Efikasi Diri dalam Olahraga: Bukan Sekadar Percaya Diri

Ilustrasi dua orang berpakaian olahraga berlari berdampingan di jalur taman kota

Ilustrasi dua orang berlari berdampingan di jalur taman kota. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Ada satu istilah dalam psikologi olahraga yang hampir selalu diterjemahkan keliru menjadi percaya diri, yaitu self-efficacy atau efikasi diri, keyakinan seseorang bahwa ia sanggup menuntaskan satu tugas yang spesifik. Bedanya begini: percaya diri adalah penilaian umum tentang diri sendiri, sedangkan efikasi diri adalah taksiran atas satu pekerjaan yang sedang berdiri di depan mata, misalnya menuntaskan putaran terakhir ketika kaki sudah terasa berat dan lawan sudah jauh di depan.

Istilah itulah yang dipetakan Nabella Ayu Wulan dan Dini Rahma Bintari, dua peneliti dari program Psikologi Terapan Olahraga, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, lewat artikel Self-Efficacy in Sports: A Bibliometric Study yang terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 10 Nomor 1, Juni 2025, halaman 94–115. Desain kajiannya bukan uji lapangan terhadap atlet, melainkan studi bibliometrik, yakni penghitungan sistematis atas metadata publikasi ilmiah yang sudah terbit — judul, penulis, afiliasi, tahun, kata kunci, dan jumlah sitasinya.

Yang dihitung memang bukan orang, melainkan dokumen. Bagian pembahasan menyebut 7.271 dokumen terbitan 1982 hingga 2025, ditarik dari dua pangkalan data internasional, Scopus dan Web of Science, dengan penelusuran dikerjakan pada 7 Maret 2025. Rinciannya didominasi artikel ilmiah sebanyak 6.551 dokumen, disusul 395 artikel tinjauan, 96 terbitan akses awal, 83 makalah prosiding, 58 bab buku, dan 12 publikasi yang sudah ditarik kembali oleh penerbitnya.

Efikasi Diri: Yakin Sanggup, Bukan Percaya Diri

Konsep ini pertama kali diperkenalkan Albert Bandura pada 1977 lewat teori kognitif sosial, kerangka yang menekankan bahwa keyakinan pribadi memengaruhi motivasi, daya tahan, dan performa seseorang. Untuk konteks olahraga, kedua peneliti memakai rumusan Feltz dan koleganya terbitan 2008. “Efikasi diri didefinisikan sebagai keyakinan atlet pada kemampuannya untuk berhasil dalam tugas-tugas tertentu,” tulis Nabella Ayu Wulan dan Dini Rahma Bintari. Kata penentunya ada di ujung kalimat: tugas tertentu, bukan olahraga secara keseluruhan.

Maksudnya, ukuran istilah ini selalu melekat pada satu pekerjaan yang bisa dibayangkan. Seorang pelari rekreasi bisa punya keyakinan tinggi bahwa ia sanggup berangkat berlari tiga kali sepekan, sekaligus keyakinan rendah bahwa ia sanggup menuntaskan lomba sepuluh kilometer. Kedua peneliti merangkum kepustakaan yang menautkan efikasi diri dengan terbentuknya kebiasaan berolahraga yang konsisten, bahkan pada orang yang sebelumnya sama sekali tidak aktif bergerak, serta dengan motivasi yang datang dari dalam diri.

Di sinilah contoh sehari-hari tadi mulai meleset. Literatur yang mereka rangkum menautkan efikasi diri bukan hanya dengan kemauan, melainkan juga dengan respons tubuh: denyut jantung, tingkat kelelahan, kecemasan menjelang pertandingan, daya tahan fisik, dan kecepatan pulih sesudah latihan berat. Kaitan itu, perlu ditegaskan, disajikan sebagai pola yang berulang muncul di kepustakaan, bukan sebagai rantai sebab-akibat yang sudah dibuktikan lewat percobaan terkendali di laboratorium.

Bibliometrik: Memetakan Rak, Bukan Membaca Isi

Bibliometrik adalah metode yang menghitung publikasi, sitasi, dan kata kunci untuk melihat pola sebuah bidang ilmu, ibarat mendata seluruh punggung buku di rak perpustakaan tanpa membuka satu pun halamannya. Penelusuran memakai gabungan kata kunci “self-efficacy”, “sports”, “physical activity”, dan “exercise” pada ruas judul, abstrak, dan kata kunci, dibatasi pada terbitan berbahasa Inggris berupa artikel jurnal, artikel tinjauan, dan makalah prosiding, tanpa batas waktu ke belakang sehingga terbitan paling awal ikut terjaring.

Pembersihan datanya memakai OpenRefine versi 3.7.6, perangkat lunak untuk merapikan metadata yang berantakan, lalu diubah ke format CSV dan diolah dengan paket Bibliometrix 4.1.2 di R Studio 2024.03.0. Visualisasi jejaringnya dikerjakan dengan VOSviewer, perangkat pemeta hubungan antarkata dan antarpenulis. Dua tekniknya adalah co-word, pemetaan kata kunci yang kerap muncul bersamaan dalam satu artikel, dan co-citation, pemetaan karya-karya yang kerap dikutip berbarengan sehingga terlihat karya mana yang menjadi rujukan bersama.

Baca juga Peneliti Universitas Brawijaya Deskripsikan Spesies Kumbang Baru dari Hutan Kagoshima

Hasil hitungannya rapi. Laju pertumbuhan publikasi tercatat 11,14 persen per tahun, tersebar di 1.724 sumber jurnal dan buku, dengan rata-rata 30,72 sitasi per dokumen. Pertumbuhannya berjenjang: tidak ada publikasi yang teridentifikasi pada 1982 sampai 1987, mulai muncul sporadis sejak 1988, tercatat 15 publikasi pada 1995, naik ke 67 publikasi pada 2010, lalu melampaui seratus judul per tahun sejak 2015. Usia rata-rata dokumen di dalam kumpulan itu 9,74 tahun.

Angka yang paling menarik justru yang menurun. Rata-rata sitasi artikel terbitan 1992 tercatat 171,14 dan terbitan 2001 mencapai 199,34, sementara artikel terbitan 2024 rata-rata hanya memperoleh satu sitasi. “Meskipun volume publikasi meningkat, dampak akademik per artikel menurun,” tulis kedua peneliti. Paper tidak membahas kemungkinan yang lebih sederhana di balik pola itu: artikel yang baru terbit belum punya cukup waktu untuk dikutip peneliti lain.

H-Indeks dan SCP: Menakar Produktif dan Bergaung

Untuk membandingkan penulis, kajian ini memakai h-indeks, angka yang menyatakan berapa banyak karya seorang peneliti yang masing-masing dikutip setidaknya sebanyak angka itu juga. Edward McAuley tercatat sebagai peneliti paling produktif dengan 118 publikasi dan 9.049 sitasi, h-indeks 56, serta g-indeks 93, yakni ukuran serupa yang memberi bobot lebih besar pada karya-karya yang paling banyak dikutip di dalam satu daftar. Dua angka itu dipakai berdampingan supaya jumlah karya tidak tertukar dengan pengaruhnya.

Pembandingnya membuat arti kata produktif jadi terang. Albert Bandura, orang yang memperkenalkan konsep ini, hanya punya 12 publikasi di dalam kumpulan data tersebut, tetapi mengumpulkan 16.205 sitasi, jumlah tertinggi di seluruh bidang. Di antara keduanya berdiri John Annesi dengan 86 publikasi, Robert Motl dengan 84 publikasi dan 4.947 sitasi, serta Ralf Schwarzer dengan 63 publikasi dan 5.589 sitasi, nama yang menautkan konsep ini dengan kajian kesehatan di luar arena pertandingan.

Daftar karya yang paling sering dikutip mempertegas ketimpangan itu. Artikel Bandura pada 2001 tentang teori kognitif sosial mengumpulkan 8.230 sitasi dan tulisannya pada 2004 tentang promosi kesehatan meraih 4.427 sitasi. Di bawahnya menyusul tinjauan Mark Conner dan koleganya pada 1998 tentang teori perilaku terencana dengan 2.060 sitasi, kajian Stewart Trost dan koleganya pada 2002 dengan 1.417 sitasi, serta karya Bess Marcus pada 1992 tentang tahapan perubahan perilaku berolahraga dengan 1.280 sitasi.

Baca juga Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024

Peta negaranya lebih timpang lagi. Amerika Serikat mencatat 10.939 publikasi dan 111.080 sitasi, dengan rata-rata sekitar 40,9 sitasi per publikasi, sementara University of Illinois tercatat sebagai institusi penyumbang terbanyak dengan 424 publikasi, jauh di atas lembaga mana pun. Sebagai pembanding sederhana, satu institusi itu sendirian menghasilkan karya lebih banyak daripada seluruh artikel bertema ini yang dimuat oleh jurnal paling produktif di bidang tersebut.

Dua singkatan muncul berulang di bagian ini. SCP atau single country publication berarti seluruh penulisnya berasal dari satu negara, sedangkan MCP atau multiple country publication berarti karyanya digarap lintas negara. Dari publikasi yang dianalisis, 90,18 persen tergolong SCP dan 9,82 persen MCP. Tiongkok dengan 2.547 publikasi justru mencatat porsi kolaborasi lintas negara yang lebih besar, 27,43 persen, dan Australia lebih besar lagi, 34,31 persen.

Jurnal yang paling sering memuat topik ini adalah Health Psychology dengan 151 artikel, h-indeks 53, dan 9.251 sitasi. Di bawahnya berdiri International Journal of Environmental Research and Public Health dengan 127 artikel, Frontiers in Psychology dengan 126 artikel, Psychology of Sport and Exercise dengan 109 artikel, serta Journal of Aging and Physical Activity dengan 91 artikel, yang menandai perhatian pada kelompok lanjut usia dan kebugarannya.

Motor Themes dan eHealth: Empat Kuadran Nasib Topik

Kata kunci yang dihitung memperlihatkan sebaran perhatian yang jauh dari merata. Istilah self-efficacy muncul 2.341 kali, physical activity 1.820 kali, dan exercise 1.163 kali. Sisanya jauh lebih tipis: motivasi 252 kali, obesitas 229 kali, rehabilitasi 208 kali, dukungan sosial 203 kali, remaja 191 kali, promosi kesehatan 171 kali, perubahan perilaku 157 kali, dan depresi 120 kali. Tiga kata pertama praktis mengisi hampir seluruh percakapan.

Kata-kata itu lalu ditempatkan pada peta tematik berisi empat kuadran. Motor themes, tema penggerak yang sudah mapan sekaligus sentral, diisi physical activity, motivation, dan obesity. Basic themes, tema dasar yang relevan tetapi masih berkembang di dalam dirinya sendiri, diisi self-efficacy, exercise, dan rehabilitation. Niche themes, tema khusus yang dalam tetapi sempit pergaulannya di dalam ekosistem riset, diwakili topik validitas dan reliabilitas alat ukur, dua hal yang menentukan apakah angka efikasi diri layak dipercaya.

Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia

Kuadran keempat yang paling menarik. Emerging themes, tema yang baru muncul di pinggir peta, diisi mHealth dan eHealth, yaitu layanan kesehatan lewat telepon genggam dan lewat perangkat digital pada umumnya. Bedanya begini: tiga kuadran pertama merangkum apa yang sudah dikerjakan bidang ini selama empat dekade, sedangkan kuadran keempat baru berisi kemungkinan yang belum tergarap dan belum banyak terhubung dengan tema lain.

Pemetaan tematiknya sendiri menghasilkan lima klaster besar: efikasi diri dalam aktivitas fisik dan olahraga, rehabilitasi dan kualitas hidup, perubahan perilaku dan nutrisi, kesehatan mental, serta populasi lanjut usia. Susunan itu memperlihatkan pergeseran yang perlahan, dari kata yang lahir untuk menjelaskan performa atlet menjadi kata yang dipakai untuk membicarakan pemulihan cedera, kebiasaan makan, dan mobilitas orang berusia lanjut, termasuk program yang dirancang untuk kelompok yang selama ini kurang terlayani.

Batas kajian ini perlu disebut apa adanya. Bibliometrik menghitung metadata, bukan menguji sebab-akibat, sehingga tak satu pun angkanya boleh dibaca sebagai bukti bahwa efikasi diri meningkatkan performa. Penelusurannya pun terbatas pada terbitan berbahasa Inggris di dua pangkalan data. Angkanya juga tidak selalu konsisten: abstrak menyebut lebih dari 3.000 publikasi sementara pembahasan menyebut 7.271 dokumen, dan jumlah terbitan 2024 tercatat 569 di satu bagian tetapi 151 di bagian lain.

Ketidakcocokan serupa muncul pada urutan negara dan rasio sitasi antarnegara, yang berbeda antara badan teks dan tabelnya, sehingga peringkat di luar Amerika Serikat sebaiknya dibaca dengan hati-hati. Kedua peneliti sendiri menutup laporan dengan rekomendasi yang mengakui batas itu: studi longitudinal, yakni pengamatan atas orang yang sama dalam rentang waktu panjang, dan studi eksperimental diperlukan untuk memahami mekanisme sebab efikasi diri dalam olahraga dan rehabilitasi.

Di situlah batas kata efikasi diri sebenarnya berdiri. Peta setebal ribuan dokumen ini mengukur seberapa sering istilah tersebut dipakai, siapa yang memakainya, jurnal mana yang memuatnya, dan di negara mana ia paling banyak ditulis. Yang tidak tercakup olehnya justru pertanyaan yang membuat istilah itu lahir pada 1977: apakah keyakinan seorang pelari bahwa ia sanggup menuntaskan putaran terakhir memang benar-benar membuatnya sanggup, dan sebesar apa selisihnya bila keyakinan itu tidak ada.

Baca Juga

Ilustrasi seorang petinju bersarung tangan berdiri dengan tatapan terfokus di dalam sasana latihan
131 Artikel Mental Imagery Atlet, Satu Angka Janggal
Akar napas mangrove mencuat dari lumpur saat air laut surut.
Sulfat Dikira Mengunci Metana Mangrove, Ternyata Tidak
Jentik nyamuk di dalam wadah penampungan air.
Empat Indeks Jentik dan Peta Kasus DBD Sukoharjo
Ilustrasi sekelompok atlet berlatih bola voli di dalam gedung olahraga berlantai kayu
Di Kabaddi, Otot Punggung Mengalahkan Kelincahan
Tiga siswa berseragam sekolah menengah duduk di meja ruang kelas berdinding bata
Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak
Seorang tenaga kesehatan berjas putih memberikan penjelasan kepada seorang perempuan di ruang periksa berperalatan ultrasonografi
Salah Paham Gizi Ibu Hamil: Protein Saja Tak Cukup