Makna Me-Time Bergeser pada Pasangan Beda Pulau

Seorang perempuan menikmati waktu sendiri di balkon sambil memandang kota.

Ilustrasi seorang perempuan menikmati waktu sendiri di balkon. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Ni Luh Putu Chandra Dewi menekan tombol panggil, dan di ujung sana seorang laki-laki berinisial TAS mengangkat telepon dari mes perusahaan tempatnya bekerja di Kalimantan. Usianya 46 tahun, istri dan tiga anaknya tinggal di Ngawi, dan mereka sudah lama menjalani hidup di dua pulau yang berbeda. Chandra Dewi tidak menanyakan gaji atau beban kerja. Ia menanyakan satu hal yang jarang diukur siapa pun: kapan TAS merasa punya waktu untuk dirinya sendiri, apa yang ia kerjakan dengan waktu itu, dan apa yang berubah pada dirinya sesudahnya.

Chandra Dewi adalah mahasiswa Program Studi Magister Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya. Bersama Suryanto, pengajar di fakultas yang sama, ia menulis “Me-time is…”: Exploring Me-time of Long-Distance Relationship Working Couples, yang terbit di Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology, Volume 13 Nomor 1 tahun 2026, halaman 135–159. Naskah itu dikirim pada 1 Mei 2025, direvisi pada November tahun yang sama, diterima pada 6 Januari 2026, dan akhirnya terbit daring pada 25 Mei 2026.

Istilah me-time terdengar remeh, dan justru itu yang membuat Chandra Dewi tertarik. Dalam kepustakaan yang ia rujuk, antara lain tulisan Lewis pada 2022, me-time dipahami sebagai pengalaman menyendiri yang memberi kepuasan pribadi karena orangnya sendiri yang memilih kapan dan aktivitas apa yang dijalani. Persoalannya, tulis Chandra Dewi, eksplorasi tentang pengalaman itu masih sangat terbatas di Indonesia, apalagi pada pasangan yang sama-sama bekerja sambil menjalani hubungan jarak jauh, dan yang tidak punya pilihan untuk pulang setiap sore.

Mencari Tiga Pasangan yang Rumahnya Beda Pulau

Chandra Dewi tidak menjaring siapa saja. Ia menetapkan syarat yang cukup ketat: pasangan warga negara Indonesia, keduanya bekerja pada jenis pekerjaan yang diakui Undang-Undang Ketenagakerjaan, sudah menikah lebih dari lima tahun, memiliki sedikitnya dua anak, dan berpisah tempat tinggal karena tuntutan pekerjaan, bukan karena persoalan rumah tangga. Jarak yang dimaksud pun bukan jarak antarkecamatan, melainkan beda provinsi, beda pulau, atau beda negara, sehingga pertemuan tatap muka hanya mungkin sesekali dalam setahun.

Dari saringan itu tersisa tiga pasangan, enam orang, berusia 43 sampai 46 tahun, semuanya berpendidikan tinggi. TAS bekerja di Kalimantan, sementara istrinya, RF, berjualan di Ngawi sambil mengasuh tiga anak. AA menjalani hari-harinya di atas kapal, jauh dari AS yang tinggal di Bali bersama dua anak mereka. DYI bekerja di Jakarta, sedangkan istrinya, K, berada di Surabaya. Chandra Dewi mewawancarai keenamnya satu per satu, bukan sebagai pasangan, agar jawaban suami tidak menyetir jawaban istri.

Tujuh Puluh Lima Menit Lewat Panggilan Suara

Wawancara dilakukan Chandra Dewi lewat panggilan audio, sekitar 75 menit untuk tiap orang, dengan daftar pertanyaan semi-terstruktur. Pendekatannya fenomenologi dengan analisis deskriptif, mengikuti panduan Willig yang terbit pada 2013. Sebelum menafsirkan, ia menjalankan apa yang dalam tradisi itu disebut epoche dan bracketing: menunda dugaannya sendiri tentang apa itu me-time, supaya jawaban partisipan tidak buru-buru dipaksa masuk ke dalam kategori yang sudah tersedia di kepalanya sebagai peneliti sekaligus perempuan bekerja.

Baca juga Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak

Jawaban TAS memperlihatkan mengapa penundaan itu perlu. Dalam wawancara itu ia mengatakan, “Bagi saya ya me-time itu tidak hanya meninjau dari diri saya sendiri tapi juga bagaimana saya memuaskan orang lain yang menjadi keluarga inti saya ya.” Waktu untuk diri sendiri, bagi TAS, baru terasa sebagai hak setelah tanggung jawabnya sebagai ayah ia anggap tertunaikan. Chandra Dewi menemukan pola yang mirip pada partisipan lain: me-time datang belakangan, sesudah kewajiban, bukan mendahuluinya.

RF menjawab dari sisi yang lain lagi. Bagi perempuan 46 tahun yang mengurus dagangan dan tiga anak tanpa suami di rumah itu, me-time muncul di sela rutinitas: ketika waktu istirahat tiba dan ia sempat mengobrol dengan suaminya di telepon, yang ia sebut seperti mengisi ulang semangat. Hari Minggu, saat ia meliburkan jualannya dan mengajak anak-anak jalan-jalan lalu mencari makan, ia juga menyebutnya me-time. Chandra Dewi menempatkan jawaban RF pada dua karakter makna yang berbeda sekaligus.

Dua Bulan Catatan yang Diisi Sendiri

Wawancara saja dinilai Chandra Dewi belum cukup, karena ingatan orang tentang waktu luang mudah dirapikan setelah kejadian berlalu. Ia meminta keenam partisipan mengisi tabel laporan pribadi tentang kegiatan me-time mereka sepanjang November–Desember 2024, lengkap dengan kondisi dan perasaan sebelum serta sesudah kegiatan itu dijalani. Laporan dikirim lewat pesan teks dan tidak serempak, sehingga partisipan bisa menulis pada saat kegiatannya benar-benar baru saja mereka lakukan, bukan dari ingatan berminggu-minggu kemudian.

Dari catatan itu muncul hal-hal kecil yang tidak selalu terucap dalam wawancara. TAS menyebut pot-pot tanaman dan sebatang jambu di depan mes; pulang kerja, menyentuh tanaman itu sebentar saja sudah membuatnya puas. AA mengejar target langkah harian di kapal, mula-mula dengan jogging lalu berpindah ke jalan cepat dan latihan beban, dan merasa tubuhnya lebih bugar. AS membeli bunga tiap Sabtu untuk dirangkai di rumah, sementara K memasak, creambath, dan berjalan-jalan tanpa niat membeli apa pun.

Baca juga Talaqqi dan Birokrasi: Dua Kurikulum dalam Satu Hari Santri

Satu partisipan berdiri sendiri. DYI, 45 tahun, yang bekerja di Jakarta, mengatakan kepada Chandra Dewi, “Me-time ndak. Saya ga pernah… memang alokasinya waktu ngga ada.” Ia menggambarkan harinya sebagai pulang kerja, mandi, makan, lalu menelepon keluarga sampai tertidur, dan menyebut berdoa sebagai satu-satunya waktu yang benar-benar miliknya. Waktu luang yang tersedia tidak ia rasakan sebagai jatah pribadi, dan ia mengaku tidak terlalu bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.

Lima Makna dan Batas yang Diakui Sendiri

Setelah membaca ulang verbatim, mengelompokkan tema antarsubjek, lalu menyaringnya bertahap sampai terbentuk peta akhir, Chandra Dewi dan Suryanto sampai pada lima karakter kualitatif makna me-time: kebutuhan dan penghargaan diri, pengisi ulang energi diri, pemenuhan pribadi, kepuasan bersama anak, serta pelepasan diri sementara dari tuntutan peran. Yang disepakati semua partisipan hanya karakter pertama. Karakter kelima justru muncul pada satu orang saja, yaitu K, istri DYI yang tinggal di Surabaya.

Temuan kedua menyangkut pergeseran. Sebelum berpisah kota, tulis Chandra Dewi, me-time para partisipan banyak berbentuk pengalaman bersama: keluar berdua, makan berdua, menonton berdua. Setelah terpisah, bentuknya berubah menjadi kegiatan yang lebih individual dan bermakna personal, seperti olahraga AA di sela jam istirahat kapal atau bunga mingguan AS di Bali. Pasangan DYI dan K tidak mengalami pergeseran itu, sebab mereka memang sudah berjauhan sejak awal pernikahan dan tidak punya kebiasaan bersama yang hilang.

Chandra Dewi dan Suryanto juga menuliskan satu hal yang mudah disalahpahami: frekuensi me-time tidak menentukan kesejahteraan diri, khususnya pada perempuan, meskipun keduanya tampak berkaitan pada para partisipan. Yang lebih menentukan, menurut analisis mereka, adalah konsistensi, dan konsistensi itu ditopang dua hal — otonomi atas waktu serta rasa memiliki waktu tersebut. DYI, yang merasa tidak memegang keduanya karena hidupnya tersandera jarak dan jadwal, adalah partisipan dengan gambaran kesejahteraan paling rendah.

Baca juga Riset Wacana: Kolom Komentar Ikut Menyusun Legitimasi Politik

Karena itu Chandra Dewi menolak membaca me-time sebagai kegemaran individualistis yang diimpor dari luar. Dalam pembahasannya ia menyebut otonomi relasional, yaitu otonomi yang tidak hanya berarti kebebasan pribadi tetapi juga kemampuan menjaga hubungan tetap harmonis dengan nilai, budaya, dan adat setempat. Pada masyarakat kolektivistik seperti Indonesia, tulis Chandra Dewi dan Suryanto, me-time berfungsi sebagai cara menata kembali keseimbangan peran agar orangnya tetap sanggup memenuhi kewajiban terhadap keluarga dan pekerjaan.

Batas penelitian ini diakui penulisnya sendiri. Keenam partisipan berpendidikan tinggi dan berada pada rentang usia yang berdekatan, sehingga hasilnya mungkin berbeda pada orang dengan latar pendidikan menengah, kelompok marginal, atau kelompok umur lain. “Hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi langsung pada konteks dan keadaan yang berbeda, tetapi dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya tentang me-time,” tulis Chandra Dewi dan Suryanto pada bagian penutup artikel mereka.

Peringatan itu perlu dipegang pembaca. Tiga pasangan bukan potret pekerja Indonesia yang berjauhan, dan fenomenologi memang tidak dirancang untuk membuktikan bahwa me-time menyebabkan kesejahteraan; ia hanya memerikan bagaimana pengalaman itu dimaknai orang yang menjalaninya. Chandra Dewi juga mencatat bahwa kajian tentang me-time masih sedikit, sehingga kerangkanya bersandar pada perspektif penelitian terdahulu, termasuk temuan Alverina dan kawan-kawan pada 2024 bahwa makna me-time berubah mengikuti tahap kehidupan seseorang.

Yang tersisa dari kerja Chandra Dewi adalah cara bertanya yang sederhana dan bisa ditiru siapa saja: bukan berapa lama seseorang beristirahat, melainkan apakah ia merasa waktu itu miliknya sendiri. Pertanyaan itulah yang ia ajukan kepada TAS di mes Kalimantan, kepada RF di antara dagangannya di Ngawi, dan kepada DYI yang menjawab bahwa jatah waktu semacam itu tidak pernah ada. Jawaban terakhir itu, bagi Chandra Dewi, sama pentingnya dengan jawaban-jawaban yang lain.

Baca Juga

Sesi pengenalan prototipe produk olahan rempah dalam forum diskusi bersama warga di Kawasan Transmigrasi Bungku, Morowali.
Tim UNAIR Olah Lengkuas Jadi Serundeng di Morowali
Peserta pelatihan kader tangguh bencana Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga berfoto bersama di Manokwari, Papua Barat.
UNAIR Siapkan Kader Tangguh Bencana di Manokwari
Dokter spesialis THT-BKL Universitas Airlangga Rosa Falerina di ruang kerjanya.
Pakar UNAIR: Sound Horeg Bisa Picu Tuli Permanen
Seorang doktor baru bertoga menerima map penghargaan dari pimpinan sidang dalam ujian terbuka di ruang sidang kampus
Disertasi UGM: Kemampuan Ibu Berefleksi atas Trauma Menentukan Pola Pengasuhan
Bagaimana Otak dan Tubuh Bereaksi terhadap Ancaman?
Bagaimana Otak dan Tubuh Bereaksi terhadap Ancaman?
Cekricek.id - Banyak orang terkadang tidak sadar bahwasanya ia sedang berada dalam hubungan yang toxic. Kenali 3 tanda berikut ini
Waspada, Kenali 3 Tanda Ini Jika Ada Dalam Hubungan Toxic