Cekricek.id — Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada merancang alat bernama Siprotex yang menyatukan proses pewarnaan, pelorotan, dan pemerasan kain batik dalam satu mesin. Alat itu berpotensi memangkas satu siklus produksi dari empat hari menjadi tiga hari.
Mitra penerapannya Sentra Batik Sutari di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menurut keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Rabu (02/09/2026). Usaha batik cap itu beroperasi sejak 2005 dengan kapasitas sekitar 100 potong atau 200 meter kain per pekan.
Baca juga Mahasiswa UGM Ubah Bekatul Jadi Plester Penurun Lemak Darah
Tim bekerja di bawah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Iptek dengan pembimbing Ir. Maun Budiyanto, S.T., M.T., IPU. Anggotanya Marshall Gibran Wisnujati, Halim Kusuma Putra, Amalisa Putri Defita, Tsabita Afidati, dan Rafif Hauzan.
Ketua tim, Marshall Gibran Wisnujati, menyebut alat itu juga menampung kembali cairan pewarna.
Baca juga Tim Robot ITS Raih Dua Penghargaan ABU Robocon Hong Kong
“Dengan Siprotex, proses pewarnaan, pelorotan, dan pemerasan dapat dilakukan secara terintegrasi sehingga proses menjadi lebih praktis dan sistematis dalam satu alat. Selain mempercepat proses produksi, cairan pewarna hasil pewarnaan dan pemerasan dapat ditampung untuk digunakan kembali oleh mitra,” katanya.
Pemerasan memakai roller untuk menekan kadar air pada kain. “Pemerasan menggunakan roller membantu mengurangi kadar air pada kain sehingga waktu penjemuran dapat dipersingkat,” ujar Marshall.
Baca juga Mahasiswa UNAIR Olah Tujuh Limbah Jadi Pakan Domba
Ia menargetkan mitra bisa menambah kapasitas. “Kami berharap teknologi ini dapat membantu Sentra Batik Sutari meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kemampuan dalam memenuhi permintaan pasar,” katanya.
Tim belum menyebutkan biaya pembuatan alat maupun hasil pengukuran penghematan air dan pewarna setelah alat dipakai.














