Cekricek.id — Di dinding batu kapur tepat di atas kerangka manusia yang terlipat meringkuk, ada sekelompok gambar berpigmen hitam. Sebagian berbentuk manusia dalam aktivitas yang menyerupai menari, lengkap dengan aksesori di kepala dan tangan. Sebagian lagi binatang yang cirinya menyerupai ayam atau burung. Di antaranya terselip pola perahu dan bentuk geometris abstrak. Dinding itu berada di Gua Batu Baras, Desa Bangkalan Dayak, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Keduanya tercatat pada satu kotak galian yang sama.
Catatan galian itu ditulis sembilan orang. Penulis pertamanya Nia Marniati Etie Fajari dari Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional, bersama Alifah, Wasita, Ulce Oktrivia, Eko Herwanto, Fatom Ahmad, Muhammad Lanang Adiyatma, Thomas Suryono, dan Reynaldi Saputra dari BRIN, Departemen Arkeologi Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Lambung Mangkurat. Laporan berjudul Jejak Okupasi Manusia Prasejarah di Situs Gua Batu Baras, Kalimantan Selatan itu terbit di jurnal Purbawidya Volume 13 Nomor 2, November 2024, halaman 229–249.
Empat Mulut Gua

Gua Batu Baras punya empat mulut yang saling terhubung. Lantainya relatif rata dan kering. Sirkulasi udara dan cahaya masuk cukup baik ke bagian mulut utama. Di dalamnya mengalir sungai bawah tanah yang aktif saat musim hujan. Gua ini duduk di kawasan bukit kapur di sisi tenggara Pegunungan Meratus, sekitar 15 kilometer dari garis pantai terdekat, Teluk Kalumpang. Jarak itu kelihatan sepele di peta, tetapi ia yang belakangan menjelaskan isi perut orang-orang yang pernah tinggal di sana.
Dua kotak lubang uji berukuran satu kali satu meter dibuka di dekat mulut utama. TP 1 menempel ke dinding selatan, TP 2 ke dinding utara. Keduanya menembus empat lapisan tanah yang warnanya bergeser pelan. Lapisan A lempung pasiran cokelat, lapisan B cokelat kemerahan, lapisan C cokelat kemerahan dengan tekstur lebih liat, lalu lapisan D cokelat gelap. Tiga lapisan pertama sama-sama setebal lima belas sentimeter. Perbedaannya baru muncul di lapisan terbawah.
Yang keluar dari dua lubang itu hampir seimbang. Fragmen gerabah mengisi separuh dari seluruh temuan artefak, dan artefak batu 49,5 persen — nyaris membelah dua isi kotak. Sisanya remah kecil: alat dari cangkang moluska 0,2 persen dan alat tulang 0,3 persen. Artefak batunya dibuat dari rijang, batuan sedimen silikaan yang butirnya halus, padat, dan keras. Bentuknya batu inti, alat serpih, serpih, fragmen serpih, dan tatal batu. Teknologinya tergolong sederhana.
Kotak TP 1
Di TP 1, pada kedalaman 55 sampai 70 sentimeter, penggali menemukan rangka manusia yang komponennya lengkap. Tubuhnya terlipat seperti meringkuk, membujur utara-selatan. Kranium berada di sisi utara dan menghadap ke bawah. Beberapa bongkah batu kapur tergeletak di sekitarnya tanpa susunan yang berpola. Rangka itu diberi kode GBBR 1.1 dan dicatat sebagai kubur primer, bukan tulang yang dipindahkan dari tempat lain. Di atasnya, pada dinding gua, gambar-gambar hitam tadi menempel.
Baca juga Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda
Mastoid process rangka itu bernilai antara satu dan dua, angka yang mengarah pada jenis kelamin perempuan. Atrisi pada geraham pertama dan kedua rahang atas sisi kiri berada di skala I, yang menempatkan usianya pada rentang 45 hingga 55 tahun. Pengukuran itu hanya bisa dilakukan pada bagian yang masih utuh. Gigi serinya berwarna kuning kecokelatan, dibaca sebagai jejak kebiasaan mengunyah sirih pinang, seperti pada rangka dari Gua Jauharlin 1.
Sejauh itu saja yang bisa dibaca dari tubuhnya. Tengkorak GBBR 1.1 tidak tersingkap penuh dan sebagian tulangnya sudah remuk, sehingga ciri biologisnya tak dapat diukur seluruhnya. Nia Marniati Etie Fajari dan rekan-rekannya menuliskannya tanpa berputar: “Adapun afinitas individu GBBR 1.1 sementara ini belum dapat ditentukan.” Satu molar atas dari rangka ini sempat dikirim untuk pertanggalan, tetapi materinya tidak cukup. Angka tertua gua ini akhirnya datang dari benda lain.
Lapisan D
Lapisan D adalah yang paling tebal sekaligus paling gelap, dan warnanya membuat batas atasnya terlihat jelas di dinding kotak. Di TP 1 ia terentang dari 45 sampai 80 sentimeter, di TP 2 turun sampai 90 sentimeter. Selisih sepuluh sentimeter itu satu-satunya perbedaan mencolok antara kedua kotak. Dari sanalah sampel tertua diambil. Sepotong arang di kedalaman 65 sentimeter memberi angka 10.050±40 BP, dan sebuah cangkang gastropoda lima sentimeter di bawahnya memberi 10.480±40 BP.
Baca juga Tiga Koin Umayyah dari Lubang Tambang Emas Jago-Jago
Setelah dikalibrasi, dua angka itu jatuh pada kisaran 11.639 hingga 12.402 tahun sebelum sekarang. Yang termuda datang dari lapisan yang jauh lebih dangkal: cangkang gastropoda di lapisan B, kedalaman 35 sentimeter, dengan hasil 3.930±30 BP atau 4.420 sampai 4.230 calBP. Dua sampel lain gagal: sepotong arang dan satu molar atas manusia, keduanya karena materi yang tersisa tidak mencukupi. Rentang hunian sepanjang delapan ribu tahun itu karena itu bersandar pada tiga titik saja.
Di TP 2, pada lapisan yang sama, muncul tepian gerabah berhias di kedalaman 60 sentimeter. Bukan pecahan polos yang mudah diabaikan, melainkan tepian berhias. Letaknya hanya lima sentimeter di atas arang bertanggal tadi. Kalau posisi itu diterima apa adanya, gerabah sudah dibuat di Gua Batu Baras jauh sebelum periode yang lazim dipakai untuk menandai kemunculannya, yaitu Neolitik. Selisih lima sentimeter itulah yang kemudian menjadi bagian paling hati-hati di sepanjang laporan.
Para penulisnya mengutip arkeolog Matthew Spriggs, yang tulisannya di The Review of Archaeology pada 2003 menjadi salah satu rujukan utama kronologi Neolitik di Asia Tenggara Kepulauan. “‘Chronometric hygiene’ dapat memunculkan permasalahan dalam menetapkan lini masa kemunculan gerabah yang umumnya menjadi penanda periode Neolitik,” demikian Spriggs dikutip. Kalimat itu ditaruh persis sesudah temuan tepian gerabah tadi dibahas. Spriggs juga mencatat tidak ada gerabah berslip merah di Gua Sireh dan Niah pada awal Neolitik.
Gerabah dari kedua kotak itu sendiri tidak polos. Sebagian tepiannya bisa direkonstruksi, menghasilkan bentuk mangkok dan kendil dengan diameter antara 9 dan 24 sentimeter, sebagian berkaki cincin, sebagian berdasar datar. Hiasannya bermacam-macam: tera tali, pola jaring, garis lurus, garis lengkung, pola titik, motif geometris, dan slip merah. Ragam sebanyak itu biasanya dipakai untuk menandai ciri budaya awal Neolitik, dengan pembanding temuan di Minanga Sipakko dan Kamassi, Sulawesi Barat.
Cangkang Thiaridae
Cangkang moluska dari kedua kotak nyaris seragam. Sembilan puluh sembilan persen berasal dari gastropoda jenis Thiaridae dan Viviparidae, keduanya penghuni air tawar. Kerang bivalvia corbiculidae hanya satu persen, dan perbandingan itu berlaku untuk TP 1 maupun TP 2. Dari tumpukan cangkang itu, laut yang berjarak 15 kilometer nyaris tidak terbaca. Kerang air asin praktis tidak muncul dalam hitungan itu. Penghuni gua ini mengambil makanannya dari sungai dan rawa di sekitar bukit kapur.
Baca juga Tujuh Nama Orang India di Jawa pada Prasasti Kuno
Tulang binatang menguatkan gambar yang sama. Pengamatan sementara memilah tiga kelompok: ikan air tawar dan krustasea; binatang arboreal berupa rodentia kecil dan primata berukuran sedang yang kemungkinan Cercopithecidae; serta binatang terestrial seperti Artiodactyla sedang hingga besar, karnivora berukuran sedang, dan squamata. Sebagian besar masih berupa fragmen tulang dan gigi. Identifikasi taksonomi yang lebih rinci belum tersedia. Daftar itu masih berupa hasil pengamatan umum, dan penulisnya menyebutnya apa adanya.
Beberapa kilometer dari sana, di gua-gua lain di karst Kotabaru, ceritanya berbeda. Klasifikasi zonanya memakai pengaruh pasang surut sungai sebagai pembatas. Gua Batu dan Gua Jauharlin 1 berada di zona sungai yang masih dipengaruhi pasang surut, dan penghuninya memanfaatkan sumber daya muara. Gua Batu Baras berada di zona ketiga, lahan basah yang tidak terjangkau pasang. Dua rombongan yang hidup pada rentang waktu berdekatan memilih dapur berlainan, hanya karena letak guanya berbeda.
Kesimpulan laporan itu menyebut hunian di Gua Batu Baras berlangsung pada periode awal Preneolitik hingga Neolitik, dengan kronologi 12.402 sampai 4.230 calBP. Lapisan Preneolitiknya dikaitkan dengan populasi Australomelanesid, lapisan Neolitiknya dengan populasi penutur Austronesia. Itu tafsir atas dua kotak berukuran satu meter persegi di dekat satu mulut gua, bukan atas seluruh Kalimantan Selatan. Prasejarah pulau itu, kata penulisnya, memang belum terungkap serinci di Jawa. Sisanya masih berupa kemungkinan yang menunggu kotak berikutnya dibuka.
Gambar-gambar hitam itu masih di tempatnya, di dinding tepat di atas titik tempat GBBR 1.1 tergeletak meringkuk. Panel itu tetap hitam dan tetap di ketinggian yang sama. Yang bergeser adalah apa yang ada di bawahnya: seorang perempuan berusia 45 sampai 55 tahun yang gigi serinya menguning karena sirih pinang, cangkang siput sungai, dan tepian gerabah yang tanggalnya belum selesai diperdebatkan. Semuanya berasal dari satu kotak berukuran satu meter persegi. Yang berubah bukan gambarnya.













