- Dari 980 siswa di Sfax, 198 orang atau 20,2 persen tercatat sebagai pengguna rokok elektrik saat ini.
- Sebanyak 84,2 persen dari 240 remaja yang menjawab menyebut rasa penasaran sebagai alasan mencoba.
- Di antara remaja yang pernah memakai, batuk dialami 25,9 persen dan sakit kepala 24,9 persen.
- Remaja yang sedang merokok biasa punya rasio odds terkoreksi 23,8 untuk memakai rokok elektrik.
Daftar Isi
Satu dari lima remaja sekolah di Sfax memakai rokok elektrik. Dari 980 siswa yang disurvei di kota terbesar kedua Tunisia itu, 198 orang atau 20,2 persen tercatat sebagai pengguna saat ini, artinya memakainya setidaknya satu hari dalam 30 hari terakhir.
Yang pernah mencoba lebih banyak lagi, yakni 330 remaja atau 33,7 persen, hampir satu dari tiga. Sebanyak 132 di antaranya, atau 13,5 persen dari seluruh responden, tercatat sebagai mantan pengguna yang tidak memakainya lagi dalam 30 hari terakhir.
Temuan ini ditulis Zeineb Mallek dan rekan dari Departemen Higiene Rumah Sakit Universitas Habib Bourguiba, Fakultas Kedokteran Sfax, dan Rumah Sakit Universitas Hedi Chaker, Sfax. Artikel mereka, Electronic cigarette use in Tunisian adolescents: patterns, adverse effects, and associated factors: a cross-sectional study, terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.
Survei berjalan September sampai Oktober 2024 di delapan sekolah, empat setingkat SMP dan empat setingkat SMA, di kota maupun desa. Respondennya berusia 12 sampai 19 tahun dengan usia tengah 15 tahun, dan mengisi kuesioner tanpa nama di kelas tanpa kehadiran guru.
Lebih Laris dari Rokok
Rokok elektrik mengalahkan rokok biasa di kalangan remaja ini. Pengguna rokok konvensional saat ini hanya 118 orang atau 12 persen, pengisap shisha 8,6 persen, dan pemakai ganja 2,4 persen. Para peneliti menyimpulkan rokok elektrik kini produk tembakau paling populer di kalangan remaja.
Banyak pula yang memakainya setiap hari. Dari 198 pengguna saat ini, 70 orang atau 35,4 persen memakai rokok elektrik harian, sementara 32,8 persen memakainya satu atau dua kali seminggu dan 13,6 persen hanya di akhir pekan.
Mereka mulai muda, dengan usia tengah 14 tahun saat pertama mencoba dan nilai tengah lama pemakaian dua tahun. Anggapan aman juga cukup luas: dari 888 remaja yang menjawab, 403 orang atau 45,4 persen menilai rokok elektrik kurang berbahaya dibanding rokok konvensional.
Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti
Penasaran Lebih Dulu
Alasan utama mencoba adalah rasa penasaran. Dari 240 remaja yang menjawab, 202 orang atau 84,2 persen menyebut rasa penasaran, dan mereka boleh memilih lebih dari satu alasan. Ragam rasa berada di urutan kedua dengan 30,4 persen.
Sesudahnya ada keinginan terlihat lebih keren, 24,2 persen, lalu pengaruh teman sebaya, 20 persen. Alasan lain lebih kecil: 15 persen mencoba karena menganggapnya kurang berbahaya, dan yang ingin mengurangi atau berhenti merokok cuma 16 orang atau 6,7 persen.
Apel dan Stroberi
Rasa buah paling disukai. Dari 231 remaja, 51,9 persen memilih apel dan 47,6 persen stroberi, disusul mangga 30,7 persen dan mint 27,3 persen. Rasa permen karet dipilih 21,6 persen, sedangkan rasa tembakau hanya dipilih satu orang.
Alat yang paling sering dipakai adalah jenis sekali pakai, 48 persen dari 229 penjawab. Vape isi ulang dipakai 37,1 persen, pod vape 12,2 persen, dan 2,6 persen memakai semua jenis.
Sebagian besar memakai cairan siap pakai di tangki, yakni 82,2 persen dari 197 penjawab. Sisanya, 35 orang atau 17,8 persen, mengaku cairannya diracik dan disiapkan sendiri, bagian kecil yang mendapat perhatian khusus dari peneliti karena menyimpang dari produk komersial standar yang diatur ketat.
Dari Tangan Teman
Alat pertama umumnya datang dari teman: dari 244 remaja, 66,4 persen menerimanya dari teman dan 21,3 persen dari anggota keluarga, sedangkan yang membeli sendiri di toko khusus hanya 9,8 persen. Untuk isi ulang, polanya berbalik, karena toko khusus menjadi sumber utama bagi 68,3 persen dari 161 penjawab dan teman hanya 23,6 persen.
Peneliti merangkumnya begini: teman menjadi jalan masuk untuk mencoba, toko khusus menjadi sumber pasokan. Karena itu mereka menilai perlu riset tentang hal yang membantu remaja menolak tekanan teman untuk memakai vape.
Lingkungan sekitar memang penuh pemakai. Sebanyak 580 dari 962 remaja, atau 60,3 persen, punya pemakai rokok elektrik di lingkaran sosialnya, terutama teman (75,3 persen), sepupu (33,6 persen), saudara laki-laki (18,7 persen), dan guru (15,2 persen). Dari 459 remaja yang terpapar uap rokok elektrik orang lain sebulan terakhir, 42 persen mengalaminya setiap hari.
Baca juga Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk
Batuk dan Sakit Kepala
Keluhan tubuh cukup sering dilaporkan. Di antara remaja yang pernah memakai, batuk dialami 25,9 persen, sakit kepala 24,9 persen, pusing 22,5 persen, dan mengantuk 22,1 persen. Mulut serta tenggorokan nyeri atau kering dialami 22,2 persen, jantung berdebar 21,5 persen, sulit bernapas 21 persen, dan nyeri dada 20,5 persen.
Keluhan lain lebih jarang, seperti alergi 11,3 persen, mimisan 9,8 persen, gusi berdarah 8,8 persen, dan lidah menghitam 6,3 persen. Tidak semua keluhan reda: dari 98 remaja yang menjawab, 45,9 persen menyatakan keluhannya hilang sepenuhnya, 29,6 persen masih tersisa sebagian, dan 24,5 persen sama sekali belum hilang.
Cairan Tertelan
Kecelakaan juga terjadi pada 39 dari 201 penjawab, atau 19,4 persen, hampir satu dari lima. Yang paling sering adalah cairan tertelan, 41,7 persen dari 36 orang yang menyebut jenisnya, disusul luka bakar 38,9 persen, cairan terciprat ke mata 27 persen, dan baterai meledak 13,9 persen.
Peneliti mencatat survei ini ikut memasukkan kecelakaan ringan yang dilaporkan sendiri. Hal itu, tulis mereka, mungkin menjelaskan angka yang lebih tinggi dibanding sebuah studi di Amerika Serikat yang memakai data Sistem Data Keracunan Nasional.
Cairan racikan sendiri juga menjadi sorotan. “Meracik sendiri cairan rokok elektrik dapat membuat remaja terpapar kadar nikotin yang tidak akurat dan bahan kimia yang keamanannya belum dievaluasi,” tulis Zeineb Mallek dan rekan, dalam terjemahan Cekricek.id.
Rokok, Shisha, Iklan
Faktor paling kuat adalah kebiasaan merokok konvensional. Remaja yang sedang merokok biasa punya rasio odds terkoreksi 23,8 untuk memakai rokok elektrik, setelah faktor lain dalam model diperhitungkan.
Pengisap shisha saat ini punya rasio odds 5,35, mantan perokok konvensional 3,75, dan remaja laki-laki 3,57. Peneliti menduga sebagian mantan perokok beralih ke rokok elektrik, mungkin karena menganggapnya kurang berbahaya atau sebagai alat berhenti merokok. Untuk shisha, mereka menunjuk kemiripan rasa kedua produk, seperti apel, mint, dan blueberry.
Iklan juga berkaitan. Sebanyak 54 persen remaja pernah melihat iklan produk tembakau di tempat penjualan, dan paparan itu berkaitan dengan pemakaian rokok elektrik dengan rasio odds 1,73. Iklan di internet dilihat 48,6 persen, sedangkan pelajaran bahaya tembakau di sekolah pernah diterima 66,2 persen.
Peneliti menyoroti Undang-Undang Nomor 98-17 tanggal 23 Februari 1998. Aturan itu terutama mengatur tembakau konvensional dan tidak jelas menyentuh promosi rokok elektrik, termasuk di internet dan media sosial. Menurut mereka, celah itu dapat memperbesar paparan remaja terhadap pemasaran produk tersebut.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Faktor terakhir menyangkut pendidikan ayah: remaja yang ayahnya berpendidikan menengah atau universitas punya rasio odds 1,66. Penjelasan peneliti masih berupa kemungkinan, yakni orang tua berpendidikan lebih paham bahaya rokok biasa, sementara risiko rokok elektrik yang belum jelas membuatnya tampak kurang berbahaya.
Batas Survei
Angka Sfax lebih tinggi dari survei nasional MedSPAD 2021, yang mencatat 25,3 persen pernah mencoba dan 8,2 persen pengguna saat ini pada remaja 16 sampai 18 tahun. Peneliti meminta selisih itu dibaca hati-hati karena cakupan, kelompok usia, dan metode kedua survei berbeda.
Desain potong lintang hanya menunjukkan hubungan antarfaktor, bukan sebab-akibat, dan datanya berasal dari pengakuan remaja sendiri sehingga pemakaian bisa dilaporkan terlalu rendah atau terlalu tinggi. Respondennya pun hanya remaja yang bersekolah, sementara remaja putus sekolah dan peserta pelatihan kerja yang pola merokoknya bisa berbeda tidak ikut.
Peneliti tetap mencatat ini studi pertama di Afrika yang khusus memeriksa efek samping rokok elektrik pada remaja. Mereka menyarankan strategi kesehatan yang melibatkan layanan kesehatan sekolah, guru, dan orang tua untuk meluruskan anggapan keliru tentang rokok elektrik.
Sebagian pemakai sendiri ingin berhenti. Dari 193 pengguna saat ini, 35,2 persen berniat berhenti dalam enam bulan ke depan.















