum menunjukkan tanda melambat. Ia menyebut epidemi tersebut terus meluas dan bergerak lebih cepat daripada kemampuan tim tanggap darurat mengejarnya.
Pendanaan tinggal beberapa pekan
Persoalan lain yang membayangi adalah keuangan. Harneis mengatakan anggaran operasi penanggulangan hanya cukup untuk waktu yang sangat singkat.
Baca juga Serangan Drone Ganda Rusia Tewaskan 14 di Ukraina
“Kami hanya terjamin untuk beberapa pekan ke depan, dan pendanaan akan segera habis,” katanya. Ia menambahkan, “Setiap penundaan pendanaan dan pelaksanaan membuat epidemi ini semakin mematikan.”
Amerika Serikat menyumbang 80 juta dolar AS untuk menambah kapasitas tempat tidur perawatan dan mendukung praktik pemakaman yang aman. Organisasi Kesehatan Dunia juga menyatakan Kongo akan menerima 70.000 dosis vaksin Ervebo.
Namun wabah kali ini disebabkan galur Bundibugyo, yang sampai sekarang belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang disetujui. Efektivitas Ervebo terhadap galur tersebut masih belum terbukti dalam uji pada manusia, sehingga kampanye vaksinasi tidak dapat diandalkan sebagai satu-satunya benteng penanganan.
PBB menegaskan kebutuhan mendesak saat ini adalah memperluas jangkauan pelacakan kontak, mengamankan tenaga kesehatan yang bekerja di zona konflik, dan menutup celah pendanaan sebelum operasi tanggap darurat terpaksa dikurangi.
















