Titik Paling Lunak Karst Rammang-Rammang Ada di Tepi Sawah

A A

Kawasan karst Rammang-Rammang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dilihat dari udara. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Selama bertahun-tahun, cara paling lazim menilai kekuatan tanah di sebuah kawasan adalah dengan mengebor, mengambil contoh, lalu mengujinya di laboratorium. Cara itu mahal, lambat, dan hampir mustahil dijalankan di medan yang dipenuhi tebing batu gamping dan alur sungai. Sejak akhir abad lalu, para ahli geofisika menemukan jalan lain: mendengarkan getaran halus yang selalu ada di dalam tanah — getaran yang lahir dari angin, ombak, lalu lintas, dan mesin pabrik — lalu membaca sifat lapisan di bawahnya dari cara getaran itu berperilaku. Metode itulah yang kini dibawa masuk ke Rammang-Rammang, kawasan yang selama ini lebih dikenal sebagai latar foto ketimbang sebagai objek pengukuran.

Kawasan karst Rammang-Rammang adalah bagian dari gugusan Karst Maros, tepatnya di Desa Salenrang dan Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Gugusan Maros-Pangkep secara keseluruhan seluas 43.750 hektare, ditetapkan sebagai kawasan geopark nasional, dan sudah lama menjadi tujuan wisata. Yang membedakannya dari kawasan karst lain di Sulawesi Selatan adalah Sungai Pute, sungai yang mengalir ke laut dan setiap hari dilayari perahu-perahu milik warga. Sungai itu pula yang belakangan menjadi persoalan, karena kegiatan wisata di atasnya ikut mempercepat erosi. Ansar dan rekan-rekannya sudah menandainya sejak 2014, dengan menyebut curah hujan, tutupan vegetasi, kandungan bahan organik, dan aktivitas manusia sebagai pemicu utamanya.

Pemetaannya dikerjakan Sitti Hasaniyah dari Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar bersama Muhammad Arsyad dan Agus Susanto dari Departemen Fisika universitas yang sama. Hasilnya terbit sebagai artikel Evaluation of Shear Wave Velocity Using Microtremor Data at Rammang-Rammang Maros Karst Area TN Babul di Jurnal Ilmu Fisika Vol. 17 No. 2, September 2025, halaman 171 sampai 181. Seismometer yang dipakai disediakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Yang mereka kejar satu angka: kecepatan gelombang geser sampai kedalaman 30 meter, atau Vs30 — ukuran yang menjadi penentu golongan tanah pada hampir semua pedoman bangunan tahan gempa.

Daftar Isi
  1. Rumus Kanai 1983 dan Batas 30 Meter
  2. Sebelas Titik Warisan Arsyad 2024
  3. 1.384 Meter per Detik di Bukit Karst
  4. Permana di Gorontalo, Edison di Cilacap
  5. Dua Kalimat yang Tidak Sejalan

Rumus Kanai 1983 dan Batas 30 Meter

Deretan bukit karst berhutan berdiri di belakang hamparan sawah hijau
Bukit-bukit karst berdiri langsung di belakang hamparan sawah di kawasan Maros, Sulawesi Selatan. [Foto: Wikimedia Commons]

Dua gagasan lama menopang seluruh pekerjaan ini. Yang pertama datang dari Kanai pada 1983, yang menghubungkan kecepatan gelombang geser dengan frekuensi dominan dan ketebalan lapisan sedimen dalam satu persamaan sederhana. Yang kedua diperkenalkan Brown dan rekan-rekannya pada 2000, yang menetapkan kedalaman 30 meter sebagai batas perhitungan, dengan alasan hanya lapisan sedangkal itulah yang benar-benar memengaruhi penguatan gelombang gempa di permukaan. Sejak itu Vs30 menjadi ukuran baku untuk menggolongkan tanah, dan dua daftar golongan dipakai berdampingan di Indonesia: standar NEHRP dan SNI 1726:2019. Keduanya sama-sama membagi tanah menjadi lima kelas, dari batuan keras sampai tanah lunak.

Alat bacanya adalah metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio, yang dirumuskan Nakamura dan sudah puluhan tahun dipakai untuk membaca getaran mikro di lahan terbuka. Rekaman tiga arah — timur-barat, utara-selatan, dan atas-bawah — diubah ke ranah frekuensi, lalu komponen horizontalnya dibagi komponen vertikal. Hasilnya sebuah kurva yang memuat frekuensi dominan dan nilai penguatan. Kurva itu kemudian dibalik memakai perangkat lunak Dinver untuk menghasilkan profil kecepatan gelombang geser terhadap kedalaman, dengan model yang dipilih berdasarkan nilai kesalahan paling kecil. Rekaman mentahnya lebih dulu diubah formatnya memakai DataPro, lalu diolah di Geopsy.

Baca juga Lereng Tanah Residual Lebih Rentan pada Hujan Lama

Sebelas Titik Warisan Arsyad 2024

Penelitian ini tidak turun ke lapangan untuk merekam ulang. Data mentahnya diambil dari pengukuran Arsyad dan rekan-rekannya pada 2024 di lokasi yang sama, dengan sebaran titik yang persis: sebelas titik di area sekitar 2,62 kilometer persegi, masing-masing direkam sekitar 60 menit dan ditambah lima menit di titik yang bisingnya lebih tinggi. Sebarannya tidak merata, dan itu diakui terbuka: medan yang didominasi sungai dan bukit karst membuat pola melingkar yang ideal tidak mungkin dipasang, sehingga penempatan disesuaikan dengan pedoman SESAME 2004 — tanah rata, jauh dari lereng curam dan pohon tinggi. Lima titik pertama mengumpul di area wisata di seberang sungai, enam sisanya membentuk setengah lingkaran melewati permukiman dan bantaran.

Penelitian 2024 itu sudah lebih dulu memberi dua angka penting. Ketebalan sedimen di sebelas titik berkisar 18,521 sampai 88,029 meter, paling tebal di tepi sungai. Indeks kerentanan seismik berkisar 0,040 sampai 5,761, seluruhnya di bawah angka enam, sehingga kawasan itu digolongkan berkerentanan rendah sampai sedang. Yang belum dijawab pada tahap itu adalah jenis tanah dan batuannya. Kerja 2025 inilah yang mengisi kekosongan tersebut, dengan membalik kurva yang sama untuk mendapatkan kecepatan gelombang geser, memakai perangkat keras yang sama pula, sebuah sistem mikrotremor TDL-303S.

1.384 Meter per Detik di Bukit Karst

Frekuensi dominan di sebelas titik itu terbentang dari 1,44 hertz di titik P3 sampai 6,21 hertz di titik P2. Nilai penguatannya dari 0,46 di titik P8 sampai 3,80 di titik P6. Setelah kurvanya dibalik, kecepatan gelombang geser sampai kedalaman 30 meter terbentang jauh lebih lebar: dari 249,28 meter per detik di titik P8 sampai 1.384,03 meter per detik di titik P1. Angka tertinggi itu terbaca sebagai batu gamping; angka terendah terbaca sebagai lempung, dan letaknya di dekat persawahan. Selisih keduanya lebih dari lima kali lipat, dan keduanya berada di dalam kawasan yang sama.

Pola sebarannya konsisten dengan bentang alamnya. Empat titik — P1, P4, P6, dan P10 — masuk golongan batuan, semuanya di perbukitan karst. Lima titik — P2, P3, P5, P9, dan P11 — masuk golongan batuan lunak berupa lanau dan aluvial, tersebar di sekitar permukiman dan sungai. Dua sisanya, P7 dan P8, masuk golongan tanah kaku berupa lempung di dekat sawah. Menurut para peneliti, kelunakan di kelompok terakhir berasal dari pelapukan batu gamping dan sedimentasi sungai yang belum memadat. Peta penguatan gelombangnya memperkuat pembacaan itu: nilai tertinggi justru berkumpul di sekitar sungai.

Baca juga Peta Evakuasi Tsunami yang Digambar Warga Purus

Satu hubungan yang biasanya dianggap lurus ternyata tidak lurus di sini. Frekuensi dominan yang tinggi tidak selalu berpasangan dengan kecepatan gelombang geser yang tinggi, karena ketebalan sedimen ikut menentukan. Para peneliti merujuk Fadhilah dan rekan-rekannya pada 2023: kawasan berbatuan keras dengan sedimen tipis cenderung berfrekuensi alami tinggi, sedangkan kawasan berbatuan lunak dengan sedimen tebal cenderung berfrekuensi rendah. Di Rammang-Rammang kedua variabel itu bergerak sendiri-sendiri, dan itulah sebabnya peta frekuensi dan peta kecepatan tidak bisa saling menggantikan meski keduanya lahir dari rekaman yang sama.

Permana di Gorontalo, Edison di Cilacap

Angka Rammang-Rammang baru punya arti ketika disandingkan. Permana dan rekan-rekannya pada 2025 memetakan Kota Gorontalo dengan cara yang sama dan menemukan sekitar 36 persen wilayahnya tergolong tanah lunak, dengan Vs30 terendah 131 meter per detik di dekat Danau Limboto. Edison dan rekan-rekannya pada 2021 mencatat rentang 6,68 sampai 461,24 meter per detik di Tritih Kulon, pesisir Cilacap, kawasan yang tingkat kerusakan gempanya memang lebih tinggi. Yusran dan rekan-rekannya pada 2021 mendapat 200 sampai 250 meter per detik di Kota Banda Aceh, kawasan peralihan batuan lunak ke keras yang indeks kerentanan seismiknya tergolong tinggi.

Dibanding ketiganya, titik terlunak di Rammang-Rammang masih lebih keras. Angka 249,28 meter per detik itu berada di atas ambang 200 meter per detik yang, menurut Rahman dan rekan-rekannya pada 2023, memisahkan tanah yang masih padat dari tanah yang kuat gesernya sudah turun dan karena itu mudah tererosi. Atas dasar itu para peneliti menyimpulkan risiko gempa di kawasan tersebut tergolong rendah. Kesimpulan yang sama ditopang nilai penguatan yang seluruhnya berada di bawah enam, sejalan dengan indeks kerentanan yang sudah dihitung pada penelitian sebelumnya.

Dua Kalimat yang Tidak Sejalan

Kesimpulan itu diletakkan agak berbeda di dua tempat dalam artikel yang sama. Bagian abstrak menulis bahwa risiko seismik kawasan itu rendah “berdasarkan nilai Vs30 di bawah 200 meter per detik”, padahal seluruh nilai yang mereka laporkan berada di atas angka tersebut, dan bagian pembahasan justru menyatakan risikonya rendah karena Vs melampaui 200 meter per detik. Yang kedua sejalan dengan datanya. Kekeliruan itu tidak mengubah angka mana pun di tabel, tetapi menandai satu kalimat yang lolos dari penyuntingan pada bagian yang justru paling sering dibaca orang.

Baca juga Banjir Bandang Batu Busuk: Bukan Sekadar Banjir Besar

Sebagai mata rantai, kerja ini tidak berdiri di ujung. Ia memakai rekaman yang dikumpulkan setahun sebelumnya, menambahkan satu lapis tafsir di atasnya, dan berhenti pada sebelas titik yang sebarannya sendiri diakui tidak merata — para penelitinya menutup dengan menyarankan perluasan jaringan pengukuran agar peta mikrozonasinya lebih rinci. Yang sudah bisa dipakai sekarang adalah petunjuk arah untuk penataan ruang: bukit-bukit karst berdiri di tanah yang paling stabil, sementara tepi sungai dan pematang sawah — tempat yang paling mudah dibangun dan paling sering dilewati wisatawan — justru berdiri di lapisan yang paling lunak.

Bagikan

Baca Juga

Mesin pencacah plastik berwarna biru dengan corong pemasukan di bagian atas berdiri di dalam ruangan.
Mahasiswa UMM Buat Mesin Daur Ulang Plastik Kampung Biru
Sejumlah pria berdiri mengelilingi tiga tabung filtrasi putih di halaman berlatar spanduk kegiatan.
ITB Pasang Filtrasi Pasir Lambat untuk Air Gambut Dumai
Hutan mangrove rimbun dengan akar tunjang di tepi perairan yang tenang
Peneliti IPB Kaji Restorasi Mangrove Pantai Utara Jawa
Kepulan asap dari kebakaran hutan dan lahan
Akademisi UGM: Separuh Titik Panas Kalimantan di Konsesi
Dua peneliti berjas laboratorium bekerja dengan tabung reaksi
Mahasiswa UB Buat Penyerap Residu Antibiotik dari Sawit
Gugusan terumbu karang berwarna-warni di dasar laut dangkal
Laporan Global: Tutupan Terumbu Karang Terancam Tak Pulih