Enam Belas Peti Buku Bung Hatta ke Boven Digul

A A

Kamar tidur di rumah pengasingan Mohammad Hatta di Banda Neira. [Foto: M.akbar.raf/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Sri Haryati Putri menghabiskan enam hari terakhir September 2020 di rumah tempat Mohammad Hatta dilahirkan di Bukittinggi, mendata benda-benda koleksi museum satu per satu. Ia tidak sedang mengejar dokumen rahasia. Yang ia kumpulkan justru hal yang paling sering dilewati pengunjung, yaitu jejak kebiasaan membaca dan menulis seorang lelaki yang jauh lebih dikenal karena namanya tercantum di bawah naskah proklamasi. Dari pendataan itulah lahir artikelnya, Nukilan Pena dan Keteladanan Bung Hatta.

Putri adalah peneliti Universitas Khairun, dan tulisannya terbit di Jurnal Pusaka Vol. 4 No. 2 tahun 2024. Tahap pengumpulan sumber atau heuristik ia kerjakan di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta sejak 28 September sampai 3 Oktober 2020, lalu ia lanjutkan lewat studi pustaka ke sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat, terutama di Kota Padang, mulai dari perpustakaan pusat Universitas Andalas, perpustakaan daerah Sumatera Barat, arsip provinsi dan arsip kota, hingga Galeri Arsip Statis Kota Padang.

Sosok yang ia telusuri memang tidak kekurangan penulis biografi. Mohammad Hatta lahir dengan nama Mohammad Athar, anak dari pasangan Muhammad Djamil dan Saleha. Ayahnya adalah putra Syekh Abdurrahman, ulama terkenal di Nagari Batuhampa, Luhak Limopuluah, sementara ibunya anak Haji Ilyas, saudagar terpandang di Aua Tajungkang. Dari lingkungan itu Hatta masuk ke Europeesche Lagere School di Bukittinggi, lalu ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs di Kota Padang, dan berakhir di Handels Hoogere School di Rotterdam.

Putri juga menempatkan Hatta di dalam kerumunan yang lebih besar. Mengutip Mestika Zed, ia menyebut Hatta termasuk dalam apa yang oleh Wolf disebut the big four, empat pemimpin Indonesia paling terkemuka bersama Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Merujuk Elizabeth E. Graves, Putri menambahkan bahwa pada saat proklamasi jumlah pribumi terdidik yang sanggup mengelola negara yang baru merdeka sangat sedikit, dan sebagian besar berasal dari tanah Minangkabau, kelompok yang penduduknya hanya tiga persen dari total penduduk Indonesia.

Daftar Isi
  1. Mengumpulkan dari Museum dan Arsip
  2. Menyaring Sumber Sebelum Percaya
  3. Menafsir Pena sebagai Senjata
  4. Menuliskan Kembali Seorang Penulis

Mengumpulkan dari Museum dan Arsip

Putri tidak memulai dari gagasan besar Hatta, melainkan dari benda. Subjek kajiannya, seperti ia sebutkan sendiri, adalah keberadaan museum dan benda-benda koleksi di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Baru sesudah itu ia melebar ke bahan cetak dan arsip. Cara kerja seperti ini menempatkan kebiasaan sehari-hari Hatta pada posisi yang biasanya ditempati peristiwa politik, dan hasilnya adalah potret seorang tokoh yang diukur bukan dari pidatonya, melainkan dari tumpukan bacaan yang menemaninya sepanjang hari.

Baca juga Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970

Kebiasaan itu, menurut Putri, terbentuk jauh sebelum Hatta dikenal publik. Buku menjadi kawan yang mengusir rasa sepi dan menggerakkan imajinasinya sejak ia pandai tulis-baca, bahkan berkembang menjadi anekdot bahwa buku sebenarnya pacar Bung Hatta. Buku pula yang mengantarnya bersekolah ke Batavia, melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda, dan masuk ke organisasi pergerakan yang kemudian membesarkan namanya, yakni Indonesische Vereeniging dan Pendidikan Nasional Indonesia.

Menyaring Sumber Sebelum Percaya

Tahap berikutnya yang dijalani Putri adalah kritik sumber, dan di sini ia bersandar pada Mestika Zed, yang bukunya terbit pada 1999 dan dijadikannya pegangan metode. Mestika Zed menyatakan bahwa metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh, sehingga peristiwa masa lampau dapat direkonstruksi dan diuji kebenarannya. Putri lalu membagi kritik itu menjadi dua, kritik ekstern untuk menguji keaslian sumber dan kritik intern untuk menguji kebenaran isinya.

Pertanyaan yang diajukan pada tahap ini sederhana dan keras: kapan sumber itu dibuat, di mana, oleh siapa, dari bahan apa, dan apakah ia masih dalam bentuk asli. Untuk kritik intern, Putri menilai kredibilitas isi dengan membandingkan kesaksian di dalam satu sumber dengan kesaksian dari sumber lain. Seorang sejarawan, tulisnya, tidak akan menerima begitu saja apa yang tercantum pada sumber yang diperolehnya, melainkan harus menyaringnya secara kritis lebih dulu.

Sebagian angka yang kemudian ia pakai datang dari orang yang lebih dulu menghitungnya. Deliar Noer, penulis Biografi Politik Bung Hatta yang terbit pada 1990, mencatat bahwa sepanjang hidupnya Hatta menulis kurang lebih 68 buku dengan cakupan politik, ekonomi, sosial, dan bidang lain. Tradisi menulis itu, menurut catatan Noer, dimulai pada 1926 dan berakhir pada 1982, rentang lima puluh enam tahun yang nyaris menghabiskan seluruh usia dewasa Hatta.

Baca juga Matrilineal Minangkabau, Utopia Kesetaraan Perempuan

Tidak semua kesaksian yang dikumpulkan Putri bernada memuji. Ali Sastroamidjojo pernah menegaskan bahwa Hatta adalah orang yang kaku dan terlalu serius menjalani kehidupan. Putri tidak membuang penilaian itu, tetapi menempatkannya sebagai bagian dari modal yang sama, yakni disiplin dan kesadaran intelektual yang kuat, yang menurutnya justru mengantarkan Hatta ke pentas politik nasional pada masa awal kemerdekaan. Kekakuan dan ketekunan, dalam bacaan itu, adalah dua nama untuk satu sifat.

Menafsir Pena sebagai Senjata

Pada tahap interpretasi, Putri menarik satu benang merah, yaitu tulisan sebagai alat perlawanan. Akibat tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik pemerintah kolonial, Hatta ditahan pada 1927. Di dalam penjara ia justru menyusun pidato pembelaan yang kelak dibacakan selama tiga setengah jam di depan pengadilan dengan judul Indonesia Vrij atau Indonesia Merdeka. Goenawan Mohammad, dalam tulisan terbitan 2010 yang dirujuk Putri, menyebut pidato itu sebagai salah satu manifesto politik yang monumental.

Hukuman berikutnya membawa Hatta jauh lebih ke timur. Ia dibuang ke Boven Digul di Irian, wilayah pembuangan yang kerap disebut sebagai tempat kematian, dan ke tanah pengasingan itu ia membawa serta enam belas peti buku. Dari peti-peti itulah, tulis Putri, Hatta tetap memproduksi tulisan kritis meski badannya terkurung. Buku menjadi teman sejati ke mana pun ia pergi, dan pengasingan tidak menghentikan satu-satunya kebiasaan yang tidak pernah bisa dirampas dari dirinya.

Di titik inilah Putri mengutip kalimat Hatta sendiri, sang proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia, yang berbunyi “hanya satu tanah air yang dapat disebut tanah airku, ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku”. Kalimat itu ia sandingkan dengan penutup naskah proklamasi, “atas nama bangsa Indonesia Soekarno-Hatta”, sebuah frasa pendek yang menurut Putri menyimpan perjalanan historis yang sama sekali tidak dangkal.

Kemampuan bahasa memperluas jangkauan tulisan itu. Putri mencatat Hatta tidak hanya fasih berbahasa Melayu dan Belanda, tetapi juga tidak asing dengan bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis, dan justru kemampuan inilah yang membuat gagasannya tentang kemerdekaan Indonesia bergaung lebih luas secara internasional. Berbeda dari Soekarno yang dikenal lewat pidato, Hatta digambarkan Putri sebagai orator yang tersurat, seseorang yang mengudara bukan lewat suara melainkan lewat halaman.

Menuliskan Kembali Seorang Penulis

Pada tahap historiografi, ketika seluruh fakta disusun menjadi narasi, muncul satu hal yang layak dicatat pembaca. Putri menyebut dua angka yang tidak sama untuk koleksi buku Hatta, yakni sekitar sepuluh ribu judul yang terkumpul semasa hidupnya menjelang wafat, dan kurang lebih tiga puluh ribu judul yang ditinggalkannya di perpustakaan pribadi. Artikel itu tidak menjelaskan dari mana selisih tersebut datang, sehingga kedua angka itu sebaiknya dibaca sebagai perkiraan, bukan hitungan tertutup.

Baca juga Kios Dibakar dan Akhir SDSB pada 25 November 1993

Angka yang lebih mantap justru menyangkut karya. Menurut Putri, lebih dari delapan ratus karya tulis Hatta tersebar dalam bahasa Indonesia, Belanda, dan Inggris, berupa buku, artikel, jurnal, pidato, surat, ceramah, dan bentuk tulisan lain. Di luar itu ada kehidupan yang sengaja dibuat sempit. Hatta menikahi Rahmi Rachim pada usia empat puluh tiga tahun, dan sampai akhir hayatnya pada 1980 ia hidup dari gaji pensiun yang tidak seberapa, bahkan disebut kewalahan membayar rekening air dan listrik.

Putri memasang rambu di dalam tulisannya sendiri. Ia mengakui bahwa tahap penafsiran menuntut kehati-hatian dan integritas penulis agar tidak jatuh pada interpretasi yang subjektif, dan ia menyebut bahwa kisah-kisah yang dihadirkannya hanyalah secuil dari ribuan kisah tentang Bung Hatta. Artikelnya memang lebih dekat ke esai penghormatan ketimbang ke pembongkaran arsip, dan tidak menawarkan temuan dokumen baru. Yang ditawarkannya adalah pergeseran titik pandang.

Enam hari di Bukittinggi itu tidak menghasilkan penemuan yang mengubah kronologi kemerdekaan. Yang dibawa pulang Sri Haryati Putri hanyalah daftar benda, catatan koleksi, dan kesadaran bahwa lelaki yang namanya tercetak di bawah naskah proklamasi itu memilih dimakamkan di Tanah Kusir, bersama rakyat biasa yang dibelanya, bukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebuah pilihan yang, seperti hampir semua yang dilakukan Hatta, lebih mudah dibaca dari kebiasaan hariannya ketimbang dari jabatannya.

Bagikan

Baca Juga

Mulut gua pertahanan Jepang di Rane
101 Situs Pertahanan Jepang di Jawa Dipetakan Ulang
Dalang memainkan wayang kulit di depan kelir dalam sebuah pertunjukan
Kitsie Emerson dan Prinsip Diam di Atas Panggung
Menara dan bagian depan Gereja Santo Yoseph Matraman, Jakarta Timur
Tiga Menara Berkubah di Gereja Santo Yoseph Matraman
Panil relief batu Borobudur memuat banyak sosok manusia duduk berjajar di bawah pohon
Tujuh Panil Borobudur dan Ajaran Menukar Penderitaan
Sepasang tangan memegang lembar kupon undian berhadiah
Kios Dibakar dan Akhir SDSB pada 25 November 1993
Kartini bersama ayah dan tiga saudara perempuannya dalam potret lama
Tambo, Kartini, dan Syarat Perempuan Masuk Sejarah