Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti

A A

Rokok elektrik berbentuk pena tergeletak di meja di belakang dua batang rokok biasa. [Foto: TBEC Review/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Paparan sesaat terhadap produk tembakau menaikkan denyut jantung rata-rata 6,78 dibanding kelompok pembanding.
  • Pemakaian kronis rokok konvensional dan rokok elektrik menaikkan tekanan sistolik rata-rata 6,99 dibanding pembanding.
  • Pemakaian kronis rokok konvensional menaikkan peluang kanker 32 persen dibanding orang yang tidak pernah merokok.
  • Dari 38 studi, 30 meneliti rokok konvensional, delapan rokok elektrik, empat tembakau yang dipanaskan, dan hanya satu snus.
Daftar Isi
  1. Denyut Jantung Melonjak
  2. Tekanan Darah Bertahan
  3. Trigliserida Ikut Naik
  4. Paru Belum Tampak
  5. Kanker Naik 61 Persen
  6. Tidak Selalu Sejalan
  7. Data Alternatif Minim
  8. Catatan dalam Naskah

Rokok konvensional terbukti merusak kesehatan. Bukti untuk rokok elektrik, tembakau yang dipanaskan, dan snus masih tipis dan belum bisa dibandingkan setara. Itulah kesimpulan utama meta-analisis terbaru dari Polandia yang menimbang keempat produk tembakau tersebut sekaligus dalam satu analisis.

Temuan ini ditulis Paulina Natalia Kopa-Stojak, Marharyta Sobczak, dan Rafal Pawliczak dalam Comparison of the health-related outcomes for traditional cigarettes, e-cigarettes, heat-not-burn cigarettes and snus: a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, volume 26, tahun 2026. Ketiganya berasal dari Departemen Imunopatologi, Medical University of Lodz.

Mereka menggabungkan hasil 38 studi dari Amerika Utara, Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Yang ditimbang adalah denyut jantung, tekanan darah, lemak darah, gula darah, fungsi paru, dan peluang terkena kanker pada pemakai keempat produk itu.

Taruhannya besar. Menurut data WHO yang dikutip naskah, dunia punya lebih dari 1,25 miliar perokok, hampir 21 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas. Tembakau juga menyebabkan lebih dari 8 juta kematian setiap tahun, termasuk 1,3 juta akibat asap rokok orang lain.

Denyut Jantung Melonjak

Efek paling cepat terlihat di jantung. Paparan sesaat terhadap produk tembakau menaikkan denyut jantung rata-rata 6,78 dibanding kelompok pembanding. Paparan sesaat di sini berarti pemakaian sekali atau hanya selama beberapa hari, bukan kebiasaan yang berlangsung berbulan-bulan.

Kenaikan itu tercatat untuk gabungan rokok konvensional, rokok elektrik, tembakau yang dipanaskan, dan snus. Besarnya berbeda antara satu produk dan produk lain. Perbedaan antarsubkelompok itu bermakna secara statistik, dengan nilai p sebesar 0,009, sehingga tidak semua produk memberi lonjakan yang sama.

Tekanan darah tidak ikut naik pada paparan sesaat. Baik tekanan sistolik maupun diastolik tidak berubah bermakna secara keseluruhan. Meski begitu, penulis mencatat ada perbedaan antarsubkelompok produk untuk tekanan diastolik, dengan nilai p 0,0003.

Penulis menjelaskan efek cepat ini lewat kerja nikotin, zat utama dalam produk alternatif. Nikotin mengaktifkan sistem saraf simpatis. Akibatnya denyut jantung, kekuatan kontraksi, dan curah jantung naik dengan segera dan cukup tajam sesudah produk dipakai.

Rokok sesaat vs rokok bertahun-tahunRokok sesaat vs rokok bertahun-tahunRokok sesaat vs rokok bertahun-tahunSelisih rata-rata dibanding kelompok pembandingPaparan akutPaparan kronis+6,78tak bermaknaDenyut jantungtak bermakna+6,99Tekanan sistoliktak bermakna+5,2Tekanan diastoliktak diukur+18,09Trigliserida(mg/dl)tak bermaknatak bermaknaFungsi paru FEV1,FVCAkut: rokok konvensional, elektrik, tembakau panas, snus. Kronis: rokokkonvensional dan elektrik. Trigliserida hanya diukur untuk paparankronis.
Sumber: Paulina Natalia Kopa-Stojak, Marharyta Sobczak, dan Rafal Pawliczak, Comparison of the health-related outcomes for traditional cigarettes, e-cigarettes, heat-not-burn cigarettes and snus: a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tekanan Darah Bertahan

Gambarannya berbalik pada pemakaian jangka panjang. Pemakaian kronis rokok konvensional dan rokok elektrik menaikkan tekanan sistolik rata-rata 6,99 dibanding pembanding. Tekanan diastolik naik rata-rata 5,2, dan kedua kenaikan itu bermakna secara statistik.

Denyut jantung justru tidak lagi berbeda bermakna pada pemakaian jangka panjang. Jadi jantung bereaksi cepat saat produk tembakau dipakai sesekali, sedangkan tekanan darah yang naik baru terlihat pada pemakaian menahun. Pola ini tidak berbeda nyata antara rokok konvensional dan rokok elektrik.

Angka kenaikan itu tidak kecil bila dibaca dengan rujukan yang dikutip penulis. Kenaikan sistolik 10 mmHg dan diastolik 5 mmHg dikaitkan dengan naiknya risiko penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, dan stroke. Kenaikan sistolik 20 mmHg dikaitkan dengan risiko gagal jantung.

Denyut jantung istirahat juga punya ambang serupa. Menurut rujukan dalam naskah, kenaikan 10 denyut per menit berkaitan dengan risiko penyakit jantung koroner, stroke, penyakit nonkardiovaskular, dan kanker. Ambang ini dipakai penulis untuk menakar arti perubahan denyut.

Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya

Trigliserida Ikut Naik

Dari tiga ukuran metabolik, hanya trigliserida yang terpengaruh. Pemakaian kronis rokok konvensional dan rokok elektrik menaikkan kadarnya rata-rata 18,09 mg/dl. Perbedaan antarsubkelompok produk juga bermakna, dengan nilai p 0,03, sehingga besarnya kenaikan bergantung pada jenis produk.

Kolesterol total tidak naik bermakna. Kadar glukosa juga tidak berbeda bermakna antara pemakai dan pembanding. Penulis menekankan hasil ini diperoleh dari orang sehat, bukan pasien diabetes, sehingga tidak bisa langsung disamakan dengan riset pada penderita diabetes.

Penulis menjelaskan jalurnya lewat jaringan lemak. Nikotin dapat mengganggu pembersihan trigliserida dan memicu pemecahan lemak. Asam lemak bebas lalu dikirim ke hati dan otot, kemudian kadar trigliserida serta kolesterol LDL ikut naik.

Rujukan lain dalam naskah memberi ambang yang bisa dipakai sebagai patokan. Kadar trigliserida 150 mg/dL atau lebih dikaitkan dengan risiko stroke iskemik, penyakit kardiovaskular aterosklerotik, dan pankreatitis akut, yaitu peradangan mendadak pada pankreas.

Paru Belum Tampak

Fungsi paru tidak berubah bermakna, baik pada paparan sesaat maupun jangka panjang. Dua ukuran yang dipakai adalah FEV1, volume udara yang diembuskan paksa dalam satu detik, dan FVC, kapasitas vital paksa atau jumlah udara terbanyak yang bisa diembuskan.

Penulis tetap melihat penurunan ringan kedua ukuran itu pada pemakai rokok konvensional, rokok elektrik, dan tembakau yang dipanaskan. Pembandingnya adalah orang yang berhenti atau tidak pernah merokok. Namun penurunan itu tidak bermakna secara statistik sehingga belum bisa disebut temuan.

Ada satu catatan pada pemakaian kronis. Analisis subkelompok menunjukkan perbedaan FEV1 antarjenis rokok, dengan nilai p di bawah 0,0001. Artinya efek pada paru bisa berbeda tergantung produk yang dipakai, meski gabungannya tidak menunjukkan penurunan yang bermakna.

Kanker Naik 61 Persen

Temuan terkuat menyangkut kanker. Pemakaian kronis rokok konvensional menaikkan peluang kanker 32 persen dibanding orang yang tidak pernah merokok. Rasio odds gabungannya 1,32, dengan rentang kepercayaan 1,08 sampai 1,61.

Angkanya berbeda tajam menurut status merokok. Mantan perokok punya peluang terkena kanker lebih tinggi 5 persen dibanding orang yang tak pernah merokok. Perokok aktif punya peluang lebih tinggi sampai 61 persen, jauh di atas mantan perokok.

Kenaikan peluang kanker pada perokokMantan perokok: Kenaikan peluang +5%; Semua perokok: Kenaikan peluang +32%; Perokok aktif: Kenaikan peluang +61%.Kenaikan peluang kanker pada perokokRokok konvensional, dibanding orang yang tak pernah merokok20%40%60%0Mantan perokok+5%Semua perokok+32%Perokok aktif+61%Gabungan semua perokok: rasio odds 1,32. Heterogenitas antarstuditinggi (I2 92 persen).
Sumber: Paulina Natalia Kopa-Stojak, Marharyta Sobczak, dan Rafal Pawliczak, Comparison of the health-related outcomes for traditional cigarettes, e-cigarettes, heat-not-burn cigarettes and snus: a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Analisis kanker ini hanya memuat rokok konvensional. Tidak ada angka kanker untuk rokok elektrik, tembakau yang dipanaskan, maupun snus dalam meta-analisis tersebut, sehingga peluang kanker pada pemakai ketiga produk itu belum terjawab di sini.

Variasi antarstudi untuk kanker sangat tinggi, dengan I2 sebesar 92 persen. Penulis menyebut hal itu sudah diduga karena penyebab kanker, masa laten, lama paparan, intensitas merokok, dan organ yang terkena berbeda-beda. Sebagian jenis kanker bahkan bisa berhubungan terbalik dengan merokok.

Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen

Tidak Selalu Sejalan

Sebagian hasil ini berlawanan dengan riset terdahulu. Meta-analisis Linneberg dan rekan atas 23 studi justru mendapati tekanan sistolik perokok aktif 2,40 mmHg lebih rendah dan diastolik 1,93 mmHg lebih rendah dibanding orang yang tidak pernah merokok.

Riset lain yang dikutip penulis memberi arah berbeda untuk rokok elektrik. Skotsimara dan rekan mencatat peralihan dari rokok konvensional ke rokok elektrik menurunkan sistolik 7,00 mmHg dan diastolik 3,65 mmHg. Siddiqi dan rekan hanya menemukan kenaikan denyut dan tekanan pada rokok elektrik bernikotin.

Untuk trigliserida, hasilnya sejalan dengan riset sebelumnya. Meta-analisis van der Plas dan rekan atas 169 studi menemukan kadar trigliserida perokok 0,50 mmol/L lebih tinggi dibanding bukan perokok. Arah temuannya sama dengan hasil Kopa-Stojak dan rekan.

Data Alternatif Minim

Produk alternatif memang tidak bebas nikotin. Menurut naskah, rokok elektrik bisa mengandung nikotin hingga 20 mg/mL di pasar Uni Eropa dan 59 mg/mL di Amerika Serikat. Tembakau yang dipanaskan memuat 1,1 sampai 1,2 mg per batang, sedangkan snus 6,8 sampai 20,6 mg/g.

Produk ini juga makin populer di kalangan anak muda dan orang yang belum pernah merokok. Penulis menilai pemakaian semacam itu bisa tidak aman serta menaikkan peluang kecanduan nikotin dan penyakit terkait tembakau pada kelompok tersebut.

Persoalannya, data untuk produk alternatif masih sedikit. Dari 38 studi, 30 meneliti rokok konvensional, delapan rokok elektrik, empat tembakau yang dipanaskan, dan hanya satu snus. Ketimpangan jumlah ini membuat perbandingan keempat produk belum seimbang.

Penulis mengakui keterbatasan itu secara terbuka. Karena data tembakau yang dipanaskan dan snus terbatas, analisis rinci konsekuensi kesehatannya tidak mungkin dilakukan. Banyak studi juga bergantung pada laporan diri pemakai, sehingga rawan bias jawaban.

Kesimpulan mereka dirumuskan hati-hati. “Bukti yang kuat mendukung efek buruk rokok konvensional terhadap kesehatan, sementara bukti untuk produk alternatif masih terbatas dan heterogen,” tulis Kopa-Stojak, Sobczak, dan Pawliczak dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi

Catatan dalam Naskah

Pembaca yang teliti bisa menemukan beberapa ketidakcocokan. Nilai heterogenitas trigliserida tertulis 62 persen di abstrak, tetapi 61 persen di bagian hasil. Selisihnya kecil, tetapi angka untuk ukuran yang sama seharusnya konsisten di seluruh naskah.

Judul menjanjikan perbandingan empat produk. Kenyataannya, analisis kronis untuk tekanan darah dan trigliserida hanya memuat rokok konvensional dan rokok elektrik. Snus hanya diwakili satu studi, sementara analisis kanker hanya berisi rokok konvensional.

Ada pula soal bias publikasi. Hampir semua hasil tidak menunjukkan bias tersebut, kecuali satu, yaitu denyut jantung pada paparan sesaat dengan nilai p 0,007. Padahal itu justru satu-satunya temuan akut yang bermakna dalam naskah.

Kata kunci pencarian juga menyebut kantong nikotin oral. Namun produk itu tidak muncul dalam analisis mana pun, baik untuk jantung, lemak darah, paru, maupun kanker. Penulis tidak menjelaskan nasib studi tentang kantong nikotin tersebut.

Penulis meminta studi jangka panjang pada orang yang hanya memakai satu jenis produk tembakau. Sampai studi itu ada, bahaya rokok konvensional sudah jelas, sedangkan rokok elektrik, tembakau yang dipanaskan, dan snus belum bisa dinilai setara.

Bagikan

Baca Juga

Remitansi dan Modal Asing di 22 Negara Asia Bergerak Berlawanan
Panas di Rumah Desa Tamil Nadu Menjalar Jadi Cemas Iklim
Le Rossignol Karya Verlaine, 20 Larik Kehilangan Cinta Pertama
Hepatitis C Hinggapi 17 Persen Pengungsi Rohingya di Teknaf
Nyeri Kronis Keluarga Pakistan di Inggris, Cucu Jadi Obat
Kantong Permen Diperkecil, Belanja di Supermarket Denmark Susut