Cekricek.id — Analisis terhadap sampel plasma 20.070 orang berusia 40 tahun ke atas menemukan kadar lipoprotein(a) yang sangat tinggi berjalan seiring dengan naiknya risiko stroke dan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Partikel kolesterol itu diwariskan secara genetik, kadarnya nyaris tak bergerak oleh diet maupun olahraga, dan tidak terbaca pada pemeriksaan kolesterol rutin.
Dikutip dari ScienceDaily, Senin (10/8/2026), analisis tersebut dipaparkan Society for Cardiovascular Angiography and Interventions dan disusun dari data tiga uji klinis acak yang dibiayai National Institutes of Health Amerika Serikat: ACCORD, PEACE, dan SPRINT.
Ambang 175 Nanomol per Liter
Peserta dengan kadar Lp(a) 175 nanomol per liter atau lebih memiliki rasio hazard 1,31 untuk kejadian kardiovaskular mayor, 1,49 untuk kematian akibat penyakit kardiovaskular, dan 1,64 untuk stroke. Angka-angka itu tetap bertahan setelah faktor risiko lain diperhitungkan.
Selama masa pemantauan dengan median 3,98 tahun, tercatat 1.461 kejadian kardiovaskular mayor atau 7,3 persen dari seluruh peserta. Rata-rata usia peserta 65,2 tahun dengan simpangan baku 8,5 tahun, dan 64,9 persen di antaranya laki-laki.
Sekitar satu dari lima orang diperkirakan membawa kadar Lp(a) yang tinggi tanpa gejala apa pun. Kadar itu bisa mengangkat risiko kardiovaskular meski kolesterol yang biasa diperiksa terlihat normal.
“Untuk pertama kalinya, kami dapat mengukur kadar Lp(a) spesifik yang menempatkan pasien pada risiko jauh lebih tinggi untuk kejadian kardiovaskular mayor, terutama stroke dan kematian,” kata Subhash Banerjee, dokter spesialis jantung intervensi di Baylor Scott & White, Dallas, Texas.
Lipoprotein(a) adalah partikel pembawa lemak dalam darah yang strukturnya menyerupai kolesterol LDL, tetapi membawa satu protein tambahan bernama apolipoprotein(a). Bentuk itu membuatnya lebih mudah tertahan di dinding pembuluh darah dan diduga ikut mendorong pembentukan gumpalan darah.
Warisan yang Tak Tergerak Gaya Hidup
Berbeda dari kolesterol LDL yang bisa ditekan lewat pola makan, olahraga, dan statin, kadar Lp(a) seseorang ditentukan sejak lahir dan relatif tetap sepanjang hidup. Pemeriksaannya pun bukan bagian dari panel lipid standar, sehingga orang yang membawanya umumnya tidak pernah tahu.
Angka-angka di atas berasal dari analisis lanjutan atas data yang dikumpulkan untuk tujuan lain — ketiga uji aslinya dirancang menguji pengendalian gula darah dan tekanan darah, bukan Lp(a). Rancangan semacam itu dapat menunjukkan kaitan yang kuat, tetapi tidak membuktikan bahwa Lp(a) yang menyebabkan stroke.
Analisis ini juga dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah SCAI 2026, belum sebagai artikel jurnal yang melewati telaah sejawat, sehingga rincian metodenya belum terbuka untuk diperiksa pembaca luar.
Ketiga uji yang datanya dipakai berjalan bertahun-tahun dengan peserta berbeda-beda. ACCORD menyasar penyandang diabetes tipe 2, PEACE melibatkan pasien penyakit jantung koroner stabil, dan SPRINT menguji target tekanan darah yang lebih ketat. Menggabungkan ketiganya memperbesar jumlah sampel, tetapi juga menyatukan populasi yang tidak sepenuhnya sebanding.
Siapa yang Perlu Diperiksa
Banerjee menyebut hasil ini memberi patokan angka bagi dokter yang selama ini kesulitan menentukan kapan kadar Lp(a) pasien layak disebut berbahaya. Sejumlah obat penurun Lp(a) sedang menjalani uji klinis tahap akhir di beberapa negara, namun belum ada yang beredar sebagai terapi baku.
Penyakit jantung dan pembuluh darah bertahan sebagai penyebab kematian terbanyak di dunia, dan sebagian penyandang risiko tertingginya justru lolos dari penapisan karena panel lipid mereka terbaca wajar.
Baca juga: Durasi Jalan Kaki yang Disarankan untuk Menjaga Kesehatan Jantung





















