Cekricek.id — Semarang Night Carnival menghidupi perajin kostum, bukan sekadar tontonan. Temuan itu diajukan Melody Aria Putri dari Magister Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. Ia menulis bersama Endang Susilowati dan Dhanang Respati Puguh, dua peneliti Departemen Sejarah di fakultas yang sama.
Kajian itu berjudul Jejak Budaya Lokal dalam Perkembangan Semarang Night Carnival 2011–2022. Naskahnya terbit di jurnal Purbawidya Volume 14 Nomor 2 pada 2025. Metodenya metode sejarah dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumbernya arsip dinas, dokumentasi, wawancara, dan pustaka ilmiah.
Karnaval itu pertama digelar pada 2011. Acaranya menjadi bagian dari peringatan hari jadi ke-464 Kota Semarang. Wali Kota Soemarmo Hadi Saputro menginginkan acara yang belum pernah ada di Indonesia. Pilihannya jatuh pada karnaval malam hari. Sejak itu SNC menjadi agenda tahunan kota.
Daftar Isi
Kota Tiga Budaya
Semarang duduk di pesisir utara Jawa, tepat di jalur ekonomi pulau itu. Pendatang berdatangan dari banyak etnis dan menetap turun-temurun. Tionghoa dan Arab termasuk kelompok paling awal. Mereka tidak hanya berniaga, tetapi juga menyebarkan agama. Setelah kemerdekaan sebagian orang asing pergi, sedangkan keturunan Tionghoa dan Arab bertahan dan membaur.
Perantau Tionghoa sudah datang sejak abad ke-15. Mereka tinggal di kawasan Pecinan dan Pedamaran, di sekitar Gang Pinggir dan Jalan Mataram. Laksamana Cheng Ho juga mendarat di kota ini. Pedagang muslim Melayu mendirikan Kampung Melayu dan Kampung Darat di kawasan Kauman. Islam di wilayah ini banyak dibawa pedagang dari Hadramaut, Yaman.
Kawasan Pekojan menampung pendatang muslim dari Arab, India, Pakistan, dan Persia. Peneliti menyimpulkan ada tiga budaya utama yang berpengaruh kuat di Semarang. Ketiganya adalah Jawa, Cina, dan Islam. Klenteng, Waroeng Semawis, Pasar Gang Baru, dan kawasan Pekojan menjadi titik pertemuannya sampai hari ini.
Percampuran itu meninggalkan bentuk yang masih bisa dilihat. Gambang Semarang diperkenalkan pada 1930 dan memadukan seni Jawa dengan Tionghoa peranakan. Festival Dugderan sudah berlangsung sejak masa Bupati KRMT Purbaningrat pada 1881. Lunpia lahir dari perkawinan penjual Tionghoa dan perempuan Jawa. Kota ini pun berjuluk kota Lunpia.
Dari Dugderan muncul Warak Ngendog. Makhluk itu berkepala naga, bertubuh buraq, dan berkaki kambing. Tiga bagian tubuhnya mewakili budaya Tionghoa, Timur Tengah, dan Jawa. Nama Warak berasal dari kata Arab wara yang berarti suci. Ngendog berarti bertelur dalam bahasa Jawa.
Bentuk hibrida lain juga tumbuh di kota ini. Manten Semarang menampilkan pengantin pria bersorban Kopyah Alfiah dan pengantin perempuan bergaya Encik Semarangan. Batik Semarangan populer pada abad ke-18 hingga ke-19. Ajang Denok Kenang memperkenalkan pariwisata kota kepada generasi mudanya.
Karnaval Malam Pertama
Sebelum 2011 pariwisata Semarang tertinggal dan potensinya dinilai belum tergarap. Jumlah wisatawan pada 2005 tercatat 1.256.953 orang. Angka itu turun menjadi 1.221.584 orang pada 2008. Pada 2010 melonjak ke 1.710.324 orang. Kenaikannya besar, tetapi karnaval malam baru lahir setahun sesudahnya.
Peneliti mengaitkan lonjakan 2010 dengan Semarang Pesona Asia. Ajang itu berisi pameran internasional dan pertemuan bisnis. Pada tahun yang sama Semarang menempati peringkat kedua di Jawa Tengah. Kabupaten Magelang berada di atasnya dengan 3.196.616 pengunjung. Kabupaten Wonogiri menyusul dengan 1.641.942 pengunjung.
Baca juga Ketukan Tengah Malam dalam Cerpen Sunda Yus R. Ismail
Dari 1.710.324 pengunjung Semarang, hanya 8.676 orang berstatus wisatawan mancanegara. Sisanya wisatawan nusantara. Dwi Setyowati, Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang periode 2006–2018, menyebut hambatan lain. Sumber daya manusia pemerintahan saat itu banyak yang berusia lanjut. Pemahaman soal pengembangan pariwisata pun belum merata.
Suara serupa datang dari luar birokrasi. Teguh Kismarjanto, Ketua Harian Semarang Tourism Board, menilai kota itu tidak punya obyek wisata unggulan. Agung Prijo Oetomo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang, menunjuk anggaran yang minim. Padahal potensi kuliner, religi, budaya, dan sejarahnya besar.
Gagasan karnaval malam tidak muncul dari ruang kosong. Penyelenggara belajar dari Jember Fashion Carnival, pelopor karnaval kostum di Indonesia. Bedanya, Jember menggelarnya pada siang hari. Penyelenggara juga menimba pengalaman dari Solo Batik Carnival pada 2011–2013 dan Jember pada 2014–2015. Pesertanya terbuka bagi pelajar, pekerja seni, dan masyarakat umum.
Malam hari menuntut kostum yang berbeda. Perancang menambahkan lampu agar busana tetap terlihat dalam gelap. Konsep acaranya diringkas menjadi empat huruf E: education, entertainment, exhibition, dan economic benefit. Peserta dilatih tiga bulan soal rancangan kostum, fashion runway, fashion dance, dan tata rias. Huruf terakhir menyasar hotel, restoran, pusat oleh-oleh, dan UMKM di sepanjang rute.
Tema demi Tema
Tema pertama pada 2011 adalah perpaduan etnis Jawa, China, dan Arab. Tahun berikutnya karnaval mengusung Semarang Berbunga Menuju Visit Jateng 2013. Tema itu menampilkan 17 jenis bunga sebagai motif utama. Aster dan anyelir termasuk di antaranya. Pemerintah kota memakainya sebagai isyarat pembaruan wajah kota.
Pada 2013 temanya Semarang Semarak Warna. Empat unsur budaya dipadukan: Jawa, Arab, China, dan Belanda. Dua tahun kemudian tema Semarak Semarang menampilkan lima kelompok etnis. Melayu, Cina, Belanda, Arab, dan Jawa berjalan dalam satu barisan. Jejak kelimanya masih tersisa di Kauman, Pecinan, dan Kota Lama.
Tahun 2014 keluar dari pola etnis. Temanya Light of Miracle, tentang Semarang sebagai kota pemancar cahaya kreatif. Pesertanya dibagi ke dalam empat defile. Sparkling of Earth, The Power of Fire, Beauty of Water, dan Glow of Sky mewakili tanah, api, air, dan udara.
Baca juga Menelusuri Salingsingan, Rumah Ibadah Kuno di Kaki Merapi
Warak dan Nusantara
Warak Ngendog baru menjadi tema utuh pada 2016. Judulnya Fantasi Warak Ngendog. Bagian tubuh makhluk itu dipecah menjadi lima defile. Tanduk Ungu, Gigi Hijau, Lidah Api Merah, Sisik Kuning, dan Harmoni Biru masing-masing membawa warna dan nilai sendiri.
Setahun kemudian tema Paras Semarang mengambil empat ikon kota. Burung blekok, kuliner, kembang sepatu, dan lampion menjadi subtemanya. Blekok banyak ditemukan di Srondol Indah dan hidup bebas di pohon asem. Kostumnya didominasi putih, cokelat, dan biru. Pesan temanya soal keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Tema 2018 bernama Kemilau Semarang. Subtema Asem Arang mengangkat asal-usul nama kota dari pohon asam yang tumbuh jarang di Bergota. Subtema Art Deco meminjam gaya arsitektur 1920–1939 pada Lawang Sewu dan Kota Lama. Dua subtema lain, Butterfly dan Sea, mengangkat batik Semarangan dan potensi maritim.
Setelah 2018 cakupan temanya melebar keluar kota. Pelangi Nusantara pada 2019 mengambil Minang, wayang, enggang, dan Papua. Burung enggang bermakna kebesaran bagi masyarakat Dayak. Kemilau Nusantara pada 2020 mendukung lima destinasi pariwisata super prioritas. Borobudur, Likupang, Labuan Bajo, Mandalika, dan Danau Toba menjadi subtemanya.
Pandemi COVID-19 menghentikan karnaval pada 2021. Acaranya kembali pada 2022 dengan tema Trilogy. Subtemanya Hutan Tinjomoyo, Recycle, Goa Kreo, dan Payung. Tinjomoyo menjadi habitat 240 jenis burung, termasuk elang Jawa yang bermigrasi setiap Maret–April. Tema itu berbicara soal keseimbangan antara manusia, Tuhan, alam, dan sesamanya.
Subtema Recycle mengangkat TPA Jatibarang. Sampah diolah menjadi kostum bernilai estetis. Goa Kreo dipilih karena nilai sejarah dan alamnya. Tempat itu dipercaya sebagai lokasi Sunan Kalijaga mencari kayu untuk Masjid Agung Demak. Payung menutup rangkaian itu sebagai lambang perlindungan dan keteduhan.
Uang di Balik Kostum
Kostum karnaval bukan pakaian biasa. Rancangannya terdiri atas busana dasar, busana kaki, busana tubuh, busana kepala, dan aksesori tambahan. Hermina Andreyani, pendiri Quinna Fashion School, membedakan karnaval dari peragaan busana. Karnaval bersifat lebih meriah dan memakai elemen teatrikal seperti topeng dan properti panggung.
Cahaya menjadi pembeda utamanya. Melody Aria Putri dan kedua rekannya menulis: “Kostum dalam SNC dirancang sedemikian rupa agar tampak menyala dan menarik perhatian pada malam hari, sehingga modifikasi menggunakan elemen pencahayaan seperti lampu menjadi ciri khas utama.” Keterangan itu mereka peroleh dari Ainul Rochman Rosyid, perajin kostum sekaligus konseptor dan instruktur karnaval.
Baca juga Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Dari kebutuhan itu tumbuh rantai usaha. Peneliti mencatat: “Para peserta SNC memesan kostum kepada perajin lokal, menciptakan rantai ekonomi kreatif yang melibatkan desainer, penjahit, pengrajin, bahkan penyedia bahan.” Perajin lokal berada di simpul terakhirnya. Desainer, penjahit, dan pemasok bahan ikut kebagian pesanan.
Ainul Rochman Rosyid memproduksi kostum sejak 2003. Ia memadukan kerja tangan dan mesin, dengan produksi di Semarang dan Jember. Bahannya dipasok UMKM lokal. Selain memproduksi kostum, ia juga menjadi konseptor sekaligus instruktur karnaval. Usianya 40 tahun saat diwawancarai pada Maret 2024.
Meyana Purwandari mulai berkarya pada 2020. Ia memakai mesin las dan solder listrik untuk kostum bercahaya dan berornamen rumit. Harga kostum berkisar 3 juta sampai 10 juta rupiah. Tingkat kerumitan, material, dan nilai artistik menentukan angkanya. Ia berumur 43 tahun saat diwawancarai pada Februari 2024.
Adhe Pamungkas memilih jalan lain. Perajin yang mulai bekerja pada 2017 itu bertahan pada produksi manual. Ia percaya karya tangan punya nilai tersendiri. Material tertentu yang sulit didapat, cuaca, dan waktu produksi yang sempit menjadi tantangannya. Umurnya baru 25 tahun ketika penelitian ini dikerjakan.
Yang Belum Terjawab
Kajian ini punya batas yang jelas. Pendekatannya kualitatif deskriptif, bukan pengukuran. Wawancaranya melibatkan empat narasumber, lokasinya satu kota, dan periodenya berhenti pada 2022. Temuannya tidak bisa dipakai untuk menilai karnaval di kota lain. Dampak ekonomi karnaval juga tidak diukur secara langsung.
Data wisatawan yang disajikan pun berhenti di 2010. Artinya tidak ada angka kunjungan sesudah karnaval berjalan. Kenaikan wisatawan sebelum 2011 juga sudah dijelaskan oleh ajang lain. Peneliti sendiri mengaitkannya dengan Semarang Pesona Asia. Hubungan antara karnaval dan kunjungan wisata karena itu belum terbukti.
Naskahnya juga menyimpan satu ketidakcocokan. Badan tulisan menyebut karnaval vakum pada 2021, sedangkan keterangan salah satu gambar menyebut pelaksanaan SNC 2021. Pembaca sebaiknya tidak mengunci tahun itu. Nomor halaman naskahnya pun tertulis berbeda di dua tempat. Selisih semacam itu tidak mengubah temuan utamanya.
Harga 3 juta sampai 10 juta rupiah adalah satu-satunya angka ekonomi dalam kajian ini. Tidak ada data jumlah pesanan. Tidak ada data pendapatan perajin per tahun. Nilai perputaran uang karnaval belum terhitung. Peneliti sendiri menyebut komodifikasi kostum sebagai celah yang belum digarap kajian terdahulu.
Yang terbukti baru satu hal: karnaval malam itu memberi perajin kostum Semarang pekerjaan selama lebih dari satu dekade.













