Cekricek.id — Untuk membuat penonton asing memahami sebuah pertunjukan yang hidup dari kejutan, dari improvisasi penuh seorang dalang yang tidak pernah tahu pasti apa yang akan ia ucapkan detik berikutnya, tampaknya cuma ada satu jalan yang masuk akal: menghadirkan suara kedua yang menerjemahkan, berdiri di dekat kelir, bersaing didengar bersama suara asli sang dalang, sehingga penonton seperti menyaksikan dua orang bercerita sekaligus dalam dua bahasa yang berbeda. Anggapan itu, selama beberapa dekade, tidak banyak dipersoalkan, karena memang begitulah cara kebanyakan pertunjukan wayang kulit diterjemahkan bagi tamu asing yang menontonnya di berbagai belahan dunia.
Kathryn "Kitsie" Emerson membuktikan sebaliknya. Perempuan kelahiran Amerika Serikat ini, yang kini menjabat Direktur Griya Seni Ekalaya, mengembangkan cara menerjemahkan pertunjukan wayang kulit secara simultan tanpa pernah mengeluarkan sepatah kata pun di depan penonton: ia duduk di panggung, mengetik kalimat demi kalimat di laptop, lalu membiarkan hasil ketikannya diproyeksikan ke layar, sementara suara dalang tetap menjadi satu-satunya suara yang didengar penonton. Perjalanan dan strategi penerjemahan itulah yang dikaji dalam artikel Kathryn "Kitsie" Emerson sebagai Pelopor Penerjemahan secara Simultan Pertunjukan Wayang Kulit (2005-2023), ditulis Setiani Novita Sari, Dhanang Respati Puguh, dan Endah Sri Hartatik dari Universitas Diponegoro, dimuat jurnal Purbawidya volume 14 nomor 2 terbitan November 2025.
Daftar Isi
Suara yang Tidak Boleh Disaingi

Kajian ini membandingkan tiga model penerjemahan pertunjukan wayang kulit yang selama ini dikenal: simultan lisan, di mana penerjemah berdiri di depan kelir memakai mikrofon dan bicara di sela jeda dalang; penerjemahan pascapertunjukan, yang dikerjakan berbulan-bulan lewat transkrip dan subtitel setelah pertunjukan usai; serta simultan tertulis, cara yang dikembangkan Emerson. Hanya cara ketiga yang, menurut kajian ini, menghormati kebutuhan dalang akan spontanitas penuh selama pertunjukan berlangsung, sekaligus menghormati otoritas suara dalang sebagai satu-satunya suara yang seharusnya didengar penonton. Cara simultan lisan, sebaliknya, justru mengganggu otoritas itu, sebab penonton mendengar dua suara sekaligus dari dua orang yang berbicara di panggung yang sama.
Baca juga Tabloid Carakita Menulis Hai Guys dengan Aksara Jawa
Emerson sendiri menegaskan bahwa keberhasilan strategi penerjemahan ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bilingual yang baik, tetapi juga pengetahuan khusus tentang wayang kulit, kemampuan mengetik secepat kecepatan bicara dalang, sikap yang tepat, serta prinsip yang dipegang teguh seorang penerjemah simultan. Bukan sekadar soal bahasa, dengan kata lain, melainkan soal disiplin untuk tahu kapan harus tampil dan kapan harus benar-benar diam, sebuah keseimbangan yang menurut kajian ini justru menjadi inti dari seluruh metode yang ia kembangkan sejak dua puluh tahun terakhir.
Jalan Panjang ke Belakang Kelir
Sebelum mengenal dunia pewayangan, Emerson adalah seorang pianis sejak usia lima tahun hingga menempuh program magister, jauh dari bunyi gamelan atau bahasa pedalangan. Ia mulai belajar gamelan dari para maestro Jawa sejak 1986, tiga bulan di Surakarta, lalu pindah ke California untuk belajar dengan Midiyanto S. Saputro, orang Jawa yang menetap di Amerika, serta dengan Sumarsam dan Harjito, dua dosen di Universitas Wesleyan. Titik baliknya datang pada 1991, ketika ayah Midiyanto, seorang dalang kondang bernama Ki Sutino Hardokocarito dari Eromoko, Wonogiri, mengajaknya ikut pentas selama tiga bulan di Smithsonian National Museum, Washington DC, dengan Emerson diminta menjadi pemandu bagi rombongan tersebut.
Di pertunjukan itulah, untuk pertama kalinya, Emerson menyaksikan wayang kulit sekaligus bertemu Wakidi Dwijomartono, pengendang kondang dari Surakarta yang belakangan menjadi suaminya. Ia juga memperhatikan seorang penerjemah simultan lisan bernama Hardjo Susilo, seniman asal Yogyakarta, yang berdiri di depan kelir dengan mikrofon, menerjemahkan setiap kali dalang memberi jeda sedikit. Sepulang dari Amerika, Emerson ikut rombongan itu kembali ke Indonesia dengan beasiswa Darmasiswa, program pemerintah bagi orang asing yang ingin belajar seni, bahasa, dan budaya Indonesia, lalu mulai mempelajari saron, gender, kendang, rebab, dan sindenan.
Pada 2002, Emerson mulai mempelajari pewayangan, mula-mula berguru kepada Ki Tristuti Rachmadi Suryo Saputro dari Purwodadi, Grobogan, seorang dalang sekaligus guru matematika yang memilih berkarier di dunia pedalangan. Dua tahun berselang, pada 2004, ia berguru kepada Ki Purbo Asmoro, dalang kondang pencipta gaya pakeliran garap semalam yang berlangsung tujuh jam dengan struktur cerita yang inovatif. Dari Ki Purbo Asmoro, Emerson belajar bahasa pedalangan sambil mentranskrip rekaman video pertunjukannya, sebuah proses yang justru membuatnya menemukan perbedaan gaya pedalangan dalam lakon yang sama, tergantung kebutuhan sponsor atau gaya baru yang tengah dicoba sang dalang.
Kecepatan sebagai Prinsip
Strategi penerjemahan simultan tertulis itu lahir pada 2005, ketika kawan Emerson dari Amerika, Alicia Duell, yang tengah mengandung tujuh bulan, ingin merayakan kehamilannya dengan tradisi Jawa bernama mitoni di Kemang, Jakarta Selatan, dan mengundang Ki Purbo Asmoro membawakan lakon Bima Kopek di hadapan lima puluh tamu, sebagian besar kolega sekolah internasional dan keluarga dari Amerika. Emerson, yang tidak bisa menerjemahkan lisan seperti Hardjo Susilo, memanfaatkan laptop, proyektor, dan tembok kosong sebagai layar untuk mengetik sinopsis berbahasa Inggris. Saat itu ia belum bisa menerjemahkan kata demi kata; kemampuan itu baru terbentuk setelah setahun penuh berlatih mengetik sambil menonton rekaman video Ki Purbo Asmoro dan dalang lain setiap hari.
Baca juga Haryo Membaca Ulang Serat Rama untuk Generasinya
Kecepatan mengetik itu kemudian ditopang teknologi. Pada 2009, Anthony Plekhov, kawan Emerson asal Amerika yang menetap di Berlin, menciptakan aplikasi bernama Petruk khusus untuk membantunya. Aplikasi ini menyimpan nama tokoh wayang sebagai pintasan papan ketik: tombol Ctrl+B, misalnya, langsung memunculkan kata Bima di layar terjemah ketika lakon Banjaran Bima sedang dimainkan, dengan hingga dua puluh empat pintasan berbeda untuk setiap lakon. Sejak 2012, terjemahan itu mulai disiarkan lewat YouTube ke seluruh dunia, dan sejak 2015 dikembangkan lagi dengan membentuk tim penerjemah, pertama kali dicoba saat lakon Dewi Sri di Universitas Gadjah Mada, lalu rutin dipakai setiap perayaan hari wayang dunia sepanjang 2016 hingga 2022. Contoh nyatanya terekam saat Ki Purbo Asmoro tampil di Budapest, Hongaria, pada 2023, dalam rangkaian tur Eropa yang juga singgah ke Austria, Slovakia, dan Republik Ceko: ketika tokoh Mamangdana berucap dalam bahasa pedalangan bahwa ia tidak akan pulang tanpa membawa Bethari Supraba, Emerson mengetikkan terjemahannya ke bahasa Inggris saat itu juga, kalimat demi kalimat, mengikuti kecepatan bicara dalang tanpa jeda berarti.
Di balik kecepatan mengetik itu, kajian ini mencatat sederet syarat yang wajib dipenuhi seorang penerjemah simultan wayang kulit: pendengaran yang tajam atas bahasa pedalangan, penguasaan aktif bahasa sasaran, pengetahuan tentang tokoh dan balungan lakon, pemahaman atas iringan gamelan, hingga kepekaan membaca situasi hidup sang dalang agar bisa menebak kapan sebuah sasmita atau guyonan akan muncul. Sikap yang dituntut tidak kalah berat: nekad, berani, tegas, mencintai wayang tanpa mengejar ketenaran, dan yang paling menentukan, disiplin untuk tidak pernah membuka rahasia lakon sebelum dalang sendiri yang mengungkapkannya di atas panggung.
Warisan yang Belum Berpenerus
Sepanjang 2005 hingga 2023, Emerson tercatat sudah menerjemahkan 152 kali untuk Ki Purbo Asmoro dan 103 kali untuk 53 dalang lain, di 34 kota yang tersebar di 11 negara dan tiga benua. Skala sebesar itu, menurut kajian ini, justru menyingkap satu kerapuhan: seluruh riset tentang strategi penerjemahan ini masih berpusat pada pengalaman satu orang saja. Setiani Novita Sari dan koleganya mengakui keterbatasan itu secara terbuka, dan menyarankan penelitian lanjutan yang menelusuri bagaimana praktik penerjemahan simultan ini bisa, atau akan, dikembangkan oleh penerjemah lain di masa mendatang.
Baca juga 59 Kesalahan Terjemahan Naskah Tarsan Wanara Seta
Dampak dari metode ini, menurut kajian ini, ikut menumbuhkan minat mahasiswa dan dosen di Universitas Gadjah Mada terhadap dunia pewayangan, sampai Emerson diminta membuka lokakarya di sana untuk melatih calon penerjemah baru. Antara 2020 dan 2021, American Institute for Indonesian Studies serta sejumlah individu di berbagai negara turut memberi dukungan besar bagi pelestarian wayang kulit lewat strategi penerjemahan yang ia rintis, sebuah pengakuan yang menunjukkan betapa jauh jangkauan metode yang bermula dari satu malam di Kemang pada 2005.
Kajian ini sendiri belum menjawab siapa yang akan meneruskan kecepatan mengetiknya kelak; ia baru menelusuri pengalaman satu orang, dan menyerahkan pertanyaan tentang penerus itu kepada penelitian berikutnya. Jika suatu hari nanti Kathryn "Kitsie" Emerson berhenti mengetik di sudut panggung, siapa yang akan meneruskan diam yang sama, yang selama hampir dua puluh tahun terakhir ini justru menjadi cara paling setia untuk membuat dunia mendengar wayang kulit tanpa pernah mengganggu satu pun suara aslinya?














