Rahasia Lompatan Pemadam Kebakaran Ada di Belakang Paha

A A

Ilustrasi regu pemadam kebakaran berseragam lengkap menjalani latihan penyelamatan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Ketika orang membayangkan kebugaran petugas pemadam kebakaran, yang muncul biasanya bahu yang kuat, punggung yang tahan menyeret selang, dan paru-paru yang sanggup bekerja di ruangan penuh asap. Otot di belakang paha jarang masuk daftar itu. Hamstring lebih akrab sebagai nama cedera pesepak bola daripada sebagai penentu apakah seseorang sanggup melompati puing di lokasi kebakaran. Namun sekelompok peneliti keolahragaan memutuskan mengukurnya pada orang-orang yang bekerja di dalam asap, dan hasilnya menempatkan otot itu pada posisi yang tidak diduga.

Pengukuran itu dikerjakan Aulya Safiyna Nuuril Anwari bersama Achmad Widodo, Soni Sulistyarto, dan Awang Firmansyah, peneliti program Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Surabaya. Laporan mereka, Exploring the Correlation Between Hamstring Strength and Vertical Jump Performance Among Firefighters, terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Volume 11 Nomor 1 tahun 2026. Desainnya potong lintang — sekali ukur, tanpa pengamatan lanjutan — dengan peserta empat puluh tiga petugas pemadam kebakaran laki-laki dari tim penyelamat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya. Naskahnya diterima jurnal pada Februari 2026 dan terbit Juni tahun yang sama; periode pengambilan datanya sendiri tidak dicantumkan.

Kriteria pesertanya cukup ketat untuk ukuran penelitian lapangan. Yang boleh ikut hanya personel penyelamat yang masih aktif beroperasi, punya pengalaman dinas minimal satu tahun, dan telah dinyatakan layak secara medis menjalani uji performa fisik. Yang dicoret adalah mereka yang mengalami cedera muskuloskeletal tungkai bawah dalam enam bulan terakhir, punya diagnosis gangguan kardiovaskular atau neurologis, serta sedang menjalani program rehabilitasi. Rentang usia disebut dua puluh lima sampai lima puluh tahun pada kriteria inklusi, sementara data yang benar-benar terkumpul berhenti pada usia empat puluh sembilan.

Daftar Isi
  1. Kenapa Otot di Belakang Paha Ikut Menentukan Tinggi Lompatan
  2. Cara Dua Alat Memisahkan Kekuatan dari Daya Ledak
  3. Apa yang Ditangkap Nilai p dan Apa yang Dilewatkannya
  4. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Kenapa Otot di Belakang Paha Ikut Menentukan Tinggi Lompatan

Lompatan tegak tampak seperti urusan paha depan dan betis. Lutut ditekuk, lalu diluruskan, badan terangkat. Penjelasan itu tidak salah, tetapi berhenti terlalu cepat. Sebelum lutut mengerjakan bagiannya, panggul harus lebih dulu terbuka dari posisi menekuk, dan yang menarik tulang paha kembali ke garis lurus badan adalah kelompok otot di belakang paha. Karena itu, tenaga yang dibangkitkan panggul tidak sampai ke lantai bila rantai di antaranya lemah. Hamstring bekerja sebagai penyalur gaya sekaligus penggerak, dan kegagalan pada salah satu peran itu langsung terbaca sebagai lompatan yang lebih rendah daripada yang seharusnya bisa dicapai tubuh sebesar itu.

Ada lapis kedua yang lebih halus. Pada fase turun sebuah lompatan berlawan-gerak, otot belakang paha justru memanjang sambil menahan — kontraksi eksentrik, dalam istilah paper ini — dan sebagian tenaga yang tertahan pada fase itulah yang dilepaskan ketika badan berbalik naik. Otot yang sama sekaligus menjaga lutut tetap stabil saat beban berpindah mendadak. Yang membuatnya rumit, dua peran tersebut berjalan bersamaan dalam hitungan sepersekian detik, sehingga kekuatan dan pengendalian nyaris mustahil dipisahkan ketika hendak diukur. Alat yang berbeda hanya menangkap sisi yang berbeda dari gerakan yang sebetulnya satu.

Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia

Tim Universitas Negeri Surabaya merangkum peran itu dalam satu kalimat yang menempatkan hamstring di tengah rantai gerak, bukan di pinggirnya. “Secara biomekanis, hamstring berperan dalam ekstensi panggul dan pemindahan gaya dari pelvis ke tungkai selama fase propulsif lompatan,” tulis Anwari dan rekan-rekannya. Kalimat itu sekaligus menjelaskan alasan mereka menduga kekuatan otot tersebut akan terbaca pada angka daya ledak, bukan semata pada catatan risiko cedera yang selama ini melekat padanya. Dugaan itu bukan hal baru; penelitian sebelumnya sudah menemukan kaitan antara kekuatan hamstring satu sisi dan performa lompatan pada tungkai yang bersangkutan.

Cara Dua Alat Memisahkan Kekuatan dari Daya Ledak

Untuk memisahkan dua hal yang di lapangan selalu bercampur, peneliti memakai dua perangkat berbeda dari pabrikan yang sama, Vald Performance. Kekuatan hamstring diukur memakai NordBord, alat yang mengunci pergelangan kaki sementara peserta menahan badannya turun perlahan dari posisi berlutut. Gaya yang sanggup ditahan dicatat terpisah untuk kaki kanan dan kaki kiri, dalam satuan newton. Persoalannya, ukuran semacam itu tidak memberi tahu apa pun tentang seberapa cepat tenaga tersebut bisa dikeluarkan. Kekuatan yang besar tetapi lamban tidak banyak menolong orang yang harus berpindah posisi dalam hitungan detik.

Bagian kedua dikerjakan ForceDecks, papan pengukur gaya yang dipijak peserta saat menjalani countermovement jump — lompatan yang diawali gerakan turun cepat sebelum meledak ke atas. Yang direkam bukan tinggi lompatan, melainkan daya puncak dalam watt, yakni besar tenaga dibagi waktu yang dipakai untuk mengeluarkannya. Karena itu dua orang dengan kekuatan setara bisa berakhir pada angka yang jauh berbeda, tergantung seberapa singkat mereka mengubah tekukan menjadi dorongan. Hasil kedua alat itulah yang kemudian disandingkan satu sama lain, dan pertanyaan penelitiannya sesederhana itu: apakah kaki yang mampu menahan gaya lebih besar juga menghasilkan tenaga lebih besar ketika harus meledak ke atas.

Profil pesertanya sendiri tergolong biasa untuk pekerjaan seberat itu. Berat badan rata-rata 73,83 kilogram dengan simpangan baku 10,38, tinggi rata-rata 172,44 sentimeter, dan indeks massa tubuh rata-rata 24,79 — angka yang oleh penulisnya dibaca sebagai berada di rentang normal sampai sedikit berlebih. Daya puncak lompatan rata-rata tercatat 3.522,04 watt, dengan sebaran yang lebar: peserta terendah berhenti pada 2.285 watt, sedangkan yang tertinggi menembus 4.493 watt. Jarak antara keduanya hampir dua kali lipat, padahal semuanya menjalani seleksi, pelatihan, dan penugasan yang sama. Sebaran selebar itu justru menjadi bahan bakar analisis berikutnya.

Baca juga Peneliti Universitas Brawijaya Deskripsikan Spesies Kumbang Baru dari Hutan Kagoshima

Apa yang Ditangkap Nilai p dan Apa yang Dilewatkannya

Pada sisi kekuatan, kaki kanan rata-rata menahan gaya sekitar 289 newton dan kaki kiri sekitar 270 newton, dengan sebaran yang lebih lebar pada sisi kanan. Rentangnya yang justru mengejutkan: ada peserta yang hanya sanggup menahan 150 newton, ada pula yang mencapai 594,50 newton pada kaki kanan. Di antara petugas yang bertugas di dinas yang sama, dengan tuntutan pekerjaan yang kurang lebih seragam, selisih sebesar itu bukan perkara sepele. Kaki kiri memperlihatkan pola serupa meski dengan puncak yang lebih rendah, berhenti pada 422,50 newton, dan titik terendahnya nyaris menyentuh angka yang sama dengan kaki kanan.

Uji korelasi Pearson kemudian menyandingkan dua kolom tersebut. Kekuatan maksimal kaki kiri berhubungan dengan daya lompat pada nilai p sebesar 0,002, sedangkan kaki kanan pada 0,001; keduanya berada di bawah ambang 0,05 yang dipakai sebagai batas kemaknaan pada tabel. Artinya, pola naik bersama antara kedua ukuran itu kecil kemungkinannya muncul semata-mata karena kebetulan dalam pengambilan sampel. Kedua kaki menunjukkan arah yang sama, sehingga temuannya tidak bergantung pada satu sisi tubuh saja. Sampai di titik tersebut, hasilnya cukup jelas.

Yang tidak dikatakan nilai p adalah seberapa kuat hubungan itu. Laporan ini tidak memuat koefisien korelasinya, sehingga pembaca tahu hubungan tersebut ada tetapi tidak tahu apakah ia erat atau tipis. Nilai p juga tidak menunjukkan arah sebab: hamstring yang kuat bisa menghasilkan lompatan bertenaga, tetapi orang yang terbiasa bergerak eksplosif pun cenderung memiliki hamstring kuat. Penulisnya menahan diri pada rumusan yang lebih hati-hati. “Temuan ini menunjukkan bahwa kekuatan otot hamstring yang lebih besar berkaitan dengan keluaran daya lompatan berlawan-gerak yang lebih tinggi,” tulis mereka — berkaitan, bukan menyebabkan.

Baca juga Kadar Lp(a) di Atas 175 nmol/L Berkaitan dengan Risiko Stroke yang Lebih Tinggi

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Batas temuan ini perlu disebut terus terang. Seluruh peserta adalah laki-laki dari satu tim penyelamat di satu kota, dijaring lewat purposive sampling, dan diukur sekali tanpa tindak lanjut. Empat puluh tiga orang bukan jumlah yang memungkinkan pemilahan berdasarkan usia, masa dinas, atau kebiasaan berlatih. Karena itu, angka rata-rata yang muncul di sini paling jauh menggambarkan tim tersebut pada saat pengukuran, bukan petugas pemadam kebakaran Indonesia pada umumnya, apalagi perempuan yang bekerja di profesi yang sama. Desain potong lintang juga tidak memungkinkan siapa pun menyimpulkan bahwa memperkuat hamstring akan menaikkan daya lompat, karena yang tersedia hanya potret sesaat.

Ada pula ketidakcocokan kecil di dalam naskahnya sendiri yang sebaiknya tidak diabaikan. Bagian metode menyebut ambang kemaknaan p kurang dari 0,005, sementara tabel dan pembahasan memakai 0,05. Nilai simpangan baku kaki kiri tertulis 51,35 pada tabel dan 51,53 pada uraian, sedangkan rata-rata kaki kanan muncul sebagai 289,74 di satu tempat dan 289,76 di tempat lain. Selisih sekecil itu tidak mengubah kesimpulan, tetapi menandakan naskah ini masih menyimpan pekerjaan penyuntingan yang belum tuntas. Pembaca yang ingin memakai angka-angka tersebut sebagai pembanding sebaiknya menyebutnya sebagai rentang, bukan sebagai nilai yang terkunci.

Lompatan yang paling jauh justru ada di ujung lain. Penelitian ini mengukur kekuatan pada alat dan daya ledak di atas papan gaya; ia tidak mengukur satu pun tugas nyata di lokasi kebakaran — tidak menyeret selang, tidak menaiki tangga bangunan, tidak memanggul korban. Hubungan antara daya lompat dan kemampuan menuntaskan pekerjaan itu diasumsikan, belum diuji. Penulisnya memang merekomendasikan latihan penguatan hamstring dan pliometrik masuk ke program kebugaran petugas, tetapi rekomendasi tersebut bersandar pada penelitian-penelitian terdahulu, bukan pada data mereka sendiri.

Kembali ke otot yang tadi tidak masuk daftar. Yang ditunjukkan pengukuran di Surabaya bukan bahwa hamstring adalah kunci kebugaran pemadam kebakaran, melainkan bahwa otot yang selama ini dibicarakan terutama dalam bahasa cedera ternyata terbaca juga dalam bahasa tenaga — pada empat puluh tiga orang, di satu dinas, dalam satu kali pengukuran. Sisanya masih terbuka, dan di situlah pekerjaan berikutnya menunggu: menghubungkan angka di atas papan gaya dengan apa yang benar-benar terjadi ketika alarm berbunyi dan seseorang harus melompati sesuatu yang tidak ia pilih sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi sekelompok atlet berlatih bola voli di dalam gedung olahraga berlantai kayu
Di Kabaddi, Otot Punggung Mengalahkan Kelincahan
Ilustrasi dua atlet bela diri berseragam hitam bersabuk berlatih tendangan tinggi dan tangkisan di ruang latihan
Cedera Pesilat Remaja Lebih Banyak Lahir Saat Latihan
Ilustrasi dua pemain sepak bola muda memasang plester kinesiologi pada lutut dan pergelangan kaki di tepi lapangan
Cedera Pemain Sepak Bola Muda dan Angka yang Terlewat
Ilustrasi sekelompok pemain sepak bola usia muda berlatih menggiring dan mengoper bola di lapangan rumput
FIFA 11+ dan Cedera ACL yang Datang Tanpa Ditabrak
Ilustrasi tiga pemain sepak bola remaja berebut bola di lapangan rumput terbuka
Aktivitas Fisik Siswa Kepulauan Seribu: Duduk 2 Jam Sehari
Ilustrasi dua orang berpakaian olahraga berlari berdampingan di jalur taman kota
Efikasi Diri dalam Olahraga: Bukan Sekadar Percaya Diri