Cekricek.id — Trauma masa kecil yang dibawa seorang ibu tidak otomatis membuatnya gagal mengasuh anaknya. Yang menentukan adalah kemampuannya berefleksi atas trauma itu. Kesimpulan tersebut dipaparkan Radhiatul Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam ujian doktor di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (8/8/2026).
Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, ugm.ac.id, Selasa (11/8/2026), disertasi Fitri berjudul Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Kompetensi Pengasuhan. Ia dibimbing promotor Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog, dengan ko-promotor Dr. Nita Handayani dari UIN Sunan Kalijaga.
“Trauma itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang itu tidak kompeten dalam mengasuh anak. Reflective functioning trauma inilah yang menjadi mediator terhadap kemampuan dia dalam mengasuh anak,” kata Fitri.
Baca juga: Psikolog UMM Ingatkan Guru Tak Buru-buru Melabeli Anak Berkebutuhan Khusus
Tiga Lapis Penelitian
Penelitian itu disusun dalam tiga tahap yang saling menopang. Tahap pertama mengadaptasi dan menguji validitas Failure to Mentalize Trauma Questionnaire (FMTQ) untuk konteks Indonesia, alat ukur yang dipakai menilai sejauh mana seseorang mampu merefleksikan pengalaman traumatiknya.
“FMTQ ini bisa secara valid digunakan untuk mengukur apakah tingkat seseorang mampu move on atau berefleksi terhadap traumanya ataupun tidak,” ujar Fitri.
Tahap kedua menyiapkan bahan uji yang selama ini menjadi kendala penelitian sejenis di Indonesia: stimulus ekspresi wajah anak. Fitri mengembangkan gambar ekspresi wajah anak Indonesia berusia dua sampai delapan tahun yang dihasilkan dengan bantuan kecerdasan buatan, sehingga wajah yang ditunjukkan kepada partisipan tidak lagi berasal dari kumpulan foto anak Barat.
Pilihan itu bukan sekadar soal kemiripan rupa. Penelitian yang mengukur reaksi orang tua terhadap wajah anak bergantung pada seberapa wajar rangsang yang ditunjukkan; wajah yang terasa asing dapat menghasilkan respons yang tidak mencerminkan keseharian partisipan.
Tahap ketiga masuk ke ranah elektrofisiologi. Respons otak para ibu terhadap ekspresi wajah anak direkam lewat pengukuran event-related potential dan analisis functional connectivity pada rekaman elektroensefalografi.
Baca juga: UGM Kembangkan TBScreen.AI, Alat Bantu Skrining Tuberkulosis untuk Wilayah 3T
Yang Terbaca dari Rekaman Otak
Hasilnya membedakan dua kelompok. Ibu dengan kemampuan refleksi trauma yang rendah menunjukkan kewaspadaan berlebihan terhadap ekspresi emosi anak. Pada kelompok ini, kemampuan meregulasi emosi justru melemah ketika berhadapan dengan wajah anak yang menampilkan emosi negatif.
“Kemampuan orang tua ini dalam meregulasi emosinya mengalami pelemahan,” kata Fitri.
Sebaliknya, ibu dengan kemampuan refleksi yang tinggi memperlihatkan kelenturan neural yang lebih baik dan respons yang lebih terkendali terhadap rangsang emosi anaknya. Perbedaan itulah yang menurut Fitri menjadi celah untuk memutus rantai trauma antargenerasi: yang diwariskan bukan traumanya, melainkan cara seseorang berhenti atau tidak berhenti pada trauma tersebut.
Temuan ini menempatkan intervensi pengasuhan pada titik yang berbeda dari sekadar pelatihan keterampilan mengasuh. Sasarannya adalah kemampuan orang tua memahami pengalamannya sendiri lebih dahulu, sebelum ia diminta memahami anaknya.
Baca juga: Guru Besar UGM: Penganggur Lulusan Perguruan Tinggi Tembus 1,03 Juta Orang




















