Daftar Isi
Dissanayaka mendatangi sekolah-sekolah pemerintah di Galle, kota di selatan Sri Lanka, untuk duduk berhadapan dengan siswi berusia 14 dan 15 tahun dan bertanya hal yang jarang dibicarakan terbuka di rumah mereka. Ia ingin tahu bagaimana siswi itu menjalani menstruasi setiap bulan, apa yang mereka tahu tentangnya, dan apa yang menghalangi mereka menjaganya tetap bersih.
Pertanyaan itu ditulis D. M. Y. W. K. Dissanayaka, W. M. P. A. F. Balapitiya, S. M. T. D. Sundarapperuma, dan P. N. Kariyawasam dalam Knowledge, practices, perceived challenges, and factors associated with menstrual hygiene among adolescent school girls in southern Sri Lanka, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2596, tahun 2026. Dissanayaka, Sundarapperuma, dan Kariyawasam berasal dari Department of Nursing, Faculty of Allied Health Sciences, University of Ruhuna, sementara Balapitiya bertugas di Health Promotion Bureau, Kementerian Kesehatan Sri Lanka.
Angka dari 382 Kuesioner
Dissanayaka dan timnya menyasar 389 siswi di seluruh Galle Educational Division, sebuah wilayah dengan 31 sekolah campuran dan khusus putri. Sebanyak 382 siswi, atau 98,2 persen dari target, akhirnya mengisi kuesioner itu sampai selesai. Dari jumlah itu, Dissanayaka mendapati hanya 32,7 persen atau 125 siswi yang berpengetahuan memadai soal menstruasi, sementara 67,3 persen sisanya tergolong tidak memadai, dengan skor rata-rata 24,77 dari kisaran yang dipakai peneliti.
Balapitiya mencatat siapa saja yang mengisi kuesioner itu. Sebagian besar siswi, 90,3 persen, beretnis Sinhala, diikuti Muslim 8,1 persen dan Tamil 1,6 persen, sementara dari sisi agama 83,5 persen mengaku beragama Buddha, 8,1 persen Islam, 7,1 persen Kristen atau Katolik, dan 1,3 persen Hindu. Sebanyak 76,7 persen siswi tinggal dalam keluarga inti, sisanya dalam keluarga besar atau bentuk keluarga lain, dan komposisi inilah yang belakangan ikut memengaruhi hasil analisis Kariyawasam.
Balapitiya, yang ikut merancang studi ini bersama Dissanayaka, mencatat bahwa hampir semua siswi, 96,1 persen, mengaku pernah menerima informasi tentang higiene menstruasi dari suatu sumber. Namun sumber itu timpang: ibu menjadi rujukan utama bagi 56,5 persen siswi, sementara guru sains hanya disebut oleh 12,8 persen. Sebelum haid pertama pun datang, 68,1 persen siswi sudah punya bekal pengetahuan awal, kebanyakan juga dari ibu mereka sendiri.
Praktik yang Tertinggal Jauh
Sundarapperuma, yang ikut menganalisis data kuantitatif bersama Dissanayaka, menunjukkan jarak antara tahu dan melakukan. Hanya 17,3 persen siswi, atau 66 orang, memenuhi tiga dari lima indikator praktik higienis yang dipakai peneliti, sedangkan 82,7 persen lainnya belum memenuhinya, dengan skor rata-rata 1,64. Sebanyak 48,7 persen siswi memakai pembalut komersial, 0,8 persen memakai kain saja, dan 50,5 persen memakai keduanya bergantian.
Dissanayaka melaporkan pola penggantian pembalut yang berbeda antara awal dan akhir masa haid. Pada dua hari pertama, 28,8 persen siswi mengganti pembalut tiga kali sehari, tetapi mulai hari ketiga, pola paling umum bergeser jadi dua kali sehari pada 37,4 persen siswi. Kain yang dipakai ulang dicuci dengan sabun dan air oleh 28,8 persen penggunanya, sementara metode pembuangan yang paling sering dipilih, baik untuk kain maupun pembalut komersial, adalah dibakar.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Sundarapperuma juga menyoroti kebiasaan mandi yang dibatasi kepercayaan tertentu. Sebanyak 38,7 persen siswi baru mandi penuh setelah tiga hari pertama menstruasi berlalu, meski 86,9 persen tetap membasuh kemaluan dengan sabun dan air setiap kali mengganti pembalut. Kebiasaan mencatat siklus di buku harian hanya dilakukan 17,5 persen siswi, dan hanya 69,1 persen yang mengaku bisa memperkirakan kapan menstruasi berikutnya akan datang.
Kariyawasam Membaca Faktor di Baliknya
Kariyawasam, penanggung jawab utama rancangan studi ini, menemukan bahwa pengetahuan siswi berkaitan signifikan dengan lama pengalaman menstruasi mereka, pendidikan ibu, dan pendidikan ayah, ketiganya dengan nilai p di bawah 0,05. Sementara itu, praktik higienis berkaitan signifikan dengan tipe keluarga, di mana keluarga inti dan keluarga besar menunjukkan pola berbeda. Etnis, agama, dan usia siswi, sebaliknya, tidak menunjukkan kaitan yang berarti pada kedua hal itu.
Ketika Kariyawasam dan Dissanayaka menjalankan analisis regresi berganda, model itu terbukti signifikan secara keseluruhan dengan R kuadrat sebesar 0,12, artinya seperangkat faktor yang diukur hanya menjelaskan 12 persen dari variasi skor pengetahuan siswi. Di antara faktor itu, pekerjaan ibu, pendidikan ayah, dan pekerjaan ayah tampil sebagai prediktor yang signifikan, sementara faktor lain yang diuji tidak cukup kuat untuk berdiri sebagai prediktor tersendiri.
“Temuan ini menegaskan perlunya program kesehatan sekolah yang diperkuat dengan pendidikan kesehatan menstruasi yang menyeluruh,” tulis Dissanayaka dan Kariyawasam dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi these findings underscore the need for strengthened school health programmes that incorporate comprehensive menstrual health education. Kalimat itu muncul persis sesudah keduanya mencatat bahwa ibu tetap jadi sumber informasi utama, padahal informasi yang sampai ke siswi sering kali belum cukup.
Cerita di Balik Wawancara
Selain kuesioner, Dissanayaka juga mewawancarai 15 siswi secara mendalam untuk memahami apa yang tidak terekam angka. Dari wawancara itu, muncul empat tantangan berulang: kenyamanan dan martabat saat mengganti pembalut, tabu sosial-budaya yang membuat menstruasi jadi topik tertutup, kendala fisik seperti nyeri perut dan kelelahan, serta keterbatasan sumber daya di sekolah seperti air dan tempat sampah. Balapitiya menilai keempat tema itu saling menjelaskan pola rendahnya praktik higienis yang tampak di angka kuantitatif.
Sundarapperuma menelusuri lebih jauh subtema tabu sosial-budaya yang muncul dari wawancara itu. Sejumlah siswi percaya mandi penuh di hari-hari awal menstruasi akan menghentikan aliran darah dan menimbulkan sakit kepala, sehingga mereka memilih membasuh tubuh seadanya saja. Kepercayaan serupa membuat sebagian siswi menahan nyeri haid tanpa obat, karena keluarga meyakini parasetamol justru akan menghentikan menstruasi mereka lebih cepat dari semestinya, sebuah keyakinan yang menurut Sundarapperuma langsung berbenturan dengan kebutuhan medis siswi.
Menstruasi juga terbukti mengganggu aktivitas siswi di luar kelas. Menurut catatan Dissanayaka, 16,5 persen siswi melaporkan performa akademik mereka terganggu, 22,0 persen merasa tidak nyaman duduk berdekatan dengan siswa laki-laki, dan hampir separuh siswi, 46,1 persen, mengaku kegiatan ekstrakurikuler mereka terpengaruh selama masa haid. Sundarapperuma mengaitkan gangguan ini dengan minimnya fasilitas ganti pembalut yang layak di banyak sekolah yang disurvei.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Batas yang Diakui Sendiri
Kariyawasam dan Dissanayaka mengakui data mereka hanya diambil pada satu titik waktu, sehingga tidak menangkap bagaimana pengetahuan atau praktik siswi berubah seiring waktu. Jumlah sampel yang dipakai pun dihitung hanya dari satu angka pengetahuan pada studi sebelumnya, tanpa memperhitungkan efek pengelompokan sekolah, sehingga perkiraan presisinya bisa saja meleset dari kenyataan populasi Galle yang sesungguhnya.
Karena seluruh jawaban berasal dari pengakuan siswi sendiri lewat kuesioner dan wawancara, Balapitiya dan Sundarapperuma mengakui ada risiko jawaban yang dipoles lebih baik dari kenyataan, atau salah ingat soal kebiasaan yang sudah lewat. Bagian wawancara pun, tulis mereka, hanya menangkap pengalaman siswi, bukan hubungan sebab-akibat, dan belum bisa digeneralisasi ke luar Galle karena topik ini baru pertama kali diteliti dengan cara serupa di Sri Lanka.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Kejanggalan yang Layak Diperiksa
Ada satu hal di tabel Dissanayaka dan kawan-kawan yang layak dicermati pembaca yang teliti. Pada tabel cara membungkus pembalut komersial sebelum dibuang, judul tabel menuliskan basis 379 siswi, tetapi jumlah tiga kategori di bawahnya, yakni dibungkus, tidak dibungkus, dan tidak memakai, justru berjumlah 382, persis sama dengan total peserta kuantitatif secara keseluruhan, bukan 379 seperti tertulis di judulnya.
Dissanayaka menutup naskahnya dengan simpulan yang sama tegasnya seperti saat ia pertama kali melangkah masuk ke sekolah-sekolah Galle. “Penelitian ini mengungkap kesenjangan signifikan pada pengetahuan kesehatan menstruasi dan praktik higienisnya di kalangan remaja putri di Distrik Galle, dengan hanya sepertiga peserta berpengetahuan memadai dan hanya seperlima berpraktik higienis memadai,” tulis Dissanayaka dan kawan-kawan dalam naskahnya yang berbahasa Inggris.
Kalimat aslinya berbunyi this study reveals significant gaps in menstrual health knowledge and hygiene practices among adolescent girls in the Galle district, with only one-third exhibiting satisfactory knowledge and just one-fifth practicing adequate hygiene. Kariyawasam, yang menjadi penanggung jawab utama naskah ini, memilih menutupnya dengan kalimat itu, bukan dengan uraian teknis, seolah menegaskan bahwa angka sepertiga dan seperlima itulah yang paling penting untuk diingat pembaca.
Angka-angka yang dikumpulkan Dissanayaka dari sekolah ke sekolah di Galle itu, pada akhirnya, kembali menjadi pengingat sederhana tentang jarak antara apa yang siswi ketahui dan apa yang benar-benar bisa mereka lakukan setiap bulan. Kariyawasam dan tim penulisnya berharap kesenjangan itu bisa dipersempit lewat program kesehatan sekolah yang lebih terstruktur, sesuatu yang menurut mereka masih jauh dari memadai di Galle saat naskah ini ditulis.














