- Tiga pria didakwa memakai AI untuk meniru suara dan wajah eksekutif perusahaan
- Mereka diduga menipu perusahaan di berbagai negara hingga lebih dari 129 juta dolar AS
- Korban termasuk rumah sakit, bank, reksa dana, dan perusahaan teknologi Inggris
- Uang hasil penipuan diduga dicuci lewat aset kripto
Cekricek.id — Tiga warga negara asing ditangkap dan didakwa di Amerika Serikat karena diduga memakai kecerdasan buatan (AI) untuk menyamar sebagai CEO dan pengacara perusahaan. Lewat modus itu, mereka diduga mencuri lebih dari 129 juta dolar AS dari perusahaan di berbagai negara.
Melansir laporan The Guardian, Jumat (6/11/2026), dakwaan terhadap ketiganya baru dibuka Departemen Kehakiman AS. Menurut kantor kejaksaan AS untuk distrik selatan New York, ketiga pria itu adalah Jacob Soall, Sharon Hazan, dan Guy Sheetrit. Soall dan Hazan ditangkap di Spanyol pada musim panas lalu, sedangkan Sheetrit ditangkap di Inggris pada September.
Ketiganya diduga memakai AI untuk mengubah dan meniru suara serta wajah eksekutif dan pengacara di berbagai perusahaan. Penipuan itu diduga berlangsung sejak 2024 hingga 2026.
Baca juga Pakar Siber Sarankan Jangan Isi Tanggal Lahir Asli di Toko Daring
Menyamar Jadi Bos, lalu Pengacara
Dengan bantuan AI, para pelaku diduga berperan sebagai eksekutif perusahaan dan menghubungi karyawan untuk meminta bantuan dalam transaksi keuangan yang sensitif. Karyawan kemudian diarahkan menghubungi pengacara di sebuah firma hukum internasional besar. Para pelaku lalu menyamar sebagai pengacara tersebut dan meminta karyawan mentransfer uang dalam jumlah besar.
Korbannya antara lain sistem rumah sakit di Missouri yang kehilangan hampir 5 juta dolar AS, sebuah bank di Rhode Island sekitar 2,7 juta dolar AS, sistem rumah sakit di California sekitar 3 juta dolar AS, reksa dana di Massachusetts lebih dari 4,6 juta dolar AS, dan perusahaan makanan hewan di Florida sekitar 5 juta dolar AS. Mereka juga diduga mencuri lebih dari 11 juta dolar AS dari sebuah perusahaan teknologi di Inggris.
Uang hasil penipuan dikirim ke rekening di berbagai negara, termasuk AS, Spanyol, Portugal, Yunani, Uni Emirat Arab, Singapura, Austria, Slovakia, dan Tiongkok, lalu diubah menjadi aset kripto untuk menyamarkan asal-usulnya. Soall dan Hazan juga memakai sejumlah nama samaran, mulai dari “Rocky Balboa” hingga “Superman Cash”.
Baca juga Peretas Bocorkan Data 40.000 Pegawai Keamanan Dalam Negeri AS
FBI: Penjahat Jadikan Teknologi Senjata
“Skema yang diduga diatur oleh Soall, Hazan, dan Sheetrit menunjukkan bagaimana teknologi canggih dapat dieksploitasi untuk melakukan penipuan berskala besar,” kata Asisten Direktur FBI yang memimpin kantor New York, James C. Barnacle Jr.
“Seiring para penjahat terus menjadikan teknologi baru sebagai senjata, FBI tetap berkomitmen untuk dengan cepat menyesuaikan kemampuan kami guna mengidentifikasi, menyelidiki, dan menggagalkan mereka yang berupaya merugikan warga New York dan bisnis yang beroperasi di komunitas kami,” lanjutnya.
Jaksa AS Jamie McDonald menyatakan AI memiliki potensi besar, tetapi publik perlu menyadari ada pihak yang berupaya memakai teknologi itu untuk tujuan kriminal. Ketiga pria tersebut didakwa dengan persekongkolan penipuan elektronik, sejumlah dakwaan persekongkolan pencucian uang, dan pencurian identitas yang diperberat.
Baca juga Binance Dibobol Peretas Korea Utara, Kripto 6,3 Miliar Dolar Raib















