Akademisi UGM: Separuh Titik Panas Kalimantan di Konsesi

A A

Kebakaran hutan dan lahan yang kembali marak pada musim kemarau. [Foto: UGM]

Cekricek.id — Sekitar separuh titik panas dengan tingkat keyakinan tinggi di Kalimantan berada di dalam area konsesi perusahaan. Temuan itu menjadi sorotan akademisi Universitas Gadjah Mada di tengah kebakaran hutan dan lahan yang kembali marak.

Sebaran titik panas itu dipaparkan dalam ulasan Fakultas Kehutanan UGM, menurut keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Kamis (03/09/2026).

Baca juga Enam Mahasiswa Luka di Aksi Damai Yogyakarta, UGM Bersuara

Pakar Kebakaran Hutan dan Lahan Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, menilai lokasi titik api itu menandakan persoalan pengelolaan lahan.

“Apabila kebakaran terjadi di area konsesi, hal tersebut dapat menunjukkan adanya ketidaktaatan atau persoalan dalam pengelolaan lahan yang perlu ditelusuri lebih lanjut,” katanya.

Baca juga Pustral UGM: Pangsa Kereta Angkut Barang Baru 1 Persen

Ia menyebut keterjangkauan lokasi ikut menentukan mengapa kebakaran terus berulang di titik yang sama.

“Kalau sejauh yang pernah saya pelajari, salah satu faktor yang kemudian berpengaruh terhadap kebakaran berulang salah satunya adalah akses,” ujarnya.

Cuaca kering memperparah keadaan dengan mengubah kondisi bahan bakar di lapangan. “Iya, peranannya pada bahan bakarnya. Ketika temperatur menjadi lebih tinggi dan curah hujan menurun, kondisi bahan bakar menjadi lebih kering dan rentan terbakar,” katanya.

Baca juga Pemerintah Bidik 42,6 Gigawatt Energi Terbarukan dalam RUPTL

Dampaknya tidak berhenti pada tegakan yang hangus. Menurut Fiqri, kebakaran dengan tingkat keparahan tinggi dapat memusnahkan sumber benih yang tersimpan di dalam tanah, sehingga pemulihan vegetasi berjalan jauh lebih lambat.

Untuk lahan gambut, ia menekankan pentingnya menjaga tinggi muka air. “Kalau secara idealnya pengelolaan gambut, kita harus tetap menjaga kondisi gambut itu seperti kondisi aslinya,” ujarnya.

Ia mengusulkan strategi pengendalian disusun menurut karakter tiap wilayah. “Dengan memahami karakteristik masing-masing wilayah, kita dapat menyusun strategi pengelolaan berdasarkan tingkat kerawanannya,” katanya.

Bagikan

Baca Juga

Keterangan pihak kemahasiswaan UGM soal aksi damai
Enam Mahasiswa Luka di Aksi Damai Yogyakarta, UGM Bersuara
Produk pasir kucing organik buatan mahasiswa UGM
Mahasiswa UGM Olah Ampas Tebu Jadi Pasir Kucing Organik
Dua peneliti berjas laboratorium bekerja dengan tabung reaksi
Mahasiswa UB Buat Penyerap Residu Antibiotik dari Sawit
Kereta barang melintas di jalur rel
Pustral UGM: Pangsa Kereta Angkut Barang Baru 1 Persen
Alat Siprotex buatan mahasiswa UGM untuk produksi batik
Mahasiswa UGM Bikin Alat Pemangkas Waktu Produksi Batik
Peluncuran skema beasiswa Jardine Foundation untuk mahasiswa UGM
Jardine Danai 20 Mahasiswa Pascasarjana UGM Mulai 2026