- Sekolah Filipina tutup Maret 2020 dan baru kembali tatap muka Agustus 2022, setelah 29 bulan
- Tim Allison Hsu mewawancarai 67 siswa, 17 pengasuh, 12 pasang orang tua-anak, dan 11 pejabat di Metro Manila
- Siswa mengaku motivasi turun, guru tak akrab platform daring, dan tugas justru bertambah
- Setelah kembali ke kelas, siswa merasa tertinggal, takut presentasi, dan canggung dengan teman
Daftar Isi
Allison Hsu datang ke Metro Manila setahun setelah sekolah-sekolah di sana kembali membuka pintu kelasnya. Peneliti dari ICAP at Columbia University, Mailman School of Public Health, New York, itu ingin tahu apa yang tersisa pada anak-anak setelah 29 bulan tidak bertemu guru dan teman secara langsung. Filipina, tulis Hsu, mengalami salah satu penutupan sekolah terlama di dunia selama pandemi COVID-19.
Hasil kerja Hsu bersama Jennifer M. Zech, Allison Zerbe, Jyn Allec Samaniego, Cherry Maramag, Mary Christine Castro, Loreto Roquero Jr., dan Elaine J. Abrams terbit sebagai Behind the screens: perceived impact of COVID-19 on education and the learning environment among school-aged children in the Philippines di BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Hsu menulis draf pertamanya; Samaniego, Maramag, dan Castro dari Nutrition Center of the Philippines memimpin pengumpulan dan analisis data di lapangan.
Yang mereka temui antara Juni dan November 2023 adalah 67 siswa berusia 12 sampai 17 tahun dalam sepuluh diskusi kelompok, 17 pengasuh dalam empat diskusi kelompok, 12 pasangan orang tua dan anak berusia 8 sampai 11 tahun, serta 11 pemangku kepentingan. Di antara yang terakhir itu, kata Hsu dan kawan-kawan, ada kepala sekolah, pejabat Department of Education, wakil pemerintah daerah, dan psikolog dari lembaga nirlaba.
Menyusun ulang garis waktu penutupan
Sebelum bertanya, tim Hsu menyusun dulu apa yang terjadi. Sekolah di Filipina tutup pada Maret 2020, tidak lama setelah WHO menyatakan pandemi, dan hampir 25 juta siswa terputus dari kelas. Dari Maret sampai Oktober 2020 tidak ada sekolah sama sekali. Baru sesudah itu pembelajaran jarak jauh dimulai lewat kelas daring dan modul cetak yang dibagikan serta dikumpulkan guru.
Pada Agustus 2022, setelah 29 bulan, sekolah mulai dibuka untuk tatap muka. Sekolah negeri masih menjalankan pola campuran sampai November 2022, sementara sekolah swasta diizinkan meneruskannya sampai tahun ajaran 2023–2024. Hsu menempatkan wawancaranya kira-kira setahun setelah sekolah dibuka penuh, supaya peserta bisa menengok tiga masa sekaligus: penutupan mendadak, belajar dari rumah, dan kembali ke kelas.
Lima sekolah yang dipilih Samaniego, Maramag, dan Castro tutup 29 sampai 30 bulan. Tiga di antaranya sekolah negeri, dua sekolah swasta, dan satu sekolah swasta itu berbiaya tinggi. Empat dari lima sekolah, tulis tim Hsu, melayani keluarga berpenghasilan rendah sampai menengah di Metro Manila. Latar itu penting karena paper menyebut Filipina menduduki peringkat terbawah PISA 2018, ke-78 dari 78 negara.
Mendengar rumah yang berubah jadi kelas
Cerita pertama yang didengar tim Hsu adalah soal rumah. Ketika pembelajaran pindah ke rumah, rumah berubah menjadi ruang yang sesak: orang tua bekerja dari rumah, kakak-adik sama-sama masuk kelas daring, dan televisi serta internet selalu dalam jangkauan. Siswa berusia 12 tahun ke atas sering diminta membantu urusan rumah tangga, sehingga tugas sekolah dan pekerjaan rumah saling berebut waktu.
Seorang siswa laki-laki 12–14 tahun dari sekolah negeri mengatakan kepada tim Hsu bahwa tugas sekolahnya menumpuk karena pekerjaan rumah juga banyak, dan ia tidak bisa lagi mendahulukan sekolah. Seorang siswi seusianya mengaku menonton TikTok ketika bosan, dan itu menyenangkan sampai namanya dipanggil guru untuk menjawab. Seorang ibu menyebut hal yang sama dari sisi lain: sebelum pandemi ia membatasi gawai, sesudahnya ia terpaksa melonggarkan.
Soal alat, Hsu dan kawan-kawan mencatat bahwa pemerintah daerah dan sekolah negeri membagikan modul cetak, dan beberapa pemerintah daerah sempat membagikan tablet. Namun tidak semua keluarga punya perangkat atau internet, dan banyak yang harus mengeluarkan uang sendiri. Seorang siswa sekolah swasta bercerita bahwa ia tiga bersaudara dan satu tablet harus bergiliran ketika kelasnya bersamaan dengan kelas saudaranya.
Gurunya pun tidak siap. Menurut para siswa yang ditemui Samaniego dan timnya, sebagian besar guru tidak akrab dengan platform daring, dan tiap guru memakai jalur berbeda: ada yang di Discord, ada yang di Zoom, ada yang mengumpulkan tugas lewat Facebook Messenger. Siswa harus menguasai beberapa aplikasi sekaligus sambil mengerjakan tugas, dan tidak jarang merekalah yang membantu guru menekan tombol yang benar.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Mencatat apa yang hilang dari belajar
Dari hambatan itu, tim Hsu sampai pada dampaknya. Siswa mengaku motivasinya turun, sebagian menyebut rasa malas, dan banyak yang merasa tidak lagi belajar, hanya berusaha lulus dari tumpukan tugas. Seorang siswa 15–17 tahun dari sekolah swasta berkata ia dulu siswa berprestasi dan kini menjadi rata-rata, karena kelas daring terasa seperti sekadar menatap layar dan menonton, bukan diajar.
Anak-anak yang lebih kecil kehilangan sesuatu yang lain. Seorang anak laki-laki 8–11 tahun dari sekolah negeri mengatakan kepada pewawancara bahwa di rumah ia tidak paham apa yang dibacanya, sedangkan di sekolah ia paham karena ada teman sebangku. Bagi Hsu dan rekan-rekannya, hilangnya kesempatan saling membantu antarteman itu memang nyaris tidak ada gantinya di kelas daring.
Orang tua dan pejabat sekolah melihat hal yang senada. Seorang ibu mengeluh anaknya jadi malas menulis. Seorang kepala sekolah negeri menyebut asesmen membaca murid-muridnya penuh kekurangan dan tulisan tangannya memburuk. Seorang wakil Department of Education wilayah ibu kota menjelaskan kepada tim Hsu bahwa siswa yang lama absen tidak menguasai kompetensi kelas tujuh, dan itulah yang kini disebut learning loss, kehilangan belajar.
Tim Hsu berhati-hati dengan temuan itu. “Meskipun kami tidak mengukur perubahan tingkat belajar secara kuantitatif dalam studi ini, banyak siswa melaporkan kehilangan belajar yang mereka rasakan, dan pemangku kepentingan pendidikan serta pengasuh siswa juga mengamati kemampuan membaca dan menulis di bawah standar pada siswa yang lebih muda dan kurangnya pengetahuan dasar untuk dibangun pada siswa yang lebih tua,” tulis Allison Hsu dan kawan-kawan dalam naskahnya, yang aslinya berbahasa Inggris.
Mengikuti mereka kembali ke ruang kelas
Tahap berikutnya dalam wawancara tim Hsu adalah masa kembali ke sekolah. Siswa senang bisa bertemu teman lagi, tetapi sekolah terasa lebih sulit daripada sebelum pandemi. Seorang siswa 15–17 tahun menyebut pelajaran kimia: mereka melewatkan kimia satu dan dua, lalu ketika masuk kimia empat guru berkata itu sudah diajarkan di kelas sembilan, padahal tidak ada yang ingat karena waktu itu daring.
Seorang siswa 12–14 tahun dari sekolah negeri menggambarkannya sebagai berlari: banyak yang harus dikejar, tidak ada waktu untuk pelajaran baru. Percaya diri ikut hilang. Menurut siswi seusianya, keberanian presentasi di depan kelas lenyap karena selama daring hampir tidak ada presentasi. Seorang ibu menuturkan kepada tim Hsu bahwa guru-guru mengeluh murid tidak lagi menjawab kecuali dipanggil namanya.
Yang paling sering diulang peserta kepada Samaniego, Maramag, dan Castro adalah kecanggungan. Seorang siswi 8–11 tahun berkata singkat bahwa ia tidak lagi mengenal teman-teman sekelasnya. Remaja yang lebih tua cemas dinilai karena tubuhnya berubah selama dua tahun tidak saling melihat. Seorang ibu di sekolah swasta menyebut anaknya berubah dari ekstrover menjadi introver karena selama itu temannya hanya kakaknya sendiri.
Namun Hsu dan rekan-rekannya juga mencatat sisi lain. Beberapa orang tua melihat anaknya kembali ceria dan rutinitasnya pulih begitu masuk sekolah. Sebagian siswa bahkan mengaku lebih dekat dengan keluarga selama karantina, dan sebagian lagi menjaga pertemanan lewat Roblox dan Messenger. “Dampak bertambahnya waktu bersama keluarga mungkin membantu atau merugikan kesehatan mental anak, bergantung pada dinamika keluarga secara keseluruhan,” tulis tim Hsu dalam bahasa Inggris.
Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80
Menampung usul dari yang diwawancarai
Tim Hsu menutup tiap wawancara dengan meminta usul. Siswa meminta bimbingan belajar diperluas dan kurikulum disusun ulang agar yang tertinggal bisa mengejar. Seorang siswa 15–17 tahun dari sekolah negeri meminta lebih banyak konselor, karena jadwal konselor di angkatannya selalu bentrok dengan kelas sore. Seorang psikolog lembaga nirlaba mengusulkan mengembalikan pekan olahraga dan acara tari ke sekolah agar anak berlatih bergaul lagi.
Para pemangku kepentingan yang ditemui tim Hsu menambahkan bahwa orang tua dan guru pun butuh dukungan kesehatan mental serta pelatihan. Seorang psikolog mengatakan mereka bahkan lupa bagaimana memulai percakapan setelah tiga tahun tumbuh dengan interaksi terbatas. Seorang wakil dinas pendidikan kota mengingatkan bahwa prestasi siswa sudah tidak tinggi sebelum pandemi, dan penutupan membuatnya lebih buruk, sehingga pemulihan belajar harus jadi fokus.
Ada batas yang diakui Hsu dan kawan-kawan sendiri. Wawancara dilakukan hampir setahun setelah sekolah dibuka, sehingga ingatan peserta tentang masa karantina bisa bias. Mereka juga tidak mengukur kehilangan belajar maupun perkembangan sosial secara kuantitatif, dan tidak menganalisis mendalam perbedaan antarkelompok usia. Semua temuan berasal dari lima sekolah di Metro Manila, bukan seluruh Filipina.
Memeriksa angka-angka yang tidak sejalan
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal dalam naskah tim Hsu. Lama penutupan sekolah ditulis tiga cara: “hampir 2,5 tahun” di abstrak, “lebih dari dua setengah tahun” di latar belakang, dan “lebih dari dua tahun” di pembahasan. Abstrak dan tabel pertama menyebut 17 pengasuh, tetapi tabel demografi memakai 29 pengasuh karena menghitung juga 12 orang tua dari wawancara berpasangan.
Usia tengah pengasuh sekolah negeri tercatat 44 tahun dan sekolah swasta juga 44 tahun, tetapi gabungannya tercatat 45 tahun, yang tidak lazim untuk nilai tengah. Rencana awal tim Hsu adalah 12 diskusi kelompok siswa, terlaksana 10; rencana tiga diskusi orang tua, terlaksana empat, tetapi dengan 17 peserta dari target 24. Rujukan nomor tujuh tercetak rusak, dan tautan data Figshare kehilangan satu garis miring.
Baca juga Snouck Hurgronje Menjaga Muridnya Sampai ke Kursi Birokrasi
Allison Hsu tidak menemukan angka kehilangan belajar di Metro Manila, dan ia memang tidak mencarinya. Yang ia bawa pulang adalah suara seorang anak kelas dua yang tidak lagi mengenal teman sekelasnya, seorang remaja yang dulu berprestasi dan kini merasa rata-rata, dan seorang ibu yang anaknya berhenti makan bersama. Dari suara-suara itulah Hsu dan kawan-kawannya menyimpulkan bahwa 29 bulan di balik layar masih terasa setahun setelah layar itu dimatikan.















