Kepuasan Wisatawan Ke’te Kesu’ Berhenti di Angka 3,96

Kepuasan Wisatawan Ke’te Kesu’ Berhenti di Angka 3,96

Deretan rumah adat tongkonan di kawasan wisata budaya Ke’te Kesu’, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. [Foto: Wikimedia Commons/Cahyo Ramadhani (CC BY-SA 3.0)]

Cekricek.id — Hitungan itu berhenti di angka delapan. Di lokasi objek wisata Ke’te Kesu’, Toraja Utara, setiap rombongan wisatawan yang masuk dihitung sebagai satu unit, dan begitu hitungan menyentuh kelipatan delapan, rombongan itulah yang dipilih. Satu orang ditunjuk mewakili. Kepadanya disodorkan lembar berisi pernyataan yang harus dinilai dari satu sampai lima, dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju. Hitungan kemudian dimulai lagi dari nol, terus berulang sampai lembar keseratus terisi.

Prosedur itu dicatat Suasanto Febrian dan Sakaria Anwar, dua peneliti dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin, dalam artikel Warisan budaya Takbenda dan Tingkat Kepuasan Pengunjung Objek Wisata Ke’te Kesu’ Toraja Utara. Artikel itu terbit pada 2026 di Jurnal Ilmu Budaya, Volume X, Nomor 14, No. 1. Pendekatannya kuantitatif, respondennya seratus orang, dan seluruh data primer diambil langsung di lokasi objek wisata dengan teknik systematic random sampling berinterval delapan.

Yang hendak diukur bukan bangunannya. Kuesioner itu menyasar hal-hal yang tidak bisa dipegang: sikap dan interaksi sosial masyarakat setempat, tradisi dan aktivitas budaya, kepercayaan dan spiritualitas, serta bahasa lokal dan penyampaian informasi budaya. Empat indikator tersebut diturunkan dari tiga aspek yang dirujuk penulis dari dokumen UNESCO 2011, yakni aspek sosial, aspek budaya, dan aspek nilai serta pengetahuan. Lembar itu boleh diisi sendiri oleh responden, boleh pula dipandu peneliti lewat wawancara langsung di tempat.

Yang Mereka Datangi Sudah Berdiri Empat Abad Sebelum Kuesioner Itu Dibagikan

Ke’te Kesu’ bukan panggung yang dibangun untuk wisatawan. Ia perkampungan adat. Rumah adat tongkonan yang berjajar di sana diperkirakan telah berusia sekitar 400 tahun, angka yang dikutip penulis dari National Geographic Indonesia terbitan 2018. Di tebing bukit karst di belakangnya terdapat kuburan batu. Di halamannya berdiri menhir atau tugu batu yang oleh masyarakat setempat disebut simbuang batu, penanda penghormatan tertinggi kepada leluhur yang telah meninggal. Penulis merujuk kajian Rio dan rekan pada 2025 yang menempatkan tongkonan, situs kuburan batu, dan menhir itu sebagai daya tarik utama bagi wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.

Pada dinding tongkonan itu melekat ukiran yang disebut Passura’. Penulis merujuk kajian Matana dan rekan pada 2024 yang menyebut ukiran tersebut tidak berhenti pada urusan estetika, melainkan memuat nilai budaya, nilai sosial, dan makna spiritual yang dalam. Ukiran itu bagian dari warisan yang berwujud. Yang tidak berwujud justru berlangsung di sekelilingnya, dalam adat istiadat, larangan, dan norma sosial yang masih dipegang warga dan wajib dipatuhi pula oleh tamu yang datang.

Yang paling dikenal dari Toraja adalah upacara kematian Rambu Solo’. Penulis mengutip Lumbaa dan rekan pada 2023 yang menempatkan upacara itu sebagai penghormatan terakhir kepada leluhur sekaligus bagian penting dalam perjalanan roh menuju alam baka. Prosesinya panjang, bisa mencapai tujuh hari, dan melibatkan pengorbanan babi serta kerbau dalam jumlah cukup banyak. Wisatawan yang kebetulan datang pada waktu yang tepat berkesempatan menyaksikannya langsung, bukan lewat pertunjukan yang disusun untuk mereka.

Baca juga Pengaruh Islam terhadap Budaya Melayu: Warisan yang Hidup hingga Kini

Jumlah yang datang naik terus. Mengacu pada data Dinas Pariwisata Toraja Utara tahun 2025 yang dikutip di artikel itu, kunjungan ke Ke’te Kesu’ tercatat 108.381 orang pada 2022, naik menjadi 123.499 orang pada 2023, lalu naik lagi menjadi 131.468 pengunjung pada 2024. Tiga tahun berturut-turut kurvanya menanjak, dan penulis membaca kenaikan itu sebagai cerminan kemampuan Ke’te Kesu’ memberikan pengalaman wisata yang berkesan bagi para tamunya. Dari arus itulah seratus responden penelitian ini disaring, satu demi satu, satu wakil untuk tiap kelipatan delapan rombongan.

Siapa saja mereka? Komposisi jenis kelaminnya nyaris seimbang, 51 laki-laki dan 49 perempuan. Usianya menumpuk di satu titik: 58 dari seratus responden berada pada rentang 20 sampai 29 tahun, disusul 24 orang pada rentang 30 sampai 39 tahun, delapan orang berusia 10 sampai 19 tahun, tujuh orang pada rentang 40 sampai 49 tahun, dan tiga orang berusia di atas 50 tahun. Sebanyak 45 orang baru pertama kali menginjak Ke’te Kesu’, sementara 48 orang sudah datang dua sampai empat kali dan tujuh orang lebih dari lima kali.

Empat Angka yang Berdempetan di Rentang 4,09 sampai 4,14

Kolom pertama diisi sikap dan interaksi sosial masyarakat lokal. Skornya 4,13 dan masuk kategori sangat baik. Menurut penulis, angka itu menunjukkan warga setempat bersikap dan berperilaku dengan baik, terhadap sesama maupun terhadap wisatawan yang berkunjung. Dalam pembahasannya, hal tersebut dibaca sebagai nilai dan norma sosial yang masih terpelihara, terlihat dari keramahan warga, interaksi yang harmonis, serta rasa diterima yang dirasakan pengunjung selama berada di kawasan itu. Nilai sosial semacam itu, tulis mereka, tidak hanya menjaga kohesi masyarakat, tetapi juga memperkuat autentisitas destinasi wisata budaya.

Angka tertinggi jatuh pada indikator kedua, tradisi dan aktivitas budaya, dengan skor rata-rata 4,14. “Capaian skor tersebut mengindikasikan bahwa wisatawan menilai tradisi dan aktivitas budaya yang ditampilkan di objek wisata Ke’te Kesu’ masih terjaga keasliannya, hidup dalam keseharian, serta mampu memberikan pengalaman budaya yang bermakna dan autentik bagi mereka yang berkunjung,” tulis Suasanto Febrian dan Sakaria Anwar. Kata kuncinya keseharian. Tradisi yang dinilai tinggi itu bukan hanya yang muncul dalam ritual besar, melainkan juga yang menempel pada kebiasaan sehari-hari warga.

Baca juga 53 Mahasiswa Menguji Rute Sepeda Cagar Budaya Yogyakarta

Indikator ketiga, kepercayaan dan spiritualitas, mendapat 4,13. Penulis membacanya sebagai tanda bahwa sistem keyakinan dan praktik ritual di Ke’te Kesu’ masih terpelihara dan terbaca dari luar, lewat simbol budaya, praktik tradisional, serta cara masyarakat memaknai lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Unsur itu, tulis mereka, menghadirkan nuansa sakral yang memperkaya pengalaman pengunjung. Yang diukur di sini tetap persepsi wisatawan atas apa yang mereka amati, bukan keyakinan warga itu sendiri.

Indikator terakhir, bahasa lokal dan informasi budaya, memperoleh 4,09. Itu angka paling rendah di tabel, dan tetap dikategorikan sangat baik. Jarak antara indikator tertinggi dan terendah hanya 0,05 poin, terlalu tipis untuk dibaca sebagai peringkat. Penulis tidak melaporkan uji yang membandingkan keempat indikator satu sama lain, dan tidak pula menjelaskan mengapa dimensi bahasa berada sedikit di bawah tiga indikator lainnya. Yang bisa dikatakan dari tabel itu cuma satu hal: keempatnya berdempetan di rentang 4,09 sampai 4,14, dan seluruhnya jatuh di kategori tertinggi.

Lalu Kolom Kepuasan Turun ke Bawah Angka Empat

Tabel berikutnya mengukur hal yang berbeda: kepuasan pengunjung, bukan penilaian mereka atas kelestarian budaya. Dimensi pertama adalah kepuasan kognitif, yang menurut penulis berkaitan dengan proses berpikir, memahami, dan menilai selama berkunjung. Ia diukur lewat empat aspek, yaitu pengetahuan budaya, pengalaman belajar, ketersediaan informasi, dan kemudahan pemahaman destinasi. Skor rata-ratanya 3,93, masuk kategori puas. Bukan sangat puas. Dalam pembahasannya, penulis mencontohkan kepuasan jenis ini terbentuk lewat pengalaman belajar langsung, misalnya ketika wisatawan mengamati arsitektur rumah adat tongkonan atau mencoba memahami makna ritual adat yang masih dijalankan masyarakat Toraja.

Dimensi kedua, kepuasan afektif, mendapat 3,96 dan juga berhenti di kategori puas. Yang ditangkap di sini respons emosional: rasa senang, nyaman, kagum, rileks, serta keterikatan personal terhadap destinasi. Penulis menyandarkan pembacaannya pada penelitian Al-Msallam terbitan 2020 tentang peran emosi wisatawan di Swiss, yang menempatkan perasaan dan suasana hati sebagai hasil interaksi dengan lingkungan destinasi, atraksi budaya, dan layanan yang diterima selama kunjungan. Emosi positif itu, menurut penulis, mendorong perilaku lanjutan berupa keinginan berkunjung kembali, membagikan pengalaman kepada orang lain, dan merekomendasikan destinasi kepada calon wisatawan lain.

Baca juga Pandemi Covid-19 Menekan Angka Harapan Hidup Global

Ada jarak yang menganga di antara dua tabel itu. Kelestarian budaya dinilai sangat baik di semua indikator, sementara kepuasan berhenti di kategori puas pada kedua dimensi. Penelitian ini tidak menghitung selisih tersebut sebagai temuan tersendiri, dan memang keduanya tidak mengukur objek yang sama. Namun angkanya tercetak berdampingan di artikel yang sama: 4,09 sampai 4,14 pada satu tabel, 3,93 dan 3,96 pada tabel berikutnya. Satu-satunya petunjuk loyalitas yang dipegang penulis datang dari kolom lain, yakni lebih dari separuh responden yang mengaku sudah datang lebih dari sekali.

Batas penelitian ini perlu disebut dengan jujur. Respondennya seratus orang di satu objek wisata, diambil sekali jalan, dan artikel itu tidak menyebutkan rentang waktu pengambilan datanya. Lebih dari separuh responden berumur 20 sampai 29 tahun, sehingga gambarannya condong ke pengunjung muda. Yang direkam adalah persepsi wisatawan, bukan pengukuran langsung atas kelestarian budaya. Penulis juga tidak melaporkan uji statistik yang membuktikan hubungan sebab-akibat antara kelestarian budaya dan kepuasan; sebagian pembahasan bersandar pada data sekunder dari jurnal-jurnal ilmiah yang relevan.

Di bagian kesimpulan, kedua peneliti menarik garis yang lebih jauh dari tabel. Kelestarian budaya takbenda di Ke’te Kesu’ mereka nilai berada pada kategori sangat baik, dan tingkat kepuasan wisatawan pada kategori puas yang berpotensi mendorong kunjungan ulang. “Dengan demikian, pelestarian budaya takbenda bukan sekadar kewajiban moral, melainkan juga merupakan strategi pariwisata yang efektif dalam membangun keberlanjutan destinasi wisata Ke’te Kesu’ di masa mendatang,” tulis Suasanto Febrian dan Sakaria Anwar.

Di kawasan itu sendiri tidak ada yang berubah oleh angka-angka tadi. Tongkonan berumur empat abad tetap menghadap ke arah yang sama. Kuburan batu tetap menempel di tebing karst. Ukiran Passura’ tetap di dinding kayunya. Rombongan berikutnya datang, dihitung sebagai satu unit, lalu satu lagi, dan satu lagi, sampai hitungan menyentuh delapan dan satu orang di antara mereka diminta berhenti sebentar untuk mengisi lembar bernomor satu sampai lima.

Baca Juga

Warga Enggano berfoto bersama di bawah pohon kelapa dalam dokumentasi KITLV.
Rejang Terancam, Enggano Justru Lebih Terjaga
Dirham perak Umayyah koleksi Los Angeles County Museum of Art.
Tiga Koin Umayyah dari Lubang Tambang Emas Jago-Jago
Ilustrasi ruang tamu rumah panggung kayu adat dengan tiang berukir, lantai tikar anyaman, dua kursi rendah berhadapan, dan meja pendek berisi wadah sirih kuningan, cangkir keramik, serta kain terlipat
Kutukan yang Tak Pernah Terbukti di Layar Film Lakuna
Ilustrasi ruang pamer museum komunitas di pedesaan Jawa Tengah dengan lemari kaca dan rak kayu berisi fosil rahang serta tulang, seorang pemandu berkemeja batik menunjuk vitrin, dan rombongan murid berseragam menyimak
Museum Purbakala Bumiayu, Tumbuh dari Halaman Rumah
Candi Morangan Sengaja Tidak Dipugar Seluruhnya
Candi Morangan Sengaja Tidak Dipugar Seluruhnya
Ilustrasi dinding ceruk batu gamping berlapis kerak dengan gambar cadas berpigmen merah pudar bermotif figur manusia berkepala berjumbai, ikan, penyu, dan perahu, dengan lanskap karst serta tambak terlihat di kejauhan
Perahu dan Pemanah di Gambar Cadas Leang Ulu Tedong