Cekricek.id — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ahmad Zaipan Rifa’i membuat mesin pencacah sekaligus pelebur sampah plastik untuk warga Kampung Biru Arema, Kota Malang. Mesin itu mengubah botol plastik bekas menjadi tatakan gelas dan gantungan kunci yang dijual sebagai suvenir kampung.
Mesin dikerjakan selama sekitar satu bulan, 15 Juni hingga 15 Juli 2026, dengan biaya Rp7.150.000, menurut keterangan tertulis Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (04/09/2026). Alat tersebut dikembangkan melalui riset bersama dosen yang melibatkan koordinator program, mahasiswa, serta pihak ketiga untuk pengerjaan teknis.
Gagasan itu muncul setelah Rifa’i menilai perkembangan pariwisata Kota Malang masih banyak bertumpu pada daya tarik visual, sementara kampung tematik dinilai berpeluang menghadirkan pengalaman wisata yang lebih interaktif dan edukatif bagi pengunjung. Sejumlah kampung tematik lain berdiri berdekatan di Kecamatan Klojen.
Baca juga Mahasiswa UMM Olah Susu Sapi Pujon Jadi Kerupuk dan Minuman
Rifa’i, mahasiswa Program Studi Teknik Industri angkatan 2023 yang juga Duta Wisata Kota Malang, menyebut sampah plastik di kampung itu bisa dipakai sebagai bahan belajar pengunjung. “Kita ingin menciptakan wisata tambahan berupa edukasi, yang menjadi salah satu syarat pengembangan pariwisata. Ini menjadi langkah mengubah visual tourism menjadi education tourism melalui pemanfaatan mesin pencacah plastik, yaitu memutar ulang sampah menjadi karya,” katanya.
Cara kerjanya bertahap. Botol plastik dicacah lebih dulu menjadi serpihan kecil, lalu dipanaskan dan dilebur memakai cetakan hingga membentuk lembaran atau bentuk tertentu. Dari proses itu dihasilkan tatakan gelas dan gantungan kunci berlabel suvenir Kampung Biru Arema yang disiapkan untuk dijual kepada pengunjung.
Baca juga UAD Serahkan Pembakar Sampah Berbasis IoT ke Caturharjo
Mesin itu menggabungkan dua fungsi dalam satu rangkaian alat, yakni mencacah dan melebur plastik. Pengerjaan teknisnya digarap bersama pihak ketiga, sedangkan perancangan dan pengujian ditangani mahasiswa bersama dosen Program Studi Teknik Industri UMM. Riset berjalan sekitar sebulan sebelum alat dipakai di kampung tersebut.
Penerapan Masih Terbatas di Satu Kampung
Penggunaan mesin di Kampung Biru Arema masih berstatus tahap awal. Bila uji coba itu dinilai berhasil, konsep serupa disebut berpeluang diperluas ke kampung wisata lain. Kota Malang tercatat memiliki 23 kampung tematik, sehingga sebagian besar di antaranya belum tersentuh skema pengolahan sampah semacam ini.
Baca juga Tim UNAIR Petakan Aliran Sampah Prafi Sebelum Pilih Alat
Rifa’i menyatakan sasaran inovasinya bukan sekadar mengurangi tumpukan sampah di kampung tersebut. “Saya juga ingin inovasi ini menjadi peluang ekonomi baru bagi warga Kampung Biru Arema agar dapat mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomis,” ujarnya.
UMM tidak menyebutkan kapasitas olah mesin per hari, jumlah produk yang sudah dihasilkan, maupun sumber dana pembuatan alat. Belum ada pula keterangan mengenai harga jual suvenir, jumlah warga yang dilatih mengoperasikan mesin, dan jadwal evaluasi uji coba. Nama dosen yang mendampingi riset tidak disebutkan kampus.














