- Atap tanduk kerbau, tata ruang berhierarki, ukiran, dan bahan kayu-bambu tongkonan disebut sebagai alat pedagogis
- Ritual pemakaman, pernikahan, dan panen bekerja sebagai kurikulum tersembunyi lewat keikutsertaan dan pengamatan
- Migrasi ke kota, media global, komodifikasi wisata, dan platform digital yang dangkal disebut mengancam pewarisan
- Paper menyebut wawancara warga tetapi tidak mengutip satu pun nama, tempat, atau jumlah informan
Daftar Isi
Rumah adalah tempat orang pulang, bukan tempat orang belajar, dan sekolah, dengan papan tulis dan kurikulumnya, adalah satu-satunya lembaga yang berhak menyebut dirinya mengajar. Justru anggapan itulah yang dibantah tiga peneliti dari Toraja, yang membaca rumah leluhur orang Toraja, tongkonan, sebagai sebuah kurikulum yang hidup, tempat anak-anak belajar tanpa guru yang berdiri di depan kelas, tanpa buku, dan tanpa seorang pun yang menyebutnya pelajaran.
Gagasan itu ditulis Rannu Sanderan dan Setrianto Tarrapa dari Institut Agama Kristen Negeri Toraja bersama Alpius Pasulu dari Institut Teologi Gereja Toraja dalam Tongkonan as a Living Curriculum: Intergenerational Transmission of Torajan Cultural Knowledge through Spatial and Ritual Practices, yang terbit di Harati: Jurnal Pendidikan Kristen volume 5 nomor 1, tahun 2025. Naskahnya berbahasa Inggris, dan seluruh kutipan di tulisan ini diterjemahkan dari bahasa itu.
Konsep yang mereka pinjam adalah kurikulum tersembunyi, hidden curriculum, yang oleh paper ini dirunut ke Philip Jackson dan dipahami sebagai pelajaran yang diserap secara informal di luar sistem pendidikan yang terstruktur. Dalam tongkonan, kurikulum itu bekerja lewat keikutsertaan dalam ritual dan upacara, tempat generasi muda mempelajari norma sosial, nilai, dan identitas budaya, bukan karena diajari, melainkan karena hadir, menonton, dan ikut mengerjakan apa yang dikerjakan orang tua mereka.
Atap yang Mengajar Sebelum Bicara
Yang pertama mengajar, menurut paper ini, adalah bentuk bangunannya sendiri. Atap tongkonan yang menyerupai tanduk kerbau melambangkan kekayaan dan status dalam budaya Toraja, dan keterkaitannya dengan kerbau memantulkan warisan agraris komunitas itu sekaligus peran sentral hewan tersebut dalam upacara adat, terutama pemakaman. Tata ruang di dalamnya dibagi menjadi bagian-bagian yang mewakili hierarki keluarga dan sosial, sehingga seorang anak yang tumbuh di dalamnya membaca susunan masyarakatnya dari letak ruang, jauh sebelum ia bisa menjelaskannya.
Bahan bangunannya pun dibaca sebagai pelajaran. Kayu dan bambu yang diambil dari sekitar, tulis para peneliti, mencerminkan penghormatan orang Toraja pada lingkungan alam dan komitmen pada keberlanjutan, dan lewat bahan-bahan itulah keterampilan tukang serta teknik membangun diwariskan, sehingga pengetahuan yang berwujud dan yang tak berwujud berpadu dalam satu tiang. Ukiran di dinding melanjutkan pelajaran itu sebagai narasi visual yang menghubungkan generasi sekarang dengan garis leluhurnya, memuat kisah nenek moyang, status sosial, dan kepercayaan.
Pemakaman sebagai Ruang Kelas
Namun bangunan hanya separuh cerita, sebab yang menghidupkannya adalah peristiwa yang berlangsung di dalamnya. Pemakaman, pernikahan, dan perayaan panen, menurut paper ini, kaya akan makna simbolik dan menyediakan latar yang dinamis untuk menanamkan nilai dan tradisi kepada generasi muda. Di upacara pemakaman, para tetua bercerita, mengisahkan sejarah leluhur dan menekankan nilai bersama, dan cerita-cerita itu menegaskan pentingnya kekerabatan serta tanggung jawab komunal, menumbuhkan rasa bangga dan identitas pada yang hadir.
Para peneliti menempatkan cara belajar semacam ini di dalam teori transmisi budaya yang mereka rujuk ke Cavalli-Sforza dan Feldman serta Boyd dan Richerson, yang menekankan interaksi sosial dan praktik bersama sebagai jalan budaya dipelajari dan dilestarikan. Ritual pemakaman, tulis mereka, bukan hanya menghormati leluhur, melainkan juga menjadi panggung bagi tetua untuk menuturkan sejarah keluarga dan mengajarkan nilai komunal kepada anak muda, sehingga identitas Toraja diteruskan dari mulut ke telinga, dari tangan ke tangan.
Di situlah letak kurikulum yang tersembunyi itu. “Ritual yang dilakukan di tongkonan bertindak sebagai kurikulum tersembunyi, tempat nilai budaya dan identitas disampaikan secara tersirat melalui keikutsertaan dan pengamatan,” tulis Sanderan, Tarrapa, dan Pasulu dalam naskahnya. Sifat pengalaman dari ritual itu, lanjut mereka, memastikan pengetahuan budaya tidak sekadar disampaikan dengan kata-kata, melainkan diserap lewat keterlibatan yang aktif, dan para tetua menjadi penjaga kearifan yang membagikan cerita, keterampilan, dan praktik saat menyiapkan ritual atau merawat tongkonan itu sendiri.
Baca juga Rumah Bolon Jadi Gaun, Atap Segitiganya Naik ke Bahu
Kota yang Tidak Menyediakan Halaman
Justru pada titik inilah paper berbelok dari pujian ke kecemasan. Migrasi generasi muda Toraja ke kota demi peluang ekonomi, tulis para peneliti, menjauhkan mereka dari akar budaya, sementara lingkungan kota kerap tidak menyediakan ruang yang memungkinkan praktik budaya, sehingga keikutsertaan dalam ritual dan kegiatan komunal menurun. Para tetua pun kehilangan kesempatan untuk bertemu anak muda secara bermakna, dan mata rantai antargenerasi yang menjadi tulang punggung kurikulum tersembunyi itu perlahan melonggar.
Globalisasi menambah tekanan dari arah lain. Budaya konsumen Barat, menurut paper ini, mengutamakan individualisme yang berlawanan dengan nilai komunal di jantung ritual Toraja, dan dominasi media global membawa narasi yang dapat mengurangi relevansi tradisi di mata anak muda. Yang paling tajam adalah soal wisata. “Ketika tongkonan diubah menjadi objek wisata, fungsi utamanya sebagai tempat belajar bersama dan kesinambungan budaya berisiko terlarut,” tulis mereka, sebab yang sakral dan komunal berubah menjadi yang komersial.
Teknologi digital, yang sering disebut jalan keluar, tidak diterima paper ini tanpa syarat. Platform digital memang membuka peluang mendokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan budaya, tetapi para peneliti mengingatkan bahwa platform itu juga dapat mendorong keterlibatan yang dangkal dengan tradisi, mengutamakan kemudahan di atas belajar lewat pengalaman. Pergeseran semacam itu, tulis mereka, menantang teori transmisi budaya yang lama, yang mengandaikan proses yang stabil dan berlanjut lewat pertemuan tatap muka.
Empat Jalan yang Ditawarkan
Meski begitu, paper ini tidak berhenti pada ratapan. Ada empat strategi yang diajukan: prakarsa yang dipimpin komunitas seperti festival budaya, lokakarya, dan program pendidikan untuk mengajak anak muda; pendokumentasian digital atas ritual, sejarah lisan, dan praktik tradisional yang bisa menjangkau anak muda lewat media sosial; penghidupan kembali ruang tradisional dengan memasukkan unsur arsitektur dan simbolik tongkonan ke perencanaan kota; serta riset lintas disiplin yang melibatkan antropolog, pendidik, dan pemimpin lokal.
Wisata pun tidak ditolak, asalkan dikendalikan komunitas. Paper mengusulkan tur berpemandu yang dipimpin warga sendiri untuk menjelaskan sejarah, simbol, dan ritual tongkonan, dengan pendapatan yang langsung kembali ke komunitas, serta lokakarya mengukir atau memasak tradisional agar pengunjung mengalami warisan Toraja secara interaktif dan hormat. Bahkan realitas virtual dan presentasi multimedia disebut sebagai cara menyimulasikan ritual bagi penonton muda, sebuah usulan yang, menariknya, berdiri berdampingan dengan kecemasan mereka sendiri tentang kedangkalan digital.
Baca juga Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya
Rumah Penuh Pelajaran, Naskah Tanpa Suara
Di situlah persoalannya. Sebuah paper yang menyebut wawancara dengan tetua, pemimpin komunitas, dan anak muda sebagai sumber datanya ternyata tidak menghadirkan satu pun dari mereka. Tidak ada nama, tidak ada usia, tidak ada kalimat yang diucapkan seorang warga Toraja di dalam naskah, tidak ada nama desa atau tongkonan yang dikunjungi, dan tidak ada angka berapa orang yang diwawancarai. Setiap temuan tentang atap, ukiran, dan ritual disandarkan pada pustaka orang lain, bukan pada apa yang dilihat dan didengar di lapangan.
Para peneliti sendiri menyebut satu tantangan yang bisa dibaca sebagai keterbatasan: kemungkinan salah menafsirkan praktik budaya karena perspektif peneliti sebagai orang luar, yang mereka jawab dengan keterlibatan berkepanjangan dan membangun kepercayaan dengan warga. Paper tidak memuat bagian keterbatasan penelitian yang eksplisit, dan tidak menjelaskan kapan pengamatan dilakukan atau berapa lama peneliti berada di Toraja. Pembaca yang ingin menimbang seberapa jauh temuan ini berlaku untuk seluruh Toraja tidak diberi pegangan apa pun.
Ada pula rujukan yang bisa diperiksa siapa saja lewat daftar pustakanya. Klaim tentang arsitektur tradisional dan pengaruh globalisasi disandarkan pada Colussi dan kawan-kawan tahun 2022, padahal judul yang tercatat di pustaka adalah kajian seroprevalensi penyakit Chagas pada penduduk asli di Gran Chaco. Pernyataan bahwa ritual bekerja sebagai kurikulum tersembunyi dirujukkan ke Barbaroux dan kawan-kawan, yang menurut daftar pustaka menulis tentang dokter umum dan tenaga pemasaran obat, dan kolaborasi dengan pemimpin lokal dirujukkan ke Kajanus, yang meneliti pemahaman anak-anak tentang hierarki di Nanjing dan London.
Nama-nama besar yang disebut di badan teks juga tidak semuanya muncul di pustaka: Jackson 1968 dan Giroux 1983 tentang kurikulum tersembunyi, serta Cavalli-Sforza dan Feldman 1981 dan Boyd dan Richerson 1985 tentang teori transmisi budaya, tidak tercatat di daftar akhir. Sebaliknya, Adventin dan Hutubessy 2021 tentang komunitas Toraja perantauan di Jayapura tercantum di pustaka tanpa pernah dikutip di teks. Baris paling atas halaman pertama bahkan masih menuliskan nama jurnal lain, Jurnal Jaffray, bekas templat yang lupa dihapus.
Baca juga Empat Puluh Teka-teki Tua di Pasaman Barat
Kalau tongkonan benar-benar sebuah kurikulum yang hidup, yang mengajar lewat atap, ukiran, dan pemakaman tanpa perlu seorang guru berbicara, maka mestinya ada murid yang bisa bersaksi bahwa ia pernah belajar di sana, dan justru saksi itulah yang tidak hadir dalam naskah ini. Yang tersisa adalah sebuah pertanyaan yang lebih besar daripada papernya: apakah sebuah rumah masih dapat disebut kurikulum bila tidak ada lagi yang duduk di dalamnya untuk belajar, atau justru rumah itu yang akan terus mengajar kepada siapa pun yang tersisa, dengan atau tanpa peneliti yang mencatatnya?















