Cekricek.id — Kabaddi adalah permainan mengelak. Seorang pemain masuk sendirian ke wilayah lawan, berusaha menyentuh pemain di sana, lalu kembali ke garisnya sebelum tubuhnya ditangkap dan dijatuhkan. Siapa pun yang menontonnya akan menebak hal yang sama, bahwa yang paling menentukan pastilah kecepatan berkelit. Ketika kemampuan fisik para pemainnya benar-benar diukur satu per satu, tebakan itu tidak terbukti. Kelincahan justru duduk di dasar daftar, dan yang berdiri di puncak adalah kekuatan otot punggung — bagian tubuh yang nyaris tidak terlihat bekerja dari pinggir lapangan.
Pengukuran itu dikerjakan Made Bang Redy Utama dari program Sports Coaching Universitas Negeri Jakarta bersama Maryoto Subekti (Sports Education, Universitas PGRI Mahadewa), Adi S (Sports Education, Universitas Negeri Semarang), dan Sri Indah Ihsan (Sports Science, Universitas Negeri Jakarta). Laporannya terbit sebagai The Physical Dominant Component of Kabaddi: Is It a True Predictor? di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Vol. 10 No. 1 tahun 2025, halaman 71–83. Desainnya deskriptif-kuantitatif dengan analisis faktor konfirmatori, dan sampelnya 31 atlet kabaddi Kabupaten Badung, Bali, terdiri atas 15 laki-laki dan 16 perempuan dengan rata-rata usia 17 tahun, yang seluruhnya menyatakan pernah turun pada Pekan Olahraga Provinsi Bali 2019.
Yang diukur pada tiap atlet bukan satu dua hal. Tinggi badan diambil dengan stadiometer dan berat badan dengan timbangan digital. Kecepatan reaksi diukur tiga kali memakai papan lampu reaksi, yaitu reaksi terhadap bunyi, terhadap penglihatan, dan terhadap rangsang antisipatif. Sesudah itu menyusul kelincahan lewat Illinois agility test, kelentukan lewat sit and reach, daya ledak tungkai lewat vertical jump, kekuatan punggung lewat back dynamometer, kekuatan genggam tangan kanan dan kiri, kekuatan bahu menarik dan mendorong lewat pull dan push dynamometer, kekuatan perut lewat sit up, kekuatan lengan lewat push up, serta keseimbangan lewat stork standing test.
Yang dikerjakan sesudah pengukuran lebih menentukan daripada daftar tesnya. Angka-angka itu tidak diadu untuk mencari nilai tertinggi, melainkan dimasukkan ke analisis faktor, sebuah cara kerja statistik yang menyisir puluhan variabel lalu menanyakan satu hal saja: variabel mana yang naik dan turun bersama-sama sehingga sebenarnya dapat diringkas menjadi segelintir dimensi. Seluruh pengolahan memakai perangkat lunak SPSS versi 24, didahului uji normalitas dan uji linearitas. Tabel linearitas dalam laporan itu menyimpulkan hubungan setiap variabel bebas dengan prestasi berpola linear, sementara uji normalitas menyisakan empat variabel yang dinyatakan tidak normal, yakni usia, kecepatan reaksi terhadap bunyi, kekuatan bahu mendorong, dan keseimbangan.
Bagaimana Puluhan Ukuran Disaring Menjadi Dua Kelompok
Analisis faktor tidak langsung menghitung. Ia lebih dulu memeriksa apakah datanya memang layak diringkas, dan pemeriksaan itu dijalankan dua putaran. Putaran pertama memakai uji Kaiser-Meyer-Olkin dan Bartlett’s Test of Sphericity, yang menghasilkan nilai KMO 0,465 dengan signifikansi 0,000. Sesudah itu tiap variabel diperiksa sendiri-sendiri lewat korelasi anti-image, yang memberi nilai Measure of Sampling Adequacy antara nol dan satu. Laporan tersebut memasang garisnya di 0,50: di atas garis itu sebuah variabel dianggap masih bisa diprediksi oleh variabel lain dan boleh lanjut, di bawahnya variabel dibuang dari hitungan.
Garis tersebut memakan enam variabel sekaligus. Kecepatan reaksi terhadap bunyi tersingkir dengan nilai 0,192, kecepatan reaksi penglihatan 0,291, kecepatan antisipatif 0,369, kelentukan 0,280, dan daya ledak otot tungkai 0,277. Yang paling tipis nasibnya adalah keseimbangan, dengan nilai 0,493, terpisah dari ambang lolos hanya oleh tujuh per seribu. Artinya, seluruh ukuran yang berkaitan dengan reaksi — justru kemampuan yang paling terasa dibutuhkan seorang penyerang yang harus mengelak — tidak pernah sampai ke tahap penghitungan faktor dominan.
Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Putaran kedua dijalankan tanpa keenam variabel itu, dan wajah datanya berubah. Nilai KMO naik dari 0,465 menjadi 0,845 dengan signifikansi tetap 0,000, sedangkan dua belas variabel yang tersisa seluruhnya bernilai MSA di atas 0,50, mulai dari 0,573 pada kekuatan otot lengan sampai 0,921 pada kekuatan genggam tangan kiri. Dua belas ukuran itulah — usia, tinggi badan, berat badan, kelincahan, kekuatan punggung, kekuatan tungkai, genggam kanan, genggam kiri, bahu menarik, bahu mendorong, otot perut, dan otot lengan — yang kemudian dipakai untuk mencari faktor dominan.
Cara Angka 89 Persen Itu Terbentuk
Baru pada tahap inilah muncul angka yang paling banyak dikutip dari laporan tersebut. Metode principal component analysis menghasilkan nilai komunalitas bagi tiap variabel, yaitu ukuran seberapa besar naik-turunnya sebuah variabel dapat diterangkan oleh faktor-faktor yang berhasil dibentuk. Kekuatan otot punggung memperoleh 0,890 atau 89,0 persen dan disebut sebagai peran dimensional terbesar. Kelincahan memperoleh 0,339 atau 33,9 persen, yang terendah di antara semuanya. Jarak antara keduanya lebih dari dua kali lipat, dan jarak itulah yang menjadi temuan utama laporan ini.
Nilai tersebut perlu dibaca persis seperti maksudnya. Komunalitas 89,0 persen tidak berarti otot punggung menyumbang 89 persen kemenangan, melainkan bahwa sebesar itulah variasi kekuatan punggung antaratlet yang terserap oleh dua faktor yang terbentuk. Persoalannya, tabel yang sama juga mencantumkan kekuatan genggam tangan kanan pada 0,894, tipis di atas angka punggung, sementara narasi dan kesimpulan laporan tetap menyebut punggung sebagai yang tertinggi. Selisih empat per seribu itu dibiarkan tanpa penjelasan, dan pembaca yang hanya membaca abstraknya tidak akan pernah menjumpai angka pembandingnya.
Sesudah nilai komunalitas keluar, dua belas variabel tadi diputar untuk melihat masing-masing menempel pada faktor yang mana. Faktor dominan I berisi usia, berat badan, kelincahan, kekuatan otot punggung, kekuatan genggam kanan, kekuatan genggam kiri, dan kekuatan bahu menarik. Faktor dominan II berisi tinggi badan, kekuatan otot tungkai, kekuatan bahu mendorong, kekuatan otot perut, dan kekuatan otot lengan. Kekuatan punggung sendiri berdiri hampir sama kuat di kedua kelompok, dengan muatan 0,692 dan 0,642, salah satu ukuran yang paling tidak memihak ke satu sisi.
Baca juga Analisis Genom Ungkap Spesies Baobab Baru di Madagaskar
Karena itu, kesimpulan laporan tidak berhenti pada satu otot. Ketiga kelompok yang mereka sebut sebagai penentu adalah antropometri, kelincahan, dan kekuatan otot, dan justru pengelompokan itulah yang mereka klaim sebagai kebaruan. Made Bang Redy Utama, peneliti Sports Coaching Universitas Negeri Jakarta, bersama tiga rekannya menulis, “Kebaruan utama dalam studi ini adalah faktor dominan kebutuhan fisik yang diperlukan dalam olahraga kabaddi untuk menunjang prestasi, seperti usia, tinggi badan, kelincahan, kekuatan otot punggung, kekuatan otot tungkai, kekuatan otot tangan, kekuatan otot bahu, kekuatan otot perut, dan kekuatan otot lengan.”
Mengapa Kelincahan Turun ke Dasar Daftar
Kelincahan tidak tersingkir karena datanya buruk. Nilai MSA-nya 0,776 pada putaran pertama dan 0,845 pada putaran kedua, jauh di atas garis 0,50, dan ia tetap masuk ke dalam faktor dominan I. Yang rendah semata-mata komunalitasnya, sehingga hanya sekitar sepertiga variasi kelincahan antaratlet yang dapat diterangkan oleh dua faktor tadi. Sisanya bergerak sendiri, tidak seirama dengan ukuran tubuh dan kekuatan otot yang diukur bersamaan dengannya. Pada matriks komponen yang diputar, muatan kelincahan pun tergolong kecil di kedua kelompok, 0,494 pada faktor pertama dan 0,309 pada faktor kedua.
Yang membuatnya rumit, bagian pembahasan laporan itu justru menegaskan pentingnya kelincahan. Di sana disebutkan bahwa kabaddi menuntut kemampuan berubah arah di dalam pertandingan, dan perubahan arah adalah unsur kelincahan. Disebut pula bahwa kabaddi menuntut kelentukan, kelincahan, dan daya tahan. Padahal kelentukan justru termasuk yang tersingkir pada putaran pertama, sedangkan daya tahan kardiovaskular yang tercantum di antara item tes tidak muncul lagi pada tabel mana pun sesudahnya, tanpa keterangan mengapa ia menghilang.
Kekuatan genggam justru berperilaku sebaliknya. Kedua tangan bernilai komunalitas tinggi, 0,894 di kanan dan 0,879 di kiri, dan keduanya masuk ke kelompok yang sama dengan usia serta berat badan. Bacaan itu sejalan dengan gambaran kabaddi yang dipakai laporan tersebut sejak awal, yakni permainan tanpa peralatan apa pun, tempat angka dicetak dengan menyentuh dan menjatuhkan lawan, dengan sentuhan tangan sebagai keterampilan yang bahkan sudah memiliki kajian kinematikanya sendiri. Kekuatan bahu menarik mengikuti pola serupa dengan komunalitas 0,796, sementara kekuatan otot perut tertinggal di 0,451.
Baca juga Peneliti Universitas Brawijaya Deskripsikan Spesies Kumbang Baru dari Hutan Kagoshima
Persoalannya, laporan ini tidak menjelaskan sebabnya. Ia menunjukkan variabel mana yang bergerak bersama-sama, bukan mengapa punggung dan genggaman yang bergerak bersama, dan tidak ada satu pun pengukuran di dalamnya yang merekam apa yang terjadi pada tubuh seorang penyerang ketika ia ditahan dan berusaha melepaskan diri. Yang tersedia adalah pola statistik pada satu kelompok atlet, bukan rantai sebab-akibat yang berlaku umum. Analisis faktor memang tidak dirancang untuk pekerjaan itu; ia meringkas, bukan menerangkan asal-usul.
Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
Batas itu disebut sendiri oleh para penulisnya, dan disebut dengan lugas di ujung pembahasan. Mereka tidak mengklaim telah menemukan penyebab prestasi, hanya menemukan variabel yang saling terkait, dan menyerahkan pertanyaan berikutnya kepada penelitian lain. Sri Indah Ihsan, penulis korespondensi dari Universitas Negeri Jakarta, bersama ketiga rekan penulisnya menutup bagian itu dengan kalimat, “Keterbatasan penelitian ini adalah bahwa ia hanya mencari korelasi di antara beberapa variabel; diharapkan penelitian selanjutnya dapat dilakukan untuk menemukan sebab dan akibat dari setiap variabel yang ada.”
Keterbatasan lain menempel pada bahannya. Tiga puluh satu orang adalah sampel yang kecil untuk analisis faktor dengan dua belas variabel, seluruhnya berasal dari satu kabupaten, dan status keikutsertaan pada Porprov Bali 2019 diperoleh dari pengakuan atlet sendiri. Empat variabel gagal uji normalitas namun tetap ikut diolah, sedangkan nilai KMO putaran pertama, 0,465, berada di bawah angka 0,50 yang oleh laporan itu sendiri dipakai sebagai garis kelayakan bagi tiap variabel. Prestasi, variabel yang justru hendak diterangkan, tidak dirinci cara mengukurnya.
Karena itu pula, deretan angka ini tidak dapat dibaca sebagai resep. Laporan tersebut menempatkan dirinya sebagai rujukan untuk seleksi atlet dan program pembinaan jangka panjang, bukan sebagai daftar latihan yang tinggal disalin, dan ia berhenti tepat sebelum pertanyaan yang paling ingin dijawab seorang pelatih: kalau kekuatan punggung memang bergerak paling seirama dengan faktor-faktor lain pada kelompok atlet ini, apa yang sebenarnya membentuk kekuatan itu lebih dulu. Pertanyaan itu oleh para penulisnya diserahkan kepada penelitian berikutnya.
Kembali ke kejanggalan di awal. Kabaddi tetap permainan mengelak, tetapi yang tertangkap oleh pengukuran di Badung bukan gerak mengelak itu, melainkan tubuh yang menahan, menggenggam, dan menarik ketika mengelak sudah gagal. Kelincahan tidak dibuang, ia tetap berada di dalam kelompok faktor dominan; yang tidak dimilikinya adalah keseiramaan dengan ukuran-ukuran tubuh lain, sesuatu yang justru dimiliki punggung dan genggaman tangan. Dan sejauh laporan ini bicara, hubungan itu baru sebatas bergerak bersama, belum saling menyebabkan.
















